Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 58 - Pernyataan Cinta Ben


__ADS_3

...༻✿༺...


Jimmy akhirnya pergi membawa Justin dan Bella ke rumah sakit. Meninggalkan Ben yang duduk bersimpuh sendirian.


Buku-buku tangan Ben tampak berdarah akibat terlalu banyak memukuli Justin. Dia gundah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kenapa dirinya tidak bisa menahan amarah?


Satu hal yang Ben sadari. Dia berbahaya untuk orang lain. Terutama ketika dirinya mengingat sudah berapa banyak manusia yang dibunuh Lucky. Ben terkadang merasa tidak dapat bertahan di dunia normal. Ia berbeda dari semua orang. Namun justru itulah hal yang membuatnya takut.


Seolah satu hati dengan Ben, hujan pertama di musim semi turun. Percikan-percikan air membasahi setiap jengkal badan Ben. Pria itu perlahan berdiri dan mulai melangkah tak tentu arah.


Di waktu yang bersamaan, Bella baru saja tiba di rumah sakit. Pihak medis yang bertugas segera mengurus Justin untuk diobati.


Jimmy terlihat ingin kembali mengendarai mobil, tetapi Bella lekas mencegat. Dia menyuruh lelaki paruh baya itu untuk berobat. Takut kalau luka di kepala Jimmy bertambah parah.


"Biar aku saja yang menjemput Ben. Kau harus obati lukamu," saran Bella.


Jimmy lantas setuju. Dia memberikan kunci mobil kepada Bella. Dalam sekejap, Bella melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Saat kembali ke tempat perkelahian tadi, Bella tidak menemukan Ben dimana-mana. Dia segera mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap mampu menangkap kehadiran Ben. Akan tetapi sosok yang dicarinya telah menghilang bak ditelan bumi.


Bella mencoba menghubungi Ben melalui telepon. Dia melakukannya sambil menyusuri jalanan yang gelap dan berhiaskan hujan. Gelegar petir juga terdengar menggema.


"Ben..." panggil Bella. Dia mendadak merasa bersalah. Bella tidak seharusnya berkata begitu kepada Ben. Mengingat pria itu sudah memiliki penyakit mental yang cukup parah.


Bella yakin Ben sekarang sedang bersedih. Ketika itu terjadi, maka Ben akan meresapi rasa kesepian yang mendalam. Sehingga depresi akan menyerang mentalnya. Bella takut Ben melakukan hal yang buruk.


Dari kejauhan, Bella bisa menyaksikan Ben berdiri di pinggiran jembatan besar. Pria itu menatap kosong ke arah sungai.

__ADS_1


"Ben!" teriak Bella sembari berlari menghampiri.


Mendengar panggilan Bella, Ben sontak menoleh. Dia memancarkan binar nanar di matanya. Ia melihat Bella kian mendekat. Sampai gadis itu berakhir membawanya masuk ke dalam pelukan.


"Ben, maafkan aku... kumohon jangan lakukan itu..." lirih Bella seraya mendekap Ben dengan erat. Dia mengira Ben akan melompat dari jembatan.


Ben membeku. Dia tidak membalas pelukan Bella. Ben hanya perlu kepastian. Apakah Bella memilih dirinya atau Justin?


"Aku tadi sudah berusaha memisahkanmu dan Justin. Aku membawa Justin pergi agar kau bisa tenang," kata Bella. Perlahan dia melepas pelukan, dan mendongak untuk menatap Ben.


Ben masih saja membisu. Walaupun begitu, bola matanya bergerak menatap dalam manik hazel Bella. Pandangan penuh arti kembali terpancar.


"Kau mau tahu alasannya, Dokter? Kenapa aku bersikap begitu?" Ben akhirnya angkat suara.


Bella yang merasakan sesuatu dari tatapan Ben, melangkah mundur. Dia memiliki firasat kalau Ben akan melanggar persyaratan sebagai pasiennya. Sebagai perempuan, Bella sangat tahu tatapan cinta seperti apa.


"Tolong katakan kalau dugaanku salah, Ben? Kau tidak jatuh cinta kepadaku bukan?" Bella menebak lebih dulu.


Bella tentu dibuat kaget. Ia tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya Bella masih bingung dengan perasaannya. Dia memang tertarik kepada Ben. Namun Bella tidak bisa mengabaikan penyakit jiwa yang dimiliki pria tersebut. Selain itu, Bella juga harus memikirkan ke-profesionalannya sebagai psikiater.


"Secara tidak langsung, kau sudah berhenti menjadi pasienku, Ben." Bella berucap pelan. Ia memutuskan memberi jawaban ambigu. Seolah mengabaikan ungkapan perasaan dari Ben tadi.


"Lucky benar... semua wanita sama saja." Ben menyimpulkan Bella tidak memilihnya. Dia kecewa. Benar-benar kecewa. Ben berbalik dan meninggalkan Bella lebih dahulu.


"Ben! Aku membawakan mobilmu!" pekik Bella. Dia bersikap seakan-akan biasa saja. Namun tidak untuk Ben. Pria itu terus melangkah sejauh mungkin dari Bella.


Dengan perasaan yang mengganjal, Bella kembali ke rumah sakit. Dia menemani Justin semalaman. Jujur saja, bukan Justin yang ada di pikiran Bella sekarang. Melainkan Ben.

__ADS_1


'Apa yang dilakukan Ben sekarang? Dia tidak apa-apa bukan? Bagaimana jika Ben melakukan sesuatu yang berbahaya?' Bella mengulang pertanyaan yang sama di kepala. Dia sampai tidak tidur semalaman karena hanya memikirkan itu.


Saat waktu menunjukkan jam tiga dini hari, barulah Bella tertidur. Dia meringkuk disofa dengan selimut pemberian dari perawat.


Tiga jam terlewati. Bella terbangun karena mendengar ada banyak orang yang berbincang. Ia melihat ada Cecil dan Brian. Kedua rekannya itu tampak mengobrol akrab dengan Justin.


"Lihat! Tuan putri sudah bangun," tegur Cecil. Dia orang yang pertama tahu kalau Bella baru terbangun dari tidur.


"Bella, kemarilah!" ujar Justin.


Bella mengerjapkan mata sembari mengamati Justin. Lelaki itu terlihat sudah pulih dan mulai bisa bicara dengan lancar. Bella segera mendekat dan duduk ke samping Justin. Seolah mengerti, Cecil dan Brian bergegas keluar ruangan.


"Terima kasih... kau sudah bersedia memberiku kesempatan untuk mempertahankan hubungan kita." Justin menggenggam jari-jemari Bella dengan tangan lemahnya.


"Kau selingkuh, dan aku selingkuh. Apa kau tidak masalah dengan itu?" tukas Bella.


"Tidak! Tapi jika kita sama-sama berjanji tidak akan mengulanginya. Aku tidak akan menemui wanita itu lagi, Bella. Kau juga tidak perlu bertemu dengan Ben. Demi semua itu, ayo kita pergi dari New York." Justin memberitahukan ide cemerlangnya.


"Aku tidak tahu..." Bella meragu. Pikirannya sekarang seperti penyintas yang terombang-ambing di tengah lautan lepas.


"Dokter Rose, kau tidak jatuh cinta kepada pasienmu bukan?" tanya Justin yang sudah mengetahui identitas Bella sebagai Red Rose. Cecil dan Brian yang mengatakan semuanya. Termasuk tentang hubungan Bella dan Ben.


Bella tertegun. Dia takut Justin akan melakukan hal buruk kepada Ben. Dirinya sangat ingat kalau Justin bekerjasama dengan Billy untuk menjatuhkan Ben. Bella harus melakukan sesuatu agar Justin tidak memberitahu penyakit jiwa Ben kepada Billy.


"Ti-tidak. Tentu saja tidak! Apa kau tahu kebenaran tentang Ben?" Bella memastikan. Dia benar-benar khawatir.


"Iya, Cecil dan Brian yang memberitahu. Ben memiliki penyakit kepribadian ganda bukan?" jawab Justin sambil mengeratkan pegangannya ke tangan Bella. "Dengar, Bella. Kau sebaiknya mencoret Ben dari daftar pasienmu. Dia berbahaya. Kata Cecil, kepribadian lain yang dimiliki Ben telah mencoba membunuhmu beberapa kali? Apa kau tidak takut? Aku yang mendengarnya sangat cemas," tuturnya.

__ADS_1


Bella terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menampik ucapan Justin. Ben memang berbahaya. Itulah yang membuat Bella berpikir dua kali untuk menerima cinta Ben.


"Ayo kita menikah, Bella! Aku tidak peduli kau sudah atau tidaknya tidur denganku. Karena yang hanya aku inginkan adalah memilikimu. Ayo kita memulai hidup baru di kota lain," imbuh Justin. Setelah mengetahui Ben menyukai Bella, dia bertekad ingin meresmikan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Justin tidak sudi memberikan peluang kepada Ben.


__ADS_2