Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 22 - Ben is a Trouble Maker


__ADS_3

...༻✿༺...


Ben duduk di teras. Nafasnya berhembus melewati hidung. Menampakkan kepulan karbon dioksida yang jelas.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil jeep melaju dengan cepat. Mobil tersebut berhenti tepat di tempat Ben sedang berada.


Seorang lelaki botak dan dipenuhi tato keluar dari mobil. Dia menyalangkan mata tepat ke arah Ben. Seolah akan memakan hidup-hidup.


Lelaki berkepala botak itu tidak sendiri. Ada tiga orang berwajah sangar keluar dari mobil satu per satu. Mereka masing-masing menunjukkan ekspresi marah. Menyebabkan mata Ben terbelalak kaget.


"Lucky! Akhirnya..." ujar lelaki berkepala botak yang sering disapa Austin itu. Dia mengambil pistol dari saku mantel. Lalu memainkan pistol ditangannya dengan lihai.


"Siapa kau?!" tanya Ben. Dia berdiri dalam keadaan mata yang melotot.


"Bwahahaha!" Austin malah tergelak geli. Di ikuti oleh ketiga teman berwajah sangarnya. "Apa kalian dengar itu? Dia menanyakan siapa aku! Hahaha!" lanjutnya, masih belum berhenti tertawa.


Ben langsung menampakkan raut wajah cemberut. Dia membentuk bogem di kedua tangannya. Setelah dipikir-pikir, Ben dapat menarik kesimpulan, kalau orang yang dirinya hadapi sekarang harusnya berurusan dengan Lucky.


'Sial! Lucky membuat ulah apa lagi!' gerutu Ben dari dalam hati.


Austin akhirnya berhenti tertawa. Dia kembali memasang ekspresi serius seperti di awal kedatangannya. Tanpa ba bi bu, satu tembakan langsung diluncurkannya.


Dor!!!


Bunyi pelepasan timah yang nyaring tentu sampai terdengar ke telinga Bella. Gadis itu kaget hingga menjengitkan kaki.


"Ben! Apa-apaan itu?!" Bella bergegas menuruni tangga. Kemudian berlari keluar untuk memastikan keadaan Ben.


Bella melihat Ben tidak sadarkan diri. Pria itu baru saja dimasukkan ke dalam mobil jeep oleh tiga orang lelaki misterius.


"Tunggu! Apa yang kalian lakukan?!" pekik Bella. Mencoba berlari menyelamatkan Ben. Belum sempat melakukan, mobil jeep melaju dengan cepat. Meninggalkan Bella yang masih berusaha mengejar.


Bella terpaksa berhenti. Kemudian berbalik untuk memasuki mobil Ben. Untung saja Ben meninggalkan kunci di dalam mobil. Tanpa pikir panjang, dia langsung kembali melakukan pengejaran.

__ADS_1


Kini tujuan utama Bella adalah mengejar mobil jeep sebisa mungkin. Dia bahkan tidak terpikir melakukan panggilan pertolongan. Karena jika Bella kehilangan mobil yang membawa Ben, maka kemungkinan untuk menemukan kembali akan sulit dilakukan.


Orang yang menyetir mobil jeep sendiri adalah Austin. Salah satu rekan berwajah sangarnya baru memberitahukan kalau ada mobil yang mengikuti.


"Tenang saja, dia hanya seorang wanita." Austin tampak tenang. Dia menginjak pedal gas sekuat tenaga. Hingga mobil melesat laju dari sebelumnya. Suasana transportasi otomatis dibuat riuh akan ulahnya.


Suara klakson saling bersahutan untuk menegur kelakuan Austin. Lelaki berkepala pelontos itu mengendalikan mobil dengan lihai. Menghindari mobi-mobil yang kebetulan ada di depan. Austin bahkan tidak peduli jika cara mengemudinya tidak sengaja menabrak mobil lain.


Bella mendengus kasar. Dia dirundung rasa panik karena sudah tertinggal jauh dari belakang. Otak jenius gadis itu dalam mode aktif. Tanpa pikir panjang, Bella mengambil jalan pintas di jalur sebelah kiri.


Karena berbelok secara tiba-tiba, sebuah bus tidak sengaja menabrak mobil Bella. Untungnya sopir bus tersebut menginjak rem di waktu yang tepat. Sehingga posisi mobil Bella hanya bergeser sedikit.


"I'm so sorry, sir!" ungkap Bella seraya menjalankan mobilnya masuk ke jalan pintas. Sopir bus yang mendengar, hanya bisa geleng-geleng kepala.


Bella memutar setir dengan sigap saat berada di persimpangan. Dia bertekad ingin mengejar Ben secepatnya. Di akhir, Bella kembali ke jalur utama. Gadis itu masih mampu mengejar mobil jeep yang membawa Ben.


Tanpa rasa takut sedikit pun, Bella memposisikan mobil ke sebelah mobil jeep yang masih berjalan. Austin begitu dibuat kaget akan kemunculan Bella.


"Sial! Gadis itu ternyata hebat juga!" keluh Austin. Giginya menggertak kesal.


"Tidak! Kita buat gadis itu menghentikan mobil! Lagi pula dia sendirian. Kita bawa saja dia ikut!" ujar Austin. Lalu memutar setir untuk memojokkan mobil Bella.


Sekarang Bella yang dibuat kaget. Dia terpaksa berhenti karena mobil jeep menghalangi jalannya. Austin terlihat langsung keluar dari mobil. Di iringi oleh ketiga rekannya yang berwajah sangar. Salah satu dari mereka segera menyeret Bella keluar dari mobil.


Bella tidak terima. Ia berupaya melakukan perlawanan. Namun tenaganya tidak sebanding dengan dua lelaki yang menyeretnya.


Kini Bella dipaksa masuk ke mobil. Sekali lagi gadis itu belum menyerah melakukan perlawanan. Dia melayangkan tinju dengan asal, hingga tidak sengaja mengenai dagu lelaki di belakangnya.


"Sialan! Dia meninjuku!" protes lelaki yang terkena tinju Bella. Dia reflek memegang dagunya yang terasa sakit.


Akibat merasa kesal, lelaki itu mencengkeram rambut Bella. Lalu menjedotkan kepalanya ke pintu mobil. Dalam sekejap Bella jadi tidak sadarkan diri.


...***...

__ADS_1


Ben perlahan membuka mata. Dia menemukan dirinya terkurung di sebuah gudang. Ben juga baru menyadari kalau tubuhnya terikat bersama Bella.


Tali tambang yang kuat, menyatukan punggung Ben dan Bella. Keduanya dalam posisi duduk di lantai.


Seringai terukir diwajah Ben. Ternyata kepribadian yang ada sekarang bukanlah Ben. Melainkan Lucky. Sedangkan Bella belum tersadar dari pingsan. Mata gadis itu masih memejam rapat.


Mata Lucky memindai tempat dirinya berada. Dia mencoba mencari benda yang berguna untuk melepas tali tambang. Nihil, Lucky tidak dapat menemukan sesuatu.


Bruk!


Pintu medadak terbuka. Sosok Austin muncul dengan seringai yang terukir. Da menyuruh dua rekannya untuk melepaskan tali yang menjerat Lucky.


"Ada apa, Lucky? Kenapa sejak tadi kau berlagak tidak mengenalku? Apa kau sudah gila?" pungkas Austin.


"Apa maksudmu? Kau sepertinya salah tangkap orang. Aku Ben, kembarannya Lucky!" Lucky berpura-pura bersikap seperti Ben.


"Dasar keparat! Jangan berbohong! Semua orang tahu Lucky selalu sendiri!" Austin melayangkan tendangan ke wajah Lucky yang baru saja dilepas dari jerat tali. Bella yang masih pingsan otomatis terjatuh ke lantai. Gadis itu telentang dalam posisi memiring.


Akibat tendangan dari Austin, hidung Lucky jadi berdarah. Lucky lantas mengusap cairan merah dengan satu tangan. Matanya mendelik tajam ke arah Austin.


"Nah, lihat. Inilah Lucky yang aku cari," imbuh Austin. Dia sangat mengenal tatapan penuh kebencian yang ditunjukkan Lucky.


"Pegangi dia!" perintah Austin. Ketiga rekannya segera bergerak. Namun belum sempat menyentuh, mereka langsung kena tendangan memutar dari Lucky.


Ketiga rekan Austin sontak tumbang bersamaan. Austin semakin dibuat kesal, dia bergegas mengambil pistol dari saku mantel.


Buk!


Lucky dengan cepat menendang tangan Austin. Sehingga pistol yang dipegang Austin, melayang ke udara. Saat itulah Lucky memberikan tinju bertubi-tubi ke wajah Austin.


Lucky memukuli dengan beringas. Persis seperti orang kesetanan. Hingga membuat Austin tumbang ke lantai.


Salah satu rekan Austin mencoba menyerang Lucky dari belakang. Akan tetapi Lucky dengan cepat menggerakkan siku ke belakang. Salah satu rekan Austin itu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Lucky cepat-cepat mengambil pistol milik Austin yang terjatuh. Dia menembakkan peluru ke Austin serta ketiga rekannya secara bergantian. Dalam sekejap, Austin dan kawan-kawan meregang nyawa. Darah perlahan menggenang di lantai.


Kini atensi Lucky tertuju ke arah Bella. Dia dalam menodongkan pistol ke arah gadis itu. Menurutnya sekarang adalah kesempatan bagus untuk menghabisi Bella.


__ADS_2