Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 57 - Perkelahian!


__ADS_3

...༻✿༺...


Justin melotot tajam ke arah Ben. Meskipun begitu, dia mencoba menahan kesabaran. Dia tidak bisa berkata-kata jika Bella sudah berucap begitu.


Sementara Billy, menjadi satu-satunya orang yang tertohok. Dia merasa malu sendiri karena membawa kabar yang tidak bisa dibuktikan.


Billy tidak memiliki bukti kalau Bella adalah Red Rose. Foto-foto yang dia miliki hanya akan memperkuat pengakuan Bella tadi. Sekarang para karyawan Foodton terlihat saling berbisik sambil melirik ke arahnya.


Dengan rahang yang mengerat sebal, Billy lantas pergi dengan langkah kaki menghentak. Di iringi oleh Edwin, selaku sekretaris pribadinya.


Berbeda dengan Justin, yang sengaja memilih tetap diam di tempat. Dia menatap Bella dan Ben secara bergantian.


"Justin, aku tidak menyangka kau akan datang ke sini menjemputku. Apa bunga itu untukku?" sapa Ben dengan senyuman merekah. Jujur saja, pengakuan dari Bella tadi membuat hatinya berbunga-bunga. Dia melangkah ke hadapan Justin.


"Ya, ini untukmu, Mr. Mayers..." Justin sengaja ikut berbohong, karena beberapa karyawan Foodton masih ada di sekitar. Raut wajahnya tampak datar. Tidak secerah ekspresi yang ditunjukkan oleh Ben. Justin menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Ia tidak sebodoh itu membicarakan hal penting di tempat umum.


Beberapa saat kemudian, para karyawan Foodton pamit satu per satu. Ada yang pulang sendiri dengan taksi, dan ada juga yang dijemput oleh kerabat terdekat. Orang yang tertinggal hanyalah, Bella, Ben dan Justin.


Sedari tadi Bella terus bungkam. Ia sedang bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Termasuk kemurkaan Justin.


"Ayo kita pulang! Aku akan mengantarkan kalian ke rumah masing-masing. Lihat! Jimmy sudah datang," ajak Ben. Dia satu-satunya orang yang merasa senang.


Justin mengangguk. Dia dan Bella melenggang mengikuti Ben dari belakang. Kini mereka berada dalam satu mobil bersama. Justin duduk di depan bersama Jimmy. Sedangkan Bella dengan Ben di kursi belakang.


"Kenalkan, Bella. Dia Justin, salah satu karyawan terbaik di Foodton. Dia seharusnya ikut dengan kita ke Hawai. Tapi tidak bisa, karena ada pekerjaan yang mendesak." Ben memperkenalkan Justin kepada Bella.


"Kami sudah saling mengenal, Ben." belum sempat Bella berucap, Justin bersuara lebih dulu. Ben sontak membulatkan mata.


"Benarkah?" Ben merasa tak percaya.


"Jimmy, hentikan mobilnya di sana!" perintah Justin. Namun Jimmy tidak menurut, karena dia hanya akan mengikuti suruhan dari Ben. Lagi pula, Justin menyuruhnya berhenti di daerah sepi. Dimana hanya ada banyak bangunan tutup dan terbengkalai.


"Ada hal yang ingin aku lakukan. Ini penting, Jimmy." Mata Justin mendelik.


Dahi Ben mengerut dalam. Walaupun begitu, dia memaksa Jimmy agar mau menuruti keinginan Justin. Alhasil Jimmy menghentikan mobil ke tepi jalan. Saat itulah Justin turun dari mobil.


"Ben, keluarlah! Aku ingin bicara kepadamu!" Justin mendesak Ben untuk keluar dari mobil.


"Ada apa?" tanya Ben yang telah turun dari mobil. Hal yang sama juga dilakukan Bella. Tepat beberapa detik kemudian.

__ADS_1


Justin menarik Bella untuk berdiri ke sampingnya. Lalu melangkah ke hadapan Ben. Dia berucap, "Aku tahu kau hanya berpura-pura, Ben. Kau tidak berpacaran dengan Bella."


"Bagaimana kau tahu?" Ben masih menaruh kepercayaan kepada Justin. Dia malah sempat kagum dengan tebakan Justin yang benar seratus persen.


"Ben..." Bella memanggil Ben dengan lirih. Kepalanya menggeleng lemah seakan kecewa atas pengakuan Ben kepada Justin. Kini Bella tidak punya pilihan selain menghentikan Justin.


"Tentu saja aku tahu. Karena dia pacarku! Akulah pacar asli Bella! Kau harus tahu itu!" tegas Justin. Bella tidak mampu menenangkan.


Ben terdiam seribu bahasa. Dia memancarkan binar nanar di matanya. Ben merasa segalanya sangat sulit dipercaya. Namun setelah dipikir-pikir, Ben sekarang sadar satu hal. Kalau kekasih yang selama ini dibicarakan Bella adalah Justin. Karyawan sekaligus teman dekatnya sendiri!


Perlahan Ben melirik ke arah Bella. Lalu bertanya, "Apa itu benar? Justin adalah kekasihmu?"


Bella awalnya memasang mimik wajah muram. Tetapi dia tidak mau membohongi Ben. Sehingga satu anggukan dilakukan olehnya. Kecewa yang teramat besar otomatis dirasakan Ben.


"Jangan bilang wanita yang sudah membuat kau jatuh cinta itu adalah Bella?! Bukan kan?!" Justin sekali lagi menimpali.


"Justin, sudahlah." Bella mencoba membuat Justin berhenti. Akan tetapi kekasihnya itu malah terus mengomel.


"Bella milikku, Ben! Kami sudah berpacaran selama dua tahun! Kau dengar itu?! Dua tahun!"


"Hentikan! Bisakah kau berhenti?!!!" Bella sudah tidak tahan lagi. Pekikannya sukses membuat Justin berhenti dan menoleh.


"Ben, aku dan Justin akan naik taksi saja." Bella memutuskan pergi bersama Justin. Hal itu membuat sakit hati Ben bertambah parah.


Tanpa diduga, Ben melangkahkan kaki. Kemudian mencengkeram pergelangan tangan Bella. Ia tidak akan membiarkan Bella pergi dengan Justin.


"Jangan pergi. Aku juga punya sesuatu untuk dibicarakan," ungkap Ben. Berusaha mencegah kepergian Bella.


Justin memutar bola mata jengah. Dia tidak ingin kalah dan langsung ikut memegang lengan Bella. Sekarang kedua tangan Bella dipegang oleh lelaki yang berbeda. Gadis itu seolah seperti tali tambang yang diperebutkan.


"Pergilah, Justin! Kau lebih baik meneruskan hubungan dengan selingkuhanmu saja," pungkas Ben sembari menarik tangan Bella sekuat tenaga. Dia sengaja mengungkap fakta mengenai perselingkuhan Justin.


Justin tidak terima. Dia memegang kuat tangan Bella, sehingga Ben tidak bisa membawa kekasihnya itu pergi.


"Kau tidak tahu apa-apa tentang cinta, Ben! Bella milikku! Terima saja kenyataan itu!" tegas Justin. Dia mempertahankan genggamannya.


"Itu benar! Tapi kau harus tahu satu hal, kalau aku adalah orang pertama yang bercinta dengan Bella!" balas Ben penuh tekad.


Justin terperangah. Dia perlahan menatap Bella. Mencoba menemukan jawaban pasti. Namun Bella malah sibuk menatap ke arah Ben. Gadis itu ikut tercengang dengan pernyataan Ben.

__ADS_1


"Sialan!" Justin tidak tahan lagi. Dia melepaskan Bella dan memutuskan melakukan baku hantam.


Ben terkena tinju Justin tepat di wajah. Dia otomatis melakukan perlawanan. Persiteruan yang awalnya hanya adu mulut, kini berubah menjadi perkelahian fisik.


Jimmy yang sejak tadi di mobil, bergegas keluar. Dia berupaya menghentikan perkelahian yang terjadi. Hal yang paling Jimmy takutkan bukan karena dirinya khawatir Ben akan terluka, melainkan karena takut Lucky akan muncul. Jika itu terjadi, Justin kemungkinan bisa terbunuh.


"Hentikan, kumohon..." Jimmy memberanikan diri melerai perkelahian. Tetapi dia justru kena amukan dari Ben dan Justin.


Bruk!


Tanpa sengaja kepala Jimmy terkena tiang lampu. Dia terluka sampai mengeluarkan darah. Meskipun begitu, Jimmy masih tetap sadar.


Melihat Jimmy terjatuh, Bella langsung memeriksa. Memastikan keadaan lelaki paruh baya itu baik-baik saja.


Di awal Justin mendominasi perkelahian. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab saat Ben mengamuk, maka dia akan tampak seperti orang kesetanan. Dua tangannya yang membentuk bogem, bergantian memukuli wajah Justin.


Buk!


Buk!


Buk!


Wajah Justin sudah babak belur. Dipenuhi darah serta memar yang banyak. Bella baru tersadar dengan keadaan tersebut. Ia segera menghentikan amukan Ben.


"Hentikan!" Bella memberikan teguran pertama. Akan tetapi Ben masih belum berhenti.


"Ben, kumohon..." Bella kali ini memegangi lengan Ben. Usahanya lagi-lagi gagal.


"AKU BILANG HENTIKAN!!!" pekikan Bella akhirnya berhasil menyadarkan Ben. Saat itulah Bella bergegas menyelamatkan Justin. Lelaki yang masih menjadi kekasihnya itu sudah tidak berdaya. Bicara sedikit saja dia tidak bisa.


Bella akhirnya menangis sambil memeluk Justin. Dia sangat ketakutan. Apalagi ketika telah menyaksikan betapa mengerikannya amukan Ben tadi. Anehnya Lucky kali ini tidak muncul. Ben bahkan terkejut akan hal tersebut.


"Aku tidak tahu kenapa kau begini, Ben! Tapi aku tegaskan kepadamu, kalau aku bisa mengurus masalahku sendiri! Mengenai apa yang kita lakukan di Hawai, kita sepakat kalau itu hanyalah terapi..." ucap Bella di tengah-tengah isakan tangis.


Ben mematung dengan tatapan kosong. Seolah mengaku kalau dirinya memang salah. Jimmy yang cemas, berusaha membantu. Namun Ben menolak tegas.


"Tinggalkan aku sendiri, Jimmy... kau lebih baik bawa mereka ke rumah sakit," saran Ben.


"Tapi--"

__ADS_1


"Pergilah!!!" Ben memaksa.


__ADS_2