
...༻✿༺...
Kini Bella sedang gelisah. Dia merasa kalau keputusan yang diberikannya terhadap Ben salah. Padahal tempo hari dirinya telah berjanji kepada Lucky. Bahwasanya Bella tidak akan meninggalkan Ben. Janji tersebut benar-benar menghantui.
Bella mencoba menghubungi Ben. Berniat menarik ucapannya tadi malam. Takut kalau-kalau Ben terganggu. Akan tetapi pria itu tidak kunjung mengangkat telepon.
"Ada apa, Bella? Kenapa kau terlihat gelisah?" tanya Cecil. Dahinya berkerut, ketika melihat Bella berjalan bolak-balik tak menentu.
"Tadi malam aku terlalu terbawa emosi. Hingga aku memutuskan hubungan dengan Ben. Apa menurutmu aku salah?" tanggap Bella yang berbalik tanya.
"Tidak, itu wajar saja dalam sebuah hubungan. Apa Ben melakukan kesalahan, sampai membuatmu mengambil keputusan begitu?"
"Dia terlalu sibuk bekerja. Aku seperti satu-satunya orang yang peduli pada hubungan romantis kami." Bella belum berhenti mencoba menghubungi Ben.
"Astaga, pantas saja kau marah. Itu wajar, Bella. Aku yakin Ben akan--"
"Aku harus menemuinya! Aku takut Lucky akan kembali jika aku melanggar janji!" Bella berlalu pergi. Sukses memotong perkataan Cecil yang belum selesai.
Bella sudah berada di taksi. Dalam perjalanan menuju apartemen Ben. Bersaman dengan itu, mobil Ben justru tidak sengaja lewat. Pria itu menghentikan mobil di depan gedung apartemen Bella. Lalu berlari keluar menuju kediaman gadis pujaannya.
Sesampainya di apartemen, Ben hanya bisa bertemu dengan Cecil. Dia tidak menyaksikan sosok yang dia cari.
"Oh my godness. Sepertinya kalian benar-benar berjodoh. Kau dan Bella sedang melakukan hal sama! Yaitu saling mencari satu sama lain. Tapi sayangnya, Bella terlanjur pergi untuk menemuimu ke restoran," ujar Cecil sambil berkacak pinggang.
"Benarkah? Thanks!" alhasil Ben berlari meninggalkan apartemen Bella.
"Periksa ponselmu! Bella sejak tadi terus meneleponmu!" pekik Cecil, sebelum Ben benar-benar jauh.
"Aku lupa membawanya!" balas Ben sembari terus berlari. Dia ingin lekas-lekas menemui Bella.
Sementara di restoran, Bella baru saja menghampiri Jimmy. Menanyakan keberadaan Ben sekarang.
"Kau tidak bertemu dengannya? Tadi Ben bilang, dia akan menemuimu!" terang Jimmy. Mengharuskan Bella bergegas keluar dari restoran. Gadis itu memilih berlari ke jalanan trotoar. Sambil terus mencoba menghubungi Ben melalui ponsel. Namun dirinya hanya bisa mendengar suara dering berulang kali.
Bella melajukan langkahnya. Melewati puluhan orang yang berlalu lalang di cuaca nan cerah. Ia berniat kembali ke apartemen.
Di sisi lain, Ben sekarang mengendarai mobil dengan laju. Ingin kembali ke restoran untuk mencari Bella. Untungnya, dia sempat melihat Bella yang berlari di jalanan trotoar.
Tanpa pikir panjang, Ben segera menepikan mobil. Lalu langsung memanggil.
"Bella!!!"
__ADS_1
Panggilan Ben sontak membuat Bella berhenti berlari. Ia reflek menoleh ke arah sumber suara. Senyuman merekah di wajahnya. Bella berbalik dan berlari menghampiri Ben. Hal serupa juga dilakukan Ben. Keduanya langsung berpelukan dengan erat.
"Maafkan aku. Aku tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan kemarin. Sekarang kau bisa tetap bekerja, dan tetap akan menjadi kekasihku..." ujar Bella.
Ben tersenyum mendengar penuturan Bella. Dia senang gadis itu mencemaskannya.
"Tidak, apa yang aku lakukan memang salah. Makanya aku ingin mengusulkan sesuatu untuk mengatasinya." Ben perlahan melepaskan dekapan dari Bella.
"Apa?" Bella menuntut jawaban.
"Menikahlah denganku... Aku ingin melihatmu setiap hari. Aku ingin memiliki anak denganmu, lalu kembali ke Hawai lagi untuk berbulan madu. Satu hal yang pasti, aku ingin dewi penyembuhku selalu ada. Sampai aku menghembuskan nafas terakhir..." Ben berucap dengan tulus. Menggenggam kedua tangan Bella.
"Dewi penyembuh?" Bella tersenyum simpul. Dia terenyuh. Tangannya menangkup wajah Ben. Satu kecupan tulus dilayangkan Bella ke bibir Ben.
"Ya, kau adalah dewi penyembuhku..." ungkap Ben. Selepas menerima ciuman dari Bella.
"Apa kau yakin ingin menikahiku? Bukankah kau sekarang sibuk menjadi seorang Chef dengan identitas rahasia?" pungkas Bella.
"Aku yakin seratus persen. Masalah pekerjaan, aku punyai ide agar kita bisa terus bertemu," balas Ben. Menyebabkan kernyitan di kening Bella terukir.
Ben lantas memberitahu Bella. Dia mengusulkan Bella agar membangun kliniknya di restoran Restlife. Ben juga menginginkan adanya kerjasama di antara dirinya dan Bella. Perpaduan makanan dan healing? Adalah ide cemerlang yang terlintas dalam benak Ben.
Sekarang Bella dan Ben masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat, mereka sempat-sempatnya saling berciuman.
Di saat Ben mulai meliar, Bella malah melepas tautan bibirnya. "Baiklah. Ayo kita menikah!" ucapnya seraya mengikik bersama Ben. Mereka hendak berciuman lagi. Akan tetapi tidak jadi, karena suara mobil polisi terdengar mendekat.
Ben kebetulan memarkirkan mobil di tempat terlarang. Mobilnya akan disita jika ketahuan terparkir di tempat tersebut. Alhasil Bella bergegas duduk ke sebelah Ben. Sedangkan Ben langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Meskipun begitu, polisi tetap mengejar dan Ben diharuskan membayar denda.
...***...
Setelah mengurus perpindahan klinik dan melakukan percobaan kerjasama, hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bella dan Ben menikah. Mereka memilih gereja di kota Manhattan. Lokasi yang berdekatan dengan patung liberty.
Bella telah mengenakan gaun pengantin. Dia sibuk merapikan pakaian ayahnya.
"Setelah menikah, apa ayah bersedia tinggal bersamaku? Lagi pula kau dekat dengan Ben. Aku pikir kita akan menjadi keluarga yang bahagia," tutur Bella lembut.
"Aku bahagia di tempatku sekarang. Aku punya banyak teman. Jangan coba-coba membuatku pergi dari sana. Evelyn pasti akan merindukanku," jawab David sambil geleng-geleng kepala.
"Evelyn? Apa dia pacar Ayah?" Bella memastikan. Dia tentu agak kaget.
David hanya tersenyum malu. Pertanda tebakan Bella tidak bisa dibantahnya.
__ADS_1
Pintu mendadak terbuka. Kwang Joo dan Albert datang dengan gelagapan.
"Wanita pengantin dipersilahkan keluar sekarang!" seru Kwang Joo. Jujur saja, dia masih mencoba terbiasa menggunakan bahasa lokal.
"Yang benar itu pengantin wanita." Albert membenarkan ucapan Kwang Joo.
"Wanita pengantin." Kwang Joo bersikeras. Dia mengabaikan koreksi dari Albert.
"Bukankah harusnya kau berterima kasih?" respon Albert, yang diabaikan oleh Kwang Joo dengan juluran lidah. Keduanya memang sering berdebat. Mereka terus berdebat sembari melenggang bersama menjauhi ruangan.
Bella hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum. Dia dan David segera keluar. Melenggang bersama menuju Ben yang sudah berdiri di altar.
Ritual pernikahan dilakukan dengan khidmat. Setelah saling melantunkan ikrar, Ben dan Bella dipersilahkan berciuman.
Ben membuka kain veil yang menutupi wajah Bella. Ia berkata, "Kau tidak akan lari seperti di upacara pernikahan sebelumnya bukan?"
Bella terkekeh geli. "Tentu saja tidak! Karena lelaki yang sekarang menikahiku adalah orang yang tepat," ujarnya sembari mengalungkan tangan ke leher Ben.
Tanpa basa-basi, Ben dan Bella langsung berciuman. Ben bahkan mengangkat Bella, lalu memutarnya satu kali. Keduanya merasa sangat bahagia.
Semua tamu undangan yang hadir sontak berseru sambil bertepuk tangan. Mereka ikut bahagia menyaksikan pasangan pengantin yang saling mencintai.
Setelah melakukan ritual utama, Ben dan Bella menari di depan semua orang. Beberapa tamu bahkan juga ada yang ikut bergabung. Dari mulai, Cecil, Brian, David, Jimmy bahkan para anggota The Dark Place. Sesekali mereka akan tertawa. Terutama saat melihat David melakukan tarian kuno dan lucu. Lelaki paruh baya tersebut merasa sangat bahagia menyaksikan Bella tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Entah kenapa kepikunan yang diderita David hari itu tidak separah biasanya.
"Ayah, berposelah! Aku akan mengambil fotomu!" seru Bella seraya memegangi sebuah kamera.
David segera mengambil pose memegang dasi kupu-kupunya. Gaya percaya dirinya membuat banyak orang tersenyum. Apalagi Bella, dia malah merasa terharu. Gadis itu sempat meneteskan air mata, akibat merasa saking bahagianya.
Sementara di lokasi tidak jauh, ada Justin yang mengamati dari mobil. Dia mendengar kabar pernikahan Bella dari Billy. Hati Justin benar-benar sakit. Melupakan Bella tentu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Ia tidak menyangka, gadis yang dipacarinya bertahun-tahun justru menikahi lelaki lain.
..._____...
...Bonus Visual Khusus Hiburan...
Kebahagiaan David Peters di pernikahan putrinya.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Aku pastikan hari ini tamat ya guys. Kemungkinan ada sekitar dua bab lagi.