
...༻✿༺...
Bella hanya tersenyum kecut ketika mendengar perkataan Robert. Dia mencoba membuang semua ketakutannya. Lalu sengaja duduk di hadapan Robert.
"Apa keahlianmu, Robbie?" ujar Bella yang sudah duduk di hadapan Robert.
"Hmm..." Robert menatap remeh Bella. Dia sebenarnya agak risih tatkala menyaksikan keberanian Bella.
"Ayo, beritahu aku. Agar aku benar-benar bisa melihat kehebatanmu." Bella sengaja mendekati orang yang paling membencinya terlebih dahulu. Mengenai rekan-rekan Lucky yang lain, dia akan mengurusnya belakangan.
"Apa kau menantangku?" tukas Robert. Lalu meludahkan air liurnya secara gamblang. Sikapnya sangar dan tidak tahu malu.
Semua orang berseru histeris kala melihat interaksi Bella dan Robert. Dalam sekejap keduanya menjadi ajang tontonan. Bahkan Lucky tertarik melihatnya. Lucky duduk santai sambil menselonjorkan kaki dengan keadaan menyilang.
"Kenapa kau menganggapnya begitu? Aku hanya bertanya," ucap Bella.
"Aku hanya akan memberitahu, jika kau mau bertanding denganku. Itu pasti menyenangkan," imbuh Robert seraya mengangkat dagu.
"Baiklah. Aku tidak takut," balas Bella. Ia berlagak berani dengan cara melipat tangan di depan dada.
"Coba kalahkan aku!" Robert meletakkan satu tangannya ke atas meja. Dia mengajak Bella untuk beradu panco.
Bella dengan senang hati menerima. Ia sebenarnya yakin kalau dirinya pasti akan kalah. Apalagi otot bisep Robert terbilang kekar. Nyaris seperti atlet pegulat internasional.
Semua orang menyambut pertandingan dadakan Bella dan Robert dengan semangat. Suasana ramai menyelimuti seluruh ruangan. Keadaan seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Keberadaan Bella benar-benar memberikan aura yang berbeda.
Bella tampak mengaitkan tangan dengan tangan Robert. Setelah hitungan ketiga, adu panco di mulai.
Bella berusaha keras mengerahkan semua tenaga. Dugaan awalnya benar, bahwasanya dia memang tidak mampu mengalahkan Robert.
Merasa menang, Robert merekahkan senyuman. Dia bahkan tertawa bersama rekan-rekannya yang lain. Sebab Bella langsung kalah dalam hitungan detik.
Ada satu orang yang sama sekali tidak tertawa melihat kekalahan Bella, yaitu Sean. Orang yang sudah terlanjur menjadi pengagum Bella semenjak pengobatan tadi sore.
"Hentikan, Rob! Sekarang lawanlah aku!" Sean mengajukan diri untuk menggantikan Bella. Pertandingan adu panco semakin menarik.
"Aku akan mengalahkan Robert untukmu, Dokter!" ujar Sean bertekad.
__ADS_1
"Terima kasih, emm..." Bella ingin menyebut nama Sean. Tetapi dia kebetulan lupa mengingat namanya.
"Dia Sean, Dokter." Liam lekas berbisik ke telinga Bella.
"Ah, Sean! Terima kasih... aku akan mendukungmu." Bella bertepuk tangan sambil tersenyum. Dia berdiri dan ikut bergabung menjadi tim penyorak.
Adu panco yang terjadi di antara Sean dan Robert begitu intens. Mereka saling mengerahkan kekuatan besar yang sulit dikalahkan. Semua orang yang melihat, dibuat tegang oleh mereka. Bahkan Lucky yang tadinya duduk, bergegas berdiri. Kebetulan penglihatannya diutupi oleh rombongan rekannya yang menonton.
"Aaaargghhh!" Robert mengerang kuat. Dia yang hampir kalah, berusaha terus bertahan. Usahanya sukses besar. Robert meraih kemenangan untuk yang kedua kalinya.
Sean berdecak kesal. Dia memasang raut wajah kecewa. Sementara Robert sibuk bersorak gembira.
Bella memutar bola mata malas. Setidaknya dia berhasil merubah suasana hati Robert menjadi lebih baik. Kini hanya perlu ke rencana berikutnya.
"Karena aku sudah bersedia melakukan tantangan Robert. Sekarang biarkan aku yang menantangnya. Oh, bukan hanya Robert. Tapi kalian semua yang mau ikut," cetus Bella.
"Apa tantanganmu?" Lucky yang tertarik langsung bertanya.
"Ayo kita bermain, truth or dare!" jawab Bella. Menyebabkan sebagian orang otomatis kebingungan. Mereka tidak mengerti dengan permainan yang disebutkan Bella. Sebab para anggota The Dark Place memang di isi oleh lebih banyak pria paruh baya. Mereka kurang tahu mengenai permainan anak muda.
Bella lantas menjelaskan tenang permainan yang disebutkannya dengan baik-baik. Hingga ada sekitar lima orang yang bersedia bermain. Termasuk Robert dan Sean.
Setelah botol di putar, orang yang pertama harus menjawab adalah Bella sendiri. Gadis itu sama sekali tidak masalah.
"Aku memilih jujur saja," ujar Bella. Tanpa rasa takut.
Robert dan kawan-kawan lantas berdiskusi. Hingga akhirnya menemukan pertanyaan yang tepat untuk Bella.
"Dokter, kau memiliki hubungan apa dengan Lucky?" tanya Robert.
Bella yang mendengar agak kaget. Bahkan Lucky merasakan hal serupa. Pria itu ingin menghentikan permainan, tetapi Bella tidak membiarkan.
"Bukankah sejak awal kalian sudah tahu? Kalau aku adalah dokter untuknya?" pungkas Bella seraya sedikit memiringkan kepala.
"Kami tahu, tapi dokter untuk apa?" balas Robert.
Bella sengaja mengabaikan dan berucap, "Maaf. Kau hanya boleh bertanya satu kali."
__ADS_1
Robert mendengus kasar. Dia segera memutar botol untuk memilih orang selanjutnya. Sean yang terpilih kali ini, dan dia ikut-ikutan dengan Bella. Yaitu memilih jujur.
Bella tersenyum licik. Dia punya ide untuk merubah suasana menjadi seru. Bella mengajak Robert dan ketiga orang lainnya berdiskusi. Mereka setuju saja dengan usulan Bella. Bahkan Robert kali ini sependapat.
"Oke, Sean. Jawablah dengan jujur, apa hal paling memalukan yang pernah terjadi kepadamu?" tanya Bella.
"Emm..." Sean berpikir sejenak, lalu meneruskan, "aku pernah buang air besar di celana saat melakukan penyerangan." Wajah Sean seketika memerah malu. Semua orang sontak memecahkan tawa.
"Tapi itu tidak banyak. Hanya sedikit," tambah Sean. Berusaha membela diri.
"Dasar bodoh! Ternyata sumber bau kotoran itu berasal darimu." Liam mendorong kepala Sean dengan kesal.
"Pantas saja, dia menghilang saat dalam perjalanan pulang. Kau menghilang kemana, Sean?" Lucky mengajukan pertanyaan.
"Stop, kalian hanya boleh mengajukan satu pertanyaan." Sekali lagi Sean ikut-ikutan dengan Bella.
Bella otomatis tergelak kecil. Ternyata Lucky dan kawan-kawan juga memiliki sisi lucu. Atau mungkin sisi itu memang sudah lama tersimpan akibat kegiatan gelap mereka sendiri.
Botol kembali di putar. Tanpa disangka, Bella lagi-lagi menjadi orang yang harus bermain. Karena belum ada yang memilih tantangan, jadi dia berinisiatif melakukannya lebih dulu.
Salah satu lelaki yang bermain dengan Bella punya ide brilian. Namanya adalah Chen. Keturunan asli Amerika-Tionghoa. Semua orang seketika tersenyum kala mendengar usulan dari Chen. Kecuali Sean, dia merupakan satu-satunya yang tidak setuju. Sayangnya Sean kalah telak dengan pilihan bulat ke-tiga rekannya.
"Dokter, kami menantangmu untuk mencium Lucky!" tukas Chen. Menyebabkan Bella maupun Lucky kaget secara bersamaan.
"Bukan ciuman biasa. Ciuman satu menit. Bwahaha..." Robert menambahkan.
"Tidak! Apa-apaan kalian?! Ini sama saja dengan menghinaku!" geram Lucky yang tidak terima.
"Lucky, apa kau takut? Jika kau memang tidak tertarik kepada wanita, bukankah harusnya kau berani?" Robert berupaya menenangkan Lucky. Dia lanjut berbisik, "Buatlah Dokter Red salah tingkah dengan tantangan ini. Kau tahu kalau wanita bertindak sesuai dengan perasaan."
"Oke kalau begitu. Tapi sepertinya Dokter Red tidak mau melakukan tantangan. Dia--" perkataan Lucky terhenti, saat Bella tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan ciuman.
"Aku akan menghitung waktunya," ujar Chen sembari melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangan.
Sama seperti Ben, Lucky benar-benar kaku. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya. Rasa kenyal dan hangat bersemayam di bibirnya. Apalagi Bella tidak berhenti memagut, walau tidak mendapat balasan dari Lucky. Gadis itu hanya menuntaskan tantangan ciuman satu menit yang diberikan.
Ketika tiga puluh detik berlalu, barulah Lucky ikut bermain bersama Bella. Setelah merasakan bagaimana pergerakan mulut Bella, dia mengerti cara berciuman sekarang.
__ADS_1
Secara alami, mulut Bella terbuka. Hingga Lucky dapat melum*at lebih dalam. Tanpa sadar, keduanya mulai menikmati aktifitas ciuman yang terjadi.