
...༻✿༺...
Bella menggigit bibir bawahnya. Kedua kakinya menggeliat tidak karuan. Sentuhan Ben rasanya membuat seluruh badannya menggila.
"Ben..." panggil Bella lirih. Membuat Ben berhenti melakukan cumbuannya sejenak. Pria itu mendongak untuk menatap Bella.
"Kau seperti sudah berpengalaman..." ujar Bella.
Ben lantas mendekatkan wajah. "Aku memang tidak pernah menyentuh wanita. Tapi bukan berarti aku tidak tahu caranya..." tuturnya.
Bella tertawa kecil sambil memegangi salah satu pipi Ben. "Lewat sebuah film atau video por*no maksudmu?"
Ben memutar bola mata sembari tersenyum. "Apa kita akan terus mengobrol atau melanjutkan yang tadi?" tanya-nya. Mencoba merubah topik pembicaraan.
"Kau benar... lanjutkan saja..." sahut Bella pelan.
Ben perlahan menenggelamkan wajah ke ceruk leher Bella. Mengulum kulit putih Bella sampai puas. Sehingga memberikan tanda merah yang khas.
Ben melakukan pemanasan cukup lama. Usahanya sukses besar. Sebab organ intim Bella telah mengeluarkan pelumas yang banyak.
"Lakukanlah, Ben. Aku ingin kau melakukannya..." titah Bella dengan nada lirih.
Ketika sudah mendapatkan persetujuan dari Bella, Ben segera melakukan penyatuan. Saat itulah keduanya reflek mengangakan mulut. Lagi-lagi mereka berciuman bibir. Ben mulai melakukan pergerakan.
Bella terpaksa melepaskan ciumannya dari Ben. Dia tidak kuasa menahan lenguhan. Hal serupa juga dilakukan oleh Ben. Mereka mengerang saling sahut-menyahut.
Bella terus melakukan kontak mata kepada pria yang ada di atas badannya. Entah kenapa Bella merasakan sedikit deja vu. Meskipun begitu, dirinya tidak ingin Ben berhenti.
Bertepatan dengan itu, ponsel Bella tiba-tiba berdering. Nama Justin tertera di layar ponsel. Akan tetapi Bella sama sekali tidak peduli. Ia justru sibuk mendesaah sambil sesekali mengelukan nama Ben.
Ben juga tidak rela Bella berurusan dengan panggilan telepon. Jadi dia melakukan pergerakan lebih cepat. Upayanya berhasil membuat seluruh tubuh Bella begetar hebat. Bella terpaksa berpegangan erat ke punggung Ben. Tangannya yang lentik dan berhiaskan kotek berwarna biru tua merekah di sana.
Lama-kelamaan erangan Bella kian menjadi-jadi. Dia seolah tidak bisa mengambil waktu istirahat. Namun Bella malah menikmati momen tersebut.
__ADS_1
"Ben!" panggil Bella dengan wajah yang sepenuhnya memerah. Dahinya menampakkan garis-garis tajam akibat dari kenikmatan yang dia rasakan.
Ponsel masih saja berdering. Justin sudah melakukan panggilan lebih dari sepuluh kali, dan itu sepertinya terus berlanjut sampai Bella sudi mengangkat telepon.
Sementara di depan pintu kamar Ben, ada dua karyawan Foodton yang menekan bel. Mereka adalah Gilbert dan Tessa. Keduanya hendak memberikan sesuatu kepada Ben dan juga Bella. Yaitu makanan khas Hawai yang sempat dibeli mereka dari luar.
Sayangnya, berulangkali Gibert dan Tessa menekan bel pintu, Ben tidak kunjung membuka. Kini mereka berubah haluan ke kamar Bella.
Tessa hampir saja menekan bel pintu, namun Gilbert sigap menghentikan.
"Tunggu! Apa kau dengar itu?" ujar Gilbert sembari menempelkan telinga ke pintu. Pendengarannya sepertinya cukup tajam, sampai mampu mendengar suara lenguhan Bella dan Ben yang agak samar. Suara surga itu tidak akan terdengar, jika tidak didengarkan baik-baik.
"Kenapa?" Tessa otomatis ikut menempelkan kuping ke pintu kamar Bella. Benar saja, dia dapat mendengar kegiatan dari pasangan yang sedang bercinta.
Tessa dan Gilbert reflek saling menatap. Mata mereka sama-sama membelalak tak percaya.
"Apa kau memikirkan yang aku pikirkan?" Gilbert memastikan.
Di dalam kamar, Ben dan Bella masih bersenggama. Sesekali mereka akan menyatukan bibir. Entah sudah berapa kali keduanya saling berciuman. Sekarang jumlah itu tak terhitung.
Bella dan Ben sudah bermandikan keringat. Menyebabkan tubuh mereka sedikit mengkilap. Rambut mereka juga terlihat sudah setengah basah.
"Ben..." Bella memanggil Ben dengan suara lemah. Dia semakin mengeratkan pelukan. Kedua kakinya bahkan ikut melingkar di pinggul Ben.
Ben sudah mencapai puncak. Selanjutnya, dia memelankan pergerakan. Hingga akhirnya Ben melepaskan diri dari Bella. Kini keduanya telentang berdampingan. Ditutupi oleh selimut yang tersedia. Mereka sibuk mengatur deru nafas masing-masing.
Bella merasa tubuhnya jadi lemas. Dia memejamkan mata dan terus mengabaikan ponsel yang berdering.
"Ponselmu masih berdering. Orang yang menelepon sepertinya sangat gigih," cetus Ben. Tetapi Bella malah terkekeh.
"Aku masih malas berdiri, Ben. Bisakah kau mengambilkannya untukku," ujar Bella sambil meletakkan satu tangan ke atas dahi.
Ben lantas bangkit. Lalu mengambil ponsel Bella dari atas nakas. Dia menyempatkan diri melirik nama orang yang menelepon.
__ADS_1
Kening Ben mengernyit, tatkala menyaksikan nama Justin tertera. Walaupun begitu, Ben beranggapan Justin yang menelepon Bella bukanlah kenalannya. Dia yakin, di dunia ini ada banyak manusia yang memiliki nama Justin.
"Terima kasih," ucap Bella. Ponselnya sekarang telah berada di tangan. Namun dia meragu untuk mengangkat telepon. Terutama setelah melihat nama Justin. Bella memutuskan menonaktifkan ponselnya.
"Kau kenapa malah mematikannya?" tegur Ben yang kebetulan memergoki tindakan Bella.
"Tidak penting." Bella menjawab singkat. Kemudian menoleh ke arah Ben. Pria tersebut telentang sembari menopang kepala dengan satu tangan. Mereka bertukar pandang sejenak.
Bella sempat lupa diri. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Dia lekas-lekas membuang muka. Bella merasakan ada yang berbeda dengan tatapan Ben. Jantungnya tambah berdegub kencang, ketika Ben tidak berhenti memandanginya.
"Kenapa kau terus menatapku? Kau tidak mungkin jatuh cinta karena kegiatan tadi bukan?" timpal Bella. Menyebabkan keterpakuan Ben sontak tersadar.
"Tentu saja tidak!" dengan cepat Ben mengalihkan pandangan. Ia berusaha bersikap tenang.
"Ya, aku yakin begitu..." Bella mencoba memahami. Perlahan dia memeluk Ben dari samping. Menjadikan dada bidang pria itu sebagai bantalan kepala. Keduanya sempat tertidur sebentar.
...***...
Waktu menunjukkan jam lima pagi. Ben dan Bella sudah sama-sama terbangun. Mereka sedang sibuk bercinta untuk yang kedua kalinya.
Saat kegiatan intim berakhir, hanya ada nafas yang sulit di atur. Bella terpaku menatap langit-langit pelafon. Hal yang sama juga dilakukan Ben.
"Aku sebaiknya kembali ke kamar," ungkap Ben seraya beringsut ke ujung kasur. Lalu mengenakan celana pendek. Matanya tidak sengaja tertuju ke arah benda yang tergeletak di lantai. Benda tersebut tidak lain adalah gunting. Entah sejak kapan gunting itu ada di sana. Yang jelas Ben baru menyadarinya.
Ben tiba-tiba mematung. Dia hampir mengingat sesuatu di dalam pikirannya. Tetapi harus gagal, karena Lucky langsung mengambil alih.
Raut wajah yang tadinya cerah dan bahagia, berubah drastis menjadi cemberut. Sosok Lucky mendadak muncul di waktu yang tidak tepat.
Lucky dibuat begitu kaget dengan keadaan dirinya yang telanjang dada. Belum lagi sosok Bella yang telentang ditutupi oleh selimut. Lucky juga melihat pakaian Ben dan Bella berserakan di lantai.
"What the fu*cck, Ben!" Lucky mengepalkan tinju di salah satu tangan. Matanya menyalang penuh akan kebencian. Tanpa pikir panjang, Lucky mencengkeram kuat leher Bella.
Bella yang tadinya terpejam, langsung membuka lebar matanya. Bagaimana tidak? Dia merasakan tenggorokannya tercekat hebat.
__ADS_1