
...༻✿༺...
Bella memberikan ide agar Ben menyembunyikan identitas di balik sebuah nama. Persis seperti yang dilakukan Bella dengan nama Red Rose.
The Black Chef, itulah nama samaran pilihan Ben. Selain melakukan perubahan pada nama sendiri, dia juga merubah nama restoran menjadi Restlife.
Tidak memerlukan waktu lama, orang-orang yang berminat untuk menjadi tim dapur Ben mulai berdatangan. Pria itu sekarang sudah mampu membentuk tim impiannya.
Sous chef yang dimiliki Ben merupakan keturunan Korea. Ia bernama Kwang Joo. Sedangkan juru masak bagian desert, dipegang oleh seorang lelaki berkulit hitam bernama Albert. Kebetulan sekali, kepribadian keduanya menyenangkan dan cukup humoris. Agak berlawanan dengan Ben, akan tetapi keahlian mereka tidak bisa diragukan.
Demi mendapatkan lingkungan kerja yang kondusif, Ben merahasiakan kenyataan kalau dirinya sempat memiliki penyakit kepribadian ganda. Ia juga mewajibkan semua orang memanggilnya dengan sebutan Chef.
Setelah semua kru siap, restoran akhirnya dibuka. Para anggota The Dark Place bertugas menyebarkan promosi ke masyarakat sekitar. Mereka membagikan banyak sekali selebaran.
Brian sendiri bertugas membantu melakukan promosi di internet. Dalam sekejap informasi mengenai dibukanya restoran Restlife telah tersebar. Brian bahkan berhasil mengundang seorang bloggers yang berkecimpung di bidang kuliner.
Kelezatan makanan Ben sendiri, tidak terbantahkan. Hari demi hari, restoran Restlife semakin didatangi banyak pelanggan. Ben dan Bella mulai jarang bertemu akibat kesibukan masing-masing.
Kini Bella baru saja menyelesaikan proses terapi dengan pasien. Dia langsung memeriksa ponsel dan tidak menemukan pesan atau panggilan dari Ben. Gadis itu hanya bisa menghela nafas kasar. Selama beberap hari terakhir, dia selalu menjadi orang yang pertama menghubungi Ben.
'Apa semua lelaki memang begitu? Mereka selalu mementingkan pekerjaannya...' batin Bella dengan raut wajah sendu. Ia takut Ben akan berakhir seperti Justin. Alhasil Bella pergi ke restoran Ben. Berniat ingin bertemu pria itu setelah nyaris seminggu tidak berjumpa.
Sesampainya di restoran, Bella tercengang saat menyaksikan restoran Ben dipenuhi oleh banyak pelanggan. Dia sekarang paham kalau Ben benar-benar sibuk. Tapi apa pantaskah dirinya hampir dilupakan?
Bella berjalan memasuki dapur. Keadaan di sana lebih membludak dibandingkan di luar. Bella bahkan sampai membulatkan mata, ketika melihat api dan suara hentakan pisau berbunyi. Matanya segera menatap sang koki utama. Ben terlihat sesekali mengelap peluh dengan handuk kecil yang terlilit di leher.
"Ben!" panggil Bella.
"Hei! Ada apa?" tanya Ben. Tangannya terus bergerak mengaduk makanan yang ada di wajan.
__ADS_1
"Kapan kau akan selesai?" Bella berdiri di pinggir karena takut kehadirannya mengganggu tim dapur Ben.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi. Kau bisa menunggu di ruanganku. Aku akan menemuimu secepatnya, oke?" Ben sebenarnya sangat merindukan Bella. Ketika menyaksikan gadis itu datang, dia baru ingat bahwa dirinya sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bella lantas menurut saja. Dia menunggu di balkon lantai dua.
Waktu terus berlalu. Kata 'secepatnya' dari Ben seolah hanya mitos belaka. Pria itu tak kunjung datang. Hari bahkan telah gelap gulita. Meskipun begitu, Bella tetap setia menunggu.
Ben yang masih di dapur, justru lupa dengan janjinya. Hingga tidak terasa malam semakin larut.
Ketika semua pelanggan telah pergi, barulah Ben ingat dengan Bella. Dia bergegas pergi ke lantai dua. Sayangnya, Ben tidak menemukan Bella dimana-mana. Kemungkinan besar kekasihnya tersebut telah pulang. Rasa bersalah otomatis menyelimuti.
"Bella?" Ben celingak-celingukan. Berharap Bella masih ada untuknya. Tetapi gadis itu benar-benar sudah pergi.
"Kau tidak apa-apa?" Jimmy muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat lesu. Persis seperti Ben. Walau hanya bertugas sebagai kasir, Jimmy juga merasa lelah.
"Apa kau melihat Bella pulang?" tanya Ben. Nampak gelisah.
"Iya, dia sudah lama pulang? Apa Bella tidak berpamitan denganmu?" Jimmy mengerutkan dahi.
"Beristirahatlah... kau bisa menemuinya besok saja." Jimmy memberikan saran. Dia khawatir Ben akan kelelahan. Hal itu bisa saja mempengaruhi psikologisnya lagi.
"Tidak! Aku tidak mau menunda." Ben keras kepala. Menjauhkan tangan Jimmy dengan satu kali hempasan. Kemudian pergi menggunakan mobil untuk menemui Bella.
Di tengah malam, Ben memencet bel pintu rumah Bella. Dia tidak menyerah walau Bella mengabaikannya lebih dari setengah jam. Gadis itu juga mengabaikan telepon dan pesan dari Ben. Sudah jelas kalau dia sedang merajuk.
Akibat sudah tidak tahan lagi, Bella mengangkat panggilan Ben. Dia menyuruh Ben berhenti memencet bel. Belum selang satu menit, Bella akhirnya membukakan pintu.
"Masuklah!" titah Bella. Dia dan Ben duduk berseberangan di sofa. Bella seolah seperti berusaha menjauhi Ben. Namun pria itu tidak terima, dan berpindah duduk ke sebelah Bella.
"Maafkan aku, tadi aku benar-benar lupa..." tutur Ben. Berupaya membujuk Bella.
__ADS_1
"Lupa karena sibuk dengan pekerjaanmu? Jujur saja, sikapmu itu mengingatkanku dengan Justin!" ujar Bella dengan mimik wajah cemberut.
"Kau membandingkan aku dengan Justin?!" Ben terperangah.
"Iya! Apa kau marah sekarang?! Aku hanya mengatakan kebenaran. Selama satu minggu ini kau hampir melupakanku. Aku selalu menjadi orang pertama yang menelepon dan mencari. Jika begini, sebaiknya kita berpisah saja. Kau mungkin harus fokus dengan usahamu." Bella bicara tanpa menoleh ke arah Ben.
"Ayolah, Bella. Jangan begitu. Aku hanya kaget dengan pekerjaanku sekarang. Ternyata tidak semudah yang aku kira," ungkap Ben. Merendahkan nada suaranya. Sengaja mengalah.
"Maaf... tapi aku hanya tidak ingin semuanya terulang lagi. Jika kau ingin fokus bekerja, lebih baik utamakan hal itu dulu. Kita berteman saja." Bella merasa keputusannya adalah yang terbaik. Dia tidak mau mengganggu bisnis Ben yang sedang berada di ambang kesuksesan.
"Bella! Dengarkan dulu, aku--"
"Kau lebih baik beristirahat. Wajahmu tampak pucat. Tidurlah di sini kalau sudah tidak sanggup menyetir. Aku juga merasa lelah." Bella sengaja memotong perkataan Ben. Lalu beranjak masuk ke dalam kamar.
Kini Ben mendengus kasar. Mencoba memikirkan apa yang dikatakan Bella tadi. Walaupun begitu, dia perlahan tertidur di sofa.
Pagi yang cerah menyapa. Ketika Ben terbangun, Bella sudah pergi. Dia yakin, Bella pasti benar-benar marah. Ben terpaksa kembali ke apartemen dan bersiap untuk bekerja lagi.
Hari kebetulan tengah hujan. Pelanggan restoran tidak banyak seperti biasanya. Ben sekarang duduk santai bersama Jimmy. Membiarkan sous chefnya mengambil alih.
Seorang lelaki berambut pirang tiba-tiba menghampiri. Dia meminta bantuan Ben dan kawan-kawan untuk melakukan sesuatu.
"Aku mau melamar pacarku malam ini. Aku harap kalian bisa membantu. Apa kalian memiliki jenis pelayanan acara khusus seperti itu?" tanya lelaki berambut pirang itu. Namanya adalah Joe.
"Emm... Chef?" Jimmy menatap Ben. Karena restoran masih terbilang baru jadi pelayanan khusus seperti acara lamaran atau ulang tahun, belum sepenuhnya diadakan.
Bukannya menjawab, Ben justru termangu. Ada sesuatu yang telintas dalam benaknya. Sebenarnya sejak tadi Ben hanya diam saja. Memikirkan cara memperbaiki hubungannya dengan Bella. Setelah berpikir lama dan mendengar perkataan Joe, dia akhirnya mendapatkan sesuatu.
"Ben!" Jimmy kali ini menyentuh pundak Ben.
__ADS_1
"Tidak! Kami belum memberikan pelayanan seperti itu. Carilah di restoran lain!" Ben reflek menjawab. Kemudian bergegas pergi. Dia berniat menemui Bella secepatnya.