
...༻✿༺...
"Sejak awal aku sudah tahu bagaimana berbahayanya Lucky. Tapi sikap Ben yang tak mau peduli, membuatku tidak berempati lagi untuk membantu." Bella memberikan penjelasan.
"Itu karena Mr. Mayers tidak pernah memiliki psikiater wanita sebelumnya. Tidak heran dia bersikap begitu. Tapi sekarang kau memutuskan untuk menjadikan Ben pasien kembali? Apa kau yakin?" Jimmy menatap Bella dengan raut wajah serius.
"Tentu saja. Lagi pula Ben sangat pemaksa. Aku sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi dokternya. Selain itu, sikap Ben agak lebih baik dari sebelumnya. Jadi, bolehkan aku tahu bagaimana masa lalu Ben? Terutama mengenai alasan dia sangat membenci wanita." Bella mencoba menggali informasi.
Tanpa pikir panjang, Jimmy memberitahu apa yang diketahuinya. Dia menceritakan tentang tragedi pembunuhan yang di alami ayahnya Ben. Ibunya Ben dikabarkan telah membunuh sang suami dengan sadis.
"Elly sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dikira kena gangguan mental. Namun itu tidak berselang lama, karena satu minggu kemudian... Elly ditemukan bunuh diri." Jimmy menyelesaikan cerita kelam dari masa lalu Ben.
"Benarkah? Lalu bagaimana Ben bisa menjadi CEO seperti sekarang?" tanya Bella. Dia masih merasa janggal dengan cerita yang diberitahukan oleh Jimmy.
"Itu karena kedua orang tua angkatnya. Ben diadopsi oleh keluarga kaya dan baik-baik. Dia bahkan mendapatkan warisan lebih besar dibanding pewaris aslinya. Banyak yang mengira Ben curang, makanya gosip miring selalu didapatkannya," jelas Jimmy panjang lebar.
Bella terdiam sejenak. Ia memikirkan alasan kenapa Lucky bisa muncul dalam diri Ben. Apakah saat kejadian tragis itu Ben melihat semuanya, sehingga dirinya sangat membenci wanita?
Ada banyak sekali teka-teki yang belum bisa dipecahkan oleh Bella. Sekarang hanya perlu mencari tahu ingatan apa yang sudah dilupakan oleh Ben.
"Bisakah kau beritahu aku rumah sakit tempat Elly sempat dirawat? Mungkin aku bisa menemukan sesuatu di sana," ujar Bella.
Jimmy lantas segera memberitahukan nama rumah sakit yang pernah merawat Elly. Tidak hanya itu, Bella juga mendapatkan informasi lain dari Jimmy. Yaitu mengenai keterlibatan penjahat berbahaya yang menjadi teman Lucky.
"Kita tidak bisa meremehkan Lucky. Kau tahu kenapa pembunuhan yang dia lakukan tidak pernah ketahuan? Itu karena dia punya tim yang bisa merapikan pembunuhannya dengan baik. Jadi orang yang terbunuh oleh Lucky, jejaknya pasti tidak akan tercium. Kau harus berhati-hati, Dokter!" imbuh Jimmy. Memberi peringatan.
__ADS_1
"Percayalah, Jimmy. Aku punya alasan dibalik keberanianku. Itu karena aku percaya diri bisa menghadapi orang seperti Lucky. Kita hanya perlu mencari kelemahannya. Makanya aku berusaha mencari tahu lebih banyak tentang masa lalu Ben." Bella menuturkan pendapatnya.
"Terima kasih banyak, Dokter. Aku harap usahamu membuahkan hasil. Kau tidak perlu mencemaskan masalah biaya, Ben pasti akan membayarmu dengan jumlah besar." Jimmy merasa kagum dengan sosok perempuan yang duduk di depannya. Tidak hanya cantik, tetapi juga berani dan baik hati. Jimmy berharap nasib Bella tidak seperti ketiga psikiater Ben sebelumnya.
"Uang tidak penting bagiku. Aku menyukai pengalaman baru dan tantangan. Kasus yang dimiliki Ben membuatku sedikit bersemangat. Dia pasien paling berbeda dibanding pasienku yang lain," terang Bella sembari merekahkan senyuman tipis.
Pembicaraan Bella dan Jimmy berakhir disitu. Ternyata pengetahuan Jimny cukup minim mengenai masa lalu Ben. Meskipun begitu, informasi kecil yang diberikan Jimmy cukup penting bagi Bella.
Kini Bella dalam perjalanan menuju rumah sakit Eastown. Tempat ibunya Ben sempat dirawat. Bella langsung menanyakan perihal pasein yang bernama Elly Hillstone.
"Baru kali ini ada seseorang yang mencari Elly Hillstone. Apa kau seorang wartawan atau penulis?" perawat kulit hitam yang berjaga, bertanya dengan ramah.
"Tidak, aku seorang psikiater. Aku hanya perlu data-data atau barang milik Elly untuk jurnal yang sedang kubuat." Bella tentu saja berbohong mengenai tujuan kedatangannya.
Bella mendengus lega. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemen. Bella akan berdiskusi dengan Cecil dan Brian, terkait terapi Ben selanjutnya.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah pusat kota New York, Ben baru saja kedatangan tamu. Yaitu seorang wanita penghibur yang dipesankan oleh Justin.
Wanita yang datang terlihat cantik, berpakaian seksi, dan mempunyai kulit kecokelatan. Namun Ben sama sekali tidak tertarik. Dia tidak tahu kenapa. Sepertinya wanita yang berpakaian seksi memang bukan tipe kesukaan Ben.
"Halo, Mr. Mayers. Kenalkan aku Stacy. Senang bisa bertemu denganmu. Justin sudah memberitahuku semuanya." Stacy memperkenalkan diri. Dia menyodorkan tangannya kepada Ben. Berniat ingin bersalaman. Tetapi Ben sama sekali tidak memperdulikannya.
"Kita langsung ke intinya saja. Aku tidak suka berbasa-basi!" cetus Ben seraya menghempaskan diri untuk duduk ke sofa.
"Kau memang lelaki yang tidak sopan. Jika bukan karena uang, aku tidak akan melayanimu sekarang!" sahut Stacy. Dia segera melepaskan pakaian satu per satu. Sampai menyisakan bra dan sabuk segitga.
__ADS_1
Stacy berjalan ke hadapan Ben. Lalu mencoba memancing gairah Ben dengan beberapa sentuhan nakal. Namun Ben justru merasa risih. Sehingga dia reflek mendorong Stacy sampai terjatuh ke lantai.
"Hmm... ternyata kau menyukai cara kasar. Menarik." Stacy menarik kesimpulan. Menganggap Ben mempunyai kelainan dalam hal berhubungan intim.
Stacy perlahan berdiri sambil memasang ekspresi sangar. Tanpa diduga, dia melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Ben.
Plak!
"Bagaimana? Apa kau suka? Sekarang giliranmu, Mr. Mayers. Kau bisa melanjutkan permainan. Asal jangan sampai membunuhku saja, itu tidak masalah..." ujar Stacy seraya merebahkan diri ke atas meja. Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Ben terhadapnya.
Ben mematung setelah mendapat tamparan keras dari Stacy. Tubuhnya gemetar sebentar. Satu tangannya memegang pipi bekas kena tamparan Stacy. Tanpa diduga, Lucky akhirnya mengambil alih tubuhnya.
Lucky segera mempelototi Stacy yang masih sibuk rebahan. Wanita PSK itu menggeliatkan badan karena mulai bergairah.
"Aku sudah sering menghadapi klien sepertimu. Bahkan ada yang pernah merantai tanganku dengan besi. Ayolah, Mr. Mayers... jangan malu-malu," celoteh Stacy.
Lucky bangkit dari tempat duduk. Dia sengaja berjalan memutar meja tempat dimana Stacy sedang rebahan.
"Kenapa kau hanya sibuk memperhatikanku saja? Ayo, beraksilah. Atau tamparanku tadi belum memancing hasratmu?" pungkas Stacy sembari merubah posisi menjadi duduk.
"Apa kau berniat menamparku lagi?" tanya Lucky. Menatap Stacy dengan penuh kebencian. Satu tamparan langsung dihantamkannya ke wajah Stacy. Tamparan yang begitu keras, sampai membuat sudut bibir Stacy berdarah.
"Wow, beginikah caramu, Mr. Mayers..." Stacy mulai meragu. Apalagi setelah menerima beberapa tendangan dari Lucky.
"Aaarkkhh!!!" Stacy berusaha melarikan diri. Namun tidak bisa karena Lucky mencengkeram rambut panjangnya dengan kasar.
__ADS_1