
...༻✿༺...
Ben menunggu kabar Bella. Bahkan saat menghadiri rapat sekalipun, dia terus saja memeriksa ponsel. Berharap Jimmy memberikan kabar.
Sudah puluhan kali Ben bertanya kepada Jimmy. 'Apakah Dokter Red membalas permintaan maafku?' begitulah kalimat yang sama terus dikirim berulangkali. Baik itu lewat telepon atau pesan. Jimmy yang menerimanya sampai bosan.
Alhasil Jimmy terpaksa meluangkan waktu untuk mendatangi apartemen Bella dan kawan-kawan. Kali ini dia berhadapan dengan Brian. Orang yang mungkin lebih sinis dibandingkan Cecil. Eskpresi wajahnya langsung cemberut ketika menyaksikan kehadiran Jimmy.
"Apa maumu?!" timpal Brian. Ia tetap cemberut walau Jimmy mengembangkan senyuman ramah.
"Aku ingin bicara dengan Dokter Red," jawab Jimmy dengan canggung.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengannya? Apa ini berkaitan dengan tuan aroganmu? Jika benar, sampaikan pesan kepadanya, jangan coba-coba lagi menghubungi apalagi menemui Dokter Red. Goodbye!" Brian langsung menutup pintu begitu saja. Bahkan ketika Jimmy sudah mengangakan mulut. Lelaki paruh baya tersebut jadi gagal angkat suara.
Jimmy segera melaporkan semuanya kepada Ben. Kabar penolakan Bella tentu membuatnya geram. Meskipun begitu, Ben bukan orang yang mudah menyerah. Perlakuan Bella terhadapnya seolah seperti tantangan.
"Kirimkan seratus buket bunga mawar merah untuk Dokter Red. Jangan lupa juga untuk menyematkan pesan yang sama di antara bunga itu!" titah Ben.
"Tapi--"
"Pergilah sekarang, Jimmy! Jangan membantah! Aku sedang sibuk! Banyak dokumen yang belum aku tanda tangani." Ben memaksa. Dia tidak berminat mendengar masukan dari Jimmy.
Dengan perasaan kalut, Jimmy melakukan saja apa yang di inginkan oleh tuannya. Dia memesan seratus buket bunga untuk Bella. Jimmy perlu mendatangi sekitar lima toko bunga di kota New York. Memang dia seringkali tersiksa, terutama kalau Ben sedang memiliki tekad yang tinggi.
Di sisi lain tepatnya di apartemen, Bella sendiri sibuk melakukan pertemuan dengan seorang pasien baru. Yaitu seorang selebgram cantik yang menderita penyakit bipolar. Namanya adalah Victoria White.
Bel pintu terdengar, Cecil lantas segera membukakan. Gadis itu terkesiap tatkala melihat ada banyak pengirim bunga yang berdatangan.
__ADS_1
"Ada kiriman dari Ben Mayers untuk Dokter Red Rose. Bawa semuanya masuk!" ujar si pengirim bunga. Ia membawa sekitar lima anak buah untuk membantunya.
Satu per satu, buket bunga mawar merah berdatangan. Membuat Bella terperangah tak percaya. Kini dia tidak bisa membuangnya lagi, karena jumlahnya terlampau banyak.
"Oh my god! Pacarmu sangat romantis. Kau beruntung sekali, Dokter..." imbuh Victoria sembari menangkup wajahnya sendiri. Dia merasa kagum sekaligus ikut senang dengan apa yang diterima Bella.
"A-apa? Pa-pacar?" Bella tidak tahu harus berkata apa. Dia kesulitan membantah ataupun mengiyakan. Menurutnya sikap Ben sungguh keterlaluan. Pria itu seakan memaksanya untuk setuju.
Brian tampak mengambil semua pesan yang ada di setiap buket. Kalimatnya sama persis dengan pesan yang dikirim kemarin. Ben memang benar-benar payah.
"Ini semua dari cecunguk Mr. Mayers!" Brian menyerahkan semua pesan yang dikumpulkannya kepada Bella.
"Aku sudah menduga," tanggap Bella seraya mendengus kasar. Dia mendadak tidak mood lagi untuk menghadapi pasiennya.
"Nona White, apakah tidak apa-apa jika proses terapi kita lakukan nanti saja? Aku tiba-tiba merasa tidak enak. Lihatlah apartemenku sekarang." Bella mengamati bagaimana keadaan apartemennya. Dipenuhi ratusan buket bunga mawar merah segar. Dia tentu tidak nyaman dengan suasana sesak tersebut. Apalagi aroma bunga mawar yang wangi mulai menyelingat mengisi seluruh ruangan.
Cecil bergegas membuka jendela yang ada. Namun beberapa saat kemudian, lebah mulai berdatangan untuk menghampiri bunga-bunga yang ada.
"Kau mau?" pupil mata Bella membesar. Terlintas ide dalam benaknya.
"Tentu saja. Semua orang tahu aku suka bunga mawar," jelas Victoria. Dia terlihat terus memperhatikan buket bunga yang ada di sekelilingnya. "Apa kau keberatan?" tanya-nya memastikan.
"Tentu saja tidak! Kau bahkan bisa mengambil semuanya. Anggap saja ini sebagai salah satu terapi untukmu. Kau pasti senang kan bisa mendapatkan banyak bunga?" Bella lekas menjawab. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Sangat senang! Terima kasih, Dokter. Aku juga akan punya bahan untuk pembahasan live streaming nanti." Victoria menyatukan tangannya di depan dada. Ia merasa terenyuh dengan kebaikan Bella.
Dalam sekejap, para pengawal Victoria segera membawa pergi buket bunga dari Ben. Mereka perlu menggunakan truk kecil untuk membawa semuanya. Kini Bella dapat mendengus lega. Dia tidak hanya bisa menyingkirkan bunga-bunga Ben, tetapi juga menyenangkan pasiennya.
__ADS_1
Bella membuang nafas berat. Ia berusaha menenangkan diri sembari duduk ke sofa. Satu tangannya bertengger ke jidat.
"Menurutku, Ben tidak akan berhenti sampai kau bersedia menerimanya lagi sebagai pasien," celetuk Cecil. Manik hitamnya melirik ke arah Bella.
"Perlukah aku memberinya pelajaran? Aku siap melakukannya untukmu, Bella." Brian terlihat membentuk sebuah bogem di salah satu tangannya.
"Tidak. Sepertinya yang terbaik adalah... kita harus mencari apartemen baru. Supaya Ben dan Jimmy tidak bisa menemukan kita lagi," usul Bella bertekad. Brian dan Cecil otomatis mengangguk setuju.
...***...
Dengan koneksi tinggi yang dimiliki Cecil, dia tidak perlu lama untuk menemukan apartemen yang cocok. Dia dan Brian sedang sibuk membereskan barang di apartemen baru.
Sementara Bella kebetulan tengah dalam perjalanan. Dia baru kembali setelah mengurus ayahnya. Gadis itu berjalan menyusuri jalanan trotoar sendirian. Mengenakan mantel panjang serta topi kupluk yang menghangatkan. Salju terlihat masih menumpuk di beberapa area. Terutama di pinggiran jalan.
Sebuah pohon natal yang tinggi membentang, sukses menarik perhatian Bella. Gadis itu berhenti sebentar. Tenggelam dalam ingatan masa lalu. Bella sangat ingat dengan masa-masa ketika David belum menderita demensia. Ayahnya tersebut tidak pernah absen memberikan kado natal di setiap tahun.
Senyuman tipis terukir di wajah Bella. Perlahan dia mengalihkan pandangan ke samping. Betapa terkejutnya Bella, ketika menyaksikan Ben tepat ada di sebelah.
Bella reflek melangkah mundur. Hingga tidak sengaja menabrak sekaligus menginjak kaki seorang anak kecil. Bukannya bisa pergi dengan hening, dia justru membuat keributan. Bagaimana tidak? Anak kecil yang ditabraknya langsung menangis histeris.
"Maafkan aku..." ungkap Bella yang merasa tidak enak. Dia segera menoleh ke arah Ben.
Deg!
Bella dibuat jantungan dengan wajah Ben yang sangat dekat. Apalagi semburat wajah pria itu tampak kurang mengenakkan. Tanpa mengatakan apapun, Bella langsung berlari. Menjauh dari keramaian sebisa mungkin.
"Sial! Dokter Red!" panggil Ben sembari ikut berlari. Dia mengerahkan semua tenaga untuk mengejar Bella.
__ADS_1
Aksi kejar-kejaran pun terjadi di jalanan trotoar. Beberapakali Bella dan Ben tidak sengaja menabrak orang-orang yang lalu lalang.
"Dokter! Berhenti! Ada yang ingin aku bicarakan!" seru Ben lagi. Tetapi Bella tidak peduli. Keputusan gadis itu sudah bulat untuk tidak kembali berurusan dengan Ben.