
...༻✿༺...
Bella mengambil kesempatan untuk bersembunyi. Ia menghilang lewat keramaian dan memasuki sebuah toko es krim.
Ben mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia hanya bisa mengusap kasar wajahnya sendiri. Akibat tidak kunjung menemukan Bella.
"Arrrghh!!" geram Ben sembari lanjut berjalan. Ia melewati toko es krim dimana Bella sedang berada.
Menyaksikan Ben pergi menjauh, Bella akhirnya dapat mendengus lega. Dia segera keluar dari toko, kemudian menyinggah sebuah taksi yang kebetulan lewat.
"Dokter Red!" tanpa diduga suara bariton Ben terdengar lagi. Membuat Bella harus bergegas memasuki taksi. Tepat sebelum Ben menghampirinya.
"Dokter!" pekik Ben seraya melajukan larinya. Namun sayang, Bella terlanjur pergi dengan taksi. Pria itu menggeram kembali. Urat-urat lehernya tampak menegang karena amarah yang kembali memuncak. Meskipun begitu, Ben berusaha keras untuk tidak berlebihan. Sebab dia tidak mau Lucky mengambil alih.
Ben tidak mengerti apa yang ada di jalan pikiran wanita. Dia merasa mereka sangat rumit. Mungkin karena itulah sejak dahulu dirinya enggan berurusan dengan wanita. Tetapi sekarang? Sepertinya Ben sudah terjebak. Sosok Bella satu-satunya harapan untuk membantunya sembuh, sekaligus menguak ingatan masa lalu yang hilang.
Ben terpaksa melakukan pertemuan kembali dengan Jimmy. Dia hendak membahas perihal sikap Red Rose yang terkesan menghindar.
"Beritahu aku, apa yang kau lakukan saat terakhir kali bertemu dengan Dokter Red?" tanya Jimmy. Mencoba menelusuri asal-usul kemarahan Bella.
"Aku berusaha memberinya tumpangan. Tapi dia menolak tawaranku. Jadi aku pulang saja duluan dengan motor!" jawab Ben, menjelaskan.
"Apa?! Kau meninggalkannya sendirian?" Jimmy memastikan. Ben otomatis menjawab dengan anggukan.
Jimmy mendengus kasar. Kini dia paham betul kenapa Bella begitu marah kepada Ben. "Dengar, Mr. Mayers. Aku memang tidak berpengalaman dalam urusan wanita, tapi yang aku tahu. Pengalamanmu lebih payah dibandingkan aku. Kau tidak pernah sekalipun dekat dengan wanita. Tentu saja kau tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik?" ujarnya panjang lebar.
"Ayolah, Jimmy. Semua orang tahu kau masih membujang sampai di umurmu yang sudah 40-an ini. Kau tentu lebih payah dibandingkan aku," balas Ben remeh. Dia sedikit terkekeh menampakkan gigi-giginya yang rapi.
Jimmy tidak terima. Ia membalas, "Maaf, Mr. Mayers. Setidaknya aku pernah melakukan hubungan intim dengan wanita. Tetapi kau..." sarkasnya. Dia menyindir perihal keadaan Ben yang masih perjaka.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" Ben mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Jimmy. Dia memang kalah telak dengan timpalan sekretaris pribadinya itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Begini saja." Jimmy berusaha tenang. Lalu melanjutkan, "satu-satunya cara untuk mendekati Dokter Red kembali, yaitu dengan bersikap baik kepadanya. Kau bisa berlatih atau bertanya dengan seorang wanita sebagai percobaan. Kau mau aku panggilkan seseorang?" Jimmy telah siap beranjak dari ruangan.
"Lupakan!" sahut Ben. Ia sudah jengan mengobrol dengan Jimmy. Ben memerintahkan bawahannya tersebut untuk keluar dari ruangan.
Saat Jimmy hendak pergi, Ben justru kembali bersuara. Pria itu memberitahukan agar Jimmy mengembalikan Oliver bekerja. Ben sungguh tidak nyaman atas pemecatan sepihak yang dirinya lakukan tempo hari. Apalagi setelah mengetahui Oliver nyaris melakukan bunuh diri.
"Baiklah kalau begitu. Apakah itu berarti kau akan mencoba ide Oliver ketika rapat kemarin?" Jimmy menatap penuh harap.
"Sepertinya aku harus melakukannya." Ben menjawab singkat. Dia terpaksa setuju karena merasa bersalah dengan Oliver. Alhasil Jimmy merekahkan senyuman tipis diwajahnya.
Oliver kembali bekerja di perusahaan Foodton. Dia merasa sangat senang. Terutama kala mengetahui Ben juga setuju dengan idenya tempo hari.
"Terima kasih, Mr. Mayers... aku tidak menyangka dengan--"
"Sudahlah! Lebih baik kau panggil aktris yang akan bekerjasama dengan kita." Ben sengaja memotong ucapan Oliver. Dia memang tidak suka menghadapi orang yang emosional.
"Aku baru saja menghubungi aktris Jennifer Wilson. Dia menyuruh kita untuk menemuinya besok malam. Karena Jennifer mau sekalian merayakan pesta debutnya. Dia mengundangmu untuk datang," tutur Oliver.
"Pesta?" Ben meringiskan wajah. Dia sama sekali tidak tertarik.
"Benar. Katanya itu merupakan ucapan terima kasih dari Jennifer kepadamu. Dia senang bisa terpilih menjadi model iklan produk makanan terbaru Foodton," terang Oliver dengan hati-hati.
"Sudahlah. Kau saja yang pergi. Aku tidak tertarik!" hardik Ben sembari bangkit dari tempat duduk.
"Tapi kalau anda tidak datang, Jennifer kemungkinan akan kecewa. Bisa saja dia membatalkan kerjasamanya." Oliver berusaha membujuk. Akan tetapi Ben berlalu pergi begitu saja. Bahkan tanpa memberikan jawaban yang pasti.
...***...
__ADS_1
Bella baru saja sampai di apartemen baru. Dia menceritakan apa yang di alaminya kepada Brian dan Cecil. Kedua rekannya tersebut hanya bisa merutuk dan tambah kesal.
"Pilihan yang bagus, Bella. Memang sebaiknya kau lari saja dari tuan arogan itu!" cibir Cecil.
"Hei! Kita mendapatkan undangan dari aktris Jennifer Wilson. Dia mengadakan pesta perayaan debutnya besok malam. Kita harus datang!" seru Brian yang tampak sibuk menatap layar komputer.
Jennifer Wilson sendiri adalah aktris yang pernah menjadi pasien Bella. Jadi, tidak heran dia mengundang Bella dan kawan-kawan untuk datang di acara pentingnya.
"Aku tidak tahu. Sebaiknya kalian saja yang datang," tanggap Bella dengan nada malas.
"Apa-apaan itu. Kau bosnya Bella. Kami tidak akan pergi tanpamu!" sahut Brian sambil mengulurkan kedua tangan.
"Brian benar! Aku tahu kau benci pesta. Tapi cobalah untuk membuka diri. Jangan hanya mementingkan kebahagiaan pasienmu. Kau juga pantas bahagia." Kali ini Cecil sependapat dengan Brian. Tidak seperti biasanya.
"Aku akan memikirkannya." Bella memberikan jawaban ambigu. Dia beranjak memasuki kamar. Kemudian mengambil ponsel. Sebuah pesan baru saja diterimanya. Pesan yang tidak lain dari kekasihnya.
Justin memberitahu, kalau dirinya sedang berada dalam perjalanan untuk pulang. Kabar itu membuat senyuman terukir di wajah Bella. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Justin. Namun ketika mengingat kencan terakhir kali, senyumannya langsung memudar.
'Aku harus lakukan sesuatu dengan ketakutanku. Aku tidak mau mengecewakan Justin lagi,' batin Bella seraya meletakkan kembali ponselnya. Dia segera memanggil Cecil untuk bicara empat mata.
Bella memutuskan memberitahukan rahasia terbesarnya. Yaitu tentang keperawanannya.
"Apa kau serius? Jadi selama ini kau dan Justin tidak pernah melakukannya?" tanya Cecil tak percaya. Dia reflek meletakkan tangan ke depan mulut.
Bella mengangguk lemah. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Terutama saat mengingat hubungannya dan Justin sudah berjalan cukup lama.
"Justin ternyata sebaik itu ya. Aku kagum dengannya," ungkap Cecil. "Lalu apa rencanamu sekarang? Apa kau melakukan percobaan dahulu dengan orang asing?" lanjutnya. Memberikan usul.
"Tentu saja tidak! Aku tidak sudi melakukan hal yang pertama kalinya dengan orang asing!" tolak Bella. Wajahnya meringis jijik. Membayangkannya saja dia tidak berminat.
__ADS_1
Cecil memutar bola mata malas. "Aku menyarankanmu untuk datang ke pesta besok malam. Mungkin kau akan merasa lebih baik," tuturnya lembut.
Bella membisu dalam sesaat. Dia berpikir untuk memutuskan. Hingga akhirnya anggukan kepala dilakukan olehnya. Cecil sontak bertepuk tangan sambil tersenyum girang.