Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 33 - Yang Terjadi Malam Itu...


__ADS_3

...༻✿༺...


Terpampang sebuah foto Ben menggendong Bella dengan ala bridal style. Tidak hanya itu, ternyata juga ada video yang memperlihatkan aksi tak terduga dari Ben tersebut.


Video itu memperlihatkan Ben membawa Bella melewati banyak orang. Membelah kerumunan manusia yang ada di pesta. Seperti biasa, dia selalu memasang mimik wajah tanpa ekspresi. Dengan santainya Ben menggendong Bella keluar dari area pesta.


Bella melihat dirinya tidak sadarkan diri dalam gendongan Ben. Wajahnya bahkan tertutupi oleh rambut. Entah itu memang salah satu rencana Ben atau ketidaksengajaan.


Suara derap langkah kian mendekat. Ben kembali sembari membawa alat pengering rambut. Dia langsung menyerahkannya kepada Bella.


"Lihat!" Bella menyambut alat pengering rambut pemberian Ben. Kemudian memperlihatkan video yang menghebohkan banyak orang tadi malam.


"Ah, aku sudah tahu." Ben terkesan biasa saja. Seolah tidak peduli.


"Mabukku ternyata separah itu..." lirih Bella. Dia kecewa dengan dirinya yang sudah banyak merepotkan Ben. "Apakah itu tidak apa-apa? Kau tidak akan mendapat gosip yang tidak-tidak bukan?" tanya-nya dengan ekspresi muram.


"Aku tidak peduli, Dokter. Aku sudah terbiasa hidup di kelilingi dengan gosip. Hal terpenting sekarang adalah... aku mengharapkan bantuanmu." Ben mendekatkan wajahnya.


Bella lekas mendorong Ben menjauh. Lalu segera mengeringkan rambutnya dengan alat bawaan Ben tadi. Dia membisu cukup lama. Sepertinya Bella tengah berusaha membuat keputusan.


"Baiklah... kau bisa menjadi pasienku kembali," imbuh Bella.


Ben yang mendengar melebarkan kelopak mata. Dia yang tadinya duduk, relfek berdiri. Demi memastikan keputusan Bella.


"Tapi ini adalah kesempatan terakhir untukmu! Jangan pernah memperlakukanku dengan kasar. Ingat itu!" Bella tegas memperingatkan.


"Baiklah, aku akan mencoba," sahut Ben. Dia kembali duduk.


"Enak saja. Kau harus berjanji, bukannya hanya mencoba!" tegas Bella sambil berkacak pinggang. Sikap galaknya terlihat. Kemungkinan dia mulai merasa nyaman mengobrol dengan Ben. Padahal beberapa menit sebelumnya, segalanya terasa canggung.


"Oke, oke... aku berjanji." Ben tidak punya pilihan selain setuju.

__ADS_1


Setelah rambutnya kering, Bella bersiap-siap untuk pulang. Dia menolak tawaran Ben yang ingin mengantar dengan mobil.


"Tidak usah, setelah ini aku harus menemui pacarku. Aku naik taksi saja," jawab Bella seraya mengaitkan tas ke bahu. Lalu melangkah menuju pintu.


Ben terdiam seribu bahasa. Entah kenapa kata 'pacar' yang disebutkan Bella membuat hatinya terasa janggal. Dia seolah merasa kecewa ketika mendengar Bella sudah memiliki pacar.


"Ben!" Bella tiba-tiba kembali. Membuat lamunan Ben seketika buyar.


"Besok kau harus menyisihkan jadwal sibukmu untuk terapi," ujar Bella. Dia sebenarnya berharap Ben mau mengantarnya pulang. Tetapi seperti biasa, Bella suka jual mahal.


"Baiklah, berhati-hatilah." Ben menjawab singkat. Dia berbalik dan masuk ke dalam kamar.


Bella berdecak kesal. Dia menyesal sudah terlalu banyak berharap. Ben memang pria yang benar-benar tidak peduli dengan perempuan. Dalam sekejap, Bella pergi meninggalkan apartemen Ben.


Sementara itu, Ben duduk mematung di pinggir kasur. Ingatannya kembali terbawa dengan kejadian tadi malam.


"Dokter Red... dia sangat cantik..." gumam Ben sembari membayangkan bentuk tubuh Bella yang telanjang tadi malam. Putih bak porselen, serta molek menggoda. Belum lagi warna merah muda bersih yang ada di beberapa bagian tubuh gadis itu.


Hal yang tidak terlupakan adalah ketika Ben menyatukan tubuhnya dengan Bella. Dia ingat tadi malam dirinya bertindak cukup buas. Hingga membuat Bella lemas dan kelelahan melenguh.


Di akhir, Ben bergegas memakaikan Bella pakaian. Lalu membawanya pergi dari pesta. Dia tidak lupa menutupi wajah Bella dengan rambut panjang gadis itu. Ben melakukannya untuk berjaga-jaga. Ternyata apa yang dilakukannya memang tidak sia-sia. Semua orang tidak mengetahui identitas Bella kecuali Brian, Jennifer dan Cecil.


Ben terlena mengingat kegiatan intimnya untuk yang pertama kali. Karena hal itu, bagian bawah perutnya mulai menegang. Saat itulah Ben tersadar kalau dirinya sudah berlebihan.


"Sialan! Apa yang aku pikirkan?!" geram Ben. Dia bergegas masuk ke kamar mandi. Menyelesaikan masalahnya sendirian.


Selang sekian menit, Ben keluar dari kamar mandi. Dia mendengus lega sambil menyandarkan diri ke depan pintu. Lagi-lagi pikirannya dihantui oleh Bella.


"Aaaaarghhhh!!!" Ben mengacak-acak rambut frustasi. Berharap segala hal tentang Bella menjauh dari benaknya. Namun sayang dia tidak bisa.


Pernyataan Bella yang sudah mempunyai pacar, juga begitu mengganggu Ben. Dia jadi penasaran dengan segala hal terkait kehidupan Bella.

__ADS_1


...***...


Bella singgah di bandara. Dia menunggu Justin di ruang tunggu. Di tangannya terdapat tas karton yang baru dibeli saat singgah ke toko.


Sambil memainkan jari-jemarinya, Bella menanti dengan cara celingak-celingukan. Dia tidak sabar ingin melihat kedatangan sang kekasih.


Dari kajauhan, kehadiran Justin mulai terlihat. Bella langsung melambaikan tangan dan tersenyum. Hal serupa juga dilakukan Justin. Pria itu berlari dan langsung membawa Bella masuk ke dalam pelukan. Sama seperti Bella, Justin juga merindu.


Justin mendekap erat Bella. Lalu mengangkat dan memutarnya sebentar. Bella hanya bisa terkekeh bahagia ketika diperlakukan begitu.


"I miss you so much..." ungkap Justin masih dalam keadaan memeluk Bella.


"I miss you too..." balas Bella. Dia seolah menemukan tempat ternyaman. Bau maskulin Justin yang khas membuatnya enggan melepaskan dekapan.


Bella melonggarkan pelukannya. Kemudian medongak untuk menatap Justin. Ada sesuatu yang ingin dia katakan. Tetapi belum sempat bicara, Justin sudah lebih dulu mengecup mesra bibirnya.


Bella tidak kuasa menolak akibat rasa rindu. Dia merespon ciuman Justin. Gadis itu bahkan sampai lupa kalau dirinya berada di tempat umum. Orang yang berlalu lalang hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Mata Bella terpejam rapat. Tiba-tiba bayangan tentang dirinya mencium Ben terlintas. Bella sekarang mengingat ciuman yang dilakukannya bersama Ben tadi malam.


Akibat mengingat ciumannya dengan Ben, Bella reflek mendorong Justin. Ia memegangi bibirnya sembari memasang ekspresi kaget.


Justin tercengang. Dia tentu heran, kenapa Bella tiba-tiba mendorongnya. Justin lantas bertanya, "Kau tidak apa-apa?"


Bella awalnya terpelongo. Namun dia lekas sadar saat Justin bertanya mengenai keadaannya berulangkali.


"A-aku tidak apa-apa. Aku hanya baru teringat kalau kita ada di tempat umum," kilah Bella.


Justin tersenyum lebar. Lalu memeluk Bella lagi. "Apa kau malu memiliki pacar setampan aku?" ujarnya bermaksud bercanda.


Bella sontak meringis geli. Dia mengembangkan senyuman tipis. Selanjutnya, Bella menarik tangan Ben. Mereka segera beranjak dari bandara. Pulang bersama dengan menggunakan taksi.

__ADS_1


Kala berada di taksi, Justin mendapatkan panggilan telepon. Lelaki itu sempat memeriksa layar ponsel dan malah mengabaikan panggilan yang diterimanya. Bagaimana tidak? Orang yang menelepon ternyata adalah Corine. Justin tidak mungkin mengangkat telepon Corine saat masih bersama Bella.


__ADS_2