Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 23 - Lucky And The Gang


__ADS_3

...༻✿༺...


Lucky mematung cukup lama. Ada sesuatu hal yang terlintas dalam benaknya. Hingga perlahan dia memilih menurunkan pistol. Lucky malah membawa Bella duduk di sebuah kursi. Lalu mengikatnya dengan tali tambang. Kini hanya perlu menunggu gadis itu siuman.


Sekian menit terlewat. Bella akhirnya terbangun. Dia merasakan pusing yang cukup menyelingat di kepala. Matanya mengerjap pelan, sampai dirinya mampu menyaksikan empat mayat lelaki terkapar di lantai.


Bella kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak? Cairan merah berbau anyir berlinang sampai menyentuh sepatu putihnya. Dengan cepat Bella mengedarkan pandangan ke segala arah. Sampai dia berhasil menangkap sosok Lucky.


Bella hendak menggerakkan tangannya. Tetapi tidak bisa, karena keadannya sekarang sedang terikat.


Setelah dipikir-pikir, Bella dapat menyimpulkan bahwa sosok yang dilihatnya pasti Lucky. Sebab jika Ben, tidak mungkin dirinya akan di ikat dengan tali. Belum lagi mengenai empat mayat yang sudah meninggal di dekatnya. Siapa lagi orang yang berani membunuh mereka selain Lucky?


"Lucky? Itu kau bukan?" tanya Bella memastikan.


Lucky yang sedari tadi berdiri di dekat jendela, perlahan menoleh. Ia memasukkan kedua tangan ke saku mantel.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Lucky justru berbalik tanya.


"Sangat mudah. Ben tidak akan mengikatku dengan tali begini," jelas Bella singkat.


Lucky terkekeh geli. Menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. Dia memang persis seperti psikopat gila.


Bella yang melihat, hanya bisa mengernyitkan kening. Ia sebenarnya heran, kenapa kali ini Lucky tidak mencoba membunuhnya. Bella dapat menduga, pasti Lucky mempunyai rencana baru.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Bella langsung bicara ke intinya.


Lucky berjalan menghampiri Bella. Lalu berjongkok di bawah kaki. Salah satu tangannya bertengger di lutut Bella.


"Aku ingin meminta permintaan seperti Ben," ungkap Lucky. Tatapan tajamnya, membuat manik birunya berbinar-binar.


Sekali lagi dahi Bella berkerut. Dia tidak mengerti. Atau lebih tepatnya ragu untuk menduga. "Apa maksudmu?" tanya-nya.


"Maksudku... aku juga ingin bekerjasama denganmu. Jika Ben berniat membunuhku, maka aku juga akan melakukan hal sama." Lucky menuturkan dengan serius.

__ADS_1


Kelopak mata Bella melebar. Dia tidak menyangka Lucky terpikirkan akan hal seperti itu.


"Berarti kau ingin membunuh kepribadianmu yang asli, dan memilih menjadi orang--"


"Kami berbeda, Dokter!" potong Lucky yang tak terima dirinya disamakan dengan Ben.


"Benarkah? Tapi... apa keuntunganku, andai memilih bekerjasama denganmu? Kau hanya kepribadian palsu. Sedangkan Ben, dia--"


"Jangan pernah sebut aku palsu! Aku nyata! Banyak orang yang mengenalku. Jika kau tak percaya, maka aku akan membuktikannya kepadamu!" tegas Lucky sembari mendekatkan wajah ke hadapan Bella. Jarak wajah di antara mereka hanya helat beberapa senti. Bella lantas tak mampu berkata-kata lagi.


"Pertama-tama, aku ingin mengganti pakaianku terlebih dahulu." Lucky melepaskan mantel milik Ben. Kemeja, serta celana. Tampilannya sekarang hanya mengenakan celana pendek. Tubuhnya tampak atletis. Dari mulai otot bisep hingga perut. Tetapi sayang, Bella biasa saja akan hal itu. Persis seperti yang dirasakan Lucky. Mereka sama-sama tidak tertarik. Setidaknya untuk sekarang.


Lucky beranjak keluar ruangan. Dia nampaknya berupaya mencari pakaian yang cocok. Lucky pergi dalam selang lima menit. Selanjutnya, pria itu kembali dengan pakaian sudah lengkap. Yaitu celana jeans, kaos serta jaket kulit berwarna cokelat. Sepertinya dia tidak berhasil menemukan jaket kulit hitam di tempat tersebut.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat, Dokter! Aku akan tunjukkan seberapa nyatanya diriku dibandingkan Ben." Lucky perlahan melepas tali yang menjerat Bella.


"Baiklah. Tetapi berjanjilah kepadaku, jangan pernah mencoba membunuhku lagi," pungkas Bella. Melayangkan tatapan nan serius.


Lucky hanya mengembangkan senyuman ambigu. Dia berjalan memimpin lebih dahulu. Di iringi oleh Bella dari belakang.


"Apa kita akan meninggalkan mereka begitu saja?" tanya Bella. Dia berhenti sejenak.


"Jangan sentuh mereka, Dokter! Aku punya orang khusus untuk mengatasi ke-empat keparat itu!" balas Lucky tak acuh. Ia terus melangkah maju.


Akhirnya Bella dan Lucky keluar dari gedung tempat dimana mereka diculik. Lucky terlihat langsung masuk ke kotak telepon. Dia menghubungi seseorang dari sana.


Saat Lucky sibuk bicara melalui telepon umum, Bella memanfaatkan peluang untuk menghubungi Cecil. Dia mengatakan kalau dirinya sedang pergi bersama Lucky.


"Apa? Lucky? Kau baik-baik saja bukan? Apa dia sekarang mengurungmu di tempat mengerikan?" Cecil yang cemas, menimpali dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Aku pikir dia berubah. Sepertinya Lucky berniat menyaingi Ben. Dia tidak terima dirinya dihilangkan. Padahal aku belum sepenuhnya yakin bisa membantu mereka. Penyakit kepribadian ganda hampir tidak pernah bisa disembuhkan," ujar Bella. Menjelaskan panjang lebar.


"Aku yakin Ben dan Lucky pasti sudah mengetahui tentang itu. Tetapi sepertinya mereka memiliki harapan yang tinggi. Tidak heran mereka saling berebut meminta bantuanmu. Lalu apa pilihanmu, Bella?"

__ADS_1


"Aku..." Bella tidak jadi menjawab, ketika Lucky tiba-tiba keluar dari kotak telepon. Bella otomatis mematikan panggilan telepon.


"Kita hanya perlu menunggu jemputan," ucap Lucky. Dia memposisikan diri berdiri di sebelah Bella. Hening menyelimuti suasana. Bella berhasil menemukan satu kesamaan Ben dan Lucky yang lain. Yaitu irit bicara.


Tidak lama kemudian, tampak rombongan geng motor yang mendekat. Pemandangan yang terasa tidak asing untuk Bella. Setelah mengingat kembali, ternyata mereka adalah orang-orang yang Bella lihat saat berada di gang.


Bella menoleh ke arah Lucky. Menilik tampilan pria itu dari ujung kaki hingga kepala. Manik biru yang dimiliki Lucky, membuat Bella menyimpulkan fakta. Bahwasanya Lucky merupakan pria yang bertukar pandang dengannya ketika hampir mendapatkan pelecehan di gang.


Satu per satu para geng bermotor berhenti. Salah satu dari mereka melempar kunci motor kepada Lucky. Tanpa basa-basi, Lucky segera menunggangi motor yang telah disediakan oleh para rekannya. Dia menggunakan helm, dan siap berkendara.


"Siapa gadis ini, Lucky? Bukankah kau membenci wanita?" tanya salah satu rekan Lucky yang bernama Sean.


"Jangan banyak bertanya, Sean!" tanggap Lucky seraya menatap ke arah Bella. Membuat seluruh rekannya perlahan ikut memandangi gadis yang sama.


Bella mengedipkan mata dengan canggung. Dia merasa dikepung oleh banyak pasang mata.


"A-apa? Kenapa kalian menatapku begitu?" Bella bertanya dengan sedikit tergagap.


"Naiklah ke motorku!" titah Lucky sembari menunjuk jok belakang motor yang dinaikinya.


Bella meragu. Jujur saja, dia hampir tidak pernah menaiki motor. Hal itu dikarenakan dirinya merasa kalau pengendara motor tidak pernah mengemudi dengan hati-hati. Mereka selalu ugal-ugalan saat berkendara. Apalagi cuaca sedang dingin sekarang. Sebagian jalanan lalu lintas agak licin.


"Cepatlah!!" desak Lucky. Dahinya berkerut karena merasa terlalu lama menunggu.


"Oke, oke..." Bella terpaksa duduk ke belakang motor Lucky. Sebelum berangkat, Lucky tidak lupa memberikan helm untuknya.


Brrrrm!


Brrrrm!


Lucky memainkan gas dengan tangan kanan. Lalu menjalankan motor. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung melakukan aksi kebut-kebutan.


"Aarrkhh!!! Pelan-pelan, Lucky! Apa kau lupa dengan janjimu tadi?! Jangan pernah mencoba untuk membunuhku lagi!" pekik Bella. Kedua tangannya reflek melingkar ke perut Lucky. Dia memeluk erat dari belakang. Mata gadis itu terpejam akibat terlalu takut.

__ADS_1


Lucky sama sekali tidak peduli. Dia dan rombongan geng motornya saling berdahuluan dan menunjukkan keahlian di jalan raya. Bahkan ada beberapa rekan Lucky yang melakukan aksi jumping.


"Gila! Ini benar-benar gila! Turunkan aku sekaraaaaang!!!!" teriak Bella. Sayangnya, untuk yang kesekian kalinya Lucky tidak peduli dengan segala celotehan Bella.


__ADS_2