Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 26 - Mencari Tahu Identitas Red Rose


__ADS_3

...༻✿༺...


Kilas ingatan yang muncul membuat Ben terpaku menatap Bella. Untuk yang pertama kalinya dia tertarik dengan gadis itu. Ben ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya terasa kelu.


Wajah Bella yang berpendar dengan sinar matahari, membuat Ben sadar betapa cantiknya gadis tersebut. Rupa Bella hampir mirip dengan sosok anak kecil yang ada dalam bayangannya.


"Apa kau dulu pernah tinggal di Manhattan?" Ben akhirnya bersuara. Pertanyaannya tentu membuat Bella terheran.


"Apa kau bilang?" dua alis Bella hampir bertautan. Dia bingung kenapa Ben mendadak bertanya seperti itu.


"Lupakan." Ben urung bertanya.


Tidak berselang lama, para anak buah Lucky berdatangan. Mereka segera membawa Ben untuk beristirahat.


"Aku baik-baik saja. Kalian tidak usah repot-repot!" Ben menolak bantuan rekan-rekan Lucky. Dia ingin secepatnya kembali pulang.


"Tidak, Lucky. Kau harus beristirahat sebentar. Kita juga harus membahas masalah penyerangan tadi," ujar Liam memaksa.


Ben menoleh ke arah Bella. Berharap gadis itu melakukan sesuatu. Namun Bella justru mengenakan jaket karena bersiap untuk pulang.


"Karena aku sudah berjasa menyelamatkan Lucky, maka pasti kalian akan memperbolehkanku pulang." Bella mencoba beranjak pergi.


"Siapa bilang?! Lucky tidak akan semudah itu melepaskanmu!" timpal Sean yang langsung disetujui oleh semua rekan-rekannya.


Bella tercengang. Menurutnya Lucky dan kawan-kawan tidak tahu terima kasih. Dia sudah mengangakan mulut karena hendak bicara, tetapi Ben lebih dahulu bersuara.


"Bawa saja Dokter Red masuk! Tapi jangan kurung dia seperti sebelumnya," imbuh Ben. Menyebabkan Bella semakin dibuat geram. Gadis itu hanya bisa mengepalkan tinju di kedua tangan.


"Awas saja kalau dia celaka lagi. Aku tidak akan membantu." Bella bergumam pelan. Dua anggota The Dark Place segera menyeretnya kembali masuk ke dalam gedung.


Ben dan semua orang The Dark Place duduk di kursi masing-masing. Mereka berada di ruangan yang memiliki meja dan kursi persis seperti di sebuah restoran. Semuanya saling terdiam karena menunggu Ben bicara.

__ADS_1


Suasana hening berlangsung lama. Bella yang dibiarkan berdiri hanya memasang raut wajah sebal. Dia malas menatap ke arah Ben. Padahal sedari tadi Ben hanya sibuk memandanginya. Pria itu sedang berupaya menemukan jawaban tentang ingatan yang muncul tadi.


'Dokter Red? Apa dia anak perempuan itu?' benak Ben bertanya-tanya.


"Lucky, bukankah ada sesuatu yang harus kita bahas?" celetuk Sean. Memecah kesunyian yang terjadi. Dia menatap Ben dan Bella secara bergantian.


Ben langsung tersadar dari lamunan. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Semua pasang mata tampak tertuju kepadanya.


"Ka-kalian mau membicarakan apa?" ujar Ben. Kebingungan terlihat jelas di semburat wajahnya.


"Tentu saja perihal serangan tadi. Kita harus melakukan perlawanan dan mencari tempat tinggal baru. Aku yakin lokasi markas kita sekarang sudah tersebar luas!" seru Liam, menjelaskan panjang lebar.


"Solusiku adalah... lebih baik kalian berhenti berbuat kejahatan. Aku yakin itu adalah yang terbaik. Bekerja dan mendapatkan uang dari hasil kerja keras merupakan--"


"Wanita tidak di ijinkan masuk ke pembicaraan ini! Kau harusnya bersyukur sudah dibiarkan bergabung!" Sean sengaja memotong ucapan Bella. Dia menegaskan sembari bangkit dari tempat duduk.


"Kalian kenapa selalu saja melakukan diskriminasi gender?!" balas Bella. Ia berjalan menghentak menuju pintu.


"Lucky, apa kau yakin ingin pergi tanpa motormu?" tegur Liam. Dia merogoh saku celana, lalu mengeluarkan sebuah kunci motor.


Ben berhenti melangkah. Dia berbalik dan langsung mengambil kunci yang ada di tangan Liam. "Thanks!" ungkapnya, sebelum benar-benar pergi.


Liam dan yang lain saling bertukar pandang. Mereka sebenarnya sering merasa aneh dengan sikap Lucky yang kadang berubah. Meskipun begitu, mereka mencoba tetap berpikir positif. 'Mungkin Lucky memang memiliki sikap segila itu,' begitulah hal yang sering terlintas dalam benak Liam.


Di luar gedung, Bella celingak-celingukan ke segala arah. Dia berupaya menemukan jalan menuju jalan raya. Bella memeluk badannya sendiri karena merasa kedinginan akibat pakaian yang basah.


Akhirnya Bella memilih jalan tak tentu arah. Dari arah belakang perlahan terdengar suara motor yang mendekat. Dia lantas menoleh, dan melihat Ben mengendari motor.


Ben berhenti tepat di hadapan Bella. "Naiklah! Jalan raya cukup jauh," suruhnya dengan gaya arogan seperti biasa.


"Aku tidak mau! Aku juga ingin menegaskan, kalau aku mengundurkan diri untuk menjadi doktermu!" pungkas Bella tak peduli. Lalu kembali melangkah laju.

__ADS_1


Ben terkesiap. Dia kaget dengan keputusan Bella yang sangat tiba-tiba. Padahal proses terapi saja belum sepenuhnya dilakukan.


"Apa kau bilang?! Tidak mau menjadi dokterku?" Ben gelagapan. Dia mengejar Bella sambil mengendarai motor.


"Dokter! Bukankah kita sudah membuat kesepakatan?" ucap Ben lagi.


Bella berhenti melangkah. Dia menoleh untuk bicara berhadapan dengan Ben. "Aku berubah pikiran. Karena kau sangat sulit di ajak bekerjasama. Cari saja dokter lain. Lagi pula aku punya banyak pasien yang mengantri untuk diobati," balasnya. Ia meneruskan pergerakan kaki.


Ben mengeratkan rahang kesal. Salah satu tangannya membentuk bogem. Penolakan Bella membuat amarahnya memuncak. Alhasil Ben melajukan motor dan meninggalkan Bella begitu saja.


"Sialan! Dia langsung menyerah? Oke... awas saja kalau kau kembali memintaku untuk jadi doktermu!" cerca Bella. Dia bergegas melangkah. Hingga menemukan sebuah telepon umum. Bella segera meminta bantuan Brian untuk menjemput.


...***...


Di sepanjang perjalanan, Ben tidak berhenti memikirkan Bella. Perasaan kesal dan penasaran bercampur aduk menghantuinya. Entah sudah berapa kali Ben menghela nafas berat.


Sesampainya di apartemen, Ben langsung membersihkan diri. Lalu mengenakan pakaian. Dia memanggil Jimmy untuk datang.


Tidak perlu menunggu lama, Jimmy datang ke hadapan Ben. Dia muncul dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal. Sebab Ben akan marah besar jika dirinya datang terlambat.


"Ada apa, Tuan?" tanya Jimmy yang sudah duduk di hadapan Ben. Satu tangannya memperbaiki kacamata yang tidak sengaja bergeser ke bawah.


"Bisakah kau mencari tahu siapa Dokter Red?" Ben justru berbalik tanya.


"Dokter Red?" kelopak mata Jimmy melebar. Dia agak kaget terhadap permintaan Ben. "Tuan tidak bisa mencari tahu, jika ingin menjadi pasien tetap Dokter Red. Itu adalah salah satu persyaratan yang diajukan olehnya. Dokter Red sangat menutup rapat identitas aslinya," jelasnya.


"Tapi kita bisa diam-diam mencari tahu." Ben bersikeras.


"Kenapa, Tuan? Kenapa kau tiba-tiba tertarik untuk mencari tahu. Biasanya kau sama sekali tidak peduli dengan identitas orang lain. Apalagi jika itu adalah seorang wanita." Salah satu alis Jimmy terangkat. Heran dengan keinginan Ben yang berbeda dari biasanya.


"Aku hanya ingin memastikan. Sepertinya dia salah satu orang yang berkaitan dengan insiden kelamku di masa lalu." Ben mengungkapkan keresahan yang dirasakannya.

__ADS_1


__ADS_2