Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 31 - Malam Yang Tak Di Ingat


__ADS_3

...༻✿༺...


Ben dan Bella sama-sama mematung. Keduanya tidak berani saling menatap. Entah kenapa hawa panas sangat dominan. Membuat keringat terus saja merembes dari pori-pori kulit mereka.


Jas mewah yang dikenakan Ben, segera dilepas. Kini lelaki itu hanya mengenakan kemeja putih dengan dasi yang menjulang ke bawah. Dia menggunakan jasnya untuk menutupi alat vitalnya yang sudah memasuki tahap level satu. Libido yang meningkat membuat gairah Ben menggila.


Bella menggigit bibir bawahnya. Sudah berapa kali dia mengusap peluh yang menetes di pelipis. Gadis itu tidak pernah merasakan sesuatu seperti sekarang. Bayangan yang berkaitan dengan hal mesum terus terlintas dalam benak.


"Sial! Sial! Sial!" rutuk Ben sembari bergegas bangkit. Ia ingin lekas-lekas keluar dari ruangan. Namun ketika membuka pintu, dirinya justru menemukan sesuatu yang membuat gairahnya terpacu. Ada sekitar dua pasangan sibuk berciuman menyandar di dinding. Alhasil Ben tidak jadi keluar. Dia menutup pintu rapat-rapat. Lalu reflek menyandar di sana.


"Apa di luar lebih parah? Kau pasti melihat wanita seksi," tebak Bella yang akhirnya menatap Ben.


"Tidak." Ben menjawab singkat. Kemudian mengelap keringat yang terlihat sudah membasahi kemeja. Dia segera membuang muka. Hingga atensinya tertuju ke arah jejeran botol berisi bir di atas nakas. Ben mengambil salah satu botol bir dan langsung meminumnya. Pria itu berpikir, mungkin saja alkohol dapat membuat pikirannya teralihkan dari hal mesum.


Pupil mata Bella membesar. Dia juga tertarik untuk bergabung bersama Ben. Bella lantas mengambil botol berisi bir. Kemudian langsung meminum dari botolnya.


Posisi Bella dan Ben dalam keadaan berdiri saling berhadapan. Sesekali keduanya saling melirik. Lalu meminum bir milik masing-masing.


Bir ternyata sama sekali tidak memberikan efek apapun. Apalagi kepada Ben yang tidak mudah mabuk. Padahal dia nyaris menghabiskan bir yang ada dalam botol.


Berbeda dari Bella, yang baru meminum setengah botol langsung sempoyongan. Meskipun begitu, dia masih cukup mampu mengendalikan kesadaran.


Nafas Ben mulai sulit dikontrol. Terutama ketika melihat mulut dan leher Bella belepotan dengan cairan alkohol.


Seakan memiliki koneksi yang kuat, secara alami Bella membalas tatapan Ben. Perhatiannya lagi-lagi terfokus kepada bibir pria itu. Tanpa pikir panjang, Bella melayangkan sebuah ciuman.

__ADS_1


Ben yang merasa gairahnya memuncak, tentu tidak menolak. Awalnya memang dia agak kaku. Karena dirinya belum pernah berciuman. Namun pagutan Bella yang lihai, membuatnya tidak mau kalah.


Ben memegangi tengkuk Bella. Dia sekarang mengerti cara berciuman. Kini pria itu memberikan balasan lebih liar. Sampai membuat Bella terpojok ke sofa.


Akibat mabuk, Bella terhempas lemah ke sofa panjang. Dia menikmati sentuhan Ben yang sudah bermain ke ceruk leher. Bella mulai melenguh pelan karena sudah terangsang sedari tadi. Gadis itu sebenarnya masuk ke dalam tahap setengah sadar. Walaupun begitu, dirinya dapat merasakan sentuhan intim dari bibir Ben.


Keringat membanjiri setiap jengkal tubuh Ben dan Bella. Nafas mereka kian memburu. Sekarang sedang musim dingin. Tetapi hawa yang ada terasa begitu panas dan penuh gairah.


Satu per satu, pakaian ditanggalkan oleh Ben dan Bella. Hingga tidak menyisakan satu helai benang pun di tubuh mereka.


Bella sibuk mengerang nikmat dalam keadaan setengah sadar. Sesekali matanya yang terpejam, akan dibuka di waktu tak tertentu. Setiap dia membuka mata, wajah Ben yang menganga menyambut penglihatan. Tubuh atletis pria itu tampak mengkilap karena keringat yang meluruh.


Sungguh, Bella tidak tahu apa yang terjadi. Akan tetapi dia sama sekali tidak takut seperti biasanya. Malah Bella menikmati setiap sentuhan dari lelaki yang harusnya dia hindari.


Bella tidak berhenti melenguh sebelum tubuhnya berhenti berguncang. Dia hanya mengerutkan dahi sambil memeluk badan Ben yang terasa hangat, licin dan kenyal.


...***...


Bella terbangun dari tidur. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Menemukan dirinya berada di atas kasur empuk yang dibalut dengan sprei merah menyala.


Tubuh Bella terasa lemas. Dia juga merasa beberapa titik badannya lembab. Rambutnya acak-acakan tidak karuan. Gadis itu langsung memegangi bagian kepala yang terasa pusing.


Bella tidak tahu dirinya dimana. Dia belum sepenuhnya mencerna apa yang sudah terjadi. Terutama mengenai peristiwa tadi malam.


Matahari yang cerah terlihat bercahaya dari balik gorden. Bella yang telah mengumpulkan tenaga, perlahan merubah posisi menjadi duduk. Dia kebetulan mengenakan dress yang sama seperti saat pesta tadi malam.

__ADS_1


Deg!


Bella dibuat kaget dengan kehadiran Ben yang duduk tegak di hadapannya. Ternyata sedari awal pria itu memperhatikan Bella. Entah semenjak terbangun atau saat Bella masih tertidur.


"Ben! A-apa yang kau lakukan? Kenapa kau di sini?!" timpal Bella dalam keadaan mata yang membola. Dia mendadak panik. Matanya segera mengedar ke sekeliling. Memastikan tempat dirinya berada.


"Kau mabuk berat tadi malam. Makanya aku terpaksa membawamu ke sini," terang Ben seraya bangkit dari kursi. Lalu membuka lebar gorden di jendela. Hamparan sinar matahari langsung menghantam pandangan Bella. Gadis itu berusaha menatap Ben yang sedang berdiri di depan jendela.


Hening menyelimuti suasana. Bella menundukkan kepala. Mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Hal terakhir yang dia ingat hanya gambaran tentang dirinya meminum sebotol bir bersama Ben. Setelah kejadian itu, Bella sepenuhnya benar-benar lupa.


"Apa yang terjadi saat aku mabuk? Apa aku berbuat masalah? Tidak bukan?" Bella beringsut ke ujung kasur. Ia berupaya berdiri tegak, tetapi sedikit oleng karena rasa pusing masih menyengat.


"Aaa!" Bella relfek memegangi kepala.


Mendengar keributan yang dibuat Bella, Ben bergegas memeriksa. "Kau tidak apa-apa?" untuk yang pertama kalinya Ben mencemaskan seorang perempuan. Sejujurnya dia hampir tidak pernah mengucapkan kalimat tersebut kepada perempuan manapun.


"Kepalaku sangat pusing..." keluh Bella. Wajahnya meringis kesakitan, tertutupi oleh rambut panjangnya yang tergerai.


"Apa kau bisa berjalan?" Ben memastikan.


"Aku akan mencoba," jawab Bella. Lalu menggerakkan kaki dengan pelan. Dia berjalan sambil memegangi bagian kepala. Sedangkan Ben mengamati dari belakang.


Karena terlalu lambat, Ben akhirnya menuntun Bella. Dia membawa gadis itu duduk di kursi dekat meja makan.


Ben segera mengambilkan bubur hangat untuk Bella. Kebetulan dia memang sudah memasak bubur itu sebelum Bella terbangun. Ben tidak lupa menambahkan kaldu khusus ke dalam bubur. Makanan penghilang pengar sudah tersaji di hadapan Bella.

__ADS_1


"Makanlah, agar pengarmu hilang. Aku akan mengambilkan obat untukmu," ujar Ben seraya beranjak mengambil kotak berisi obat dari laci lemari.


Bella terpaku menatap bubur di depannya. Pikirannya terasa masih mengambang. Kosong melompong seperti tak bertuan. Jika begitu, bagaimana Bella bisa mengingat apa yang telah terjadi tadi malam? Mungkin dia masih berpikir dirinya masih perawan.


__ADS_2