Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 70 - Ending [Menerima Apa Adanya Kamu]


__ADS_3

...༻✿༺...


Setelah menikah, Ben dan Bella pergi berbulan madu ke Hawai. Lokasi tersebut memang adalah tempat yang paling berkesan atas awal mula hubungan mereka.


Sekali lagi Bella dan Ben menyelam bersama di laut. Kali ini Ben lebih berani dibanding sebelumnya. Mereka juga tidak lupa pergi ke tempat wisata tropis yang menenangkan.


Terdapat bebatuan besar yang berdiri di dekat pantai. Pasir putih tampak menghambur di sekitar. Tempat wisata itu cukup jauh dan sepi. Jadi Bella dan Ben menghabiskan waktu penuh akan ketenangan di sana. Dengan beralaskan kain pantai, keduanya berjemur bersama. Bella kebetulan hanya mengenakan bikini. Sedangkan Ben bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek berwarna abu-abu.


"Hal yang aku suka di sini adalah ketenangan..." celetuk Ben. Dia menjadikan satu tangan sebagai bantalan kepala. Matanya tertutupi dengan sunglass hitam. Hal serupa juga dilakukan Bella.


"Ya, terkadang kita merasa lelah dengan suasana kota," sahut Bella. Perlahan dia telentang miring menghadap Ben. Menurunkan sedikit kacamata hitamnya agar bisa menatap Ben. "Boleh aku bertanya kepadamu tentang sesuatu?" tanya-nya.


"Apapun..." jawab Ben santai.


"Aku sudah mengetahui sebagian teka-teki dari masa lalumu. Tapi hanya satu hal yang masih membuatku penasaran. Yaitu musik jazz? Apa itu adalah salah satu kenangan indah untukmu?"


Mendengar pertanyaan Bella, Ben ikut telentang miring. Hingga posisinya dan Bella kini saling berhadapan.


"Seratus untukmu, Honey. Aku menyukai musik jazz sejak kecil. Semuanya karena seorang wanita paruh baya pemilik toko piringan hitam. Toko itu adalah tempat yang sering aku kunjungi selain danau. Pemilik toko itu keturunan Spanyol. Dia sering dipanggil Serena," jelas Ben. Namun Bella justru memecahkan tawa kecil.


"Apa kau cukup akrab dengan Serena?" Bella kembali bertanya.


"Begitulah, dia sering memainkan musik yang menyenangkan. Itu membuatku tenang. Aku merasa normal... Kau tahu maksudku bukan?" ungkap Ben yang langsung direspon Bella dengan anggukan kepala.


Memiliki orang tua yang suka berbuat kekerasan, tentu bukanlah hal normal. Masa kecil Ben jauh dari yang namanya normal. Pantas saja, hal kecil seperti musik jazz dan pemilik toko piringan hitam, sangat berkesan dalam ingatannya.


Ben membuka kacamata hitamnya. Lalu memposisikan diri berada di atas badan Bella. Ia melepas kacamata yang menutupi mata istrinya. Ben melanjutkan dengan memberikan sentuhan intim.


Bella memejamkan rapat matanya. Membiarkan mulut Ben menjelajah area leher sampai buah dadanya.


"Ben... kau yakin mau melakukannya di sini?..." tanya Bella lirih. Jujur saja, dia mulai merasa bergairah.

__ADS_1


"Hmmmh..." Ben hanya menjawab Bella dengan gumaman. Tangannya bergerak cepat melepas bikini yang menutupi badan Bella. Tidak lama kemudian, penyatuan pun terjadi. Suara lenguhan Bella berpadu dengan suara debur ombak. Salah satu tangan gadis itu menggenggam pasir dengan erat. Dia seringkali kewalahan menghadapi kekuatan Ben yang menggebu. Tetapi sebenarnya Bella menyukainya.


Apalagi ketika Ben mencengkeram rambut panjang Bella. Diteruskan dengan menggigit bibir bawah istrinya tersebut. Apa yang dilakukan Ben sukses membuat erangan Bella kian menjadi-jadi. Mereka bersenggama setelah merasa saling terpuaskan satu sama lain.


Sehabis puas bersantai, Ben dan Bella kembali ke hotel. Besok adalah hari terakhir mereka berbulan madu.


Ketika hari sudah pagi, Bella terbangun dari tidur. Dia mendengar suara musik jazz bergema. Matanya otomatis mengedar ke segala penjuru.


"Oh my god. Ben!" seru Bella kaget. Matanya terbelalak tak percaya. Bagaimana tidak? Dia menyaksikan Ben mengenakan dress pink miliknya. Lalu menari sendirian sambil sesekali melemparkan senyuman kepada Bella.


"Halo, Senorita. Apa kau menyukai musiknya? Ini adalah salah satu lagu favoritku," ujar Ben sembari tersenyum ramah. Badan besarnya sama sekali tidak cocok dengan dress yang dikenakannya. Bagian bahu dan pinggul dress itu bahkan sedikit sobek, karena Ben sepertinya memaksakan diri untuk memakainya.


Bella termangu. Dia dapat menyimpulkan kalau kepribadian baru muncul dalam diri Ben. Sejujurnya itu membuat Bella merasa kecewa. Akan tetapi setidaknya kepribadian yang muncul tidak berbahaya seperti Lucky.


Satu hal yang dapat Bella simpulkan. Ben tidak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Kenangan itu terlalu menyakitkan untuk Ben.


Keterpakuan Bella terhenti, ketika kepribadian baru Ben mengajaknya menari bersama. Bella lantas menurut saja. Sekarang dia menggerakkan badan sesuai irama musik.


"Serena. Namaku Serena," jawab Ben. Bersuara lemah lembut bak seorang perempuan.


Bella tersenyum tipis. Dia memeluk Ben dan tetap menari. "Sungguh, aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak peduli seberapa banyaknya kepribadian lain yang muncul darimu..." ungkap Bella.


"Kau bilang apa, my dear?" tanggap Serena. Namun Bella hanya menggeleng dan mengembangkan senyuman.


Saat musik jazz berhenti, barulah Serena menghilang. Sosok Ben mengambil alih tubuhnya kembali. Pria itu sangat kaget menyaksikan dirinya mengenakan pakaian wanita.


"Apa-apaan ini?! Apa yang terjadi kepadaku?" timpal Ben.


"Kepribadian baru muncul," sahut Bella.


Ben sontak merasa kecewa. Dia perlahan duduk dengan raut wajah sendu. "Maafkan aku... sepertinya aku belum bisa sepenuhnya pulih. Maafkan aku, Bella..." katanya yang merasa begitu malu.

__ADS_1


"Kau seharusnya tidak menikahi lelaki sepertiku..." lirih Ben lagi.


Bella berjongkok ke hadapan Ben. Memegangi wajah suaminya tersebut dengan lembut.


"Sebelum aku menikahimu, aku sudah tahu resiko yang harus kuterima. Termasuk tentang kepribadian baru yang akan muncul darimu. Aku sama sekali tidak masalah dengan itu, Ben. Fakta bahwa penyakit kepribadian ganda tidak bisa disembuhkan, itu memang nyata. Seseorang tidak akan sembuh dari penyakit jiwa dengan paksaan." Bella menempelkan jidatnya ke dahi Ben.


"Terima kasih..." Ben menatap Bella dengan binaran penuh kekaguman. Di akhir mereka saling berpelukan. Memejamkan mata, seakan menemukan tempat ternyaman di dunia.


Selang sekian detik, Bella mendadak berdiri. Dia bergegas berlari masuk ke kamar mandi. Bella terdengar muntah-muntah. Ben yang cemas, segera memastikan keadaan istrinya itu.


"Mualmu masih belum juga pulih?" tanya Ben. Sebenarnya Bella merasa mual semenjak dalam perjalanan ke Hawai. Rasa mual Bella sempat berhenti dalam beberapa saat. Tetapi Ben tidak menyangka sang istri akan menderita mual lagi.


"Huek!" Bella tidak menjawab pertanyaan Ben. Karena dia disibukkan dengan rasa mual.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang! Bersiaplah!" ujar Ben. Segera bersiap-siap untuk pergi.


Bella masih berdiri di depan wastafel. Dia memegangi area perut. Bella berfirasat kalau dirinya sedang hamil. Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia kedokteran, dia tentu tahu ciri-ciri perempuan hamil. Tetapi Bella tidak bisa menyimpulkan tanpa bukti yang nyata. Ia akan tahu saat mendapat pemeriksaan di rumah sakit nanti.


Hanya perlu memakan waktu sebentar untuk menjalani pemeriksaan. Sebelum memberikan hasil pemeriksaan Bella, dokter tidak lupa menyuruh Ben bergabung. Dengan senyuman cerah, dokter memberitahu kalau Bella sedang mengandung.


Ben dan Bella reflek saling bertukar pandang. Mereka berusaha menahan reaksi yang berlebihan. Keduanya baru bereaksi girang ketika sudah keluar dari rumah sakit. Sebuah kecupan berulang kali dilakukan oleh mereka.


Di suatu waktu, Ben tiba-tiba memasang raut wajah sedih. "Bagaimana jika anak kita lahir? Dan keadaanku masih tetap begini?" Ben membicarakan penyakit kepribadian ganda yang dimilikinya.


"Tenanglah, Ben. Seorang anak akan berkembang sesuai didikan orang tuanya. Jika kita mendidiknya dengan baik, aku yakin dia akan mengerti. Aku yakin anak kita nanti akan sangat menyayangi ayahnya." Perkataan Bella berhasil membuat Ben tersenyum. Mereka lantas melenggang bersama memasuki mobil. Bersiap-siap untuk kembali ke kota New York.


...~TAMAT~...


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Aku ucapkan terima kasih kepada semua pembaca setia novel ini. Maaf jika ada kesalahan kata, typo, atau hal lainnya. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih... love you 😘


__ADS_2