
...༻✿༺...
"Yang ketiga adalah... apa kau sekarang merindukannya? Maksudku, kau ingin membuatnya terus berada di sampingmu." Salah satu alis Justin terangkat.
Ben tertohok. Dia tidak bisa berkata-kata. Sebab apa yang dikatakan Justin memang dirasakannya. Perasaan yang dirasakan Ben serba salah. Jika jauh malah rindu, tetapi ketika dekat perasannya tidak karuan.
"Aku akan menganggap diamnya dirimu sebagai kata iya." Justin menyimpulkan. Lalu menenggak wine dari dalam gelas.
"Bagaimana denganmu? Apa kau punya wanita yang sedang kau cintai? Apa kau juga merasa sepertiku?" Ben melayangkan pertanyaan beruntun. Dia ingin mendengarkan cerita asmara Justin.
"Awalnya iya, tetapi setelah wanita itu menjadi milikku, aku bisa tenang. Tetapi sayang, dia berbeda dari wanita pada umumnya. Sampai sekarang dia selalu menolak untuk tidur denganku." Seperti halnya Ben, Justin juga memutuskan menceritakan keluh kesahnya.
"Mungkin dia perlu waktu..." tanggap Ben. Mencoba menghibur Justin.
"Waktu? Lebih dari satu tahun maksudmu?" Justin menggelengkan kepala. Mendengus kasar saat mengingat bagaimana hubungannya dengan Bella. "Karena itulah aku harus melampiaskannya dengan wanita lain. Kau tahu bukan? Hasrat tidak bisa ditahan," sambungnya. Membeberkan cerita tentang perselingkuhannya sendiri.
"Apa?! Kenapa kau melakukannya?" Ben tercengang.
"Sudah kubilang, aku tidak tahan. Tapi bukan berarti aku tidak mencintai pacarku. Namanya Bella. Kami bertemu saat masih kuliah," ujar Justin. Memutuskan menyebut nama Bella kepada Ben. Namun sayang, Ben tidak tahu kalau Bella yang disebut Justin adalah Red Rose.
"Kau sebaiknya berhenti selingkuh. Kalau pacarmu tahu dia pasti akan meninggalkanmu," cetus Ben. Memberikan nasehat.
"Tidak ada yang tahu, Ben. Kau orang pertama yang kuberi tahu. Anggap saja kita impas, karena kau tadi juga menceritakan rahasiamu." Justin tersenyum. Dia segera menikmati steak yang baru disuguhkan pelayan.
"Oke, sekarang bisakah kau membantuku? Aku tidak mau perasaanku terhadap wanita itu menjadi terlampau serius. Apa kau punya saran?" Ben bertekad melupakan Bella. Selain demi terapinya, tetapi juga untuk ketenangan hidup.
"Aku punya ide! Bagaimana jika kau melakukan hubungan intim lagi. Tapi bukan kepada wanita itu. Maksudku wanita lain," usul Justin.
Mata Ben membulat sempurna. Dia sebenarnya ingin menolak mentah-mentah usulan Justin. Namun di sisi lain, saran dari Justin memang tidak ada salahnya.
"Kau tidak apa-apa bukan, jika melakukannya dengan wanita penghibur. Aku akan pesankan yang seksi," bisik Justin sambil terkekeh.
__ADS_1
Ben membisu cukup lama. Dia memikirkan baik-baik keputusan yang tepat. Hingga kata 'baiklah' keluar dari mulutnya.
Justin tersenyum lebar. Ia segera memesankan seorang wanita penghibur untuk menghabiskan malam dengan Ben.
"Kau sekarang benar-benar normal, Mr. Mayers!" Justin menepuk pelan pundak Ben.
"Maksudmu sebelumnya aku tidak normal?" balas Ben dengan mimik wajah cemberut. Akan tetapi Justin hanya tergelak kecil.
Akibat saling menceritakan masalah pribadi, hubungan Ben dan Justin semakin akrab. Mereka bahkan sering berjalan bersama ketika berada di perusahaan. Gosip miring kembali menyelimuti Ben. Orang-orang menyebut Ben sudah mendapatkan hati Justin. Berita hoax memang selalu mengada-ngada.
Di balik semua gosip Ben, ada seseorang yang selalu berusaha terus mencari tahu kelemahan Ben. Yaitu kakak tiri Ben. Pewaris asli yang seharusnya menduduki posisi CEO perusahaan Foodton. Namanya adalah Billy. Dia tidak terpilih menjadi pewaris karena bakatnya berada jauh di bawah Ben.
Billy selalu berusaha menjatuhkan Ben. Dari mulai mendekati karyawan perusahaan, sampai menyebarkan berita miring tentang produk Foodton. Untungnya Ben dapat menutupi kelemahannya sampai sekarang.
...***...
Bella baru selesai melakukan terapi dengan Victoria. Dia tidak lupa memberikan resep obat anti-depresan untuk pasien cantiknya itu.
Kini Bella membaca riwayat terapi yang pernah dilakukan Ben. Ada sesuatu yang janggal di beberapa dokumen tersebut. Seperti adanya proses terapi yang terhenti secara tiba-tiba. Padahal dari riwayat yang tertera, Ben melakukan proses terapi dengan cukup baik.
"Apa semua ini karena Lucky?" gumam Bella yang mendadak penasaran. Dia segera memanggil Cecil dan menanyakan nomor telepon Jimmy.
Bella langsung menghubungi Jimmy dengan telepon. Dia ingin bicara empat mata secara serius. Untung saja Jimmy sedang tidak sibuk. Jadi dia punya waktu untuk menemui Bella. Mereka akan bertemu di sebuah cafe yang ada di pusat kota.
Langkah dilajukan oleh Bella. Dia kali ini berjalan kaki di jalanan trotoar. Tanpa diduga, sebuah tangan memegangi pundaknya. Bella otomatis berbalik badan. Sosok Corine menyambut penglihatan.
"Lama tidak bertemu," sapa Corine dengan senyuman palsunya. Bella tentu saja dapat menyadari hal itu.
"Tentu saja. Karena aku memang tidak berminat bertemu denganmu." Bella tak mau kalah. Dia bergegas meninggalkan Corine. Sebab memang tidak ada hal yang ingin dirinya bicarakan dengan wanita itu.
"Tunggu!" Corine mencegah. Ia menangkap lengan Bella.
__ADS_1
"Kau mau apa?!" Bella lekas-lekas menarik tangannya dari genggaman Corine.
"Aku hanya mau memberitahu." Corine semakin mendekat. Lalu berbisik, "Justin selingkuh darimu. Aku lihat wanita yang bersamanya sangat cantik."
Bella menggertakkan gigi kesal. Ia langsung mendorong Corine. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Corine mengatakan tentang perselingkuhan Justin. Yang jelas, Bella lebih mempercayai Justin dibandingkan Corine.
"Bilang saja kau cemburu! Aku tahu kau masih menyukai Justin! Enyahlah dari kehidupan kami!" hardik Bella sembari melajukan langkahnya untuk menjauh dari Corine.
"Baiklah kalau kau tidak percaya! Aku hanya mau bilang, kalau wanita itu sangat, sangat, dan sangat cantik! Aku yakin dia dan Justin sering tidur bersama!" seru Corine. Membicarakan perihal dirinya sendiri. Setelah mengucapkan itu, Corine merasa puas.
Bella mengabaikan habis-habisan perkataan Corine. Dia hanya meringis jijik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Menurutnya, Corine adalah orang yang memiliki obsesi tinggi.
Sesampainya di cafe, Bella mendengus lega. Dia menyaksikan Jimmy sudah datang lebih dulu.
"Maaf, aku terlambat. Tadi ada orang gila yang menghalangi jalanku," ujar Bella seraya menduduki kursi di seberang Jimmy.
"Tidak apa-apa, Dokter. Lagi pula aku baru saja sampai," sahut Jimmy ramah. Dia dan Bella langsung masuk ke topik pembicaraan.
Bella ingin tahu lebih banyak tentang Ben. Karena dia sangat kesulitan jika bertanya secara langsung. Setidaknya dengan lebih banyak pengetahuan, Bella bisa tahu hal apa saja yang dapat memicu serangan sesak nafas Ben kemarin.
"Maaf, Dokter. Sebenarnya ada beberapa hal yang kami sengaja rahasiakan darimu. Yaitu mengenai terbunuhnya ketiga psikiater yang pernah ditemui oleh Ben." Jimmy merasa harus memberitahukan Bella kebenaran.
"A-apa? Tiga? Bukankah berarti, semua psikiater yang ditemui Ben sebelumnya?" Bella memastikan.
"Benar! Tapi kau pasti tahu. Ben bukanlah pelakunya, tapi--"
"Lucky!" Bella bisa menebak tersangka yang telah sering berbuat masalah.
"Lucky memang sangat berbahaya. Sebenarnya dia juga sempat melakukan percobaan pembunuhan kepadaku," ungkap Bella.
"Apa kau tidak masalah dengan ini? Aku mengatakan ini karena mencemaskanmu, Dokter. Ada monster kejam yang menempel di badan Ben. Kita tidak akan tahu kapan dia muncul..." lirih Jimmy. Ia merasa kasihan sekaligus takut dengan bosnya sendiri. Jujur saja, setiap Lucky muncul, Jimmy selalu berusaha mencari tempat sembunyi.
__ADS_1