Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 32 - Tanda Merah Misterius


__ADS_3

...༻✿༺...


Dengan helaan nafas panjang, Bella menyendok buburnya. Lalu memasukkannya ke dalam mulut. Dia yang tadinya sibuk termangu, langsung tersadar. Sebab bubur buatan Ben sangat enak. Bella otomatis melahap bubur sampai tak tersisa.


Ben terlihat menarik kursi di seberang Bella. Dia duduk sambil meletakkan gelas mug berisi teh hijau. Semenjak Bella terbangun, pria itu terus melayangkan tatapan penuh arti. Seolah ada sesuatu yang hendak dikatakan. Tetapi Ben masih ragu untuk menemukan waktu yang pas.


"Wow, dimana kau membeli bubur ini?" tanya Bella. Dia selesai menghabiskan bubur. "Ini enak sekali!" sambungnya.


Ben hampir tersenyum. Namun dia langsung merubah raut wajah menjadi datar. Ben nyaris lupa jati dirinya.


"Aku yang membuatnya," jawab Ben sembari sedikit mengangkat dagu. Bersikap pamer dan sombong.


Bella yang sejak tadi menatap mangkuk kosongnya, perlahan mendongak. Dua alisnya terangkat bersamaan. "Benarkah?" tukasnya.


Bella lantas memindai penglihatan ke sekeliling. Terutama ke bagian dapur. Di sana tampak panci serta beberapa sayuran sisa bekas potongan. Selain itu, Bella juga melihat beberapa piala dan piagam penghargaan di atas lemari.


"Apa kau dulu seorang chef?" sekali lagi Bella bertanya.


"Bukan, tapi itu adalah cita-citaku sejak kecil. Yang jelas aku sangat hobi memasak," jelas Ben. Lalu menyesap teh hijau dari gelas mug.


Bella menganggukkan kepala. Kini dia mengerti, kenapa Ben menjadi CEO di perusahaan Foodton. Ternyata karena bakat hebatnya tersebut. Memang seorang pemimpin harus memiliki keahlian yang mumpuni. Tetapi sayangnya, Ben memiliki penyakit jiwa yang mengganggu.


"Kenapa kau tidak mencobanya?" usul Bella. Namun Ben malah menatap dengan dahi berkerut. Tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Bella.


"Maksudku mencoba menjadi chef." Bella menerangkan lebih lanjut.


"Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja." Ben menjawab singkat seperti biasa. Bella lantas hanya mengangguk beberapa kali.


"Minumlah obatnya. Supaya pengarmu benar-benar pulih. Aku yakin kau masih pusing," saran Ben.


"Thanks!" ungkap Bella enggan. Ia masih merasa canggung mengobrol dengan Ben.


Suasana menyepi dalam sesaat. Ben sebenarnya berniat membicarakan perihal keinginannya untuk menjadi pasien Bella. Tetapi ingatan tentang tadi malam membuatnya tidak nyaman. Ben juga merasa sedikit bersalah.


"Kau benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi tadi malam?" celetuk Ben. Memecah kesunyian yang ada.

__ADS_1


Bella yang baru selesai meminun obat, segera angkat suara. "Tidak, memangnya apa yang terjadi?" ujarnya. Menatap selidik.


Ben terkesiap. Ternyata hanya dirinya yang ingat mengenai apa yang terjadi tadi malam. Entah kenapa dia merasa kecewa sekaligus lega. Perasaan tersebut bercampur aduk.


"Ti-tidak ada. Kau hanya bicara melantur sambil rebahan di sofa," Ben menjelaskan asal. Ia menutupi ekspresi gugupnya dengan gelas mug yang bertengger di depan bibir.


"Maaf..." Bella menunduk malu.


Melihat ketidaknyamanan Bella, Ben terpikir akan sesuatu hal. Dia bisa memanfaatkan keadaan sekarang untuk membicarakan keinginannya untuk kembali menjadi pasien Bella.


"Aku akan memaafkanmu, jika kau menerimaku kembali menjadi pasien," cetus Ben seraya menyunggingkan mulut ke kanan.


Mata Bella langsung mendelik. Dia tidak menyangka Ben akan memanfaatkan keadaan.


"Aku tahu, aku memang orang yang pemaksa dan kejam. Tapi aku berjanji, akan membuat pengecualian untukmu," tutur Ben. Dia terdengar bersungguh-sungguh.


"Sebelum itu, biarkan aku berpikir dulu. Oke?" Bella mencoba mengulur waktu. Perlahan dia bangkit dari tempat duduk.


"Dimana kau menyimpan tasku? Aku sebaiknya pulang saja," seru Bella. Celingak-celingukan ke segala arah untuk mencari tas miliknya.


Ucapan Ben membuat Bella mengamati penampilannya dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu memang benar. Dirinya sangat berantakan sekarang.


"Baiklah, dimana kamar mandimu?" tanya Bella, yang langsung dijawab Ben dengan cara menunjukkan arah. Bella lalu beranjak masuk ke kamar mandi.


Kini Bella berdiri menatap cermin. Melihat pantulan dirinya yang sangat acak-acakan. Ternyata usaha merapikan rambutnya tadi tidak memberikan efek apa-apa.


Bella melepaskan dressnya. Hingga hanya menyisakan bra dan sabuk segitiga. Keningnya mengernyit heran saat menyaksikan tanda merah di beberapa bagian tubuh.


"Apa-apaan ini?" gumam Bella dalam keadaan mata yang membulat. Segala praduga otomatis bermunculan dalam kepalanya.


'Apa ini ulah Ben?' pikir Bella sembari memiringkan kepala. 'Tunggu, tunggu. Bukankah dia membenci wanita. Tidak mungkin Ben yang melakukan ini kepadaku,' duganya lagi.


Lidah Bella berdecak. Dia juga merasa alat vitalnya terasa berbeda. Gadis itu berusaha berpikir positif, namun tidak bisa. Sebab tubuhnya terasa sangat aneh.


"Aku yakin Ben tahu tentang ini!" kata Bella sambil membuka pintu kamar mandi. Dia akan bertanya langsung kepada Ben. Bahkan tanpa sempat mengenakan dress atau handuk kimono untuk menutupi tubunya. Bella berpikir, Ben tidak akan tertarik.

__ADS_1


"Mr. Mayers! Ada yang ingin aku tanyakan!" seru Bella.


Ben terlihat sibuk membaca. Pria itu menggunakan kacamata bacanya. Dia langsung membuka kacamata tersebut tatkala mendengar seruan Bella.


Mata Ben membuncah hebat. Dalam keadaan jantung yang berdebam keras. Bella muncul dengan hanya mengenakan bra dan sabuk segitiga.


"Do-dokter Red!" gagap Ben. Kelopak matanya tidak kuasa berkedip. Ludahnya tertelan sendiri melewati tenggorokan.


"Apa kau lihat tanda kemerahan di tubuhku?" Bella menunjuk tanda merah di beberapa titik badannya.


Ben sekali lagi menelan salivanya sendiri. Dia memejamkan rapat matanya agar bisa menenangkan diri. Ben tidak mau Bella mengingat kejadian tadi malam. Hal tersebut dilakukan olehnya demi mempertahankan reputasi.


"Itu... kau tadi malam sempat bermain-main dengan serangga aneh. Aku rasa itu terjadi sebelum kau telentang di sofa." Ben memberikan alasan seadanya. Terdengar aneh dan tidak masuk akal. Bella bahkan bingung ketika mendengarnya.


"Serangga? Di hotel mewah?" Bella mencoba percaya. Akan tetapi sangat sulit ditelan oleh logikanya.


"Apa kau tidak percaya kepadaku? Atau kau berpikir itu bekas kecupan dari bibirku, begitukah?" Ben berupaya keras mempertahankan diri. "Jangan bilang kau mengharapkannya?" timpalnya remeh.


"Cih! Tentu saja tidak! Aku hanya penasaran," respon Bella ketus. Dia segera kembali ke kamar mandi. Timpalan Ben membuatnya jengah melanjutkan pembicaraan.


Sekarang Ben mendengus lega. Ia mengelus-elus dadanya dengan pelan.


Selang sekian menit, Bella akhirnya selesai membersihkan diri. Rambutnya basah dan perlu memberikan sentuhan alat pengering rambut. Dia segera menanyakannya kepada Ben.


Kehadiran Bella membuat Ben kaget untuk yang kedua kalinya. Menyebabkan Bella sontak mengikik geli.


"Kau kenapa sangat ketakutan?" komentar Bella seraya menatap Ben dengan sudut matanya. Akan tetapi Ben hanya membisu. Pria itu beranjak untuk mengambilkan Bella alat pengering rambut.


Selagi Ben pergi, Bella kebetulan menemukan tas miliknya. Dia memeriksa ponsel. Lalu melihat banyak panggilan serta pesan dari Brian dan Cecil. Ada sebuah foto yang dikirimkan oleh Brian.


'Apa yang terjadi? Semua orang heboh melihat Ben berbuat begitu kepadamu!' begitulah pesan yang ditulis oleh Brian.


'Itu gila! Jangan bilang dia Lucky? Bella! Beritahu aku dimana kau berada!' berbeda dengan Brian, Cecil justru mencemaskan Bella. Dia juga mengirimkan foto serupa dengan Brian.


Mata Bella membelalak. Satu tangannya reflek menutupi mulut. Apa yang dilakukan Ben sukses menarik perhatian besar dari semua orang!

__ADS_1


__ADS_2