Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 54 - Ranjang Pemula


__ADS_3

...༻✿༺...


Menyaksikan ekspresi Ben yang tampak kaget, Bella lekas-lekas menarik ucapannya. "Lupakan! Aku tidak serius," ujarnya sembari tergelak hambar.


"Ayo, kita sebaiknya kembali ke hotel. Aku sudah lapar." Bella berdiri. Lalu mengambil pakaian. Dia memilih menggunakan selendang pantai untuk di ikat ke pinggul.


Sebelum naik ke kapal, Ben mendadak memegang lengan Bella. Sebenarnya tawaran Bella tadi terus menjadi momok dalam pikirannya.


"Apa benar kau masih perawan? Aku merasa tidak percaya," ujar Ben. Dengan wajah secantik itu, dia yakin Bella pasti sudah sering bergonta-ganti pacar. Ben tidak percaya kalau sentuhannya saat di pesta Jennifer adalah yang pertama bagi Bella.


"Aku pikir, aku memiliki trauma. Kakak kandungku pernah hampir memperkosa saat aku masih berusia lima belas tahun. Mungkin karena itu aku tidak berani melakukannya..." Bella menceritakan gangguan yang selama ini dipendamnya sendiri.


"Lalu dimana kakakmu sekarang?" tanya Ben.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Mereka ada di Colorado bersama ibuku," jawab Bella. "Ben, jangan beritahu ini kepada siapapun. Oke?" sambungnya sembari melangkah lebih dekat.


Ben mengangguk dan berucap, "Kalau begitu, ayo kita lakukan! Anggap saja ini sebagai terima kasihku terhadap usaha yang kau lakukan untuk menyembuhkanku."


Mata Bella membola. Dia tidak percaya lelaki yang sangat membenci wanita seperti Ben, bersedia melakukannya.


"Kau yakin? Aku pikir kau benci bersentuhan dengan wanita. Bahkan tersenggol sedikit pun kau merasa risih," tukas Bella.


"Aku akan menganggap ini sebagai bagian dari terapi. Mungkin sudut pandangku terhadap wanita akan berubah," tanggap Ben.


Bella hanya tersenyum tipis. Lalu segera menaiki kapal. Sebelum membuat keputusan, dia ingin berpikir baik-baik.


Ben mengenakan kemejanya kembali. Dia tiba-tiba merasa malu saat melihat Bella bungkam. Ben takut apa yang diucapkannya tadi membuat hubungannya dan Bella menjadi canggung. Alhasil Ben terduduk di dek kapal. Dia terlihat menikmati segelas wine yang disuguhkan kapten kapal.


"Dokter, apa kau tidak mau minum?" tegur Ben. Menatap Bella yang berdiri membelakanginya. Gadis itu berada di depan pagar pembatas kapal. Menyaksikan hamparan laut yang biru dan cerah.


"Terima kasih." Bella berbalik badan. Lalu duduk ke sebelah Ben. Dia terdiam kembali sambil memegangi jari-jemarinya.


"Baiklah... ayo kita lakukan. Aku juga akan menganggapnya sebagai terapi," celetuk Bella. Dia akhirnya memberikan keputusan.

__ADS_1


Ben hampir tersenyum, tetapi dia berusaha keras menahan. Padahal hatinya sekarang sedang melompat-lompat kegirangan. Dia tidak percaya akan melakukannya dengan sadar bersama Bella.


"Tapi aku punya syarat." Bella kembali berucap. "Lakukanlah dengan pelan. Aku tidak ingin kau terlalu gegabah, seperti memegangiku dengan kuat atau melakukan paksaan. Jika begitu, kau akan membuat traumaku bertambah," tambahnya, memberitahu.


"Baiklah. Aku mengerti." Ben mengangguk. Kemudian menenggak wine dari gelas sampai habis.


"Kita lakukan malam ini saja. Datanglah ke kamarku jam sembilan malam," ujar Bella. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Sebab kapal sudah tiba di tempat tujuan.


Ben dan Bella menghabiskan waktu berkumpul dengan para karyawan Foodton sebentar. Mereka mengobrol dan menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pelayan hotel. Mereka juga tidak lupa untuk mengambil foto.


Para karyawan Foodton merasakan sesuatu yang berbeda. Mereka merasa sikap Ben berubah drastis. Tidak sedingin biasanya. Ben bahkan tidak berhenti tersenyum kala mendengar Bella bicara. Tatapannya juga terus tertuju ke arah gadis itu. Setelah Bella dan Ben pergi, para karyawan Foodton berkumpul dan langsung bergosip.


"Sekarang aku yakin, Mr. Mayers sedang jatuh cinta. Dia benar-benar seperti sedang kasmaran!"


"Benar! Aku juga bisa merasakannya. Tatapannya kepada Bella sangat berbeda. Aku pikir hubungannya dengan Justin tidak benar! Tapi inilah yang benar."


"Ini merupakan berita besar! Semua orang di perusahaan harus tahu."


Para karyawan Ben itu mengakhiri pembicaraan dengan cara mengunggah foto ke grup chat. Mereka memberi kabar baru kepada semua orang.


"Bella dan Ben? Ba-bagaimana bisa?" Mata Justin terbelalak ketika melihat foto kebersamaan bos dan kekasihnya sendiri.


...***...


Hari menunjukkan jam delapan malam. Ben sudah bersiap-siap untuk pergi ke kamar Bella. Dia tidak lupa mandi dan mengoleskan cologne agar badannya harum.


Ben juga memikirkan berbagai cara dalam kepalanya. Terutama demi melakukan hubungan intim dengan pelan. Persis seperti yang di inginkan oleh Bella.


Jam sembilan telah tiba. Ben datang tepat waktu. Dia memang sudah menunggu satu jam lebih awal.


Bella menyambut dengan senyuman. Lalu mempersilahkan Ben masuk ke kamar.


"Duduklah dimana pun kau mau," ujar Bella.

__ADS_1


Ben lantas duduk ke sofa. Suasana tiba-tiba terasa canggung. Ben yang tidak berpengalaman berurusan dengan wanita tidak tahu harus berbuat apa.


"Bagaimana? Apa kau benar-benar yakin?" Bella memastikan sekali lagi.


"Ya, bagaimana dengan dirimu? Kau tidak harus melakukannya dengan orang sepertiku. Kita juga tidak harus melakukannya sekarang."


"Tidak, Ben. Aku tidak mau melakukannya saat kembali ke New York." Bella tersenyum singkat.


"Kenapa?"


"Supaya aku bisa melupakannya dengan cepat. Kita tidak melakukannya dengan perasaan bukan? Aku yakin kau tidak akan terbawa perasaan. Itulah salah satu alasanku memilihmu." Bella menyimpulkan sendiri. Dia yakin Ben tidak akan jatuh cinta kepadanya. Mengingat sikap acuhnya terhadap semua wanita.


Ben tentu kecewa mendengar perkataan Bella. Dia hanya menunduk dan berusaha membuang jauh rasa kecewanya.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan." Bella bangkit dari tempat duduk. Lalu menanggalkan pakaian satu per satu. Dia segera berhenti melakukan pergerakan, saat Ben masih duduk diam.


"Apa kau tidak mau melepas bajumu?" tegur Bella. Menyebabkan Ben langsung berdiri. Lalu melepaskan pakaian yang dikenakannya.


Kini Bella tidak mengenakan satu helai benang pun di tubuhnya. Hal serupa juga terjadi kepada Ben sekian detik kemudian.


Ben dan Bella berjalan mendekat dan memperhatikan satu sama lain. Keduanya sudah berdiri saling berhadapan.


Ben yang sudah tidak sabar, segera memagutkan bibirnya ke mulut Bella. Keduanya mengawali ciuman dengan lembut. Perlahan tangan mereka saling menyentuh tubuh satu sama lain.


Lama-kelamaan, ciuman Ben dan Bella semakin intens. Mulut mereka sangat merekat, seolah begitu sulit dilepaskan. Nafas keduanya bahkan mulai tak terkontrol.


Di waktu tak terduga, Bella melepas tautan bibirnya. Dia melangkah mundur dan duduk ke kasur.


Ben yang mengerti segera mendekat. Dia dan Bella melanjutkan ciuman sambil menjatuhkan diri ke atas kasur. Kini Ben ada di atas badan Bella. Terus bergulat lidah tanpa henti.


Suara kecup-mengecup memecah kesunyian malam. Bella mulai merasa bergairah. Kupu-kupu serasa beterbangan dalam perutnya.


Ben melepaskan bibirnya dari mulut Bella. Sekarang dia berpindah haluan ke beberapa titik tubuh Bella. Dengan pelan, Ben menciumi badan Bella dari kepala sampai ke ujung kaki. Selanjutnya, dia kembali mengulanginya. Namun kali ini dirinya mengawali kecupan dari ujung kaki. Ben sesekali berhenti di beberapa titik tubuh sensitif Bella. Salah satunya adalah bagian perut. Di sana pria itu bermain lidah dan mulut dengan lembut.

__ADS_1


Bella merasakan darah berdesir hebat. Satu tangannya reflek mencengkeram seprai kasur. Satu lenguhan keluar dari mulutnya. Tanpa sadar, Bella ingin merasakan kenikmatan yang lebih.


__ADS_2