Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 60 - Sad Boy


__ADS_3

...༻✿༺...


Satu minggu berlalu, setelah insiden perkelahian. Ben benar-benar stress selepas mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan. Setidaknya begitulah yang dia kira. Segala hal menjadi berantakan.


Oliver terlihat baru memasuki ruangan Ben. Dia memerlukan tanda tangan bosnya itu.


Oliver tampak gemetaran saat berdiri di hadapan Ben. Bagamana tidak? Dalam satu hari ini, Ben sudah merobek puluan kertas laporan dari karyawan tanpa alasan jelas. Oliver berharap, laporannya kali ini diterima.


"Pergilah, Oliver! Kau bawa saja laporannya kepada para investor tanpa tanda tanganku!" ujar Ben sembari memejamkan mata. Kepalanya menyandar di kursi.


"Ta-tapi--" ucapan Oliver terhenti, ketika mata Ben melotot tajam. Pancaran mata yang seolah ingin membunuh itu kembali lagi. Alhasil Oliver beranjak pergi dari kantor Ben.


Kini Ben sendirian. Dia tenggelam dalam lamunan. Wajah Bella yang tampak jijik kepadanya selalu terbayang.


'Kenapa Lucky tidak muncul saat aku membutuhkannya? Aku ingin dia menguasai tubuhku sekarang. Rasanya aku ingin menghilang dari dunia," batin Ben yang putus asa. Tanpa sepengetahuannya, sekretaris Billy menyebarkan informasi tentang penyakit jiwa yang diderita Ben. Edwin sengaja menempel bukti riwayat penyakit Ben ke papan pengumuman.


Dalam sekejap seluruh karyawan mengetahui fakta bahwa Ben mempunyai gangguan jiwa. Para karyawan Foodton banyak yang memfoto riwayat penyakit ben melalui kamera ponsel. Tidak heran informasi itu langsung diketahui banyak orang hanya dalam hitungan menit.


Seharian Ben terus mengurung diri di kantor. Puluhan telepon dari Jimmy terus diabaikannya. Sampai akhirnya Jimmy harus mendatangi Ben ke kantor. Raut wajah lelaki paruh baya itu tampak panik.


"Mr. Mayers! Ada kabar buruk. Semua orang sudah tahu kalau kau memiliki penyakit kepribadian ganda!" seru Jimmy gelagapan.


"Apa kau bilang?!" Ben dibuat begitu kaget. Dia langsung dirundung rasa panik. Mengingat Lucky terlanjur banyak melakukan tindakan kriminal.


Hal yang terpikirkan di kepala Ben hanyalah keinginan untuk bicara dengan Bella. Dia yakin gadis itu mengetahui apa yang menimpanya sekarang. Namun ketika Ben menghubungi, nomor Bella tidak aktif lagi.


"Aku harus mencari Dokter Red!" ucap Ben seraya beranjak pergi.


Ketika berjalan melewati para karyawan Foodton, Ben tentu mendapatkan tatapan sinis. Dia juga bisa mendengar suara bisik-berbisik dari para karyawannya. Tetapi Ben tak acuh, dirinya ingin menemui Bella secepat mungkin.


Setibanya di apartemen, Ben juga tidak menemukan Bella. Cecil dan Brian bahkan tidak ada. Dia hanya menemukan tetangga Bella yang bernama Steve.

__ADS_1


"Gadis cantik itu akan menikah. Dia sekarang ada di gereja bersama kerabat terdekatnya," ujar Steve.


Deg!


Dada Ben rasanya seperti ditusuk dengan pisau. Tidak berdarah, akan tetapi rasanya begitu sakit. Dia yang tadinya mampu menenangkan diri, sekarang matanya berpendar akan cairan bening.


Selepas Steve berlalu melewati, Ben meneteskan air matanya. Dia mematung sambil berdiri menatap pintu apartemen Bella.


Sakit! Ben sangat sakit hati. Masalah yang dia hadapi seakan tidak ada habisnya. Ben semakin merasa kesepian yang teramat dalam. Setelah memutus kontak dengan Bella, semuanya berubah menjadi berantakan. Jujur saja, Ben menyesali ungkapan cintanya. Andai tahu Bella akan pergi, Ben tidak akan pernah menyatakan perasaannya.


Ben akhirnya memutuskan kembali ke kantor. Dia mencoba mencari jalan lain untuk memperbaiki reputasi.


Setibanya di perusahaan. Ben dapat melihat Billy sudah menunggu. Kakak tirinya itu tidak sendiri. Ada gerombolan lelaki misterius bersamanya.


"Dia orangnya! Bawa saja langsung ke rumah sakit jiwa!" ujar Billy. Tiba-tiba menunjuk Ben dengan jari telunjuk. Dia memberitahu gerombolan lelaki yang datang bersamanya. Ternyata mereka adalah pihak dari rumah sakit jiwa dan dua orang polisi. Dalam sekejap Ben langsung menjadi bahan tontonan banyak pasang mata.


Kebetulan Billy telah berhasil menemukan beberapa bukti mengenai kejahatan yang sudah dilakukan Lucky. Ia bahkan mendapatkan rekaman CCTV, dimana Ben memukuli Justin dengan beringas. Rekaman itu menjadi bukti kuat kalau Ben benar-benar memiliki kelainan jiwa.


"Anda harus ikut kami, Mr. Mayers. Bukti yang ada sangat kuat, anda tidak bisa membantah. Anda akan mendapatkan pemeriksaan ke rumah sakit jiwa terlebih dahulu." Tangan Ben diborgol oleh polisi. Pria itu tidak berbuat apa-apa. Sakit hati, membuatnya tidak berdaya. Rasanya Ben ingin mati saja.


Ben segera dibawa ke rumah sakit jiwa. Billy yang melihat, mengembangkan senyuman puas. Ia sekarang bisa mengambil alih posisi Ben sebagai CEO perusahaan Foodton.


...***...


Di sisi lain, Bella baru saja mengenakan gaun pengantin. Dia belum tahu apa yang terjadi kepada Ben. Justin yang pintar, sudah berhasil mempengaruhi Bella untuk mengganti nomor telepon. Itulah alasan Ben tidak bisa menghubungi.


Bella berada di salah satu gereja yang ada di New York. Bersiap untuk melakukan ritual pernikahan.


"Kau sangat cantik," puji Justin yang juga sudah mengenakan setelan jas rapi. Dengan bunga putih yang tersemat di saku bagian dadanya.


"Kau juga terlihat tampan." Bella membalas dengan senyuman. Dia bertekad akan menerima Justin mulai sekarang.

__ADS_1


Di depan pintu gereja, Cecil dan Brian bertugas menyambut tamu. Keduanya juga terlihat berpakaian rapi.


"Ah, pakaian ini sangat tidak enak. Kenapa datang ke acara pernikahan tidak boleh pakai kaos baju oblong?" celetuk Brian. Cecil yang mendengar hanya bisa mendelik.


"Cecil, apa kau tidak risih mengenakan gaun yang tidak sesuai gayamu?" Brian terus saja mengoceh. Membuat Cecil harus menjauh sebentar.


Cecil duduk di sebuah bangku panjang. Dia memainkan ponselnya sebentar. Cecil iseng menengok berita terkini di internet.


Pupil mata Cecil membesar, tatkala menyaksikan ada salah satu artikel yang memperlihatkan wajah Ben. Parahnya artikel itu berjudul, 'CEO Foodton selama ini memiliki kelainan jiwa!'


Deg!


Cecil rasanya hampir jantungan. Sekarang dia paham alasan dibalik kemarahan Bella tempo hari. Cecil dapat menyimpulkan, kalau Justin tidak sebaik yang dia kira. Tanpa pikir panjang, Cecil bergegas menemui Bella.


"Ada apa?!" Dahi Bella berkerut ketika melihat Cecil datang dalam keadaan panik.


"Ben! Dia..." Cecil segera menunjukkan artikel berita yang ditemukannya.


Mata Bella terbelalak. Dia langsung menghampiri Justin. Kebetulan calon suaminya itu sedang sibuk mengobrol dengan temannya.


"Apa-apaan, Justin! Kau berbohong kepadaku!!!" geram Bella dengan suara lantang. Semua tamu yang sudah datang tentu bisa mendengar. Dua sejoli yang akan menikah itu sontak menjadi pusat perhatian.


"Bella, bisakah kau bicara pelan-pelan? Kenapa kau marah?" Justin mencoba menenangkan. Ia hendak menyentuh pundak Bella. Namun Bella menolak sentuhannya mentah-mentah.


"Aku tidak sudi menikahimu!" Bella melepas kain veil yang telah terpasang di kepala. Lalu melemparkannya ke wajah Justin.


"Apa yang salah?! Bisakah kau jelaskan kepadaku?!" Justin masih tidak mengerti.


"Fu*ck you!!!" Bella mengacungkan jari tengah di kedua tangannya. Mengarahkannya tepat ke wajah Justin. Semua orang dibuat kaget dengan kelakuannya yang tidak tahu malu. Terutama tamu undangan dari keluarga Justin.


Bella mengangkat gaun putihnya, kemudian berlari keluar dari gereja. Dia ingin lekas-lekas bertemu dengan Ben. Pria yang seharusnya sejak awal dipilihnya. Sekarang tidak ada lagi keraguan yang menghantui Bella.

__ADS_1


__ADS_2