Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 24 - Satu-Satunya Wanita


__ADS_3

...༻✿༺...


Selagi Lucky melajukan motor, Bella hanya sibuk memejamkan mata. Dia memang gadis berani. Tetapi manusia mana yang tidak takut saat menghadapi nyawanya sedang terancam.


Lucky dan kawan-kawan terus berkendara sampai melewati jembatan Manhattan. Manhattan sendiri merupakan kota yang membentuk sebuah pulau kecil. Salah satu kota terpadat yang menjadi bagian dari New York.



Di jembatan, Lucky sedikit memelankan motor. Dia baru tersadar tangan Bella sibuk melingkar di perutnya. Lucky mencoba melepaskan, akan tetapi tidak bisa. Karena ketika dilepaskan, kedua tangan Bella kembali menyatu untuk memeluknya dari belakang.


"Maaf! Aku bingung mau berpegangan kemana," ungkap Bella. Dia perlahan membuka mata. Pemandangan sungai Hudson langsung menyambutnya. Penampakan patung liberty yang gagah berani terlihat dari kejauhan.


Lucky mendengus kasar. Dia terpaksa membiarkan tangan Bella bertengger di pinggulnya. Lalu kembali melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Alhasil mata Bella kembali terpejam rapat.


Tidak lama kemudian, Lucky beserta teman-temannya sudah tiba di kota Manhattan. Mereka memasuki wilayah misterius. Di sana ada banyak sekali gedung pencakar langit. Akan tetapi terlihat sepi dan terbengkalai. Hanya ada burung-burung gereja yang beterbangan tak tentu arah.


Lucky menghentikan motor dengan tiba-tiba. Hal serupa juga dilakukan oleh semua rekannya. Namun bedanya, semua rekan Lucky langsung turun dari motor. Karena mereka kebetulan tidak dalam posisi dipeluk oleh seorang perempuan.


"Kalian bisa masuk duluan!" perintah Lucky. Seluruh rekannya lantas memasuki gedung.


"Dokter! Kita sudah sampai. Bisakah kau lepaskan aku?!" pungkas Lucky.


Bella lekas tersadar. Dia segera membuka mata sembari melepas pelukan dari Lucky. Lalu turun dari motor. Dalam keadaan pandangan yang mengedar ke segala arah.


"Kita dimana?" tanya Bella seraya mengusap tengkuk tanpa alasan.


"Ini adalah daerah perkumpulanku. Atau bisa juga disebut wilayah The Dark Place. Ini adalah salah satu tempat yang memberikanku ketenangan," tutur Lucky. Dia berjalan memimpin lebih dahulu ke dalam gedung. Bella yang tidak punya pilihan, otomatis mengikuti dari belakang.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau melakukan sejenis kejahatan?" Bella kembali bertanya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel.


"Mungkin..." Lucky memberikan jawaban ambigu. Diam-diam pria itu mengukir seringai.

__ADS_1


Lucky berhenti tepat di depan dua buah pintu besar. Ketika dia membuka pintu tersebut, mata Bella langsung terbelalak. Bagaimana tidak? Ada banyak sekali orang di dalam. Parahnya tidak ada satu pun wanita yang terlihat. Jadi sekarang hanya Bella satu-satunya wanita yang ada di sana.


Semua pasang mata langsung tertuju ke arah Bella. Sebagian dari mereka reflek bangkit dari tempat duduk. Melayangkan tatapan heran.


"What the fu*ck, Lucky! Kau membawa seorang wanita ke sini? Bukankah ini namanya pelanggaran? Keberadaannya tidak akan diterima di sini!"


"Ya, apa-apaan kau, Lucky! Kenapa kau melakukan ini kepada kami?!"


"Aku tidak bisa mempercayaimu sekarang!"


Beberapa orang melakukan aksi protes kepada Lucky. Namun Lucky justru mengambil pistol dan menembaki orang-orang yang sudah berani angkat suara.


Dor!


Dor!


Dor!


Melihat apa yang dilakukan Lucky, seluruh orang seketika terdiam. Saat itulah Lucky menyeret Bella untuk masuk lebih dalam.


Lucky menarik paksa, hingga membuat Bella terdorong ke tengah ruangan. Pintu yang menjadi tempat awal mula Bella masuk, segera ditutup.


"Aku bahkan belum sempat bicara. Kalian sudah seenaknya menyimpulkan sendiri." Lucky berucap sambil melangkah maju. Menatap remeh ke arah Bella yang tampak sangat kebingungan.


"Terserah kalian mau memperlakukannya seperti apa. Serahkan dia kepadaku jika sudah membuat keputusan!" Lucky berujar dengan angkuh.


"Sudah kuduga, kau tidak mungkin tiba-tiba memperlakukan wanita dengan baik. Haha! Yes! Kita punya mainan lagi." Sean merasa bersemangat.


"Ngomong-ngomong, keputusan apa yang kau inginkan darinya, Lucky?" tanya salah satu rekan Lucky yang bernama Liam.


"Untuk hidup selamanya mungkin?" lagi-lagi Lucky memberikan penjelasan ambigu.

__ADS_1


"Apa-apaan, Lucky! Kau tidak bisa melakukan ini! Kau melanggar janjimu!" timpal Bella. Dia bergegas mengambil ponsel dari saku mantel. Bella menyesal sudah bersedia ikut dengan Lucky. Lagi-lagi dirinya terjebak. Persis seperti insiden badai salju tempo hari.


Lucky menggertakkan gigi. Dia kesal melihat Bella berusaha melakukan perlawanan. Tanpa ba bi bu, Lucky merampas ponsel Bella sebelum sempat digunakan.


"Hei!!!" Bella tak terima. Dia mencoba merebut kembali ponsel miliknya. Tetapi tidak mampu, karena rekan-rekan Lucky langsung memegangi kedua tangannya.


"Sorry, Dokter. Aku tidak akan berhenti sebelum kau memutuskan untuk membantu." Lucky mengukir senyuman licik. Dia menjatuhkan ponsel Bella ke lantai. Kemudian menginjaknya. Kini ponsel Bella telah hancur berkeping-keping.


Bella menatap Lucky dengan penuh kebencian. "Kenapa kau sangat memaksa?! Bukankah harusnya kau tahu, kalau kau dan Ben sangat sulit untuk disembuhkan? Apalagi dalam keadaan seperti sekarang! Kalian berdua sangat sulit diajak bekerjasama! Aku tidak akan membantu kalian berdua! Tidak akan!" tegasnya dengan nada penuh penekanan.


"Lucky, apa kau sakit? Kenapa dia bicara tentang penyembuhan?" tanya Liam. Dia dan yang lain tidak mengetahui kenyataan kalau Lucky hanyalah kepribadian berbeda dari seorang Ben. Sama seperti Ben, Lucky juga menutupi penyakitnya.


"Ya, aku sakit!" sahut Lucky lantang. Dia berjalan ke hadapan Bella. Membuncahkan mata yang terlihat sangat mengancam.


Bella yang merasa kesal, membalas tatapan Lucky. Lagaknya yang tidak kenal takut. Membuat Lucky semakin dibuat geram.


Lucky memegangi dagu Bella dengan kasar. "Semuanya! Dia adalah seorang dokter! Namanya adalah Red Rose! Aku yakin salah satu dari kalian pernah mendengarnya!" ungkapnya dengan suara lantang. Menyebabkan rekan-rekannya saling berbisik dan berdiskusi.


"Aku pernah mendengar tentangnya. Dia seorang psikiater bukan?" tanya Emile yang nampaknya mengenal sosok Bella.


"Benar. Dia terus saja menolak untuk membantuku!" terang Lucky. Dia akhirnya melepaskan dagu Bella.


"Bagaimana aku bersedia membantu, jika yang kau lakukan hanyalah keinginan untuk membunuhku?!" timpal Bella. Dia masih tak mau mengalah.


Mendengar pernyataan Bella, Lucky dan rekan-rekannya tertawa. Seolah apa yang dikatakan gadis itu adalah sesuatu hal menggelikan.


"Dengar, Dokter Red. Lucky sangat membenci wanita. Jadi dia tidak akan pernah segan untuk membunuh. Apalagi membunuh wanita yang bidal dan kasar!" Liam memberikan jawaban untuk Bella. "Kau tahu? Kami punya alasan tersendiri membuat organisasi ini. Tempat yang selalu berjaya tanpa bantuan para wanita. Kami semua membenci mereka!" sambung Liam.


"Pemikiran kalian sangat kolot! Zaman sekarang sudah maju, kenapa masih saja mempermasalahkan perihal gender!" Bella melakukan sarkas. Sebagai seorang wanita, dia tentu merasa tersinggung. Bella tidak terima para wanita dipandang rendahan.


Lucky memutar bola mata jengah. Dia tidak tahan lagi. "Masukkan Dokter Red ke ruangan itu! Jangan biarkan dia kabur dari sini!" titahnya sambil berbalik badan. Meninggalkan Bella bersama rekan-rekannya begitu saja.

__ADS_1


Akhirnya Bella diseret ke suatu tempat. Lalu dikurung di sebuah ruangan asing dengan pintu berbahan besi.


__ADS_2