Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 65 - Kemurkaan Lucky


__ADS_3

...༻✿༺...


Suara lenguhan Bella dan Ben terdengar sahut menyahut. Mereka melakukan pemanasan sangat lama. Hingga keintiman yang terjadi begitu terasa. Keduanya merasakan gairah yang menggebu.


Bella terduduk di atas wastafel. Dalam keadaan kaki yang melingkar ke pinggul Ben. Membiarkan pria itu bergerak maju mundur berulang kali.


Kenikmatan yang dirasakan Bella dan Ben sungguh tiada tara. Walau lelah, Bella belumlah merasa puas. Hal yang sama juga dirasakan Ben. Aktifitas mereka berakhir, selepas keduanya sudah saling terpuaskan.


Bella dan Ben sekarang mandi bersama di bawah pancuran air shower yang mengalir. Keduanya tidak berhenti saling memancarkan tatapan penuh cinta.


Bruk!


Pintu kamar mandi terbuka begitu saja. Bella berlari keluar sambil tertawa. Di belakangnya ada Ben yang mengejar tanpa menutupi badannya dengan apapun.


"Berikan handuknya kepadaku, Bella!" seru Ben sembari menutupi alat vitalnya. Dia terpaksa menutupi tubuhnya dengan bantal sofa.


Bella sengaja mengambil semua handuk yang ada di kamar mandi. Dia juga mengenakan handuk kimono Ben yang kebetulan hanya ada satu.


"Kau terlihat sangat tampan, Ben." Bella berucap sambil tidak berhenti tertawa lepas.


Menyaksikan Bella tertawa, Ben terpaku sejenak. Hingga tawa gadis itu akhirnya menular kepadanya.


"Aku memang tampan. Kau tahu itu." Ben memilih berlagak sombong. Menyebabkan Bella otomatis mendekat. Ia mengusapkan handuk ke beberapa bagian badan Ben dengan hati-hati.


"Ya, kau sangat tampan!" Bella sudah melilitkan handuk ke pinggul Ben. Lalu mengecup salah satu pipi lelaki yang telah menjadi kekasihnya tersebut.


Ben hanya tersenyum. Kemesraannya dengan Bella terus berlanjut sampai Jimmy menelepon. Sekretarisnya itu memberitahu kalau Billy ingin segera bertemu.


Bella dan Ben harus berpisah sebentar. Bella akan mempercayakan Jimmy untuk menjaga Ben. Gadis itu memberikan penjagaan yang cukup jeli.


Kini Ben baru memasuki restoran dimana Billy sudah menunggu. Dia dapat menyaksikan Billy tidak sendiri. Ada Justin yang terlihat duduk di sampingnya.

__ADS_1


Ben ikut bergabung ke meja Billy dan Justin. Mereka saling membisu sejenak. Sampai Ben memutuskan untuk angkat suara terlebih dahulu.


"Aku akan menyerahkan 70% warisanku dengan sukarela. Termasuk perusahaan Foodton," ujar Ben. Membuat Billy dan Justin sontak membulatkan mata. Mereka tidak pernah menduga Ben akan membuat keputusan seperti itu.


"Kau tidak bercanda bukan?" Billy memastikan. Matanya masih dalam keadaan membuncah hebat.


"Tentu tidak. Aku akan memberikan sebagian besar hak waris kepadamu, Billy. Tepat setelah aku melakukan beberapa pendatanganan berkas," terang Ben. Ekspresinya terkesan tenang. Pertanda kalau dia serius terhadap ucapannya.


"Tapi maaf, aku perlu menyisakan 30% untuk diriku sendiri. Tidak masalah bukan?" Ben menatap ragu ke arah Billy.


"Itu--"


"Tidak! Tentu saja tidak apa-apa! Aku sangat senang dengan keputusanmu, Ben. Terima kasih." Tanpa sengaja Billy memotong perkataan Justin. Dia merasa sangat senang bukan kepalang. Billy bahkan sempat saling bersalaman dengan Ben. Sikapnya berubah drastis karena hanya harta warisan.


"Selamat menikmati." Ben mengakhiri diskusinya dari Billy dan Justin. Ia segera pergi dari restoran bersama Jimmy. Seringai terukir di wajah Ben.


Ketika hendak memasuki mobil, atensi Ben tidak sengaja tertuju ke seberang jalan. Di sana terdapat anak kecil yang bermain bisbol. Alat pemukul bisbo membuat Ben terkesiap. Setelah sekian lama, akhirnya sosok Lucky kembali muncul. Dia langsung merebut kunci mobil dari Jimmy. Lalu melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.


...***...


Lucky menghentikan mobil di depan markas The Dark Place. Dia menemui rekan-rekannya. Lucky mengajak semua orang untuk membunuh Bella. Ia ingin Robert dan yang lain membantunya mencari lokasi Bella sekarang.


"Lucky, kenapa sangat tiba-tiba?" tanya Liam. Dia yang terlanjur mengagumi Bella, tentu berusaha melindungi.


"Dokter Red sudah menghancurkan segalanya! Dia membuat Ben lemah! Aku tidak suka itu!" tegas Lucky. Raut wajahnya tampak masam. Memerah dan penuh amarah.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?! Jangan bilang kalian tidak mau membantuku?!" timpal Lucky. Dia merasakan aura yang berbeda dari semua teman-temannya. Seluruh rekan-rekannya tersebut tampak menundukkan kepala.


"Ah... sekarang aku tahu. Sepertinya Dokter Red juga berhasil mempengaruhi kalian. Bukankah aku sudah bilang?! Jangan mempercayai wanita begitu saja!!!" pekik Lucky. Nafasnya mulai memburu akibat pitam yang memuncak.


"Dia tidak sejahat yang kita kira selama ini, Lucky. Kami malah menemukan kebahagiaan. Kau juga harus merasakannya," ucap Robert. Namun dia justru mendapatkan tinju dari Lucky.

__ADS_1


Bruk!


Robert terjatuh ke lantai. Belum sempat dia berdiri, Lucky sudah memberikan serangan tinju bertubi-tubi. Saat itulah Bella datang. Sengaja memainkan musik jazz dari ponselnya.


Mendengar bunyi derap langkah dan musik, Lucky lantas menoleh ke sumber suara. Matanya melotot ke arah Bella. Tanpa pikir panjang, dia segera mengambil botol bir dan memecahkannya ke dinding. Lucky berniat menghujam Bella dengan botol yang sudah berubah menjadi tajam tersebut.


"Larilah, Dokter!" perintah Liam. Dia dan tiga orang lainnya menghentikan pergerakan Lucky. Akan tetapi Bella tidak bergeming. Gadis itu tetap mematung di tempat. Seakan tidak takut dengan kemarahan Lucky.


"Aaarghhh!!! Lepaskan aku!!!" geram Lucky sembari melepaskan cekalan Liam dan kawan-kawan.


Melihat Ben tidak kunjung kembali, Bella meninggikan volume musik jazz yang terputar. Namun anehnya Lucky masih saja mengamuk. Musik jazz sepertinya tidak mempan lagi untuk menaklukkan Lucky.


Bella diserang rasa panik. Dia tidak punya pilihan selain menghampiri Lucky.


"Pegangi Lucky dengan kuat!" titah Bella. Suruhannya segera dituruti oleh para anggota The Dark Place.


Tanpa basa-basi, Bella memberikan sebuah ciuman bibir ke mulut Lucky. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Lucky sigap menggigit bibir Bella dengan kuat. Sehingga bibir gadis itu sekarang mengeluarkan darah yang banyak. Ben belum juga kembali!


"Dokter Red!" Liam mencemaskan Bella. Dia melepaskan pegangannya dan memilih memeriksa keadaan Bella. Hal serupa juga dilakukan oleh Robert, Sean dan beberapa orang lainnya. Tanpa sadar, mereka melupakan Lucky.


"Hahahaha! Kalian sangat bodoh!" Lucky merasa geli menyaksikan kepedulian Robert dan kawan-kawan terhadap Bella. Dia reflek mendorong orang-orang yang memeganginya tadi. Kini Lucky berdiri tegak tanpa dipegangi oleh siapapun. Menatap Bella yang sibuk mengelap ceceran darah dari bibir.


"Jangan harap kali ini aku akan melepaskanmu, Dokter!" teriak Lucky seraya berlari menghampiri Bella. Dia berhasil menusuk bahu Bella dengan pecahan botol kaca. Pergerakannya yang tiba-tiba, membuat Robert dan kawan-kawan tidak mampu lagi menghentikan.


Bella terjatuh ke lantai. "Cari tali, dan ikat Lucky!!" perintahnya sambil memegangi bahu yang sudah terluka.


Sebelum serangan Lucky bertambah parah. Seluruh anggota The Dark Place akhirnya turun tangan. Ada sekitar sepuluh orang yang memegangi Lucky. Setelah menemukan tali, mereka segera mengikat Lucky ke kursi dan mengurungnya di sebuah ruangan.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Beberapa bab lagi kemungkinan novel ini akan tamat ya. Makasih buat yang masih betah 😘


__ADS_2