
...༻✿༺...
Melihat Ben pergi, Jimmy bergegas mengejar. Dia ingin tahu kemana tujuan pimpinannya tersebut. Ternyata setelah ditanya, Ben mengatakan harus memenuhi jadwal terapi.
"Sekarang? Tapi jadwal..." perkataan Jimmy terjeda, ketika Ben sudah terlanjur pergi begitu saja. Tidak tanggung-tanggung, pria itu beranjak dengan menggunakan mobil. Ben seolah tidak sabar bertemu dengan Bella.
Jimmy mematung dalam keadaan mulut menganga. Pimpinannya lebih aneh dari biasanya.
Dari belakang Jimmy, satu per satu karyawan Foodton berdatangan. Mereka menanyakan kepergian Ben.
"Mr. Mayers sepertinya ada panggilan mendesak." Jimmy terpaksa berbohong. Untungnya semua karyawan Ben langsung percaya.
Ben berjalan dengan tergesak-gesak. Seakan-akan sedang dikejar waktu. Setibanya di apartemen Bella yang baru, dia langsung menekan bel pintu.
Sebelum berhadapan dengan Bella, Ben merapikan rambut, pakaian dan dasi yang dikenakannya. Dia bersiap memasang gaya percaya diri seperti biasa. Ekspresi datar dan tanpa senyuman.
Ben membuang nafas dari mulut. Dia telah siap menemui sang pujaan hati.
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka. Bukannya melihat Bella, Ben malah bertemu dengan lelaki berambut gondrong yang sibuk mengunyah burger. Siapa lagi kalau bukan Brian.
"Kau mau apa?" tanya Brian sambil mengangkat dagu. Alisnya hampir bertautan. Sejak awal dia tidak pernah menyukai Ben.
"Bertemu Dokter Red. Hari ini ada jadwal terapi," jawab Ben sembari mencoba masuk. Namun Brian sigap menghalangi jalan.
"Kau datang terlalu cepat, bodoh!" hardik Brian.
"Jangan membohongiku! Kalau kau membenciku, tidak usah mengusirku dengan cara begini!" Ben tak mau kalah. Dia saling adu kekuatan dengan Brian.
Ben mencoba masuk, sedangkan Brian berusaha keras menghalangi. Itu terjadi selang sekian detik. Sampai akhirnya Ben berhenti untuk menghela nafas. Seringai terukir diwajahnya.
Bruk!
Ben sengaja menginjak kaki Brian dengan kuat. Serangannya sukses membuat Brian mengaduh kesakitan. Lelaki gondrong itu reflek menyingkir sambil memegangi kakinya.
__ADS_1
Ben yang merasa menang tersenyum puas. Dia sekarang dapat melangkah masuk ke apartemen Bella. Terlihat ada seorang wanita asing sedang duduk di sofa. Wanita itu tengah menikmati burger. Namanya adalah Nancy, wanita yang sekarang berpacaran dengan Brian.
"Dokter Red dan Cecil belum kembali. Aku sudah bilang kepadamu, kalau kau datang terlalu cepat. Sesi terapimu terjadwal pada jam tiga sore nanti. Sekarang masih jam sepuluh!" Brian memberitahu.
Ben sama sekali tak acuh. Ia justru duduk di sofa yang ada di seberang Nancy. Lalu mengambil ponsel dari saku celana.
"Dokter Red tadi meneleponku. Tentu aku lebih mempercayainya dibandingkan kau!" Ben mengarahkan jari telunjuk kepada Brian.
"Apa Dokter Red tidak ada mengirimkan jadwal terapi kepadamu? Seharusnya kau lebih tahu dariku." Brian duduk ke sebelah Nancy. Dia yakin kalau Ben-lah yang salah langkah.
Ben terdiam sejenak. Memang benar Bella mengirimkannya jadwal terapi. Namun jadwal tersebut di simpan sedemikian rupa oleh Jimmy. Sekretarisnya itu akan memperingatkan ketika waktunya akan tiba.
Seharusnya Ben tadi pagi memeriksa jadwal kegiatan hari ini. Tetapi tidak sempat karena tergesak-gesak ingin pergi ke lokasi syuting. Dia sebenarnya tidak tahu jadwal terapinya sekarang.
Ben tidak menjawab pertanyaan Brian. Dia memilih mengirimkan pesan kepada Jimmy. Ben ingin Jimmy mengirimkan file jadwal kegiatannya hari ini. Betapa terkejutnya Ben, tatkala apa yang diberitahukan Brian tadi merupakan fakta. Ben datang terlalu cepat!
Ben merasa malu bukan kepalang. Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya ke bokong saja.
"Kenapa wajahmu terlihat panik begitu? Apa kau baru menyadari kesalahanmu?" Brian terkekeh menyaksikan wajah Ben yang tampak malu.
"Bwahahaha... maksudmu, datang empat jam lebih awal. Itu bukan menghargai waktu, tapi membuang-buang waktu." Brian tergelak geli. Hal serupa juga dilakukan oleh Nancy. Dua sejoli itu terang-terangan mentertawakan Ben.
"Siapa pria berpakaian rapi ini, Honey? Dia sangat lucu." Nancy bertanya disela-sela tawanya.
"Dia pasien Dokter Red. Dia pasien paling aneh yang pernah aku temui," jawab Brian. Dia membalas tatapan Nancy.
"Kau--" Ben ingin mengomel, namun tidak jadi. Karena Brian dan Nancy tampak asyik berciuman. Tepat di depan matanya.
Ben mengalihkan pandangan dengan canggung. Dia tidak tahu harus apa. Ben memilih membiarkan saja. Namun itu tidak berlangsung lama, karena kemesraan Brian dan Nancy semakin menjadi-jadi. Membuat Ben tambah tidak nyaman.
"Hei! Apa kalian menganggapku patung pajangan?" tegur Ben dengan gigi yang menggertak kesal.
Brian dan Nancy otomatis berhenti berciuman. Brian menoleh ke arah Ben dan berkata, "Sejak awal aku menyuruhmu pergi. Tapi kau tetap keras kepala, Mr. Mayers. Sekarang aku tidak mau peduli. Kau mau duduk diam di sini atau kembali pulang."
Setelah menyampaikan pesannya kepada Ben, Brian berniat kembali mencium Nancy. Akan tetapi kekasihnya tersebut menolak.
__ADS_1
"Kita lakukan di kamar saja. Aku tidak mau di tonton oleh orang aneh ini." Nancy mengerucutkan mulutnya. Memasang ekspresi memohon.
"Kau benar..." Brian segera menarik Nancy masuk ke dalam kamar. Keduanya menghilang di telan pintu.
Ben hanya terperanjat saat Brian tidak sengaja menutup pintu dengan keras. Hingga menimbulkan suara tubrukan yang nyaring.
"Sialan!" maki Ben seraya mengusap kasar wajahnya.
Tidak lama kemudian, suara lenguhan dari Brian dan Nancy terdengar. Ben semakin dirundung perasaan kesal. Ia ingin kembali ke perusahaan, tetapi sudah terlalu malu untuk menemui orang-orang.
Ben juga tidak bisa pulang begitu saja. Karena kebetulan lokasi apartemennya cukup jauh dari apartemen Bella. Apalagi jam tujuh malam nanti ada jadwal rapat yang harus dihadiri Ben. Pria itu tidak bisa kembali ke rumah hanya untuk menunggu.
Pandangan di edarkan Ben ke sekeliling. Dia memutuskan melihat-lihat keadaan apartemen Bella. Ben melangkah pelan. Ia sudah sepenuhnya mengabaikan suara erangan dari Brian dan Nancy.
Hingga Ben berhenti di depan pintu kamar yang bertuliskan Red Rose. Dia yakin kalau itu merupakan kamar Bella.
Ben menengok ke kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang yang melihat. Dia sangat penasaran dengan sosok Bella yang masih dia ketahui sebagai Red Rose.
Perlahan Ben memegang gagang pintu. Lalu mencoba membukanya. Dia sedikit kaget ketika mengetahui pintu kamar Bella tidak dikunci.
Tidak ada sedikit pun rasa takut yang dimiliki Ben. Dia akhirnya melenggang masuk ke kamar Bella. Nuansa pastel yang nyaman menyambut penglihatan.
Tanpa sadar, Ben mengembangkan senyuman tipis. Selain rapi dan cantik, kamar Bella juga harum. Wanginya sendiri tidak terlalu menyengat. Keharuman yang pas dan mampu membuat siapapun merasa lebih tenang.
"Dia memang benar-benar seorang psikiater," komentar Ben. Atensinya tiba-tiba teralih ke arah sebuah album foto.
Ben meraih album foto tersebut. Duduk ke kasur. Kemudian membukanya. Dia menemukan banyak foto Bella dengan beberapa orang yang berbeda.
"Mereka pasti pasien-pasien Dokter Red," gumam Ben.
Ceklek!
Pintu depan mendadak terbuka. Terdengar derap langkah kaki serta obrolan dua orang perempuan. Mereka tidak lain adalah Bella dan Cecil.
Ben yang mendengar langsung gelagapan. Dia reflek berlari keluar dari kamar. Namun sayang seribu sayang, Ben justru tidak sengaja terpeleset. Pria itu jatuh dalam keadaan tiarap. Sementara album foto yang dipegangnya meluncur halus keluar dari kamar. Tepat mengenai sepasang kaki yang mengenakan sepatu kets putih.
__ADS_1