
...༻✿༺...
Ben berniat tidak mau peduli lagi dengan Bella. Namun entah kenapa gadis itu terus saja menghantui pikirannya. Rasanya Ben akan mati dengan rasa penasaran.
Ponsel di ambil oleh Ben dari atas nakas. Dia memberitahukan Oliver kalau dirinya akan pergi ke pesta. Ben berniat menemui Jennifer Wilson. Mungkin perempuan itu dapat membantunya. Jujur saja, Ben benar-benar terpaksa melakukannya. Lagi pula Ben tidak memiliki satu pun teman wanita. Masukan Jimmy terakhir kali merupakan jalan terakhir.
Di sisi lain, Bella dan kawan-kawan sedang dalam perjalanan. Mereka menuju hotel bintang lima yang menjadi tempat acara pesta diselenggarakan.
Sesampainya di tempat tujuan, Bella dan kedua rekannya segera di arahkan untuk bergabung ke ruang pesta. Letaknya sendiri berada di balkon besar yang berada di lantai lima belas.
"Dokter! Aku sangat senang bisa melihatmu di sini." Melihat kehadiran Bella, Jennifer segera memberikan sapaan ramah.
"Tolong, jika di tempat umum. Panggil saja aku Rose." Bella berbisik ke telinga Jennifer. Aktris cantik berambut pirang itu lantas mengangguk sambil mengacungkan jempol.
"Brian, Cecil... kalian juga harus menikmati pesta ini, oke?" Jennifer tidak lupa menyapa dua rekan Bella.
"Tentu saja. Ini pesta yang sangat luar biasa. Aku tidak akan melupakannya!" sahut Brian penuh semangat. Dia orang yang pertama kali memisah dari Bella dan Cecil. Brian memang dikenal suka bergonta-ganti pacar. Makanya Cecil sangat membencinya.
"Dia pasti akan mencari wanita seksi," komentar Cecil sinis.
"Aku pikir, kau juga harus mencari lelaki seksi. Mungkin saja kau bertemu penyanyi favoritmu di sini," respon Bella sembari mengulum senyum.
"Tidak. Aku mau menemanimu." Cecil melingkarkan tangannya ke lengan Bella. Dia bertekad tidak akan meninggalkan. Namun itu tidak berselang lama, karena perhatian Cecil harus tertuju ke arah seorang pria berbadan tinggi. Pria keturunan negro paling hot se-Amerika. Namanya adalah Michael B. Jordan. Salah satu aktor kenamaan yang sedang naik daun. Badannya atletis, serta memiliki kharisma yang begitu menawan. Michael terlihat di kelilingi oleh beberapa orang. Terutama para teman dekatnya.
"A-apa benar dia Michael B. Jordan? Apakah ini mimpi? Dia sangat tampan, Bella." Cecil menangkup wajahnya. Dia bersikap seperti fans yang baru pertama kali melihat sang idola di depan mata.
Bella terkekeh. "Ya sudah! Tunggu apa lagi. Cepat minta tanda tangan dan fotonya!" ujarnya seraya mendorong Cecil pergi. Tanpa menoleh ke belakang, Cecil langsung menghampiri Michael.
Bella hanya menggeleng maklum. Dia segera mengambil segelas cocktail dari meja. Lalu meminumnya sampai tandas. Gadis itu sekarang mendengus kasar. Bella bingung mau melakukan apa.
__ADS_1
Dari pintu masuk, Ben baru saja datang. Dia ditemani oleh Oliver. Mereka tentu bertemu dengan Jennifer. Wanita berambut pirang itu menyambut ramah kehadiran Ben. Tetapi sekali lagi, Ben hanya merespon dengan wajah datar. Sikap dinginnya memang sulit dihilangkan.
"Aku sangat senang kau memilihku sebagai model iklan produk terbarumu. Karena aku dengar, produknya banyak disukai oleh orang-orang. Aku yakin produk makanan terbarumu akan sukses besar," ujar Jennifer. Dia memegangi gelas berisi sampanye.
"Ya, aku tidak akan menerimamu jika bukan karena Oliver. Kau harusnya berterima kasih kepadanya," balas Ben ketus. Membuat senyuman Jennifer perlahan mengecut.
"Ah... begitukah." Tanggapan Ben menyebabkan Jennifer kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa mengikuti saran Ben. Yaitu berterima kasih kepada Oliver.
"Nona Wilson, apa kau punya waktu untuk bicara? Aku ingin membahas sesuatu," imbuh Ben tiba-tiba.
Mata Jennifer membulat. Dia tentu heran terhadap sikap Ben yang mendadak berubah.
"Aku akan berusaha. Tetapi sekarang aku harus menghadapi banyak tamu. Nikmati dahulu saja pestanya, Mr. Mayers!" seru Jennifer. Dia kembali disibukkan dengan kedatangan para tamu.
Ben membuang nafas berat. Dia melenggang sambil memasang ekspresi merengut. Jika ada orang yang tidak sengaja menyenggol badannya, maka Ben dengan cepat membersihkan pakaian. Tubuhnya seolah sangat suci seperti bayi yang baru lahir.
Malam semakin larut. Suasana pesta kian riuh. Jennifer bahkan tampak bersenang-senang dengan teman-temannya. Kesadarannya bisa dibilang sudah dikuasai oleh alkohol.
"Murahan!" hina Ben. Dia segera beranjak meninggalkan keramaian. Ben memasuki sebuah ruangan. Tempat itu kebetulan kosong. Berhasil memberikan ketenangan kepada Ben. Hanya ada teko berisi sirup di atas meja.
Ben tak peduli. Dia menuang minuman yang ada di teko ke dalam gelas. Kemudian meminumnya sampai habis.
Sementara itu, Bella mulai bosan dengan suasana pesta. Dia hendak mengajak Cecil pulang. Tetapi rekannya itu tampak sibuk mengobrol dengan Michael. Sepertinya pendekatan Cecil sebagai seorang fans berjalan baik.
Bella merasa enggan untuk mengganggu. Ia akhirnya memutuskan tidak jadi pulang. Bella mencoba mencari lokasi yang agak sepi. Tempat yang bisa membuatnya istirahat dengan tenang.
Bella membuka ruangan yang ada secara acak. Beberapa kebanyakan di isi oleh pasangan mesum serta kumpulan orang yang bersenang-senang. Hingga tibalah Bella di ruangan terakhir. Tempat yang kebetulan hanya di isi oleh seorang lelaki.
"Permisi..." ujar Bella sembari melangkah melewati pintu. Dia nekat masuk karena kebetulan lelaki yang dilihatnya tengah asyik menutupi wajah dengan sebuah buku.
__ADS_1
Bella mendengus lega. Setidaknya dia dapat menemukan tempat yang agak tenang. Atensinya langsung tertuju ke teko yang berisi sirup di atas meja. Dia menuang sirup terlebih dahulu ke gelas dan meminumnya.
"Hei, aku meminum minumanmu. Terima kasih..." kata Bella sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
Lelaki yang bersama Bella tidak lain adalah Ben. Pria itu perlahan menurunkan buku dari wajahnya. Mata Ben terbelalak saat melihat Bella ada di hadapan. Hal serupa juga dilakukan oleh Bella. Gadis tersebut mungkin lebih dibuat kaget dibandingkan Ben.
"Kau!" Bella mengedipkan mata beberapa kali. Dia sekarang tidak bisa lari seperti sebelumnya. Selain merasa lelah, Bella juga kesulitan melarikan diri di lokasi pesta.
"Dokter Red?" Ben yang tadinya menyandar, perlahan duduk tegak. Matanya menatap lurus ke arah Bella. Gadis itu terlihat lebih cantik dari biasanya. Menggunakan dress di atas lutut serta memperlihatkan tulang belikat pada area dada.
Ben meneguk ludahnya sendiri. Dia tidak tahu kenapa seluruh badannya terasa panas dingin.
"Maaf mengenai sebelumnya Mr. Mayers. Aku lari darimu, karena kau selalu berusaha memaksa. Kau juga tidak pernah bersikap sopan kepadaku. Aku..." Bella berhenti bicara ketika Ben mendekatkan wajah ke depannya. Jarak wajah di antara keduanya hanya helat beberapa senti.
Deg!
Jantung Bella berdegub kencang. Dia meneguk salivanya sendiri. Sama seperti Ben, gadis itu merasa tubuhnya panas dingin. Entah kenapa Bella bersemangat saat Ben mendekatkan diri kepadanya.
Perhatian Ben tertuju ke bibir Bella yang dipoles lipstik merah muda mengkilap. Tanpa sadar ibu jarinya perlahan menyentuh bagian bibir bawah Bella.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang pelayan datang dengan ekspresi panik. Ben dan Bella sontak saling menjaga jarak.
"Maaf mengganggu. Aku harus mengambil minumannya. Sepertinya aku salah antar," jelas pelayan lelaki itu sambil mengambil teko berisi sirup dari meja. Dia menyempatkan diri memperhatikan isi teko yang ada. Tampak tersisa setengah bagian.
"Ah, kalian pasti sudah meminumnya," imbuh sang pelayan sembari tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, lagi pula aku yakin kalian pasti berpacaran bukan? Obat kuat yang terkandung di dalam minuman ini justru akan membantu, hehe... selamat menikmati..." lanjutnya. Lalu beranjak begitu saja.
"Apa?!!!" Ben dan Bella kaget bersamaan. Keduanya reflek membulatkan mata. Pantas saja ada hal yang berbeda dengan tubuh mereka.
__ADS_1
Orang yang paling tersiksa adalah Ben. Bagian bawah perutnya mulai menegang. Dia berupaya keras untuk mencegah alat vitalnya beraksi. Ben tidak akan membiarkan badan sucinya memecahkan rekor malam ini.