
...༻✿༺...
Dua perawat yang ada, bergegas menolong Justin. Mereka memarahi Brian dan Cecil yang sudah bertindak semaunya di rumah sakit jiwa.
Bersamaan dengan itu, Bella mengajak Ben berlari keluar. Hal serupa juga dilakukan Brian dan Cecil. Akan tetapi langkah mereka harus terhenti ketika pihak keamanan rumah sakit berdatangan.
"Kau tidak bisa membawa pasien itu pergi, Nona. Ben masuk ke dalam daftar orang berbahaya. Banyak pemeriksaan yang harus dilakukannya terlebih dahulu," ujar ketua keamanan rumah sakit. Dia memaksa Bella dan kawan-kawan keluar. Sementara Ben akan tetap dimasukkan ke ruang khusus nomor 101.
"Tapi--"
"Pergilah, Dokter! Temui Jimmy, dia sedang mengurus segalanya untuk membantuku. Percayalah, aku akan baik-baik saja. Apalagi setelah mengetahui cintaku tidak bertepuk sebelah tangan," kata Ben seraya merekahkan senyuman tipis. Dia sengaja memotong ucapan Bella. Lalu mengecup dalam bibir Bella yang kenyal dan semanis buah cherry.
Ben dan Bella akhirnya harus berpisah lagi. Mereka tidak punya pilihan. Sebab Ben memang sudah terlanjur dijerat atas hukum negara.
Kini Bella, Cecil dan Brian berada di luar rumah sakit. Mereka istirahat di dekat mobil sebentar.
Sebuah mobil baru saja berhenti. Sosok Corine yang muncul, membuat Bella dan kawan-kawan terheran. Wajar saja, Bella belum tahu kalau selingkuhan Justin selama ini adalah musuh bebuyutannya sendiri.
"Kenapa dia ke sini? Dia tidak bekerja di rumah sakit ini kan?" tanya Cecil dengan nada berbisik.
"Setahuku tidak," jawab Bella.
Corine seperti sedang tergesak-gesak. Sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran Bella.
Corine berlari menuju rumah sakit. Namun langkahnya terhenti, ketika menyaksikan Justin. Lelaki itu melenggang ke arahnya. Lalu menyambar mulut Corine dengan sebuah ciuman yang menggebu.
"Apa-apaan itu!" geram Brian. Ia bergegas mendekati Justin dan Corine. Tetapi Bella dengan cepat menghentikan.
"Lupakan, aku sudah tidak peduli dengannya!" cegat Bella. Membuat Brian membuang jauh-jauh amarahnya.
Bella memperhatikan yang dilakukan Justin dan Corine. Dia tidak merasakan apa-apa di hatinya. Karena hati Bella memang sepenuhnya sudah diimiliki oleh Ben. Satu hal yang pasti, sekarang gadis itu tahu kalau selingkuhan Justin adalah Corine.
__ADS_1
"Untung saja aku tidak sempat berhubungan intim dengan Justin. Aku tidak akan sudi jika harus bersenggama dengan lelaki yang sama dengan Corine," komentar Bella. Ia cenderung merasa jijik. Kedua bahunya bahkan sampai menggedik.
"Tapi kau cukup sering berciuman dengan Justin, Bella." Brian berceletuk.
"Ah, benar! Arrrghh!" Bella reflek mengusap kasar bibirnya. Seolah ada kuman yang harus dimusnahkan dari sana.
Melihat tingkah Bella, Brian dan Cecil tergelak bersama. Mereka segera pulang dengan menggunakan mobil.
Justin perlahan melepaskan tautan bibirnya dari mulut Corine. Bola matanya melirik ke mobil Bella yang telah menjauh.
"Justin, kau kenapa tiba-tiba menghilang?! Untung saat di cafe tadi aku berhasil melihat mobilmu lewat," ucap Corine seraya memukul lembut dada Justin.
Akibat pukulan Corine, Justin berhenti terpaku menatap kepergian Bella. Dia berkata "Maafkan aku, Corine. Mulai sekarang, ayo kita lanjutkan hubungan yang lebih serius. Tidak ada lagi orang ketiga di antara kita."
"Benarkah? Kau serius bukan?" Corine merasa terenyuh.
"Tentu saja. Hanya ada kau sekarang." Justin menegaskan.
"Aku sangat mencintaimu, Justin!" Corine memberikan kecupan berkali-kali ke bibir Justin. Selanjutnya, mereka melangkah bersama menuju mobil. Saat itulah Justin menghubungi Billy melalui telepon.
"Ada apa, Justin? Aku dengar pernikahanmu kacau. Apa yang terjadi?" tanya Billy dari seberang telepon. Dia tidak tahu kalau calon mempelai wanitanya adalah Bella.
"Benar, ada insiden yang tak terduga." Justin mendengus kasar. "Aku hanya ingin memberitahumu, kalau aku tidak jadi menginginkan uang. Aku ingin jabatan penting di perusahaan Foodton. Aku masih mau bergabung menjadi tim penghancur kehidupan Ben."
"Hmmm... baguslah kalau begitu. Aku memang membutuhkan orang pintar sepertimu dalam timku. Temui aku di perusahaan sekarang," balas Billy. Dia menjadi orang yang lebih dahulu memutuskan sambungan telepon.
...***...
Bella baru melepas gaun pengantinnya. Dia tidak lupa menginjak-injak gaun itu dengan perasaan sebal.
Selepas berganti pakaian, Bella langsung menjelajahi kontak di teleponnya. Dia menghubungi mantan pasien-pasien yang merupakan orang penting. Bella hendak meminta bantuan mereka agar bisa membantu Ben keluar dari rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Dari mulai pengacara terkenal, senator, serta petinggi politik lainnya, dihubungi oleh Bella. Dari semua orang itu, hanya satu saja yang bersedia membantu Bella. Yaitu senator bernama Caroline Michone.
Selang sekian menit, Jimmy datang. Dia membawa seorang pengacara handal yang bersedia membantu Ben.
"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Bella.
"Billy sudah mengambil alih posisi CEO. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa dilakukannya. Aku akan membiarkan Calvin menjelaskan semuanya." Jimmy mempersilahkan pengacara yang ikut dengannya untuk menjelaskan.
"Posisi Ben sekarang benar-benar terancam. Reputasinya tercoreng karena penyakit jiwa yang dia derita. Kita di sini tidak bisa mengelak kenyataan itu. Tapi kita bisa gunakan kekuatan Ben yang masih tersisa. Yaitu posisinya sebagai ahli waris." Calvin terlihat percaya diri dan meyakinkan. "Meski Billy sudah berhasil melengserkan ketidakmampuan Ben untuk menjadi CEO, tapi dia tidak akan semudah itu mendapatkan warisan yang dimiliki Ben. Warisan tersebut tidak akan jatuh ke tangannya tanpa persetujuan dari Ben sendiri."
Calvin menjelaskan satu hal lagi. Dia mengatakan kalau penyakit jiwa yang diderita Ben, dapat dijadikan senjata untuk menyelamatkannya di persidangan.
"Orang yang menderita penyakit jiwa memiliki pengecualian terhadap hukum negara. Ben tidak melakukan semua pembunuhan secara sadar bukan? Jika begitu, kita masih mampu menyelamatkannya. Ah, satu hal lagi, yang aku takutkan... Ben akan berakhir di tempatkan di rumah sakit jiwa," terang Calvin yang di akhiri dengan kalimat meragu.
"Kau tidak perlu khawatirkan masalah itu. Biar aku yang mengurusnya. Hal terpenting sekarang adalah, melepaskan Ben dari tuntutan penjara," ujar Bella.
"Baiklah. Pertama-tama, ayo kita cari bukti sebanyak mungkin," ucap Calvin. Dia menatap Bella dan Jimmy secara bergantian.
"Kami boleh ikut tim ini bukan?" Brian yang sejak tadi menguping, tiba-tiba muncul dari balik pintu. Hal yang sama juga dilakukan Cecil.
Bella lantas mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju. Dia dan yang lain segera bergerak untuk mencari berbagai bukti. Mereka semua mulai sibuk menjelajah beberapa tempat yang sering didatangi Ben. Nihil, setelah seharian mencari, mereka tidak mendapatkan apapun. Meskipun ada, bukti tersebut tidak cukup kuat.
Kini semua orang kembali berkumpul di apartemen Bella. Berusaha mencari-cari data dengan cara mengetahui aktifitas yang pernah dilakukan Ben sehari-hari.
"Hidup Ben sangat membosankan. Dia seperti mengulang-ulang kegiatannya setiap hari. Dia robot atau apa?" komentar Brian. Dia sibuk memeriksa kamera CCTV yang di ambil dari apartemen Ben.
"Begitulah hidup Ben. Tepat sebelum bertemu Dokter Red," sahut Jimmy seraya menoleh ke arah Bella. Gadis yang ditatapnya justru tengah sibuk berpikir.
Bella mencoba mengingat hal penting tentang Lucky. Hingga sesuatu hal terlintas dalam benaknya. Yaitu mengenai rekan-rekan Lucky yang sering disebut kelompok The Dark Place.
"Aku bisa menemukan banyak saksi! Tapi mereka agak..." Bella sedikit meragu. Tetapi dia tidak punya pilihan lain.
__ADS_1