
...༻✿༺...
Sebelum pergi, Bella menyempatkan diri mengambil kunci mobil dari saku celana Brian. Tindakannya tentu membuat Brian bingung. Apalagi Bella masih dalam keadaan mengenakan gaun pengantin.
Belum sempat Brian bertanya, Bella sudah terlanjur pergi mengendarai mobil. Beberapa saat kemudian, Justin terlihat mengejar. Lelaki itu menggunakan mobilnya sendiri.
"Cecil! Apa yang terjadi?!" tanya Brian.
"Ikut aku! Kita juga harus ikut!" Cecil menarik Brian untuk ikut. Mereka meminjam salah satu mobil dari kerabat dekat. Cecil menjelaskan semuanya kepada Brian saat dalam perjalanan.
Brian merasa sangat tertipu dengan sikap Justin. Sekarang dia hanya ingin melayangkan bogem ke wajah lelaki sialan itu.
Bella menjadi orang yang mengendarai mobil paling depan. Ia tahu Justin mengikuti. Jadi Bella berusaha keras untuk menjauh. Salah satu tangannya bergerak untuk meletakkan ponsel ke telinga.
Bella berusaha menghubungi Jimmy. Berniat mencari tahu lokasi keberadaan Ben sekarang.
"Dia ada di rumah sakit jiwa Santa Maria. Aku kebetulan belum bisa ke sana karena perusahaan sedang banyak mengalami kendala. Katanya Ben baru saja mendapat pemeriksaan. Dia akan tinggal di rumah sakit jiwa untuk sementara. Dokter, kau bisa lakukan sesuatu untuk menolong Ben bukan?" ujar Jimmy dari seberang telepon.
"Aku akan berusaha, Jimmy. Aku dalam perjalanan ke sana sekarang!" sahut Bella. Dia segera kembali fokus mengemudi.
Selang sekian menit, Bella tiba di tempat tujuan. Keberadaannya langsung menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Dia masih mengenakan gaun pengantin.
Dari arah belakang Justin ikut menghentikan mobil. Ia sepertinya bertekad membujuk Bella. Lelaki itu berlari secepat mungkin untuk mengejar.
"Dimana pasien yang bernama Ben Mayers?" tanya Bella kepada resepsionis yang berjaga.
"Ah, pasien itu baru saja pergi. Dia dalam perjalanan menuju ruangan nomor 101," jawab sang resepsionis sembari menunjuk jalan yang sudah dilewati oleh Ben.
"Ada perlu--" resepsionis tidak jadi berucap, karena Bella berlalu begitu saja. Dia otomatis panik. Sebab rumah sakit jiwa bukanlah tempat yang bisa dimasuki semudah itu.
"Nona, berhenti!" pekik si resepsionis. Dia segera memanggil pihak keamanan yang bertugas. Saat itulah Justin juga melingus masuk melewatinya. Diteruskan oleh Brian dan Cecil selanjutnya. Orang-orang yang harus di urus pihak keamanan menjadi bertambah.
__ADS_1
Bella berlari sambil mengangkat gaun pengantin. Walau kerepotan, dia tetap memaksakan diri untuk menemui Ben.
Dari kejauhan, Bella dapat menyaksikan punggung Ben yang terus melangkah maju. Pria itu terlihat sudah mengenakan setelan rumah sakit.
"Ben!!!" teriak Bella. Membuat Ben dan dua perawat yang bersamanya sontak menoleh.
"Dokter Red?" Ben terkesiap melihat kehadiran Bella. Dia berbalik badan dan memperhatikan gadis itu. Meski sedang sakit hati, Ben masih sempat terpesona. Apalagi keadaan Bella sekarang sedang mengenakan gaun pengantin yang indah.
"Tunggu aku!" seru Bella seraya bergegas menggerakkan kakinya. Tanpa diduga sebuah tengan mencegat pergerakannya. Siapa lagi kalau bukan Justin.
"Apa yang kau lakukan, Bella? Kita harus menikah! Kenapa kau malah datang ke sini?" pungkas Justin dengan tatapan penuh kegetiran.
"Lepaskan!" Bella menghempaskan tangan Justin sekuat tenaga. Hingga pegangan lelaki itu seketika terlepas. "Mulai sekarang aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Hubungan kita berakhir!" lanjutnya, menegaskan.
Justin tercengang. Bola matanya memutar jengah. "Apa kau memilih orang gila itu dibandingkan aku? Ben itu sakit jiwa, Bella! Sakit jiwa!" geramnya yang tidak terima akan keputusan Bella.
Plak!
Dengan langkah cepat, Bella segera menghampiri Ben. Lalu mencium bibir Ben dengan perasaan tulus.
Ben awalnya terkejut. Dia tidak mengerti dengan masalah yang terjadi di antara Bella dan Justin. Meskipun begitu, Ben tidak bisa menolak ciuman Bella.
Dua perawat yang ada di dekat Ben, terpaksa menjauh. Dia tidak bisa menghentikan apa yang dilakukan oleh Bella dan Ben.
Sementara di kiri dan kanan lorong, terdapat beberapa orang gila yang dikurung. Mereka sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi. Orang-orang gila itu memberikan tanggapan berbeda-beda. Ada yang tersenyum sendiri, terpelongo, bahkan marah-marah tidak jelas. Baik Ben maupun Bella, keduanya sama-sama tidak peduli. Toh para orang gila itu tidak bisa keluar dari tempatnya.
Perlahan Ben melepaskan tautan bibirnya dari Bella. Dia butuh penjelasan secepatnya. Keningnya mengernyit samar.
"Aku juga mencintaimu, Ben. Maaf, karena aku sempat meragukanmu..." Seakan tahu tentang apa yang ingin ditanyakan Ben, Bella langsung angkat bicara. Perkataannya sukses membuat Ben tersenyum.
Ben lantas kembali memadukan mulutnya dengan bibir Bella. Mereka terus berciuman. Sesekali keduanya akan memiringkan kepala agar bisa saling berpagutan dengan leluasa. Mereka bahkan mengabaikan tempat dan orang-orang di sekitar. Termasuk Justin yang kebetulan masih ada di sana.
__ADS_1
Justin mengepalkan tinju di kedua tangannya. Dia sudah tidak tahan melihat kemesraan Bella dan Ben.
Justin bergegas berjalan ke arah Ben. Ia berniat memukuli pria itu sampai puas. Namun baru setengah jalan, seseorang menarik bagian belakang bajunya. Hingga langkah kaki Justin otomatis terhenti.
"Kau benar-benar sialan!" Orang yang mencekal kepergian Justin tidak lain adalah Brian. Dia dan Cecil akan membayar kesalahan mereka.
"Kalian tidak perlu ikut campur!" hardik Justin sambil berusaha melepas cengkeraman Brian.
"Kau sangat menjijikan, Justin! Kami benar-benar tertipu!" tukas Cecil. Matanya mengedar ke sekeliling. Sampai atensinya tertuju ke arah pintu dengan kunci yang masih menempel.
Setelah memastikan, pintu itu ternyata merupakan tempat masuk menuju peristirahatan para pasien sakit jiwa. Cecil tersenyum dan berbisik ke telinga Brian.
"Ah, ide brilian, Cecil! Aku pikir Justin harus berkenalan dengan teman-teman baru." Brian menyeret Justin masuk ke dalam peristirahatan para orang gila. Dia mendorong sampai Justin terjatuh ke lantai.
"Arrgh! Cepat keluarkan aku!" Justin segera berdiri dan berlari ke pintu. Akan tetapi Cecil sudah terlanjur menutup pintu lebih dulu. Pintunya sendiri berupa jeruji besi seperti di penjara.
Tanpa disangka, dua orang gila terlihat mendekat dari arah belakang Justin. Yaitu dua wanita gila bergigi ompong. Mereka berupaya membawa Justin menjauh dari pintu.
Justin ketakutan bukan kepalang. Dia memohon dengan tersedu-sedu kepada Cecil dan Brian. Tetapi dua orang itu justru cekikikan. Apalagi saat dua wanita gila menciumi pipi Justin beberapa kali.
"Aaarkkkhh! Cepat keluarkan aku! Tolong! Tolong aku!" pekik Justin seraya menjauhkan dua wanita gila yang terus mendekatinya.
Mendengar keributan yang terjadi, Bella dan Ben berhenti berciuman. Keduanya reflek menoleh ke lokasi Brian, Cecil dan Justin berada.
"Lihatlah Justin! Orang-orang gila itu tidak berbahaya bukan?" cetus Ben. Tangannya dan Bella bertautan erat.
"Tentu tidak. Orang-orang gila yang berbahaya tidak akan dimasukkan ke dalam tempat peristirahatan seperti itu. Mereka punya ruangan khusus," ujar Bella. Dia dan Ben tergelak kecil bersama.
"Kaulah yang berbahaya, Mr. Mayers." Bella menarik kerah baju Ben. "Maka dari itu, kau harus ikut denganku!" sambungnya. Bella punya rencana brilian untuk membantu Ben. Bukan hanya demi menyembuhkan penyakit jiwa, tetapi juga memperbaiki reputasi Ben.
"Apapun untukmu, Dokter Red." Kini senyuman cerah Ben kembali.
__ADS_1