
...༻✿༺...
Bella mencoba berpikir keras. Satu-satunya jalan adalah melakukan terapi secara teratur. Agar kepribadian yang ada dalam diri Ben dapat menyatu. Sebenarnya itu merupakan hal sulit untuk dilakukan. Namun Bella akan berusaha. Lagi pula jika dia berhasil, maka kemungkinan dirinya mampu memecahkan rekor yang ada.
Rumah tua yang pernah didatangi Ben terlintas dalam ingatan Bella. Ia kemarin melihat-lihat tempat tersebut sebentar. Tetapi tidak sempat menemukan petunjuk lebih banyak.
Bella memutuskan beristriahat terlebih dahulu. Dia tertidur sekitar lima jam lamanya. Sampai waktu menunjukkan jam enam pagi.
Terapi pertama dengan Ben dijadwalkan hari ini. Bella pergi setelah mengantarkan David ke rumah Emilia.
Setibanya di apartemen, Brian dan Cecil sama sekali tidak terlihat. Mereka kemungkinan masih tertidur akibat kelelahan membantu Bella. Akan tetapi Bella berusaha paham. Ia tetap bekerja walau hanya sendirian.
Bel pintu sudah terdengar. Karena tidak ada Cecil, maka Bella harus turun tangan untuk membuka pintu. Sosok Ben yang mengenakan kemeja yang dibalut mantel panjang menyambut. Pria itu juga terlihat mengenakan syal di lehernya.
Ben sempat terpaku menatap Bella. Terutama saat Bella mengembangkan senyuman dan memperlakukannya dengan ramah. Ben yang terbilang baru dalam urusan cinta, menganggap sikap ramah Bella adalah sesuatu yang sangat istimewa. Padahal gadis itu selalu melakukannya kepada semua pasien.
Bella memang sengaja bersikap ramah. Agar Ben merasa nyaman untuk melakukan terapi. Dia tidak peduli meski pria itu terus memasang raut wajah cemberut.
"Silahkan duduk dimana pun yang kau mau," suruh Bella lembut. Senyumannya seketika memudar tatkala melihat Ben memilih tempat duduknya.
Bella yang sudah paham bagaimana sikap seorang Ben, sama sekali tidak masalah. Dia lantas duduk di sofa yang ada di seberang Ben.
"Kau mau kopi?" tawar Bella.
"Boleh..." Ben mengangguk pelan. Dia berlagak seolah tak peduli. Bahkan tidak memandang ke arah Bella sedikit pun. Padahal jantungnya sedang berdetak tidak karuan. Ben tidak tahu kenapa.
Saat menyaksikan Bella, peristiwa di malam itu selalu terbayang. Ben kesulitan melupakan kenangan yang sangat berbekas tersebut. Sedangkan Bella sendiri, mencoba membuang jauh-jauh ingatan tentang ciumannya dengan Ben. Gadis itu bahkan tidak berminat untuk membahas.
Bella pergi ke dapur. Dia sibuk membuatkan kopi untuk Ben.
Selagi Bella pergi ke dapur, Ben sempat mengalihkan pikirannya ke hal lain. Sehingga dia merasa lebih rileks ketika melakukan terapi.
__ADS_1
Bella baru saja kembali. Dia menyodorkan secangkir kopi kepada Ben. Kini mereka siap melakukan sesi terapi.
"Sekarang apa? Hmm... Biar aku tebak. Kau pasti akan bertanya mengenai bagaimana keseharianku di rumah, begitu bukan?" terka Ben percaya diri. Saking seringnya menghadapi psikiater, dia mampu menebak pertanyaan-pertanyaan awal saat terapi.
Bella memaksakan diri untuk tersenyum. Ben memang terlampau sombong. Mungkin karakter itu sudah melekat sejak dulu.
"Sepertinya kau sudah bosan dengan pertanyaan yang sama. Kalau begitu, bagaimana kalau aku bertanya tentang perasaanmu akhir-akhir ini? Apa kau sedang merasa bahagia, atau ada sesuatu yang mengganggumu?" Bella mengedipkan mata beberapa kali. Berharap Ben bersedia menjawab.
Ben terdiam cukup lama. Padahal saat Bella selesai memberikan pertanyaan, dia langsung menjawab dari hati.
'Kau! Dokter Red! Kau orang yang selalu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini,' batin Ben. Namun dia memilih memendamnya sendiri.
Ben mencoba tenang. Ia perlahan menyandar dengan nyaman dan berucap, "Aku tidak masalah menceritakan keseharianku jika itu memang berguna. Kau tahu? Keseharianku hanya di isi oleh kerja, kerja, dan kerja. Itu terus terulang. Setiap kali aku merasa bosan dan lelah, maka barulah aku memasak sesuatu di dapur. Ber-eksperimen menemukan resep baru."
"Benarkah? Apa produk keluaran terbaru Foodton sekarang adalah resep darimu?" Bella memastikan.
"Tentu saja. Aku memang sengaja membuat makanan yang mudah di awetkan. Setelah resepnya jadi barulah kami berdiskusi dengan pihak peneliti. Memastikan makanan yang kubuat aman untuk dikonsumsi," jelas Ben. Jika masalah pekerjaan atau memasak, dia selalu banyak bicara. Sebab pengetahuannya mengenai dunia bisnis dan kuliner sangat mumpuni.
"Aku tidak akan membantah. Sebenarnya kehebatan seseorang harus di ukur dari pengalaman," sahut Ben yang tiba-tiba memberi wejangan.
Bella menganggukkan kepala beberapa kali. Kemudian lanjut menanyakan perihal masa lalu. Dia mengawali pertanyaan tentang kedua orang tua Ben. Pertanyaan itu membuat Ben langsung terdiam seribu bahasa.
"Mereka telah pergi..." lirih Ben. Mendadak merasakan tekanan batin. Nada bicara yang tadinya angkuh berubah menjadi sendu.
"Pergi? Kemana?" tanya Bella.
"Mereka sudah berada di pemakaman. Apa kau mau bertemu dengan mereka?" Ben mengembangkan senyuman mengejek. Dia berlagak kuat di hadapan Bella. Berupaya menutupi kesedihannya sebisa mungkin. Padahal tidak seharusnya dia berbuat begitu. Apalagi saat melakukan terapi.
"Ben, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja kepadaku. Apa ingatan tentang masa lalu yang paling membekas bagimu?" Bella dapat merasakan adanya kerapuhan yang berusaha ditutupi oleh Ben.
Ben lagi-lagi membisu. Sebab otaknya sedang menjelajah waktu. Ketika mengingat sesuatu, dia segera bercerita, "Ada satu hal. Yaitu ingatan tentang kegelapan dan tangisan. Saat itu aku masih 12 tahun..."
__ADS_1
"Kau dimana saat itu?"
"Di dalam sebuah lemari. Aku menangis sampai sesegukan, tapi aku tidak tahu kenapa bisa menangis sampai separah itu..." Ben lanjut bercerita. Dia mendadak merasa sesak akibat mengingat kenangan buruk.
Bella langsung menenangkan Ben. Dia menjauhkan kopi. Lalu memberikan segelas air putih.
"Minumlah!" saran Bella.
Ben lantas meminum air putih sampai tandas. Dia perlahan merasa lega. Bella mengusap pelan pundak Ben.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak langsung menyinggung tentang masa lalu." Bella merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Dokter. Aku akan melakukan apapun agar bisa sembuh," ujar Ben bertekad.
"Tapi tidak jika kau sampai menderita begini. Aku tidak suka melihat pasienku kesakitan," tutur Bella. Dia berjongkok di hadapan Ben. Masih mengelus pelan pundak pria tersebut. Takut kalau-kalau Ben akan kesulitan bernafas. Karena sesak nafas merupakan salah satu dampak dari trauma.
Ben yang mulai tenang, perlahan menatap Bella. Akan tetapi atensinya malah tertuju ke belahan dada Bella yang tak sengaja terlihat. Posisi gadis itu berjongkok. Hingga sweaternya mengendur. Belum lagi sentuhan tangan Bella yang lembut. Seolah memperlakukan Ben seperti seekor kucing.
Ben menelan ludahnya sendiri. Kenangan buruknya runyam begitu saja. Dia salah tingkah dan hanya ingin cepat-cepat pulang. Segala pikiran kotor langsung berkalut di pikiran Ben.
"A-aku sebaiknya pergi sekarang!" seru Ben sembari melingus meninggalkan Bella.
"Apa? Tapi kita baru mengobrol beberapa menit. Bahkan tidak sampai setengah jam," kata Bella seraya mengekori Ben dari belakang.
"Kita lanjutkan terapinya di jadwal berikutnya!" Ben berujar sambil melangkah melewati pintu. Dia sengaja melajukan langkahnya agar Bella tidak berani mendekat lagi.
Bella yang melihat hanya mengerutkan dahi dalam. Menurutnya sikap Ben sangat sulit dirubah. Masih saja arogan walau sedang merasakan kesedihan. Namun setidaknya, tanggapan Ben lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Ben mendengus lega ketika telah berada di mobil. Ia bercermin dan melihat wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Ah! Aku mungkin hanya kedinginan. Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa seperti orang bodoh?" gumam Ben. Ia mengira dirinya mengalami kelainan lain. Bagaimana tidak? Ben tidak pernah jatuh cinta. Hal yang pernah membuat Ben jatuh cinta hanyalah dunia kuliner dan bisnis.
__ADS_1