Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 53 - Tawaran Mengejutkan


__ADS_3

...༻✿༺...


Sesampainya di Hawai, Bella, Ben dan para karyawan Foodton segera beristirahat di hotel. Karena hotel yang mereka tempati sedang dalam masa promosi, pelayanannya nyaman dan memuaskan.


Bella dan Ben berada di kamar vip yang bersebelahan. Keduanya kebetulan melakukan aktifitas yang sama. Mereka baru selesai mandi, dan sedang hanya mengenakan handuk.


Bella mengambil ponsel. Dia memberitahukan mengenai terapi yang akan dilakukannya besok. Bella berniat melakukan terapi di pantai. Sebagai seorang pasien yang mengharap kesembuhan, Ben tentu tidak akan menolak.


Keesokan harinya, Ben lebih dahulu pergi ke pantai. Dia menunggu Bella cukup lama. Ben yang tidak suka dengan air, tidak berminat sama sekali bermain ombak. Pria itu lebih memilih duduk di kursi pantai. Menyedot air kelapa langsung dari buahnya.


Sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahu Ben dua kali. Dia ternyata adalah Bella. Gadis itu mengajak Ben untuk mengikutinya ke suatu tempat.


Ben lantas mengekori. Dia terlihat mengenakan kacamata hitam dan kemeja bunga-bunga khas Hawai.


Deg!


Langkah kaki Ben terhenti, ketika Bella mengajaknya menaiki sebuah kapal.


"Ben! Tidak apa-apa. Percayalah kepadaku." Bella menyodorkan tangan kepada Ben.


"Ayolah, Dokter. Sebaiknya kau katakan dulu apa niatmu. Kau mau melakukan terapi apa?" tanya Ben seraya mengangkat dagunya sekali.


"Rahasia. Tetapi jika kau tidak mau sembuh, ya sudah. Lebih baik kita kembali saja ke New York." Bella berjalan menjauh dari kapal. Ia berpura-pura merajuk.


"Oke, oke. Aku bersedia!" Ben terpaksa setuju. Dia segera mendekati kapal.


Dengan bantuan Bella, Ben dapat naik ke atas kapal. Dalam sekejap kapal berjalan mengarungi lautan. Kapal itu berhenti di lokasi tertentu.


Bella dan Ben tiba di sebuah pulau kecil. Tempat itu hanya dipenuhi dengan pohon mangrove dan bebatuan.


"Kita mau apa?" tanya Ben. Ia dan Bella sudah turun dari kapal.


Kapten kapal tampak melemparkan sesuatu kepada Bella. Benda itu tidak lain adalah dua buah kacamata selam yang dilengkapi selang untuk aliran oksigen.


"Bukalah pakaian atasanmu. Kita akan menyelam bersama. Aku akan tunjukkan kalau air memiliki keindahan," ujar Bella sembari menyodorkan kacamata selam.


"A-apa? Menyelam?" Ben mulai dirundung ketakutan. Berenang saja dia takut, apalagi menyelam. "Tidak, Dokter! Aku tidak bisa." Ben lekas menggeleng. Ia awalnya menolak tegas. Langkahnya bergerak mundur menjauhi air laut.

__ADS_1


Bella tersenyum. Dia terlihat melepaskan pakaian. Hingga hanya menyisakan swimming suit yang memang sengaja dipakai lebih dulu. Selanjutnya, Bella melangkah ke hadapan Ben.


"Percayalah kepadaku. Ini semua demi kesembuhanmu. Aku tahu kau bisa melakukannya, Ben..." bujuk Bella lembut. Wajahnya yang cantik jelita, dihiasi oleh rambut panjangnya yang beterbangan. Membuat Ben tidak kuasa untuk menolak.


"Baiklah..." Ben mengangguk lemah. Dia segera melepas pakaiannya. Tampilan Ben sekarang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.


Kini Bella menuntun Ben berjalan memasuki air. Meskipun ragu, Ben memutuskan percaya kepada gadis yang menuntunnya.


Ben sama sekali tidak melihat ke air. Dia memilih terus menatap Bella yang entah kenapa membuat dirinya sedikit tenang.


Bella mengajari Ben menggunakan kacamata selam. Dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengajari pemula seperti Ben.


"Aku tidak bisa, Dokter. Kita pulang saja." Ben sudah berulangkali menyebut kalimat itu.


"Kau pasti bisa." Bella bersikeras. Dia terus memberikan dorongan kepada Ben.


"Tidak!" Ben masih saja tidak percaya kepada dirinya sendiri.


"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang melihat keindahan di dalam air." Bella menenggalamkan diri ke dalam air.


"Tapi--" ucapan Ben terjeda, ketika Bella telah terlanjur menyelam.


Pupil mata Ben membesar saat menyaksikan apa yang dikatakan Bella merupakan fakta. Keadaan di dalam air sangatlah indah. Dengan terumbu karang yang berwarna warni, serta beragam jenis ikan.



Tanpa sadar, Ben tersenyum. Dia bergerak mengejar Bella. Lalu memegang tangan gadis itu. Keduanya lantas saling berpegangan tangan. Entah kenapa Ben merasa sangat nyaman. Bahkan saat berada di tempat yang paling ditakuti. Keberadaan Bella perlahan merubah semua sudut pandangnya terhadap dunia. Terutama dari hal yang ditakuti dan dibencinya.


Setelah puas menyelam, Bella dan Ben keluar bersamaan dari air. Saat itulah Ben mengembangkan senyuman lebar di wajahnya.


"Kau mulai sering tersenyum sekarang," cetus Bella. Membuat senyuman Ben seketika memudar begitu saja. Alhasil Bella reflek terkekeh. Dia merasa gemas dengan sikap Ben.


Bella dan Ben memutuskan mengeringkan badan di pantai. Keduanya duduk bersebelahan di pasir. Tepat di bawah pohon mangrove yang ada.


"Sepertinya aku harus belajar berenang," celetuk Ben. Tanpa menoleh ke arah Bella.


"Lakukanlah dengan orang yang profesional," balas Bella. Dia tergelak kecil bersama Ben.

__ADS_1


Hening menyelimuti suasana. Hanya ada suara debur ombak yang melantang. Bella tenggelam dalam pikirannya tentang Justin. Ada sesuatu hal yang mengganggunya selepas berkunjung ke apartemen kekasihnya tersebut.


"Ben, apa aku boleh cerita sesuatu kepadamu. Aku pikir kau orang yang bisa dipercaya untuk menjaga rahasia," ujar Bella. Menatap Ben dengan sudut matanya.


"Tentu saja." Ben memasang raut wajah serius.


"Berjanjilah kali ini kau akan mendengarkan." Bella mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Ben. Mengingat obrolan sebelumnya yang sempat diabaikan.


Ben tersenyum masam sambil mengusap tengkuknya. Meskipun begitu, dia berjanji akan mendengarkan.


"Aku pikir pacarku bercinta dengan wanita lain," ungkap Bella.


"Apa?! Kenapa kau berpikir begitu?" Ben memastikan.


"Aku menemukan pakaian wanita dan dua bungkus kon*dom di kamar mandinya. Dia jelas melakukannya bukan?"


Ben yang tadinya tidak percaya, sekarang dibuat geram. Lelaki mana yang tega berselingkuh dari gadis luar biasa seperti Bella? Dia tidak habis pikir.


"Tentu saja. Seratus persen dia melakukannya! Lalu? Apa kau sudah memastikannya dengan kekasihmu?" Ben melakukan tatapan menyelidik.


Bella menggeleng lemah. "Aku pikir itu hal wajar untuk kekasihku. Karena aku tidak pernah bersedia berhubungan intim dengannya. Dia melakukan itu karena berusaha melampiaskan hasratnya," jelasnya. Menyebabkan Ben terperangah tak percaya.


"Kau tidak marah?" pungkas Ben.


"Aku marah, tapi tidak semarah itu. Aku masih mencintainya. Dan satu hal yang pasti... entah kenapa aku tidak rela memberikan keperawananku untuknya," ucap Bella sambil menundukkan kepala. "Menurutku tidak adil," sambungnya.


Ben mendengus kasar. Dia tidak tahu harus berkata apa. Terutama setelah mengetahui kalau Bella masih menganggap dirinya sebagai perawan.


"Ben! Apa kau pernah menyentuh wanita?" Bella mendadak bertanya.


Ben terdiam sejenak. Padahal hatinya langsung menjawab, 'Pernah! Wanita itu hanyalah dirimu!'


"Ben?" panggil Bella. Mampu menyadarkan lamunan Ben dalam sekejap.


"Ah, tentu saja tidak. Kalau kau ingin tahu, kau bisa tanyakan kepada Jimmy. Dia merahasiakannya dengan baik," kata Ben. Memilih merahasiakan insiden di pesta Jennifer.


Bella lagi-lagi membisu. Hingga satu kalimat pertanyaan mengejutkan keluar dari mulutnya. Dia berucap, "Maukah kau berhubungan intim denganku? Aku ingin melakukannya dengan orang yang juga belum pernah berhubungan intim."

__ADS_1


Deg!


Jantung Ben berdebam keras. Dia tidak menyangka Bella akan memberikan tawaran seperti itu. Apakah dia sekarang bermimpi? Apa mimpi basah tempo hari terjadi lagi? Tidak. Jelas-jelas dia dapat merasakan hembusan angin laut secara nyata. Pertanda kalau apa yang di hadapinya adalah kenyataan.


__ADS_2