
...༻✿༺...
"Ada apa, Bella? Beritahu aku? Apa Lucky berulah lagi? Bibir dan bahumu kenapa?" Ben memberikan Bella pertanyaan beruntun. Namun gadis yang ada di depannya hanya diam dan sibuk mengusap air mata.
"Ayolah, Bella. Beritahu aku." Ben mendesak.
"Tidak ada. Kau baik-baik saja sekarang," ujar Bella sembari tersenyum tipis. Ia perlahan melepas tali yang mengikat Ben. Kemudian membawa pria itu keluar dari ruangan.
Ketika membuka pintu, penglihatan Ben dan Bella langsung disambut oleh rekan-rekan Lucky. Robert dan kawan-kawan tertangkap basah menguping.
"Apa kau sekarang Ben?" Liam memastikan.
Ben lantas mengangguk. Dia menatap satu per satu wajah-wajah dari rekan Lucky. Ben tidak menyangka, Robert dan kawan-kawan ternyata memiliki rasa kepedulian kepadanya. Sejak hari itu mereka berhubungan dengan baik. Ben bahkan menemani Bella untuk membayar janji. Yaitu menyelesaikan permainan truth or dare.
Hari demi hari berlalu. Satu bulan terlewati. Lucky tidak pernah muncul lagi. Ben sudah mengurus penyerahan warisan kepada Billy. Ia sekarang tidak mempunyai harta sebanyak dulu lagi. Meskipun begitu, Ben merencanakan sesuatu terkait pekerjaan dan masa depannya.
Dengan ditemani oleh Bella dan orang-orang baru, Ben membangun sebuah restoran bernama Downtown. Dia mewujudkan impiannya menjadi seorang koki utama. Lokasi restoran Ben sendiri berada beberapa blok dari bar milik Bella. Sekarang Bella dan kawan-kawan ada di sana untuk membantu. Mereka sedang sibuk mendekorasi restoran.
Bella memasang beberapa furniture bersama Cecil. Dia melakukan pekerjaannya dengan hati-hati. Sedangkan Ben yang baru muncul dari dapur, langsung tertarik untuk memandanginya dari kejauhan.
"Aku dengar kau sering berkunjung menemui David. Kau dan pria paruh baya itu sudah sangat akrab. Karena kau, David bisa mengingat Bella dengan baik. Kau tahu? Bella sangat senang. Dia bahkan berniat membawa David keluar dari panti jompo," ujar Brian. Bercerita panjang lebar.
"Entahlah. David dan aku mempunyai koneksi yang baik sejak pertama kali bertemu. Aku ikut senang, jika apa yang kulakukan juga membuat Bella senang," tanggap Ben. Atensinya tidak teralihkan dari Bella.
"Aku harap Lucky tidak akan pernah muncul lagi." Brian menepuk pundak Ben dua kali. Lalu segera bergabung dengan Bella dan Cecil.
Tidak lama kemudian, Robert dan kawan-kawan datang. Akibat kepergian Lucky, kubu The Dark Place terpecah. Ada beberapa yang menolak untuk pergi dari dunia kejahatan. Hanya sebagian kecil yang bersedia ikut membantu Ben. Kira-kira sekitar delapan orang saja. Termasuk Robert, Liam, dan Sean. Mereka setuju untuk menjadi pekerja di restoran Ben dan akan membiasakan diri berbuat baik.
Walau sudah mendapatkan kru yang mencukupi, Ben masih memerlukan orang-orang penting yang akan membantu di dapur. Ia membutuhkan tim yang hebat. Hingga pencarian orang dilakukan oleh Jimmy dan Brian.
Dengan menyebarkan iklan melalui internet, beberapa kandidat mulai berdatangan. Ben, Bella, Brian, dan Jimmy, sekarang duduk berjejer bersama. Persis seperti juri yang tengah melakukan penilaian.
__ADS_1
Seorang lelaki keturunan Norwegia, terlihat memasak di dapur. Namanya adalah Nate. Dia muda, tampan, dan berbakat. Keahlian memasaknya cukup meyakinkan. Lelaki itu memotong sayuran dengan cepat, dan bisa melakukan teknik flambe tanpa ada gangguan.
Bella dan Cecil bertepuk tangan. Mereka kagum terhadap keahlian memasak yang dimiliki Nate. Namun tidak untuk Ben, menyaksikan Bella tersenyum saat melihat lelaki lain, membuat hatinya tidak tenang.
"Dia tampak biasa saja bagiku," komentar Ben dengan ekspresi datar. Ia melipat tangan di depan dada. Berlagak arogan karena rasa cemburu.
"Apa kau bercanda? Dari sekian banyak kandidat yang datang, hanya dia yang nyaris memiliki keahlian sebagus dirimu," sahut Bella. Dahinya berkerut heran. Padahal Nate adalah kandidat terakhir yang mendaftar. Bella hanya khawatir, Ben tidak akan mememukan yang lebih baik. Mengingat penyakit kejiwaan Ben telah terlanjur tersebar luas. Siapa orang yang mau bekerja bersama penderita penyakit jiwa?
"Bukan itu masalahnya. Sepertinya aku tidak akan akrab dengannya." Ben bersikeras. Menyebabkan Bella hanya bisa memicingkan mata sebal.
"Lucky memang sudah pergi. Tapi sikap sombongmu tidak pernah pergi," balas Bella sambil mendengus kasar.
"Apa? Sekarang kau menyindirku? Aku hanya bersikap jujur. Lagi pula ini restoranku, aku pantas mencari yang terbaik di antara yang terbaik!" Ben tidak ingin kalah. Lama-kelamaan perdebatan kian memanas. Hal itu terjadi untuk yang pertama kalinya, semenjak Ben dan Bella berpacaran.
"Terserah apa katamu!" Bella bangkit dari tempat duduk. Kemudian beranjak dari restoran dengan mimik wajah cemberut.
"Apa kau marah?!" tanya Ben yang agak terkejut.
"Kau sebaiknya cepat kejar Bella. Dia mungkin saja tidak akan ke sini lagi," timpal Cecil. Ikut memanas-manasi Ben.
Sebelum pergi, Ben menyuruh Nate meninggalkan dapur. Dia tetap bersikeras menolak Nate.
"Sialan! Kau pikir aku mau bekerja dengan orang sepertimu?! Tentu tidak!" Nate sangat kesal dirinya ditolak. Dia bergegas pergi setelah sempat menghamburkan sampah di dapur Ben.
"Hei!" tegur Ben. Dia dan Brian segera menyeret Nate keluar dari restoran.
Kala berada di luar restoran, Ben dapat menyaksikan Bella yang berjalan semakin jauh. Takut kemarahan gadis itu akan parah, Ben akhirnya mengejar. Dia berlari dan berhasil mencegat kepergian Bella.
"Kau tahu? Alasan aku tidak menerima Nate, karena aku tidak suka melihatmu menatap Nate seperti itu," ungkap Ben. Mengingat bagaimana cara Bella menatap lelaki keturunan Norwegia tadi. Dipenuhi dengan binar kekaguman dan rekahan senyuman.
Bella membulatkan mata. Kemudian tergelak kecil sebentar. "Jadi kau cemburu karena hal kecil begitu?" tanya-nya.
__ADS_1
"Entahlah. Aku hanya tidak suka--" perkataan Ben terjeda, ketika Bella menyambar bibirnya dengan sebuah ciuman. Sikap Ben membuat Bella merasa gemas dan tidak bisa menahan diri.
"Kau ternyata cukup posesif," ujar Bella. Setelah bibirnya berhenti bertautan dengan mulut Ben.
"Aku tidak posesif. Itu terjadi begitu saja. Sebenarnya aku memang tidak menyukai Nate. Keahliannya tidaklah hebat dimataku. Restoranku harus memiliki tim dapur terbaik," jawab Ben, menepis pernyataan Bella.
"Sudahlah, Ben." Bella memutar bola mata jengah. Ia mencoba memahami sikap arogan Ben yang tidak pernah pudar. Mereka segera melenggang bersama di jalanan trotoar. Keduanya memutuskan untuk pulang. Lagi pula hari sudah sore. Nate merupakan kandidat terakhir yang tersisa. Ben perlu menunggu lebih banyak orang yang mendaftar lagi.
Tiga minggu kemudian, Ben tidak menemukan lagi orang yang mendaftar ke restorannya. Ternyata mengawali usaha tidak semudah yang Ben kira. Kini pria itu duduk termangu di depan restoran.
Bella yang melihat, ikut bergabung. Ia duduk tepat di sebelah Ben. Menatap lekat pria yang dicintainya dari samping.
"Ben, apa kau sadar dua bulan telah terlewati?" celetuk Bella seraya mengalihkan pandangan ke depan. Keadaan berbalik. Sekarang Ben yang menatap Bella dari samping.
"Ya?" Ben menuntut jawaban.
"Lucky sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Setidaknya, kau bisa kembali normal sekarang. Meskipun begitu, aku tidak bisa memvonis bahwa kau telah sembuh," ucap Bella.
"Aku harap Lucky tidak akan pernah kembali. Terima kasih untuk segalanya..." Ben menggenggam erat jari-jemari Bella.
Senyuman terukir diwajah Bella. Dia lalu berkata, "Mengenai restoranmu, aku punya ide agar kau bisa mendapatkan pekerja dengan mudah."
"Bagaimana?" tanya Ben.
Bella mendekatkan mulut ke telinga Ben. Dia membisikkan ide briliannya yang seketika membuat Ben menyeringai.
..._____...
Catatan Kaki :
Teknik Flambe : adalah salah satu teknik memasak dengan menyalakan api pada masakan. Biasanya teknik itu dilakukan, supaya api menyala di atasnya.
__ADS_1