Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 45 - Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

...༻✿༺...


"Justin? Bolehkah aku tahu siapa dia?" tanya Bella.


"Dia salah satu karyawanku di perusahaan," jawab Ben.


Bella kali ini tidak terkejut. Karena dia bisa menduga semenjak awal mendengar nama Justin. Bella akhirnya memilih bungkam, karena dia tidak mau menguak sisi pribadinya kepada Ben. Apalagi terkait Justin.


Di waktu yang hampir bersamaan, Justin sedang melangkah menuju sebuah mansion. Dia sengaja berpakaian rapi agar terlihat dapat dipercaya.


Langkah kaki Justin terhenti saat menyaksikan seorang lelaki paruh baya. Dia tidak lain adalah Billy Mayers. Kakak tiri dari Ben. Billy terlihat berdiri di depan jendela kaca besar.


Hidup Billy hanya bergantung dengan penghasilan dari perusahaan Foodton. Aset yang seharusnya dikelola oleh Billy. Ia hanya menerima seperempat warisan dari sang ayah. Sementara sebagian besar dimiliki oleh Ben. Termasuk perusahaan Foodton sendiri.


"Halo, Justin. Kau bisa duduk dimana pun," saran Billy. Ia tampak memegangi gelas berisi sampanye.


"Tidak, Billy. Aku akan berdiri bersamamu saja. Melihat pemandangan kota New York di malam hari, adalah hal yang terbaik." Justin berderap ke sebelah Billy. Dia langsung ditawarkan satu gelas sampanye.


"Bagaimana? Aku dengar hubunganmu semakin dekat dengan Ben. Bahkan ada gosip yang menyebut kalian berpacaran." Billy langsung masuk ke topik pembicaraan. Dia tampak menggoyangkan gelasnya membentuk sebuah kurva.


"Hahaha... kau tahu kalau gosip yang tersebar memang selalu berlebihan. Tapi satu hal yang jelas, Ben sepertinya sudah sangat mempercayaiku. Dia menceritakan sesuatu tak terduga kepadaku." Justin memberitahukan semuanya kepada Billy.


"Apa itu? Jangan terlalu banyak mengulur waktu. Aku benci itu!" tanggap Billy. Keningnya mengernyit samar.


Justin menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu menceritakan bahwa Ben sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Hal itu sontak membuat Billy kaget. Sebagai orang yang cukup mengenal Ben, dia nyaris tak percaya.


"Siapa wanita itu? Kita harus mencari tahu siapa dia!" Billy nampak bersemangat. Semuanya dapat terlihat dari kedua alisnya yang terangkat secara bersamaan.


"Itulah masalahnya. Aku tidak tahu." Sama seperti Billy, Justin juga penasaran dengan wanita yang telah membuat Ben jatuh hati.


Billy sedikit memiringkan kepala. Ia tengah memikirkan sesuatu. Terutama mengenai foto Ben yang tersebar tempo hari. Sebuah foto yang memperlihatkan Ben menggendong seorang wanita misterius.

__ADS_1


"Jangan-jangan wanita itu adalah wanita yang digendong Ben saat di pesta Jennifer kemarin," cetus Billy.


Pupil mata Justin membesar. Dia berpikir Billy ada benarnya. Apalagi Ben juga pernah bercerita kalau hubungan satu malamnya terjadi saat pesta Jennifer.


"Kau benar. Aku pikir begitu. Perlukah aku menyelidikinya?" tawar Justin yang terlewat ambisius. Kebetulan dia dijanjikan imbalan besar jika berhasil menggulingkan Ben dari posisi CEO.


"Tidak, aku akan menyuruh orang kepercayaanku saja untuk urusan itu. Kau sebaiknya fokus mendekati Ben. Kau harus menemukan sesuatu agar Ben bisa didepak dari posisinya sekarang. Aku sudah muak melihat lagaknya yang sombong." Billy meringis jijik ketika membayangkan sikap Ben terhadapnya. Mereka tidak pernah akur saat saling bertemu.


"Kau tidak tahu betapa tersiksanya diriku saat berpura-pura baik di hadapannya," balas Justin. Lalu menenggak sampanye dari gelas sampai tandas. Pembicaraannya dan Billy harus berakhir kala malam semakin larut.


...***...


Bella menyuruh Ben singgah di pinggiran jalan secara acak. Dia tidak akan memberitahu Ben alamat rumahnya yang asli.


"Sampai jumpa di sesi terapi nanti." Bella tersenyum sambil melangkah mundur.


Ben hanya membisu dengan tatapan lekatnya terhadap Bella. Dia terpaku sejenak. Ingin lebih lama memandangi wajah cantik gadis itu.


"Sampai jumpa, Dokter..." pamit Ben seraya memutar gas motornya. Kemudian berkendara menyusuri jalanan.


Bella mendengus lega. Kepulan asap tampak jelas saat dia menghembuskan nafas dari mulut. Bella menjemput David dan pulang ke rumah untuk beristirahat.


Sementara itu, Ben baru saja memasuki kamar. Dia hanya mengenakan celana pendek. Tubuh atletisnya terpampang nyata. Kebetulan Ben berniat ingin mandi.


"Sial! Lucky membuat luka tak berguna lagi," keluh Ben tatkala menyaksikan luka di betisnya.


Perlahan atensi Ben tertuju ke arah buku di atas nakas. Dia menemukan buku yang sudah lama tidak dilihatnya. Yaitu buku catatan yang selalu digunakan Lucky untuk berkomunikasi dengan Ben.


Lucky sebenarnya sudah lama tidak mengajak Ben berkomunikasi melalui catatan. Tetapi sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin diberitahukan Lucky.


Ben membuka lembaran terakhir. Ia menemukan tulisan yang bebunyi, 'Ben, kenapa kau mendadak membawa seorang wanita ke apartemen? Aku juga melihat fotomu yang tersebar. Kau terlihat menggendong seorang wanita. Satu hal yang aku tahu, kalau wanita dalam gendonganmu itu adalah Dokter Red Rose. Aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Apa kau tertarik kepada Dokter Red?'

__ADS_1


Ben memegangi kepalanya. Ia merasa pusing saat memikirkan perihal perasaannya terhadap Bella. Ben menghempaskan badannya ke kasur. Matanya perlahan terpejam.


Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Ben lantas beranjak untuk membuka pintu. Matanya membuncah ketika melihat kedatangan Bella.


"Dokter? Kau tidak pulang?" Ben memastikan. Namun Bella hanya tersenyum dan melingus masuk ke dalam apartemen.


"Aku tidak berhasil menemukan taksi, makanya aku memilih mendatangi rumah teman terdekat. Kaulah yang aku pilih," ujar Bella sembari melepas mantelnya.


Ben terus membisu sambil mengerutkan dahi. Dia tidak mengalihkan pandangan dari sosok Bella.


"Ben, kenapa kau tidak pakai baju? Apa kau berniat ingin mandi?" tanya Bella dengan ekspresi ceria seperti biasa.


"I-iya, aku akan mandi." Ben menjawab sedikit tergagap.


"Benarkah? Aku juga berniat ingin menumpang mandi. Mau melakukannya bersamaku?" tawar Bella yang terlihat sudah membuka kancing baju satu per satu.


Ben meneggak salivanya sendiri. Memikirkannya saja dia sudah menggila. Apalagi jika benar-benar harus dilakukan.


Bella sudah menanggalkan kemeja. Hingga tampilannya sekarang hanya mengenakan bra dan celana jeans. Dia melenggang pelan ke hadapan Ben.


"Kau kenapa sangat kaku? Padahal malam itu kau melakukannya dengan sangat baik..." ungkap Bella sambil menangkup wajah Ben.


"Malam itu? Kau mengingatnya?" mata Ben terbelalak.


"Aku mengingat setiap detilnya persis sepertimu. Terutama kulitmu yang licin dan hangat." Tangan Bella menyentuh badan atletis Ben. Telapak tangannya yang lembut berseluncur indah mengelus Ben dari mulai dada sampai ke perut.


Ben merasakan darah berdesir hebat disekujur badannya. Kupu-kupu serasa beterbangan dalam perut. Hingga tanpa sengaja dia memejamkan mata.


Saat terbuai dengan sentuhan, Bella mendadak mendorongnya ke kasur. Tubuh Ben otomatis terhempas. Matanya terbuka lebar. Menatap Bella yang sudah duduk di atas otot perutnya.


"Kenapa kau rahasiakan tentang malam itu dariku, Ben." Bella memegangi pipi Ben dengan satu tangan.

__ADS_1


"Aku..." Ben benar-benar terhipnotis. Dia tidak kuat lagi dan langsung mendorong Bella telentang di kasur. Kini Ben yang mengambil alih posisi di atas badan Bella.


__ADS_2