
...༻✿༺...
Lamunan Bella buyar ketika Cecil datang. Keduanya segera pergi ke kota Washington. Mereka membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk menempuh perjalanan.
Setibanya di tempat tujuan, Bella dan Cecil langsung mencari tempat tinggal Sabrina. Kebetulan huniannya tidak sulit dicari.
Sosok yang membukakan pintu adalah putrinya Sabrina. Namanya adalah Casey. Seorang gadis yang sepertinya berusia dua puluh tahunan.
Bella mengatakan maksud kedatangannya dan Cecil. Mereka berniat ingin mengetahui pasien Sabrina yang bernama Elly Hillstone. Namun sayangnya Sabrina tidak bersedia menemui Bella. Dia justru menyuruh Casey untuk mengusir Bella dan Cecil.
"Maafkan aku, Dokter Red. Ibuku sepertinya tidak mau lagi berurusan dengan Elly Hillstone..." Casey menuturkan dengan raut wajah muram. Dia merasa tidak enak dengan Bella dan Cecil. Kedua tamunya itu sudah datang jauh-jauh. Tetapi justru disuruh pergi lagi.
"Kumohon lakukan sesuatu. Aku hanya ingin menolong pasienku. Dia adalah putra dari Elly Hillstone, dan dia dalam kesulitan sekarang!" mohon Bella. Mencoba meminta bantuan Casey.
"Maaf sekali lagi. Meskipun aku berapa kali membujuk ibuku, dia tidak akan mau. Ibuku sangat keras kepala," jawab Casey pelan. Bella lantas hanya menunduk kecewa.
"Sudahlah... kau sudah berusaha semampunya." Cecil mengusap pelan pundak Bella.
Tanpa sepengetahuan Bella, Cecil dan Casey. Sabrina sebenarnya menguping dari balik dinding. Meskipun begitu, dia tidak berniat keluar untuk menemui Bella. Sabrina terlalu takut menguak kembali masa lalu tentang keluarga Hillstone.
Kepergian Bella dan Cecil berakhir sia-sia. Orang yang paling kecewa adalah Bella. Kini dia berusaha memikirkan cara lain.
Bella berpikir sambil menatap keluar jendela kereta. Setelah lama memikirkan, terlintaslah ide dalam benaknya. Tanpa pikir panjang, Bella segera mengirim pesan kepada Jimmy. Menyuruh sekretaris Ben itu untuk menulis daftar segala hal tentang tuannya. Terutama mengenai hal yang ditakuti dan dibenci oleh Ben.
Ketika kembali ke apartemen, Bella dan Cecil memutuskan beristirahat sejenak. Keduanya tertidur sekitar tiga jam lebih.
Bella menjadi orang yang pertama terbangun. Dia mengambil ponsel dan menerima pesan dari Jimmy. Akhirnya dia mendapatkan daftar segala hal tentang Ben. Bella langsung geleng-geleng kepala saat melihat ada banyak hal yang tidak disukai Ben.
Dari semua daftar tersebut, ada satu hal yang menarik perhatian Bella. Yaitu tentang ketakutan Ben dengan yang namanya air.
'Pantas saja tempo hari Ben tidak bisa berenang. Dia juga menolak mentah-mentah untuk menaiki perahu,' batin Bella sembari mengarahkan bola matanya ke kanan atas. Terlintas dalam benaknya tentang tawaran Victoria beberapa hari lalu.
Victoria kebetulan menawarkan hunian tak terbatas di Hawai. Itu merupakan promo yang dia lakukan terhadap hotel baru miliknya. Semakin banyak yang ikut, maka Victoria akan mendapatkan banyak untung. Bella ingin menggunakan kesempatan itu agar bisa membantu Ben sekaligus Victoria.
__ADS_1
Bella merasa harus berkunjung ke perusahaan Foodton. Kini dia sedang bersiap-siap untuk pergi. Bella sengaja mengenakan pakaian kantor. Memakai kemeja putih yang dibalut blazer berwarna hitam. Dia menyempurnakan penampilan dengan rok ketat selutut. Bella persis seperti seorang pekerja kantoran dengan pakaian tersebut.
"Victoria, tolong kirimkan fasilitas dan tawaran terbaik tentang hotel yang baru kau bangun. Aku akan mempromosikannya untukmu," ujar Bella. Berbicara dengan Victoria melalui telepon. Gadis itu sedang berada di dalam taksi.
"Benarkah? Tapi aku tidak mau merepotkanmu dengan cara begitu," tanggap Victoria dari seberang telepon.
"Aku melakukan ini agar punya alasan untuk datang ke suatu tempat. Anggap saja aku sebagai pekerja sales lepas untukmu. Ngomong-ngomong, aku akan mempromosikan hotelmu ke perusahaan Foodton." Bella memberitahukan semuanya kepada Victoria. Lagi pula untuk apa berbohong dengan orang yang akan membantunya?
"Terima kasih banyak, Dokter. Aku senang jika itu bisa membantumu. Aku harap kau mendapatkan pelanggan lebih banyak dari pekerjaku," ujar Victoria. Pembicaraannya dan Bella berakhir. Tidak lama kemudian, Bella tiba di perusahaan Foodton.
Bella memasuki perusahaan Foodton. Dia langsung berhenti di meja resepsionis. Bella langsung menyampaikan maksud tujuannya.
"Beritahu Mr. Mayers kalau Red Rose datang untuk menemuinya," kata Bella dengan senyuman ramah. Sang resepsionis segera menelepon sekretaris Ben.
Kala sedang sibuk menunggu, perhatian Bella mendadak tertuju ke arah seseorang. Matanya membulat ketika menyaksikan kehadiran Justin dari kejauhan. 'Sial! Aku lupa kalau Justin bekerja di sini!' rutuknya dalam hati. Sekarang Bella berusaha keras menutupi wajah dengan rambut. Berharap sang kekasih tidak menyadari keberadaannya.
Bertepatan dengan itu, resepsionis memberitahu Bella agar segera menuju kantor CEO. Sebab Ben sudah setuju untuk bertemu. Alhasil Bella bergegas memasuki lift. Tepat sebelum Justin berjalan kian mendekat.
Di sisi lain, Ben dirundung perasaan tidak karuan. Terutama saat mengetahui Bella mendatangi perusahaannya. Segala jenis pertanyaan langsung bersarang dalam benak.
"Bersikaplah seperti biasa, Ben!" Ben berbicara kepada dirinya sendiri. Dia baru selesai merapikan dasi. Saat itulah Bella datang dengan cara mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ben bergegas menjauh dari cermin. Dia duduk ke kursi kerjanya dan mengambil dokumen secara acak.
"Ekhem! Masuklah..." ujar Ben. Tanpa menoleh ke arah pintu.
Bella terlihat datang bersama Jimmy. Dia sudah memberitahukan niatnya kepada sekretaris Ben itu terlebih dahulu.
"Dokter Red ingin mempromosikan sesuatu kepadamu. Dia kebetulan berusaha membantu pasiennya yang lain," imbuh Jimmy. Bicara sambil menautkan tangan ke depan badan.
"Benar, aku yakin kau bisa membantu. Lagi pula, ini juga salah satu terapi yang ingin aku berikan kepadamu." Bella bertutur kata lembut. Membuat Ben perlahan menatap ke arahnya.
Ben terkesiap. Bella tampak dua kali lebih cantik dengan setelan pakaian kantoran. Ben terpaku cukup lama. Sampai akhirnya lambaian tangan Bella menyadarkan keterpakuannya.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang memikirkan pekerjaan yang menumpuk." Ben lagi-lagi berkilah. "Jadi kau mau aku membantumu melakukan apa, Dokter?" tanya-nya seraya berdiri dan mempersilahkan Bella duduk ke sofa.
"Berliburlah, Ben! Ada hotel super nyaman di Hawai yang baru dibuka. Mereka kebetulan akan memberikan diskon kepada seratus tamu pertama!" ujar Bella dengan ekspresi ceria.
Ben mengerutkan dahi. Tanpa diduga dia mendadak tersenyum. Lalu tertawa lepas sampai menampakkan gigi-gigi gerahamnya.
"Kau kenapa? Tidak ada yang lucu," pungkas Bella yang merasa tersinggung.
Ben perlahan berhenti tertawa. Dia berucap, "Dokter, bukankah kau seorang psikiater? Kenapa kau mendadak datang dan berlagak seperti seorang sales di perusahaanku."
"Sebenarnya aku melakukan ini demi dirimu. Pilihlah beberapa karyawan terbaikmu dan beri mereka hadiah untuk berlibur. Jangan lupa, kau juga harus ikut." Bella menjelaskan panjang lebar.
"Tapi--"
"Ini bagian dari terapimu, Ben. Kita akan melakukan sesuatu di Hawai demi kesembuhanmu." Bella sengaja memotong ucapan Ben.
"Kita? Maksudmu kau juga ikut?" Ben memastikan. Tiba-tiba dia merasa bersemangat.
"Tentu saja. Untuk apa melakukan terapi jika dokternya tidak hadir untuk membantu," balas Bella.
Ben membuang muka sejenak, demi menyembunyikan senyuman bahagia. Dia tentu tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran Bella. Apapun itu, Ben akan melakukannya.
Bella iseng melihat-lihat keadaan ruangan kerja Ben. Sampai atensinya tidak sengaja tertuju ke sebuah buku bersampul merah di meja Ben.
"Segala hal tentang cinta?" ucap Bella sembari memicingkan mata. Dia membaca judul buku yang menarik perhatiannya.
Deg!
Ben langsung mengambil buku tentang cinta yang ada di meja. Kemudian membolak-balikkan buku tersebut sambil memasang ekspresi risih.
"Jimmy, kenapa kau memberikanku buku seperti ini?!" timpal Ben.
"A-apa?! Aku?" Jimmy sontak kebingungan. "Tapi kemarin kau--"
__ADS_1
"Lupakan! Aku akan memaafkanmu kali ini." Ben terlihat membuang buku tentang cinta ke bak sampah. Dia menutupi rasa malunya dengan mulus. Sementara Jimmy yang tidak bersalah, hanya bisa terperangah tak percaya.