Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 27 - Ben Harus Berjuang Sendiri


__ADS_3

...༻✿༺...


Ben menyuruh Jimmy untuk memanggil dua rekan Bella. Siapa lagi kalau bukan Cecil dan Brian. Ben yakin, mereka pasti tahu banyak tentang siapa jati diri Red Rose.


"Cepat temui mereka! Aku tidak mau membuang waktu," ujar Ben.


"Apa kau yakin? Aku rasa itu adalah ide yang buruk, Tuan. Bukankah Brian dan Cecil selalu berada di sisi Dokter Red. Saat terakhir kali mengunjungi apartemen, respon mereka tampak kurang bersahabat." Jimmy mengungkapkan pendapatnya. Namun Ben tetap keras kepala. Dia ingin perintahnya segera dituruti. Alhasil Jimmy tak punya pilihan selain menurut.


Dengan helaan nafas panjang, Jimmy menghubungi dua rekan Bella. Dia datang ke apartemen Bella. Melangkah pelan hingga tiba di tempat yang tepat.


Ketika pintu diketuk, muncullah sosok Cecil. Mimik wajahnya langsung merengut saat melihat Jimmy.


"Ada perlu apa? Sebelum kau meminta, aku ingin menegaskan. Dokter Red sudah tidak bersedia menerima Tuan anda untuk menjadi pasiennya. Terima kasih, dan semoga harimu menyenangkan..." Cecil bergegas menutup pintu. Tetapi Jimmy sigap menghentikan.


"Dengarkan aku, kedatanganku ke sini untuk bicara serius denganmu." Jimmy memelankan nada suaranya.


Mendengar penuturan Jimmy, salah satu alis Cecil terangkat. Ia tentu merasa heran. Karena penasaran, Cecil lantas setuju untuk bicara dengan Jimmy. Mereka mendatangi sebuah cafe terdekat.


"Apa kau sudah lama bekerja dengan Dokter Red?" tanya Jimmy. Setelah selesai menyesap kopi hitamnya.


"Aku bekerja dengannya sejak awal. Sekarang sudah berjalan sekitar empat tahun." Cecil menjawab seadanya. Dia sebenarnya merasa ada yang aneh dengan tindakan Jimmy.


"Hmm... kalau begitu, kau pasti tahu banyak tentang Dokter Red. Terutama mengenai masa lalunya." Jimmy menatap lurus ke arah Cecil. Berharap gadis itu segera mengatakan informasi yang diperlukannya.


Cecil terdiam sejenak. Dia tengah mencari kesimpulan dibalik perilaku Jimmy. Akibat tidak kunjung menemukannya, Cecil terpaksa melontarkan pertanyaan.


"Tunggu. Kenapa kau tiba-tiba tertarik bicara denganku? Tapi malah menanyakan banyak hal tentang Dokter Red? Apa kau..." Cecil menatap selidik.


"Tidak, tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan apa yang kami lakukan terakhir kali di apartemen. Kau terlihat sangat terganggu dengan kehadiranku dan Mr. Mayers." Jimmy dengan cepat membantah.


"Aku tidak terganggu denganmu. Tetapi justru dengan Mr. Mayers. Dia sangat menyebalkan! Sampaikan kepadanya, untuk tidak muncul lagi di hadapanku, apalagi Dokter Red." Cecil bangkit dari tempat duduk. Ia hendak beranjak pergi.

__ADS_1


"Tapi--"


"Aku permisi." Cecil pergi begitu saja. Dia tidak peduli dengan raut wajah gelisah yang ditunjukkan oleh Jimmy.


Sekarang Jimmy hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Kesempatannya untuk mencari tahu identitas asli Red Rose semakin kecil.


Jimmy memberitahukan semuanya kepada Ben. Bahwasanya Red Rose tidak akan menerimanya lagi sebagai pasien. Hal tersebut tentu langsung membuat Ben marah.


"Kenapa bisa begitu?! Apa yang sudah kau lakukan, Jimmy?!" mata Ben membuncah hebat. Lima jemari tangannya mengarah ke wajah Jimmy. Seakan hendak menerkam lelaki paruh baya itu.


"Aku sudah mencoba semaksimal mungkin. Kenapa kau tidak fokus saja pada pengobatanmu? Kenapa mendadak ingin mencari tahu identitas asli Dokter Red?!" Jimmy merasa tak percaya. Mengungkapkan segala keluhan.


"Bukankah aku sudah memberitahumu, kalau aku mencurigai keterlibatan Dokter Red terhadap masa laluku!!!" geram Ben dengan suara lantang.


"Aku tahu! Tapi menurutku tidak ada yang lebih penting dibanding proses penyembuhanmu!" Jimmy sudah tidak tahan. Ada kalanya dia berani melawan kemarahan Ben dengan gamblang.


Ben menggertakkan gigi kesal. Tubuhnya gemetar akibat berusaha keras manahan amarah.


"Tenanglah... jika marahmu berlebihan, kau tahu apa yang akan terjadi." Jimmy menenangkan Ben. Dia membawa tuannya duduk ke sofa.


"Satu-satunya cara brilian adalah... dengan menjadi pasien tetap Dokter Red. Selain bisa terapi, kau juga bisa diam-diam mencari tahu siapa Dokter Red yang sebenarnya." Jimmy berujar sambil mengangkat kedua alisnya penuh semangat.


Ben terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menampik ide bagus yang di usulkan Jimmy. Tetapi dirinya tentu tidak lupa terhadap peringatan yang diberikan Cecil.


"Masalahnya adalah... namamu sudah masuk daftar merah Dokter Red. Aku pikir, kau harus memperbaikinya." Jimmy mengusap dagu dengan jari-jemari. Dia bersikap seperti orang jenius.


"Apa maksudmu, Jimmy? Kau tahu aku tidak suka basa-basi." Dahi Ben mengerut. Menatap tajam Jimmy yang duduk tepat di hadapannya.


"Maksudku, kau harus mendekati Dokter Red. Sampai dia bersedia kembali untuk menerimamu menjadi pasien," terang Jimmy.


Ben tercengang. "Jadi aku harus berlagak seperti pengemis kepadanya? Itu maksudmu bukan?" pungkasnya, memastikan.

__ADS_1


"Ah... kau terlalu berlebihan, Tuan." Jimmy melambaikan tangan ke depan wajah. Namun tidak berselang lama pikirannya berubah. "Tapi... jika terlalu sulit. Memohon seperti pengemis sepertinya tidak ada salahnya," lanjutnya. Menyebabkan Ben langsung melemparkan bantal ke wajah Jimmy.


"Sialan! Apa kau mengejekku?" timpal Ben.


"Tidak. Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Maaf sebelumnya Tuan, bukankah setidaknya kau harus mencoba dulu? Mengirimkan buket bunga permintaan maaf kepada Dokter Red misalnya," ujar Jimmy. Dia belum menyerah.


Ben kali ini tidak menyangkal. Akibat terlalu penasaran dengan identitas asli Red Rose, dia merasa usulan Jimmy ada benarnya.


"Baiklah, kalau begitu kirimkan buket bunga permintaan maaf kepada Dokter Red!" perintah Ben. Dia sudah membulatkan tekad.


Jimmy tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Dia menyarankan Ben untuk menulis surat permohonan maaf kepada Bella. Selanjutnya, Jimmy segera mengunjungi toko bunga terdekat.


Di sisi lain, Bella baru selesai membaca riwayat beberapa calon pasien barunya. Dia menekan-nekan jidat beberapa kali, karena merasa mulai lelah.


Terlintas dalam pikiran Bella, mengenai rencana Ben. Kebetulan Cecil sudah menceritakan perihal obrolannya bersama Jimmy. Jadi, Bella mulai menduga-duga. Gadis itu teringat dengan pertanyaan Ben saat diselamatkan dari tenggelam.


'Bagaimana Ben bisa tahu aku pernah tinggal di Manhattan? Apa aku pernah bertemu dengannya?' benak Bella bertanya-tanya. Ia menopang kepala dengan satu tangan. Tatapannya tertuju ke arah jendela yang menampakkan pemandangan kota New York.


Suara bel pintu mendadak berbunyi. Brian yang berada paling dekat dengan pintu, segera membukakan. Dia menemukan seorang lelaki yang mengantarkan buket bunga.


"Aku mengantarkan kiriman seseorang. Dari Ben Mayers, untuk Dokter Red Rose." Lelaki berperawakan jangkung tersebut menyerahkan buket bunga kepada Brian. Lalu langsung pamit pergi.


Brian meletakkan buket bunga ke meja. Dia mengambil secarik kertas yang tersemat di antara puluhan bunga mawar merah.


...'Maaf. Aku harap dengan begini kau bisa menerimaku sebagai pasienmu lagi.' - Ben Mayers....


Begitulah bunyi pesan singkat yang tertulis di secarik kertas. Terkesan dingin dan tidak tulus.


"What the fu*uck!" rutuk Brian sembari melemparkan kertas yang menurutnya berisi omong kosong.


Bella dan Cecil yang mendengar, bergegas menghampiri. Mereka penasaran dengan apa yang sudah membuat Brian merutuk.

__ADS_1


"Oh my god! Buket bunga ini dari Ben Mayers!" seru Cecil tak percaya. Dia memungut kertas yang tadi dilempar Brian ke lantai.


"Apa?!" Bella ikut kaget. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak tertarik. Bella justru membuang buket bunga pemberian Ben ke tempat sampah. Gadis itu tidak lupa untuk menginjaknya berkali-kali.


__ADS_2