Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 40 - Menguak Masa Lalu Ben [3]


__ADS_3

...༻✿༺...


Bella membuka kotak yang dibawanya dari rumah sakit jiwa. Tidak ada yang penting di sana selain buku catatan kecil. Terdapat dua lembar foto yang tersemat di antara lembaran buku.


Salah satunya adalah foto keluarga Ben. Foto itu terlihat disobek dengan sengaja. Sehingga orang yang ada di dalam foto hanya terlihat Ben dan ibunya. Ben tampak masih kecil dalam foto tersebut.


Dahi Bella berkerut. Dia merasa tidak asing dengan Ben versi kecil. Bella mencoba menggali ingatannya baik-baik. Namun perkataan Cecil membuatnya harus berhenti mengingat.


"Aku tiba-tiba merasa kasihan dengan Ben. Dia pasti sangat menderita sejak masih kecil," imbuh Cecil seraya memperbaiki kacamatanya.


"Kau benar, dibalik sikapnya yang sombong ternyata ada banyak kesedihan yang terpendam." Bella menanggapi ucapan Cecil.


"Hello..." tegur Brian. Sengaja menghancurkan suasana. "Kenapa kalian tiba-tiba menjadi emosional. Menyebalkan sekali," tambahnya sambil menggelengkan kepala.


Bella dan Cecil tidak mengiraukan keluhan Brian. Mereka memilih kembali fokus melihat-lihat barang milik mendiang ibunya Ben.


Selain terdapat foto keluarga, ada foto lain yang ditemukan Bella. Yaitu foto Elly bersama seorang wanita misterius. Untungnya ada nama yang tertera di belakang foto tersebut.


"Sabrina Felice. Aku merasa tidak asing dengan nama ini." Bella sekali lagi menulusuri ingatannya.


Setelah mengingat cukup lama, Bella akhirnya menemukan jawaban. Rupanya Sabrina merupakan seorang psikiater terkenal dari Manhattan pada masanya. Bella langsung ingat, karena pernah membawa David terapi ke sana.


"Brian, tolong cari tahu alamat Sabrina sekarang. Mungkin dia bisa membantu," titah Bella.


"Oke, itu mudah." Brian segera berkutat dengan laptop dan internet.


Bella kembali sibuk mengamati foto Ben saat kecil. Pertanyaan Ben tentang kota Manhattan tempo hari, membuat Bella perlahan mengingat sesuatu.


Ketika tinggal di Manhattan, Bella sering pergi ke danau bersama David. Saat itulah dia tidak sengaja bertemu dengan Ben. Pertemuan mereka terjadi karena situasi genting.


Ben nyaris tenggelam di danau. Bella yang kebetulan lewat, menjadi satu-satunya penyelamat untuk Ben.


"Aku tidak menyangka, Ben ternyata anak itu..." Bella merasa tercengang dengan kenyataan yang diterimanya sekarang.


"Apa? Ada apa? Siapa yang kau bicarakan?" tanya Brian yang penasaran dengan ungkapan ambigu Bella.

__ADS_1


"Aku akan jelaskan nanti. Sekarang yang aku inginkan adalah menemui Ben." Bella mengambil tas dan beranjak pergi dari apartemen.


Kini tinggal Brian dan Cecil berduaan di apartemen. Melihat kepergian Bella yang tergesak-gesak, mereka hanya saling bertatapan.


"Terkadang Bella tidak sadar, betapa ambisiusnya dia," komentar Brian. Dia merasa lelah menyaksikan kegigihan Bella.


"Kau benar, tidak heran nama Red Rose semakin dipercaya oleh banyak orang. Dalam satu hari, kita menemui sekitar puluhan pasien yang mendaftar." Cecil membuang nafas berat. Ia menyandarkan punggung ke sofa.


Kali ini Brian sama sekali tidak merespon perkataan Cecil. Dia justru sibuk mengobrol di telepon.


"Baiklah, sayang. Aku akan menjemputmu, oke?" ujar Brian yang terdengar seperti sedang berbicara kepada pacarnya.


Cecil memutar bola mata jengah. Entah kenapa dia selalu benci sikap Brian yang sering bergonta-ganti pacar. Atau tanpa Cecil sadari, dia telah menaruh hati kepada Brian.


...***...


Sebelum menemui Ben, Bella menelepon lebih dahulu. Dia ingin memberitahukan kedatangannya.


"Ben, kau tidak sibuk bukan? Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Bella.


Sekarang Bella tengah berada di dalam taksi. Dia tenggelam dalam ingatan masa lalu. Bella mengingat momen pertama kali bertemu dengan Ben.


Hanya dengan satu tarikan nafas buatan, Ben dapat diselamatkan. Bella dan Ben sempat menjadi teman masa kecil. Keduanya sering menghabiskan waktu untuk bermain di danau. Setiap kali David menyuruh Bella pulang, maka Ben akan tertinggal seorang diri di tepi danau.


Bella ingat betul, dia sering memergoki badan Ben dipenuhi dengan memar dan luka. Namun Ben tidak pernah menceritakan apapun terkait memar dan lukanya.


Tidak terasa, Bella sudah tiba di tempat tujuan. Dia bergegas mendatangi apartemen Ben.


Bell pintu ditekan oleh Bella. Sosok Ben yang muncul membuat mata Bella langsung terbelalak. Bagaimana tidak? Ben tampak bertelanjang dada. Badannya agak kemerahan, seolah baru selesai bermain-main dengan darah. Bau anyir bahkan langsung menyeruak menghantam indera penciuman Bella.


"Halo, Dokter." Mendengar sapaan yang berbeda, kini Bella tahu kalau Lucky sudah mengambil alih tubuh Ben.


Lucky tersenyum sampai menampakkan gigi-giginya yang rapi. Dengan cepat dia menarik Bella masuk ke dalam apartemen.


Lucky menghempaskan Bella ke dinding. Lalu mengurungnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Kau berhutang denganku, Dokter. Apa kau lupa?!!!" Lucky melotot tajam. Intonasi nada bicaranya terdengar begitu sangar. Bella bahkan sampai terperanjat.


"Te-tentu saja aku tidak lupa." Bella mencoba tenang.


"Jadi, apa kau bersedia bekerjasama denganku?" tanya Lucky. Amarahnya mulai mereda.


Bella memejamkan mata. Dia lekas menganggukkan kepala. Bella tidak punya pilihan lain.


Lucky otomatis melepaskan Bella. Kemudian melangkah menuju ruang tengah. Di sana ada Stacy yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.


"Apa-apaan ini! Apa dia sudah mati?!" timpal Bella. Tatkala menyaksikan keadaan Stacy.


"Iya, dia sudah mati. Sebentar lagi rekan-rekanku akan datang untuk menyingkirkannya." Lucky terlihat tenang. Dia membilas badannya ke kamar mandi. Lalu keluar lagi saat tubuhnya telah bersih.


Bella terpaku melihat keadaan Lucky. Ada gambaran di kepalanya tentang sosok Ben yang bertelanjang dada.


Deg!


Pupil mata Bella membesar, ketika dia mengingat apa yang terjadi saat di pesta Jennifer. Dia reflek memegangi organ intimnya. Meskipun begitu, Bella tidak yakin apakah dirinya dan Ben benar-benar melakukan hubungan intim. Apalagi sikap Ben terakhir kali terbilang biasa saja. Sejujurnya ingatan Bella masihlah samar.


Kening Lucky mengernyit. Ia terheran melihat gelagat Bella. "Kau kenapa? Apa kau merasa tergoda menyaksikan tubuhku yang bugar ini?" pungkasnya percaya diri.


"A-apa kau bilang? Tentu saja tidak!" bantah Bella tergagap. Dia lekas membuang muka dari Lucky.


"Dokter, aku ingin mengajakmu ke beberapa tempat. Karena kau sudah mau bekerjasama denganku, maka aku akan mempercayaimu. Tapi berjanjilah kepadaku, jangan pernah coba-coba berani membunuhku. Oke?" Lucky berucap sembari memasang kaos bajunya.


"Kau tidak seharusnya berkata begitu. Justru kaulah yang terus mencoba membunuhku," balas Bella. Mengingat kejadian saat di rumah Ben dan badai salju beberapa waktu lalu.


"Aku terlalu emosi saat itu. Karena Ben tidak pernah memilih psikiater wanita sebelumnya. Jadi aku sedikit bermain-main denganmu. Tapi ternyata, kau bukanlah lawan yang mudah. Makanya aku mengajakmu bekerjasama." Lucky memberikan alasan.


"Terserah." Bella memutar bola mata jengah. Atensinya terus tertuju ke arah mayat Stacy yang masih ada di lantai. Dia merasa tidak nyaman melihatnya.


"Siapa sebenarnya wanita ini? Aneh sekali Ben mau membiarkannya masuk ke sini." Benak Bella bertanya-tanya.


"Itulah yang aku pertanyakan sedari tadi." Ternyata tidak hanya Bella yang penasaran, tetapi juga Lucky. Keduanya tidak tahu kalau Ben sedang dirundung masalah jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2