Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 34 - Menghilang & Keonaran


__ADS_3

...༻✿༺...


Bella melirik ke arah Justin. Heran karena kekasihnya itu terus mengabaikan ponsel yang berdering.


"Kenapa tidak kau angkat? Sepertinya itu panggilan penting," ujar Bella menatap penuh selidik. Akan tetapi Justin dengan tegas menggeleng. Lalu mematikan ponsel agar tidak ada lagi panggilan masuk.


"Hanya orang iseng. Aku tidak tahu, kenapa beberapa hari ini banyak sekali nomor tidak dikenal yang menelepon. Sepertinya aku harus ganti nomor," ungkap Justin. Dia menjelaskan sambil menatap lurus ke depan. Tidak berani membalas tatapan Bella.


"Benarkah? Kalau begitu, mungkin mengganti nomor adalah opsi terbaik." Bella mencoba mempercayai Justin.


"Aku tahu." Justin mengembangkan senyuman. Dia lega Bella tidak meragukannya.


Taksi berhenti di depan gedung apartemen Justin. Namun Bella hanya bisa mengantarkan sampai depan. Lalu menyerahkan tas karton kepada Justin.


"Kau tidak mau singgah? Apa kau takut kejadian tempo hari akan terulang? Ayolah, Bella. Kau tahu--"


"Tentu tidak. Sejak tadi malam aku belum kembali ke rumah. Aku mabuk dan harus bermalam di rumah teman," jelas Bella. Tanpa sengaja memotong perkataan Justin. Membalas kebohongan Justin dengan kejujuran.


"Teman? Cecil atau Brian? Apakah ada teman yang lain?" Justin menyelidik.


"Hanya teman yang tidak peduli kepadaku. Dia bahkan tidak berminat mengantarkanku pulang. Kau tidak usah cemas. Aku tidak melakukan apapun." Bella menyentuh pipi Justin dengan lembut. Dia tahu kekasihnya itu sedang cemburu.


"Dengar, Justin. Aku akan bersiap untuk melakukannya. Tidak sekarang. Tapi secepatnya, ingat itu." Bella berujar sebelum beranjak. Dia menyempatkan diri mengecup pipi Justin. Gadis itu segera beranjak pergi dengan menggunakan taksi.


Bella mendatangi rumahnya terlebih dahulu. Ia membuka pintu dan menemukan kediamannya sangat sunyi. Bella merasa ada yang aneh. Sebab biasanya David selalu duduk di ruang tamu. Terutama ketika di pagi hari.


"Ayah? Kau dimana?" Bella memeriksa seluruh ruangan. Perasaannya mulai dirundung panik. Seberapa keras mencari, dia tidak menemukan David dimana-mana. Bahkan di halaman belakang sekalipun.


"David!" Bella memanggil nama ayahnya puluhan kali. Namun hanya ada suara gonggongan anjing tetangga yang menyahut.


Mata Bella mulai berkaca-kaca. Dia memutuskan mencari David ke area sekitar rumah. Bella takut David lupa jalan pulang ke rumah, atau tidak sengaja mengalami kecelakaan dan pingsan. Sebab terakhir kali, David pernah berjalan sendirian dan lupa dengan rumahnya sendiri.

__ADS_1


"David!" pekik Bella sambil melajukan langkahnya. Keributan yang dibuatnya membuat salah satu tetangganya menyapa.


"Ada apa, Bella? Sesuatu terjadi kepada ayahmu?" tanya Mauren. Tinggal beberapa blok dari rumah Bella.


"Aku tidak menemukan David dimanapun!" kata Bella.


"Benarkah? Astaga. Kalau begitu aku akan membantumu mencari. Jika dia belum bisa ditemukan, barulah kita laporkan kepada polisi." Mauren turun tangan untuk membantu. Dia juga tidak lupa mengajak tetangga lain ikut bersamanya.


Proses pencarian David dilakukan oleh Bella dan para tetangga. Meskipun para tetangga Bella sering kesal dengan David, akan tetapi tingkat kepedulian mereka cukup tinggi.


Ketika sibuk berkeliling, ponsel Bella berdering. Cecil baru memberitahukan bahwa Victoria sudah menunggu untuk melakukan terapi.


"Maafkan aku, Cecil. Tetapi aku tidak bisa pergi sekarang. David menghilang dan dia belum ditemukan dimana-mana. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Victoria, aku menyesal telah membuat jadwal terapinya selalu terganggu," ujar Bella dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal.


"Benarkah? maafkan aku, Bella. Aku harap David segera ditemukan. Kau tenang saja, Victoria pasti akan mengerti. Aku dan Brian akan bergabung untuk membantu," balas Cecil dari seberang telepon.


"Terima kasih, Cecil." Bella menutup panggilan telepon. Lalu melanjutkan pencarian.


Brian yang kebetulan mengikuti, menyarankan Bella untuk beristirahat. Tetapi Bella menolak, karena dia tidak mau mengulur waktu. Alhasil Brian tidak bisa berbuat apapun. Pria itu segera duduk di samping Cecil. Keduanya berada di depan rumah salah satu tetangga Bella. Tepat di bawah pohon yang rindang.


"Apakah Bella sudah lapor kepada polisi?" tanya Brian.


"Sudah, tapi polisi tidak bisa membantu jika menghilangnya David belum lebih dari 24 jam." Cecil memberitahu sambil melipat tangan di dada.


"Itu keterlaluan!" komentar Brian.


"Cara kerja polisi memang sudah begitu sejak dulu," tanggap Cecil. Dia segera beranjak untuk membantu Bella kembali.


...***...


Ben sedang berada di perusahaan. Dia kebetulan harus lembur untuk peluncuran resmi produk makanan terbaru. Ben harus memilah-milih proposal yang diajukan oleh toko, minimarket, serta supermarket yang ada di seluruh penjuru Amerika.

__ADS_1


Pintu perlahan terbuka. Sosok Justin muncul di hadapan Ben. Justin sendiri merupakan karyawan kesayangan Ben. Itu karena Justin dikenal sangat kompeten dan mampu melakukan tugas dengan baik.


Saking baiknya Ben terhadap Justin, sebagian karyawan ada yang mengira Ben diam-diam memendam perasaan kepada Justin. Apalagi memang hanya Justin yang mendapatkan perlakuan khusus dari Ben. Sedangkan karyawan lain tidak.


"Halo, Mr. Mayers. Aku tidak mengganggu bukan?" sapa Justin ramah.


"Tentu saja tidak. Kau baru saja pulang dari London?" Ben bangkit dari kursi kerja. Lalu mengajak Justin untuk duduk ke sofa.


"Benar sekali, aku baru saja pulang. Kedatanganku ke sini karena ada sesuatu yang harus segera diselesaikan." Justin memberitahu tentang niatnya.


"Aku dengar pertemuanmu dengan investor London berjalan baik. Kerja bagus, Justin. Aku heran, kenapa kau tidak pernah gagal dengan pekerjaanmu," puji Ben tulus.


"Terimakasih, Ben. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa dukungan darimu," jawab Justin. Dia dan Ben segera melanjutkan obrolan terkait peluncuran makanan terbaru. Mereka mengobrol cukup lama. Menghabiskan waktu sekitar tiga jam.


Ben dan Justin tidak hanya membahas perihal pemasaran, tetapi juga rencana pembuatan iklan yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Tanpa diduga, Oliver tiba-tiba membuka pintu. Dia tampak panik.


"Ada apa, Oliver?!" geram Ben yang merasa terganggu.


"Itu! Di luar ada rombongan geng motor yang berbuat onar. Katanya mereka ingin mencari pria yang bernama Lucky. Padahal kami sudah berapa kali mengatakan kalau tidak ada satu pun karyawan yang bernama Lucky. tapi..." ucapan Oliver terpotong ketika Ben melingus begitu saja melewatinya.


Ben bergegas menemui geng motor yang menurutnya adalah para anggota The Dark Place. Betapa terkejutnya dia saat melihat lobi perusahaan berantakan. Sepertinya salah satu anggota The Dark Place sempat mengamuk. Bahkan pihak keamanan perusahaan kalah dengan kesangaran rekan-rekan Lucky.


"Biar aku saja," ujar Ben. Mencegat kepala keamanan perusahaan yang hampir menggunakan pistolnya.


"Lucky! Kau kemana saja? Kami mencarimu dimana-mana. Ternyata kau..." Sean tidak tahu harus berkata apa. Menyaksikan penampilan Ben yang rapi dengan setelan jas membuatnya merasa aneh.


"Apa yang terjadi kepadamu?" sambung Sean terheran.


Ben memasang raut wajah tegas. Lalu menarik Sean mendekat. Dia berbisik, "Aku bukan Lucky. Tapi kembarannya. Aku dan Lucky sudah lama berpisah. Jadi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"


Sean tercengang. Dia langsung menatap nanar kepada seluruh anggota gengnya. Mereka seolah berkomunikasi dengan tatapan mata. Setelahnya, Sean diam-diam mengambil sesuatu dari kantong celana. Yaitu sebuah gunting. Salah satu benda yang dapat memicu kemunculan Lucky.

__ADS_1


__ADS_2