
...༻✿༺...
"Arrgh..." Lucky reflek mengerang ketika Bella mengobati luka di bagian betisnya. Lukanya sendiri cukup parah, karena kulit Lucky sedikit terkoyak. Memperlihatkan daging dalamnya yang terus merembeskan darah.
"Lukamu sepertinya harus dijahit. Jika tidak, maka lukanya akan semakin melebar." Bella menatap ke arah Lucky. Meminta persetujuan sebelum bertindak.
"Lakukan saja apapun. Cepat!!" ujar Lucky yang sudah kewalahan menahan rasa sakit.
Bella segera mengambil alat untuk menjahit luka di area betis Ben. Untung saja dia sempat membeli semua perlengkapan P3K di mini market.
Dengan hati-hati, Bella menjahit luka di betis Lucky. Selanjutnya dia langsung memberikan obat lagi. Kemudian barulah dibalut dengan perban.
"Sudah selesai." Bella mengusap kedua tangannya. Dia mendengus lega ketika dapat mengobati banyak orang.
Semua orang mengambil waktu untuk beristirahat. Mereka menunggu sampai merasa cukup pulih. Sedangkan Bella, dia terlihat mencuci tangan dengan genangan air es yang ada di luar.
"Lucky, aku awalnya memang membenci Dokter Red. Tapi sepertinya kehadirannya sangat berguna untuk kita," ungkap Sean sembari beringsut mendekati Lucky.
"Aku setuju. Bagaimana kita jadikan dia sebagai anggota resmi The Dark Place. Sepertinya dia sangat berbeda dengan wanita-wanita yang ada di luar sana." Will sependapat dengan Sean.
"Kalian sedang memikirkan apa?! Apa kalian lupa peraturan di geng kita? Wanita dilarang untuk dijadikan sebagai bagian anggota." Robert yang jarang bicara, mendadak angkat suara. Sejak awal dia tidak pernah menyukai kedatangan Bella. Bahkan saat gadis itu telah mengobati lukanya dengan baik.
"Aku setuju dengan Robert. Kita tidak bisa luluh begitu saja hanya karena dia memperlakukan kita dengan baik. Dia seorang dokter, tentu saja dia akan memperlakukan orang yang di obatinya dengan baik." Ternyata Lucky lebih mendukung pendapat dari Robert. Dia tidak akan semudah itu menerima Bella untuk menjadi anggota gengnya.
Setelah puas berdebat, mereka akhirnya pergi ke markas baru. Bella lagi-lagi harus dibonceng oleh Lucky. Lama-kelamaan dia mulai terbiasa menaiki motor.
"Kau bilang duniamu tadi hebat? Kau bahkan hampir membuat rekan-rekanmu sendiri meregang nyawa!" celetuk Bella dengan suara lantang. Dia masih berada di motor bersama Lucky. Suara angin yang berdebur menghantam telinga, mengharuskannya bersuara lebih nyaring.
__ADS_1
"Jangan menghinaku, Dokter. Kau masih belum melihat semuanya!" balas Lucky. Dia benar-benar ingin menunjukkan jati dirinya. Bahwasanya Lucky memiliki kehidupan yang lebih bermakna dibandingkan Ben. Sayangnya, Bella belum sedikit pun melihat adanya sisi baik dari seorang Lucky.
Setibanya di markas, Lucky dan yang lain langsung beristirahat. Kini markas baru mereka berupa bangunan tingkat tiga. Lantai pertama tampak di isi dengan cahaya redup seperti di sebuah bar.
Bella sengaja mengikuti Lucky. Dia ingin mengobrol lebih banyak. Terutama mengenai masa lalu Ben yang diketahui oleh Lucky.
"Kau harus mengganti perbanmu. Biar aku yang menggantinya," imbuh Bella. Dia terlihat sudah mengambilkan perban baru untuk Lucky.
"Bukankah perbannya baru saja diganti?" tukas Lucky dengan dahi berkerut.
"Coba kau lihat!" Bella menunjuk betis Lucky yang terluka. Perban yang terpasang tampak sudah berwarna kemerahan. Alhasil Lucky tidak punya pilihan selain menurut. Dia duduk dan menselonjorkan kakinya yang terluka.
"Aku sudah menyarankan semua teman-temanmu agar pergi berobat ke dokter yang lebih ahli. Ke klinik terdekat atau rumah sakit. Kau juga harus begitu," tutur Bella seraya membuka perban yang ada di kaki Lucky. Lalu menggantinya dengan yang baru.
Hening terjadi dalam sesaat. Bella berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Di waktu yang tepat, dia akhirnya bicara.
"Apa itu berarti, kau juga membenci ibumu?" tanggap Lucky.
"Juga?" Ada satu kata yang menarik perhatian Bella. Tetapi hal itu belumlah cukup untuk menemukan kesimpulan yang pasti. "Aku memang sedikit membencinya. Tetapi bukan berarti aku akan memarahi atau memukulinya saat bertemu," jelasnya.
"Kau seharusnya membunuhnya saja. Persis seperti apa yang aku lakukan," kata Lucky. Menyebabkan mata Bella sontak terbelalak.
"Ka-kau... membunuh ibumu?" Bella tercengang.
"Benar, aku dahulu sangat pandai berpura-pura menjadi Ben. Hanya tinggal bersikap seperti orang bodoh." Lucky akhirnya terpancing untuk menceritakan segalanya.
"Aku dan Ben selalu sendiri. Aku awalnya selalu berusaha membantunya, tetapi ketika suatu hari aku mengetahui dia ingin menyingkirkanku, aku tidak terima. Makanya sekarang aku menunjukkan jati diriku kepada semua orang. Termasuk dirimu," terang Lucky panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi..." Bella tidak bisa berkata-kata. Dia ingin mengatakan semua yang telah diperbuat Lucky salah besar. Lucky tidak seharusnya membunuh banyak orang. Terutama jika kesalahan orang-orang tersebut bukanlah hal besar.
"Bagaimana jika ibumu tidak bersalah? Kenapa kau tidak pernah berpikir kalau dia--"
"Dia membunuh suaminya sendiri, Dokter! Menembaknya tepat di kepala. Elly mendapatkan balasan yang sepadan!" tegas Lucky. Dia sengaja memotong ucapan Bella. Lalu perlahan berdiri.
Terlihat ada lima rekan Lucky yang baru saja datang. Mereka membawa koper besar misterius.
"Apa itu?" tanya Bella sembari mengamati koper yang dipegang oleh rekan Lucky.
"Pundi-pundi uang kami. Pembunuhan yang kami lakukan selalu menghasilkan untung. Kita akan menjualnya di dark web," ujar rekan Lucky yang bernama Riley itu.
"Buka kopernya, Riley! Sepertinya Dokter ingin melihatnya!" perintah Lucky.
Riley lantas membuka resleting koper. Terpampanglah potongan daging manusia yang berlumuran darah.
"Aaaarkkhh!" Bella reflek menutup mata. Itu keterlaluan baginya. Sadis, begitu sadis! Dia tidak menyangka bisa menemui manusia yang tega melakukan hal tersebut.
Dari pengamatan Bella, mayat yang ada di dalam koper adalah Stacy. Jasad wanita yang sempat dia lihat di apartemen Ben. Sekarang Bella setidaknya tahu, bagaimana Lucky menyingkirkan orang-orang yang telah dibunuhnya. Yaitu dengan cara dijual ke laman website ilegal yang sering disebut dark web.
Lucky dan kawan-kawan tertawa menyaksikan Bella ketakutan. Rasa mual menyelimuti Bella. Dia tidak kuat lagi. Hingga cairan dari perutnya keluar begitu saja.
"Cepat tutup dan bawa koper itu menjauh. Dokter Red sudah tidak tahan lagi," ujar Lucky.
Bella memegangi perutnya. Setelah melihat bagaimana dunia Lucky, dia mendadak membulatkan tekad. Bella akan memperbaiki sudut pandang Lucky. Tidak! Bukan hanya Lucky. Melainkan semua orang yang ada di The Dark Place. Bella tidak mau semakin banyak korban yang bertambah. Bella hanya perlu menemukan titik kelemahan yang dapat dimanfaatkan.
"Wow, kalian luar biasa..." Bella mencoba bersikap baik-baik saja. Padahal yang ada dalam pikirannya tidak ada hal lain selain ingin lekas-lekas pulang.
__ADS_1
"Apa kau menyukai itu, Dokter? Kau tidak takut? Lucky kebetulan lebih sering membunuh wanita dibanding lelaki," seru Robert. Berupaya menakut-nakuti Bella. Dia puas melihat Bella ketakutan.