Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 52 - Justin Menolak?


__ADS_3

...༻✿༺...


Selepas Bella pulang, Ben langsung menyuruh Jimmy untuk mencari karyawan-karyawan terbaik perusahaan Foodton. Kategori Ben ada tiga. Yaitu, rajin, kompeten, dan jujur.


Ben tentu tidak akan mencemaskan masalah biaya. Dia punya banyak sekali uang simpanan. Apalagi produk Foodton baru-baru ini sangat laris dipasaran. Saham perusahaan meningkat drastis.


Kabar mengenai hadiah liburan yang di adakan Ben sudah tersebar luas. Seluruh karyawan Foodton sangat bersemangat. Bahkan beberapa yang malas mendadak bekerja dengan rajin. Padahal Jimmy sudah memilah-milih karyawan terbaik melalui data terpercaya.


Liburan sendiri akan dilakukan bulan depan. Bertepatan dengan masuknya musim semi. Ben memilih sekitar dua perwakilan dari tim manajemen yang berbeda-beda.


Ben menyiapkan segala hal demi liburannya. Dari mulai membeli pakaian baru sampai perlengkapan lainnya. Ia merasa sangat bahagia bisa pergi liburan bersama Bella. Ben sudah tidak sabar. Pria itu bahkan melingkari angka di kalender setiap hari. Menghitung hari dengan penuh harapan.


Sementara itu, Bella fokus menyelesaikan pekerjaan yang ada. Semenjak ingat Justin bekerja di Foodton, Bella merasa harus mengatakan kebenaran. Dia bertekad memberitahu Justin kalau dirinya adalah Red Rose. Dia melakukannya agar liburannya dapat berjalan lancar.


'Aku akan mencoba hari ini. Aku akan beritahu Justin untuk melakukannya pelan-pelan...' Bella berniat membuka diri kepada Justin. Dari mulai rahasia tentang pekerjaan hingga tubuhnya.


Bella menghubungi Justin. Dia akan mendatangi Justin ke apartemen. Sebelum pergi, Bella tidak lupa membeli kue kesukaan Justin.


Sesampainya di tempat tujuan, Justin segera mempersilahkan masuk. Rambut lelaki itu acak-acakan. Seolah dia baru saja terbangun dari tidur.


"Aku tidak mengganggu bukan?" tanya Bella.


"Tentu saja tidak." Justin tersenyum masam. Dia sebenarnya baru selesai bercinta dengan Corine.


Setelah mendapat pemberitahuan kalau Bella akan berkunjung, Justin langsung menyuruh Corine pulang. Untung saja waktunya sangat tepat. Bella sepertinya juga tidak berjumpa dengan Corine di jalan.


Bella mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dia sudah cukup lama tidak berkunjung ke apartemen Justin. Terutama selepas kejadian penolakannya tempo hari.


"Kau membawa apa?" tanya Justin sembari melirik bingkisan yang diletakkan Bella ke meja.


"Kue pie kesukaanmu," jawab Bella. Dia telah duduk ke sofa.


"Pasti lezat. Aku akan buatkan cokelat hangat untukmu." Justin menyibukkan diri di dapur. Dia menghabiskan waktu sekian menit untuk membuatkan Bella minuman. Selanjutnya, dia segera ikut duduk ke sofa.

__ADS_1


Bella membuang nafas berat melalui mulut. Dia berniat ingin bercinta terlebih dahulu, barulah memberitahu tentang Red Rose keada Justin. Namun Bella mendadak diserang rasa gugup. Dia lebih pendiam dibanding biasanya.


"Bella, kau tidak apa-apa? Kenapa kau tiba-tiba jadi pendiam?" tanya Justin seraya tersenyum tipis.


Bella sekali lagi menghela nafas. Lalu beringsut mendekati Justin. Dia menarik kerah baju kekasihnya, dan segera memberikan ciuman di bibir.


Justin agak kaget. Dia awalnya tidak menolak. Tetapi lama-kelamaan, Justin perlahan mendorong Bella. Tautan bibir mereka otomatis terlepas.


"Aku pikir... aku sudah siap..." ungkap Bella lirih.


Justin terkesiap. Dia sebenarnya sangat ingin menuruti keinginan Bella. Namun apalah daya, dirinya baru saja berhubungan intim dengan Corine. Tenaganya sudah terkuras untuk aktifitas tadi.


Jujur saja, tawaran Bella datang di waktu yang tidak tepat. Parahnya tadi Justin dan Corine melakukannya sampai dua ronde. Justin tentu merasa kelelahan jika harus langsung bersenggama lagi. Sesal, hanya penyesalan yang ada dalam diri Justin.


"Maaf, Bella. Sepertinya jangan sekarang. A-aku merasa lelah..." Justin menolak baik-baik. Kepalanya tertunduk. Dia kecewa kepada dirinya sendiri.


Bella lekas menjauh dari Justin. Dia merasa sangat malu. Bagaimana tidak? Wanita mana yang tidak malu saat tawarannya ditolak secara gamblang.


"Tidak apa-apa. Aku mau ke toilet." Bella memilih melarikan diri ke toilet.


"Baiklah kalau begitu." Bella mengangguk dan tersenyum singkat. Kemudian masuk ke dalam toilet. Dia mencoba menenangkan diri sejenak.


Sehabis keluar dari kamar mandi, Bella mengobrol sebentar dengan Justin. Selanjutnya, dia memilih pulang. Bella tidak jadi membuka diri kepada kekasihnya. Termasuk perihal Red Rose.


Keesokan harinya, Bella tidak berniat lagi menemui Justin. Dia punya alasan menyangkut perubahan pikirannya.


"Apa kau marah karena penolakanku kemarin?" tanya Justin dari seberang telepon.


"Tidak. Aku hanya sibuk dengan pekerjaan baru." Bella mengakhiri panggilan lebih dulu. Bila Justin menanyakan perihal bercinta, maka dia akan memberikan seribu alasan untuk menolak.


Bella menyiapkan segalanya untuk liburan nanti. Termasuk mengenai identitasnya sebagai Red Rose. Dia terpaksa memberitahu nama panggilannya kepada Ben. Bella lebih memilih menutup rahasianya dari Justin dibandingkan Ben.


"Jadi nama aslimu Bella?" Ben memastikan.

__ADS_1


"Benar. Itu nama panggilanku. Kau tidak perlu tahu nama panjangnya. Panggil saja aku Bella saat berada di hadapan karyawanmu. Aku ingin kau menganggapku seperti rekan bisnis, mengerti?" jelas Bella.


Ben menganggukkan kepala. Kebahagiaannya kian meningkat, saat dirinya berhasil mengetahui nama asli Bella.


...***...


Tidak terasa waktu untuk berlibur telah tiba. Ben sengaja menyewa sebuah pesawat demi kenyamanan karyawannya. Itu juga sebagai wujud dari kebahagiaan yang dia rasakan.


Ben dan para karyawannya sudah menunggu di pesawat. Bella tampak baru saja datang. Ben berharap Bella memilih kursi yang ada di sebelahnya.


Bella mengamati para karyawan Ben. Dia mencari-cari Justin. Akan tetapi kekasihnya itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.


'Mungkin Justin tidak terpilih,' batin Bella sambil berderap ke kursi yang ada di sebelah Ben. Lalu langsung mendudukinya.


"Wah, nyamannya..." gumam Bella yang tenggelam dalam ke-empukan kursi dari kelas bisnis.


"Apa kau tidak pernah duduk di kursi kelas bisnis?" tanya Ben.


"Bukannya begitu. Aku hanya merasa lega," sahut Bella. Menatap Ben dengan sudut matanya. Dia sebenarnya merasa kelelahan karena seharian berurusan dengan seorang pasien autis.


"Kau bisa istirahat." Ben memberi saran sambil berlagak sibuk membuka sebuah majalah kuliner.


Bella tersenyum tenang. Dia memejamkan mata dan tertidur saat pesawat sudah terbang. Perjalanan dari New York ke Hawai sendiri memakan waktu sekitar sepuluh jam lebih.


Ben mencuri kesempatannya untuk memandangi Bella sepuas mungkin. Untung saja orang-orang di sekitar juga asyik tertidur, jadi Ben bisa leluasa memakai peluangnya.


Lama-kelamaan Ben semakin tergoda. Salivanya tertelan ketika menyaksikan bibir Bella yang menurutnya begitu menggoda.


Tanpa sadar, Ben perlahan mendekat. Jarak wajahnya dan Bella hanya helat beberapa senti. Hidung mereka sedikit bersentuhan. Namun Ben masih saja berpikir berulang kali untuk memagut bibir wanita pujaannya.


Suara derap langkah terdengar mendekat. Ben cepat-cepat menjauh dari Bella. Seorang pramugari sukses memergoki tindakan Ben. Dia tersenyum mengejek dan berlalu pergi.


Ben mengalihkan pandangan ke jendela. Dia mengusap tengkuknya berkali-kali. Wajah Ben memerah bak sebuah tomat matang.

__ADS_1


Ponsel Ben tiba-tiba berdering. Saat itulah Bella terbangun dari tidur. Dia mendengar Ben berbicara di telepon.


"Baiklah, Justin. Aku yakin kau bisa mengurusnya dengan baik. Sekali lagi terima kasih sudah mau mengorbankan jatah liburanmu demi keluhan pelanggan tetap kita. Aku berjanji, akan membelikan tiket ke Hawai untukmu dan pacarmu." Ben ternyata mengobrol dengan Justin. Kini Bella tahu alasan Justin tidak ikut. Entah kenapa dia justru merasa lega.


__ADS_2