
...༻✿༺...
Mata Ben membulat sempurna. Ia tentu heran kenapa Sean mengetahui perihal benda yang bisa memicu kemunculan Lucky. Ben berusaha keras mengalihkan pandangan.
Kilatan memori tentang gunting hampir terlintas di kepala. Ben memilih menjauh dari para anggota The Dark Place. Dia tidak mau rahasianya ketahuan. Apalagi bukan hanya rekan-rekan Lucky yang melihatnya sekarang, tetapi juga karyawan perusahaan.
"Usir mereka dari sini! Kalau tidak bisa, lapor saja kepada polisi!" titah Ben kepada kepala keamanan. Dia berlalu pergi begitu saja. Hendak lekas-lekas bersembunyi dan menenangkan pikiran. Satu-satunya senjata Ben untuk mencegah kemunculan Lucky adalah musik jazz.
"Lucky! Kau mau kemana, hah?!" pekik Sean. Dia tidak terima Ben beranjak begitu saja. Akan tetapi Ben tak acuh.
Ben menekan kepalanya sambil duduk ke kursi mobil. Entah kenapa ketika dia hampir mengingat masa lalu kelamnya, Lucky selalu saja muncul untuk mengambil alih.
Ben menjalankan mobil tak tentu arah. Sejujurnya, itu salah satu cara dia menenangkan pikiran. Hingga akhirnya Ben memutuskan berhenti di sebuah jalanan sepi. Dia menyandarkan kepala ke depan setir. Tanpa disangka, suara ketukan mengharuskan Ben mendongak. Ia menyaksikan ada lelaki tua mengetuk kaca mobil.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ben sembari menurunkan kaca jendela mobil.
"Aku ingin pulang, tapi lupa rumahku ada dimana. Aku sudah bertanya kepada orang-orang di sekitar sini dan tidak ada yang tahu," ujar lelaki tua yang tidak lain adalah David. Ayah kandung Bella yang mengalami penyakit pikun.
"Naiklah ke mobilku. Aku akan membawamu ke kantor polisi. Mungkin mereka bisa membantu." Ben membukakan pintu mobil untuk David.
Dengan senang hati, David masuk ke dalam mobil Ben. Di tangannya terlihat tas karton berisi hadiah. Ada juga setangkai mawar merah yang mencuat keluar dari dalam tas.
"Aku pergi untuk membelikan hadiah untuk anakku. Dia sangat menyukai bunga mawar merah. Tapi... aku lupa dengan namanya," imbuh David dengan nada suara paraunya. Dia membawa tas karton ke dalam pelukan. Lalu menghirup aroma wangi dari mawar merah.
"Anda tenang saja, Tuan. Sebentar lagi anda pasti akan bertemu putri anda" ujar Ben seraya fokus menyetir. Tanpa sadar dia sudah melupakan kegelisahannya.
"Kenapa ada banyak sekali benda-benda asing di mobilmu? Aku tidak pernah melihat mobil seperti ini sebelumnya?" David tampak mengamati mobil yang sekarang ditumpanginya. Mobil Ben kebetulan merupakan keluaran terbaru. Canggih, dan tidak hanya memiliki kelengkapan penunjuk arah otomatis.
__ADS_1
David yang penasaran memencet salah satu tombol yang ada di dashboard. Ben sontak kaget, ketika alat penyapu air hujan tiba-tiba menyala. Tanpa basa-basi, Ben langsung mematikannya sendiri.
'Aku harus secepatnya mengantar lelaki tua ini ke kantor polisi,' batin Ben bertekad. Dia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Apa yang dilakukannya sukses membuat David berteriak kaget. Namun setelahnya, lelaki tua itu menikmati kelajuan mobil layaknya seorang anak muda.
"Lebih cepat, temanku!" ucap David sambil menepuk pundak Ben dua kali.
"Anda menyukainya? Oke." Entah kenapa Ben malah bersemangat. Dia mengemudi dengan lihai melewati alat transportasi lainnya. Keduanya terkesan seperti sedang bermain-main.
Sementara Bella, dia sedang berada di kantor polisi. Pencarian yang dilakukan seharian tidak membuahkan hasil. Gadis itu menangis sembari menutupi wajah. Bella tidak tahu harus bagaimana. Dia berharap David segera ditemukan.
Kedatangan sebuah mobil yang melaju, menarik perhatian. Bahkan Bella sendiri. Ia menengok ke arah mobil secara spontan.
Menyaksikan kehadiran Ben, dahi Bella sontak berkerut dalam. Tetapi ekspresi itu langsung pudar, saat Ben membawa David keluar dari mobil.
Bella bangkit dari tempat duduk. Kemudian berlari menghampiri David. Dia memeluk erat ayahnya tersebut dengan perasaan haru.
"David, kau kemana saja?" timpal Bella seraya melepas pelukan. Lalu mengguncang badan David. Ayahnya tersebut tersenyum dan menarik Ben untuk mendekat.
"Dia teman baik yang sudah membantuku. Tadi kami sempat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Aku merasa seperti berada di film Fast and Furious!" seru David kegirangan.
Bola mata Bella perlahan melirik ke arah Ben. Dia segera menghapus air mata yang ada di pipi. Kemudian mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Tolong berikan ini kepada anakku. Kebetulan aku lupa namanya, tapi dia sangat menyukai mawar merah..." David kembali bersuara sambil menyerahkan tas karton kepada Bella.
"Jadi ayah pergi hanya untuk ini..." Bella kembali memecahkan tangis. Dia terharu sekaligus merasa bersalah. Tidak seharusnya dirinya meninggalkan David.
Brian dan Cecil baru saja bergabung. Tidak perlu adanya penjelasan, mereka paham kalau Ben-lah yang sudah membawa David kembali. Mereka tidak kuasa menghina, apalagi mencaci maki.
__ADS_1
"Kau bisa pulang sekarang, Ben. Mulai dari sini, biar aku yang mengurus segalanya," saran Bella.
Ben lantas mengangguk. Dia tidak mengatakan apapun karena bingung harus berkata apa. Ben segera beranjak pergi dengan mobilnya.
...***...
Setelah beberapa kali menghilang, banyak orang yang memberi usulan kepada Bella. Mereka berharap Bella menyerahkan David ke panti jompo.
"Membawa David tinggal di panti jompo, itu bukan berarti menelantarkannya. Bella, kau tidak bisa memaksakan diri jika memang tidak bisa." Cecil memberikan saran dengan hati-hati.
Bella hanya membisu sambil menyandarkan kepala ke pundak David. Keduanya kebetulan tengah berada di dalam mobil Brian. Mereka tampak sama-sama memejamkan mata. Perkataan Cecil diabaikan oleh Bella. Namun bukan berarti dia menolak saran dari Cecil. Bella hanya berusaha berpikir matang-matang. Lagi pula akhir-akhir ini dirinya memang terlalu sering bergantung dengan Emilia.
Kini Bella sedang berada di rumahnya. Dia telah memastikan David tertidur di kamar. Gadis itu sibuk dengan laptop serta beberapa dokumen.
Akibat bantuan Ben yang tidak disengaja, Bella mencoba mencari tahu lebih banyak tentang penyakit kepribadian ganda. Dia akan mengusahakan yang terbaik untuk membantu Ben. Tepat seperti usaha pria itu dalam hal membantunya.
"Kepribadian lain yang muncul merupakan bagian dari pelarian dari memori buruk. Kejadian buruk yang di alami penderita memberikan efek trauma mendalam." Bella membaca jurnal yang ditemukannya di website khusus. Dia hanya menemukan sedikit penelitian mengenai penyakit kepribadian ganda. Penyakit jiwa tersebut bisa terbilang langka. Tidak banyak orang yang memiliki penyakit seperti Ben.
Bella membuang nafas berat saat melihat tidak ada satu pun pasien yang bisa sembuh dari penyakit kepribadian ganda. Sebab ketika mereka mencoba mengingat kenangan buruk, maka kepribadian lain justru muncul untuk mengganggu. Hal itu persis seperti yang terjadi kepada Ben.
Waktu sudah menunjukan jam dua dinihari. Namun Bella hanya mendapatkan jawaban nihil. Padahal dia membaca semua jurnal terkait penyakit kepribadian ganda.
Ini bukan pertama kalinya Bella berhadapan dengan pasien dengan penyakit kepribadian ganda. Sebelumnya juga pernah ada, yaitu seorang kriminal yang sekarang menjadi gelandangan. Pasien tersebut merupakan salah satu bukti nyata bahwa Bella pernah gagal. Benar, pasien bernama James William itu belum sembuh.
Awalnya James berhasil menyingkirkan kepribadiannya yang lain dalam cukup lama. Tetapi di waktu yang tak terduga, kepribadian baru justru muncul untuk mencegah ingatannya dari kenangan buruk.
Bukannya sembuh, kepribadian James malah bertambah banyak. Bella takut, Ben akan menderita keadaan serupa jika tidak mendapatkan penanganan tepat. Takutnya kepribadian aneh selain Lucky akan muncul.
__ADS_1