Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 56 - Pengakuan Bella


__ADS_3

...༻✿༺...


Bella berusaha melepaskan tangan Lucky dari leher. Akan tetapi dia tidak mampu. Kakinya terus menggeliat akibat cekikan di tenggorokannya.


Mata Bella dalam sekejap memerah. Saluran pernafasannya menjadi tersendat. Dia sangat yakin orang yang di hadapinya sekarang adalah Lucky.


Lama-kelamaan Bella mulai kewalahan. Meskipun begitu, dia berusaha keras berpikir untuk melakukan perlawanan. Sehingga salah satu kakinya bergerak menendang betis Lucky.


"Ugh!" Lucky akhirnya lengah. Saat itulah Bella berhasil melepaskan diri. Gadis itu terbatuk sejenak.


Belum sempat Lucky berucap, Bella langsung memegangi wajahnya. Dia mencoba mengalahkan Lucky dengan cara terakhir kali. Yaitu mengembalikan Ben dengan sebuah ciuman di bibir.


Mata Lucky membola saat merasakan mulutnya menyatu dengan bibir Bella. Seolah mengalami disfungsi otak, Lucky menciut dan membiarkan Ben kembali. Usaha Bella tidaklah sia-sia.


Ben yang sudah mengambil alih tubuhnya sendiri, perlahan membalas ciuman Bella. Namun hal itu justru membuat Bella segera melepaskan tautan bibirnya.


"Kau kembali. Sekarang kau harus ingat, kalau sebuah ciuman bisa mengalahkan Lucky," ujar Bella yang sedari tadi menutup badan bugilnya dengan selimut. Ia bergegas mengenakan pakaian. Lalu menyarankan Ben untuk kembali ke kamar.


Selepas Ben pergi, Bella mendengus lega. Jantungnya berdegub kencang. Entah kenapa Ben terlihat begitu menawan dari biasanya. Terutama setelah pria itu mulai sering mengukir senyuman. Bella merasa sikap Ben berubah. Tidak sedingin saat pertama kali bertemu.


Bella terus mengelus dada kirinya berulang kali. Berharap perasaan berlebih tidak akan tumbuh terhadap Ben. Alhasil Bella menyibukkan diri dengan cara melakukan yoga.


Hari terakhir liburan di Hawai telah tiba. Bella, Ben dan yang lain merayakan dengan cara menonton konser musik. Kebetulan konser yang digelar berada tidak jauh dari hotel dan pantai. Suasana begitu ramai dan seru.


Bella tampak melompat-lompat menjadi bagian penonton konser. Dia ditemani oleh seluruh karyawan Foodton. Hanya Ben yang sibuk berdiri di lokasi terdekat. Pria itu tidak menonton konser, melainkan menonton gadis pujaannya bersenang-senang.


Ketika Bella tersenyum, maka Ben otomatis tersenyum. Kebahagiaan yang dipancarkan Bella seolah seperti virus yang menular.


"Mr. Mayers! Bersenang-senanglah dengan kami!" ajak Gilbert. Dia menarik tangan Ben. Kemudian sengaja membiarkan Ben berdiri di samping Bella. Karena hal itu, beberapa karyawan Foodton saling melemparkan pandangan penuh arti.

__ADS_1


"Ayolah, Ben! Jangan terlalu kaku," ujar Bella. Menyuruh Ben untuk pertunjukkan musik yang ada di panggung.


Ben tersenyum dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Hal serupa juga dilakukan Bella. Keduanya menikmati kebersamaan kembali.


Sehabis menonton konser musik, Bella, Ben dan yang lain minum-minum sebentar. Sebagian karyawan kembali lebih dulu ke hotel. Sedangkan Ben dan Bella pulang paling terakhir. Tepat setelah Gibert beranjak sendirian.


Karena terlalu mabuk, Bella tumbang. Ia bahkan tidak mampu berjalan. Ben lantas bertanggung jawab untuk membawanya ke kamar.


Dengan pelan Ben merebahkan Bella ke kasur. Dia memanfaatkan peluang untuk menatap Bella lamat-lamat.


"Aku tidak tahu kenapa... tapi sepertinya aku jatuh cinta kepadamu..." Ben mengungkapkan perasaannya tanpa sadar. Dia beranjak selepas menutupi badan Bella dengan selimut.


"Tunggu!" Bella tiba-tiba memegang lengan Ben.


Deg!


Jantung Ben serasa akan melompat keluar. Dia takut Bella mendengar pernyataan cintanya tadi.


Ternyata nama lelaki yang ada di hati Bella hanyalah Justin. Meskipun begitu, setidaknya Ben tahu nama kekasih Bella sekarang. Namun dia tetap tidak tahu, kalau Justin yang dibicarakan Bella merupakan karyawan kesayangannya.


Ben pergi dari kamar Bella dengan ekspresi sendu. Ketika pintu kamar tertutup, Bella kembali bergumam, "Dan sepertinya... aku mulai tertarik dengan lelaki yang bercinta denganku. Aku tidak tahu kenapa, otakku terus memikirkan segala hal tentangnya..."


...***...


Justin telah menunggu kepulangan Bella di bandara. Dia memegang satu buket bunga sambil memainkan salah satu kakinya. Justin tidak sabar ingin bertemu Bella. Selain karena rindu, tetapi juga ada banyak hal yang ingin dibicarakan.


Tanpa diduga, Billy dan sekretaris pribadinya datang. Justin agak kaget dengan hal tersebut. Pupil matanya membesar, tatkala melihat Billy sudah berdiri di sampingnya.


"Aku tidak sabar bertemu Ben dan gadis itu. Aku dan Edwin sudah mencari informasi tentang wanita yang digendong Ben di pesta Jennifer. Dia ternyata adalah Dokter Red Rose! Dan satu hal lagi, wanita yang pergi bersama Ben ke Hawai juga adalah Dokter Red Rose!" imbuh Billy seraya menyuruh sekretarisnya untuk menunjukkan foto kebersamaan Ben dan Bella di Hawai.

__ADS_1


"Kami juga berhasil menemukan bukti lain. Salah satu karyawan Foodton ada yang berhasil mengambil foto Ben dan Dokter Red menaiki motor." Edwin sang sekretaris Billy, menunjukkan foto bersangkutan.


Justin kaget bukan kepalang. Dia tidak bisa membantah, ketika semua foto yang didapatkan Billy memperlihatkan kedekatan Ben dan Bella. Justin semakin bingung, kenapa Billy malah menyebut Bella dengan sebutan Red Rose.


"Lihat! Yang di tunggu sudah datang," ucap Billy. Dari kejauhan, dia bisa menyaksikan kedatangan Ben dan rombongannya. Termasuk Bella yang kebetulan berjalan di sebelah Ben.


"Kau pasti tahu siapa Dokter Red bukan?" Billy kembali angkat suara.


"Dia psikiater misterius itu kan?" tanggap Justin sembari menatap serius ke arah Bella.


"Benar. Apa kau tahu artinya?" Billy berseringai. Seakan yakin sudah mendapatkan jackpot terkait kelemahan Ben. "Ben pasti memiliki penyakit jiwa. Kita harus bicara dengan Dokter Red untuk mencari tahu."


Di waktu yang sama, Ben dan Bella sama-sama heran saat menyaksikan kehadiran Justin dan Billy. Orang yang paling heran adalah Ben. Untuk pertama kalinya, dia tidak pernah melihat Billy datang ke bandara untuk menjemputnya.


Sementara Bella sendiri. Dia tentu mengkhawatirkan Justin. Bella hanya berusaha mempersiapkan seribu alasan di kepala.


"Kau kenapa tiba-tiba bersusah payah menemuiku? Bukankah kita bisa bicara di tempat lebih baik?" timpal Ben yang sudah berhenti di depan Billy.


"Jika aku menunggumu di tempat lain, maka aku tidak akan bertemu dengan Dokter Red Rose." Billy mengungkapkan identitas Bella dengan gamblang. Semua orang sontak dibuat kaget. Dalam sekejap Bella menjadi pusat perhatian karyawan Foodton, Justin, bahkan Billy.


Ben merasa bersalah. Karena dirinya, identitas Bella terkuak. Seluruh orang sekarang tahu wajah Dokter Red Rose. Tetapi dia tidak akan membiarkan itu terjadi dengan mudah.


"Tidak! Kenapa kau menyimpulkan begitu? Setahuku Dokter Red Rose adalah psikiater. Aku sepenuhnya normal, Billy. Untuk apa aku berurusan dengan psikiater?!" balas Ben dengan tatapan meyakinkan.


"Jennifer yang memberitahuku, kalau wanita yang kau gendong di pestanya adalah Dokter Red Rose." Billy berbisik sembari mengukir senyuman smirk.


"Orang dibalik nama Dokter Red Rose bisa siapa saja. Kenapa kau berani sekali menuduhku sebagai Dokter Red?" Bella akhirnya ikut bicara. Perlahan dia menggenggam lengan Ben dan melanjutkan, "aku bukan dokter Mr. Mayers, melainkan pacarnya."


Deg!

__ADS_1


Pengakuan Bella berhasil membuat jantung Ben dan Justin berdebam keras. Mereka hanya membulatkan mata dan menatap tak percaya ke arah Bella.


__ADS_2