Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 64 - Ben Bebas


__ADS_3

...༻✿༺...


Robert dan kawan-kawan sudah tiba di mansion Billy. Mereka memang tidak kenal takut. Pagar rumah ditabrak begitu saja. Orang yang berjaga diberi todongan senjata dan langsung di ikat dengan tali.


Sean dan tiga orang lainnya, bertugas mengumpulkan penjaga dan memaksanya membukakan pintu yang terkunci. Sosok Billy segera menyambut. Tidak tanggung-tanggung, dia memegang senapan di tangannya. Menembakkan peluru tanpa ampun kepada penyusup yang berani masuk.


Robert dan kawan-kawan otomatis berlindung. Mereka menyerang saat Billy mendekat. Mengikatnya, persis seperti yang mereka lakukan pada penjaga. Istri dan anak Billy yang juga ada di rumah tentu tidak tertinggal. Sekarang tahap rencana selanjutnya berlangsung.


"A-apa mau kalian?" tanya Billy, tergagap. Ia gemetar ketakutan sambil berusaha menggapai istri dan anaknya yang berjarak agak jauh.


"Ben Mayers! Kami ingin kau mencabut tuntutanmu terhadapnya!" ujar Robert. Dia tidak berbasa-basi.


"Apa?!!! Tentu saja tidak! Aku sudah susah payah--" ucapan Billy terhenti, ketika Liam menodongkan pistol ke kepala istri dan anaknya.


"Jangan lakukan itu!" cegat Billy. Meskipun sering berbuat jahat kepada Ben, dia selalu menyayangi keluarga kecilnya.


"Maka dari itu, cepat lakukan apa yang kami minta!" desak Robert. Dia menyerahkan sebuah ponsel kepada Billy. Menyuruh lelaki itu untuk segera menghubungi orang bersangkutan.


"Ba-baiklah..." Billy bergegas menelepon pengacaranya. Dia memberitahu kalau dirinya mencabut semua tuntutan terhadap Ben.


"Ingat! Jika kau berani melaporkan kami ke polisi, maka kami akan membawa istri dan anakmu! Membunuhnya dan mencincang-cincang--"


"Robbie, sudahlah!" potong Liam. Menurutnya perkataan Robert terlalu berlebihan.


"Aku tidak menyakitinya. Hanya mengatakan yang seharusnya saja," kilah Robert. Setelah merasa berbuat lebih dari cukup, dia dan yang lain segera pergi dari mansion Billy.


Melihat para penyusup telah pergi, Billy hendak menelepon pengacaranya kembali. Ternyata ia masih tidak sudi mencabut gugatan terhadap Ben. Namun pergerakannya harus terhenti, ketika sang istri sigap menghentikan.


"Sudahlah, babe. Relakanlah semuanya. Jika kau begini terus, hidup kita tidak akan tenang. Percayalah kepadaku," tutur Diane lembut.


Billy terdiam seribu bahasa. Ia terpaku menatap Diane, serta anaknya yang terlihat masih gemetaran. Setelah menimbang-nimbang lama, Billy lantas memilih keluarganya. Dia merelakan Ben lepas dari tuntutan.

__ADS_1


Sementara itu di markas, Bella dan kawan-kawan menunggu para anggota The Dark Place. Bella dan Cecil tampak tertidur. Sedangkan Brian sibuk menghacking kamera CCTV yang ada di mansion Billy.


"Ternyata menghacking tidak semudah itu," keluh Brian sembari mendengus kasar. Ia sudah menyelesaikan tugasnya. Lelaki berambut gondrong itu menyandar dan menutup mata.


Sekian jam berlalu. Robert dan kawan-kawan kembali. Kedatangan mereka berhasil membuat Bella terbangun.


"Kami berhasil, Dokter! Kau harus tepati janjimu," seru Liam seraya merapikan kerah bajunya.


"Tentu saja. Tapi setelah aku menyelesaikan permasalahan Ben terlebih dahulu, oke?" balas Bella. Dia menyarankan semua anggota The Dark Place untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Bella kembali ke New York untuk mengurus pengeluaran Ben dari rumah sakit jiwa. Atas bantuan senator Caroline, semuanya dapat berjalan lancar.


Salah satu syarat yang harus dipenuhi Bella untuk mengeluarkan Ben, dia diwajibkan bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi. Termasuk bagaimana cara Ben berperilaku. Segalanya ada di tangan Bella. Pihak rumah sakit jiwa mempercayakan nasib Ben kepada Bella.


Kini Bella, Jimmy, Cecil, dan Brian menunggu di depan rumah sakit. Para anggota The Dark Place juga terlihat ikut menyambut kemunculan Ben. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat wajah Ben lagi.


Di waktu yang bersamaan, Ben dituntun oleh seorang perawat menyusuri koridor. Ia dipersilahkan mengganti pakaian terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah Ben bergegas melangkah menuju pintu keluar.


Tanpa pikir panjang, Ben dan Bella berlari bersamaan. Kemudian saling mendekap satu sama lain. Keduanya berpelukan cukup lama.


"Selamat datang kembali, Ben!" sapa Brian. Di belakangnya ada Liam yang duduk dengan raut wajah kecewa. Robert yang berdiri di sebelah, justru mentertawakannya.


"Bwahaha! Pupus sudah harapanmu untuk berkencan dengan Dokter Red." Robert tergelak sambil menepuk-nepuk pundak Liam.


Liam menghela nafas panjang. Dia memperhatikan Bella yang perlahan melepaskan pelukan. Gadis itu berkata kepada Ben, "Setelah ini, aku akan membantumu lepas dari Lucky."


"Terima kasih, Dokter. Aku..." Ben tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena merasa terharu. Ia tertunduk karena berusaha menahan tangis.


"Menangislah, Ben. Aku tidak mau kau menahannya," ujar Bella. Satu tangannya mengelus lembut bahu Ben.


Tidak lama kemudian, Jimmy ikut bergabung. Hal serupa juga dilakukan Cecil, Brian dan para anggota The Dark Place. Mereka menggeromboli Ben dan mencoba menenangkan pria itu.

__ADS_1


Ben sangat bahagia. Dia merasa seperti menemukan keluarga baru. Entah kenapa hatinya menemukan yang namanya kedamaian.


...***...


Bella menemani Ben pulang ke apartemen. Bella memang sudah berjanji akan terus berada di sisi Ben. Memastikan pria itu tidak berbuat kejahatan lagi.


"Apa rencanamu setelah ini, Ben?" tanya Bella seraya menghempaskan diri untuk duduk ke sofa.


"Aku akan memberikan apa yang di inginkan Billy. Yaitu perusahaan Foodton," jawab Ben dengan santainya.


"Apa?! Kau bercanda bukan?" Bella dibuat kaget.


"Aku serius. Lagi pula perusahaan Foodton bukan satu-satunya warisan yang aku miliki. Jika itu yang di inginkan Billy, maka aku siap memberikannya dengan sukarela," jelas Ben. Ia menanggalkan bajunya satu per satu. Hingga menyisakan celana pendek berwarna hitam. Ben berniat hendak membersihkan diri ke kamar mandi.


"Kau yakin itu akan membuatmu senang?" Bella memastikan. Dia berdiri dan berjalan ke hadapan Ben.


"Tentu saja. Hal yang paling membuatku bahagia sekarang adalah kau, Dokter..." ungkap Ben. Dia langsung mendapatkan ciuman di bibir dari Bella. Keduanya mengawali dengan lembut. Saling memagut bergantian dan berhati-hati. Mereka berciuman dalam selang sekian menit.


Bella tiba-tiba melepas tautan bibirnya dari mulut Ben. "Mulai sekarang, panggil aku Bella," ujarnya yang menjeda sejenak. Lalu meneruskan, "apa aku boleh ikut?"


"Ikut? Kemana?" Ben melebarkan kelopak matanya.


Bella memutar bola mata jengah. Tanpa mengatakan apapun, dia melepas pakaiannya satu per satu. Kini Ben akhirnya mengerti apa yang dimaksud Bella.


Belum sempat Bella melepas seluruh pakaian, Ben lebih dulu menggendongnya dengan gaya bridal. Hal itu sontak membuat Bella tertawa senang. Sekali lagi mereka saling memadukan bibir.


Bella mengalungkan tangannya ke leher Ben. Ia kebetulan belum sempat melepas bra dan sabuk segitiganya. Bella dan Ben sesekali menggumamkan tawa bersamaan.


Setelah puas melakukan sesi ciuman, Ben segera beranjak ke kamar mandi. Saking girangnya, pria itu berlari laju karena merasa sudah tidak sabar. Dia tentu masih dalam keadaan menggendong Bella.


Sesampainya di kamar mandi, Ben dan Bella langsung melepas seluruh pakaian yang tersisa. Saling memanjakan tubuh mereka satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2