
...༻✿༺...
Mata Ben membulat sempurna. Dia segera melihat pemilik sepasang kaki di depannya. Sosok itu ternyata adalah Bella. Ben lantas cepat-cepat berdiri.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan," ujar Ben. Mencoba meluruskan. Takut Bella akan berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi jika berhasil memergoki perasaan istimewanya.
"Lupakan tentang Ben. Rekan kita melakukan hal lebih parah!" seru Cecil sembari membawa Bella ikut bersamanya. Cecil mengajak Bella memarahi Brian. Lelaki gondrong itu sudah nekat membawa orang asing masuk ke apartemen.
"Dia bukan orang asing, tapi pacarku!" Brian mencoba membela diri.
"Tetap saja apa yang kau lakukan itu keterlaluan. Kau bahkan membiarkan Ben sendirian berkeliaran di sini!" sungut Cecil seraya memasang pose berkacak pinggang. Perdebatannya terus berlanjut dengan Brian. Bahkan sesekali Nancy ikut-ikutan angkat suara.
Bella yang sejak awal memiliki suasana hati buruk, semakin dibuat geram. Dia tidak tahan lagi dengan keributan yang terjadi.
"Hentikan! Bisakah kalian diam dan bicarakan baik-baik?!" pekik Bella. Membuat Brian dan Cecil sontak terdiam.
Bella mendengus kasar. "Teruskanlah perdebatan kalian itu," ujarnya yang menjeda sejenak. Lalu menoleh ke arah Ben. "Ikut aku, Mr. Mayers!"
Bella berjalan memimpin lebih dahulu. Melangkah keluar melewati pintu depan. Ia berniat mengajak Ben terapi di luar ruangan.
Tanpa basa-basi, Ben segera mengikuti Bella. Dia melenggang laju. Kemudian menyamakan langkahnya di sisi kanan Bella.
"Dokter, aku punya jadwal rapat jam tiga sore nanti. Makanya aku datang lebih awal untuk melakukan terapi." Ben berusaha memberikan penjelasan dibalik tindakannya tadi. Dia tidak mau Bella menganggapnya sebagai lelaki cabul, karena sudah berani masuk ke kamar wanita.
"Kau hari ini cukup banyak bicara. Padahal alasanku memilihmu dibanding Brian dan Cecil, karena aku kira kau akan tenang," ucap Bella tanpa menatap ke arah Ben.
"Aku hanya tidak mau kau salah paham," sahut Ben. Kedua bahunya terangkat bersamaan.
"Tidak apa-apa. Aku percaya kepadamu. Kau bukan lelaki semurah itu." Bella terkesan biasa saja. Justru dia terlihat sendu. Tidak ceria seperti biasanya.
Ben yang melihat merasa cemas sekaligus penasaran. Kira-kira apa yang sudah membuat Bella sedih?
__ADS_1
Bella dan Ben saling membisu. Keduanya telah berjalan memasuki taman. Jujur saja, Ben ingin sekali melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sedih Bella. Akan tetapi dia tidak tahu caranya. Ben bukan orang yang ahli menghibur orang lain. Apalagi pria itu memang dikenal individualis dan tidak pandai bergaul. Ben terlalu sering membuat orang kesal. Sehingga banyak orang yang tidak mau menjadi temannya.
Seekor anjing dengan bulu cokelat tampak duduk di atas rerumputan hijau. Bella yang menyaksikan segera menghampiri hewan tersebut.
"Halo, buddy... kau sangat lucu." Bella mengusap puncak kepala anjing berbulu cokelat itu. Semburat kesedihannya seketika hilang. Alhasil Ben sekarang sedikit lega.
Ben terpaku menatap Bella yang sibuk mendekati seekor anjing. Namun gonggongan anjing yang tiba-tiba terdengar, langsung membuat Ben kaget.
Kaki Ben sampai berjengit. Ia melangkah mundur untuk menghindar. Takut kalau-kalau anjing itu akan menggigitnya.
"Tidak apa-apa, Ben. Aku pikir dia hanya ingin menyapamu." Bella membawa anjing tersebut ke dalam gendongan. Kemudian menghampiri Ben.
"Aku tidak suka binatang." Ben mencegah Bella yang hampir menyodorkan anjing ke wajahnya.
"Kau benar-benar bermasalah. Beritahu aku, Ben? Berapa banyak hal yang kau benci?!" timpal Bella dengan raut wajah masamnya. Dia malah semakin bersemangat mendekatkan anjing dalam gendongannya kepada Ben.
"Percayalah kepadaku. Anjing ini tidak berbahaya." Bella berusaha meyakinkan.
Rekahan senyum terukir di wajah Ben. Dia akhirnya berani mengelus kepala anjing itu berulang kali.
"Kau tahu? Seekor binatang bisa menjadi sahabat terbaik untuk kita," ujar Bella seraya mengajak Ben melangkah di area rerumputan. Gadis itu mengambil sebuah ranting kayu. Dia mencoba mengajak bermain anjing yang tadi ditemukannya.
Kebetulan musim dingin mulai mereda. Salju yang ada mencair dan menyebabkan rerumputan kembali tumbuh. Pepohonan perlahan mulai berdaun lebat. Seperti mengawali cerita baru untuk musim selanjutnya.
Bella melempar ranting kayu ke udara. Seolah sudah terlatih, anjing itu berlari mengejar kemana ranting kayu bergerak.
Ben sigap menangkap ranting kayu yang ternyata memang di arahkan kepadanya. Dia lantas mengembalikan ranting kayu tersebut kepada Bella. Mereka bermain cukup lama. Tanpa sadar Ben dan Bella menikmat kebersamaan mereka.
Beberapa saat kemudian, muncullah pemilik asli anjing yang bermain bersama Bella dan Ben. Ternyata anjing itu tidak sengaja terpisah dengan sang majikan ketika dalam perjalanan.
Bella dan Ben harus merelakan kepergian anjing itu. Kini keduanya sedang duduk bersebelahan di rerumputan. Tepat di bawah pohon yang rindang.
__ADS_1
"Aku tahu kau masih kesulitan menceritakan yang sebenarnya kepadaku. Jika begitu, bagaimana kalau aku saja yang bercerita. Aku hari ini merasa sangat berbeda..." tutur Bella sembari merebahkan diri ke rerumputan. Ia menjadikan satu tangannya sebagai bantal.
"Beritahu aku, Dokter. Aku akan mendengarkan." Ben ikut telentang. Dia menatap Bella dengan sudut matanya.
"Aku hari ini membawa ayahku ke panti jompo. Hatiku terasa sangat berat. Aku bahkan sudah lelah menangis..." lirih Bella. Atensinya tertuju ke dedaunan di pohon yang melindunginya dari sinar matahari.
Ben terpaku menatap Bella. Dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Ben justru tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia terlalu menikmati kesempatannya bersama Bella. Apalagi mereka sedang berduaan saja sekarang. Meskipun begitu, Ben tidak dapat berbuat banyak. Dia sangat irit bicara dan hanya sibuk mencuri-curi pandang.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Bella seraya menoleh ke arah Ben. Saat itulah Ben merasa dirinya tertangkap basah. Pria itu langsung merubah posisi menjadi duduk. Membuang muka demi menutupi rasa malu.
"Ben? Aku bertanya kepadamu? Kenapa kau tidak menjawab?" Bella ikut-ikutan duduk.
"Kau menanyakan apa?" bukannya menjawab, Ben malah berbalik tanya.
"Jadi sejak tadi kau tidak mendengarkan ceritaku?!" Bella menyimpulkan.
"Maaf, aku sedang banyak pikiran sekarang. Jadi tidak bisa mendengarkan dengan baik." Ben memberikan alasan.
Bella hanya geleng-geleng kepala. Ia sangat kesal dengan sikap Ben yang hanya mau mementingkan diri sendiri.
Ponsel Bella mendadak berdering. Dia menerima panggilan telepon dari Justin. Bella langsung mengangkat panggilan tersebut.
Justin mengajak Bella bertemu. Kebetulan dia baru mendengar kabar Bella yang sudah merelakan David tinggal di panti jompo. Justin nampaknya berniat menghibur Bella.
"Aku akan datang. Sampai bertemu, Babe..." ujar Bella. Mengakhiri panggilan lebih dulu.
"Apa itu pacarmu?" tanya Ben.
Bella mengangguk. Lalu perlahan berdiri. "Sepertinya cukup sampai di sini. Aku harus menemui pacarku. Sampai jumpa di sesi berikutnya. Aku mengharapkan perkembangan darimu, Ben..." katanya sambil mencoba beranjak pergi. Akan tetapi Ben dengan cepat mencegat pergerakan Bella.
"Jangan pergi!" pungkas Ben. Membuat mata Bella sontak membulat. Dahinya berkerut heran.
__ADS_1