
...༻✿༺...
"Kenapa?" Bella menatap penuh tanya. Matanya perlahan melirik ke tangan Ben yang sedang sibuk memegangi lengannya.
Ben lekas melepaskan pegangannya. Dia mencoba mencari alasan agar Bella tetap bersamanya.
"A-aku... ingin mengatakan sesuatu," imbuh Ben tergagap.
"Katakan saja, Ben." Bella mendekat satu langkah.
Ben sebenarnya bingung harus mengatakan apa. Otaknya seolah mengalami disfungsi. Ternyata cinta bisa memberikan efek separah itu. Ben merasa harus belajar lebih banyak lagi.
"Aku bukannya tidak mau menceritakan masalahku kepadamu. Tapi aku benar-benar melupakan ingatan penting tentang masa laluku. Aku--"
"Kau tidak usah merasa bersalah. Orang yang menderita penyakit kepribadian ganda memang begitu. Kemunculan Lucky merupakan wujud perlindungan yang diberikan oleh dirimu sendiri. Tidak apa-apa, Ben. Kita bisa melakukannya dengan pelan. Aku juga sedang berusaha mencari tahu tentang masa lalumu." Bella sengaja memotong ucapan Ben. Dia tidak tahu Ben hanya berkilah.
"Masa laluku?" Ben perlahan menundukkan kepala. Ia tiba-tiba terlihat muram.
"Apa kau marah? Aku melakukannya agar bisa membantumu. Tunggu, apa kau tidak pernah mencari tahu tentang masa lalumu sendiri?" Bella menatap lurus ke arah Ben.
"Tidak. Aku terlalu takut untuk mencari tahu. Lucky juga selalu berusaha menghalangi jika aku nekat melakukannya. Aku tidak tahu kebenaran apa yang terjadi di masa lalu." Ben masih menutupi kenyataan tentang terbunuhnya dua psikiater sebelumnya.
"Apa kau mau mencari tahunya bersamaku? Mungkin itu lebih baik," ujar Bella. Menyebabkan Ben sedikit melebarkan dua kelopak matanya.
"Tidak! Jangan lakukan itu!" tegas Ben. Dia tidak mau Bella menjadi psikater yang terbunuh selanjutnya.
"Kenapa?" Bella tak mengerti.
"Jangan lakukan itu. Ya sudah, sebaiknya kau segera pergi. Aku akan mengantarmu pulang." Ben sengaja mengubah topik pembicaraan.
Bella menolak. Dia tidak mau Ben mengantarkannya pulang. Bella tidak akan membiarkan Ben tahu kalau Justin adalah kekasihnya.
"Tidak perlu, aku akan naik taksi saja." Bella mencoba menolak secara baik-baik.
__ADS_1
"Ayolah, Dokter. Aku tidak mau membuatmu marah kali ini." Ben memaksa. Sengaja berjalan lebih dulu agar Bella bersedia mengikuti.
"Maaf, Ben!" ujar Bella. Dari belakang dia telah berhasil menghentikan sebuah taksi. Lalu langsung masuk ke kursi belakang.
"Dokter Red!" pekik Ben sembari mengangkat dua tangannya ke udara. Semuanya terjadi di luar dugaan Ben. Dia tidak punya pilihan selain merelakan kepergian Bella.
Ben terpaksa kembali ke perusahaan. Dia sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan tentang Bella. Namun tetap saja, perihal tentang Bella terus bergelut di otak dan hatinya.
'Apa yang Dokter lakukan dengan pacarnya? Mereka pasti berciuman bukan? Apakah mereka juga...' benak Ben menduga-duga. Terlintas dalam bayangannya mengenai apa yang dilakukan oleh Brian bersama Nancy. Hal tersebut sontak membuat Ben kalut.
'Ah... Dokter Red pasti sudah sering berhubungan intim dengan pacarnya. Arghh! Sadarlah, Ben. Kau hanya seorang pasien baginya.' Ben membatin memperingati dirinya sendiri.
Ben berpikir cukup lama. Hingga dia mendadak teringat perkataan Justin perihal cinta. Dia lantas memanggil Jimmy untuk menemuinya.
"Ada apa, Tuan?" dalam sekejap Jimmy langsung mendatangi ruangan Ben.
"Bisakah kau mencari buku tentang cinta? Aku membutuhkannya untuk melakukan riset makanan baru." Ben tentu saja berbohong. Makanan macam apa yang didasari resep cinta? Wujudnya bahkan tak kasat di mata.
"Buku tentang cinta?" Jimmy mengerutkan dahi heran. Lalu meneruskan, "kenapa kalau aku boleh tahu?"
"Ba-baiklah, Tuan. Aku akan segera mencarinya." Jimmy tidak punya pilihan. Lagi pula berdebat dengan Ben tidak akan menghasilkan apa-apa. Bosnya itu sangat keras kepala.
...***...
Bella dan Justin bertemu di sebuah cafe yang ada di pinggiran jalan. Justin terlihat masih mengenakan pakaian kantor. Lelaki itu duduk di sebelah Bella.
"Kau bisa beritahu aku tentang semua kesedihanmu." Justin membawa Bella masuk ke dalam rangkulan.
"Aku baik-baik saja." Bella tersenyum tulus. Justin lantas membalas dengan cara memberikan kecupan ke keningnya. Mereka menikmati hidangan yang baru diserahkan pelayan.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Bella.
"Sangat bagus. Akhir-akhir ini aku sangat dekat dengan bosku," jawab Justin.
__ADS_1
"Maksudmu Ben Mayers?" Bella memastikan. Padahal seingatnya, Justin tidak begitu menyukai Ben. Dia dapat mengetahuinya saat mendengar Justin menceritakan segala keburukan Ben.
"Benar!" Justin mengangguk.
"Aku pikir kau tidak menyukainya," ucap Bella.
"Memang benar. Aku dan karyawan yang lain tidak pernah menyukai Ben. Aku sebenarnya merencanakan sesuatu untuk menggeser Ben dari posisi CEO. Aku pikir, dia tidak pantas memegang posisi itu." Justin membeberkan rencana buruknya terhadap Ben.
Bella yang mendengar mengernyitkan kening. Dia tidak mengerti kenapa Justin berbuat begitu. "Kau kenapa jahat sekali," komentarnya blak-blakkan.
"Kalau kau tahu bagaimana Ben memperlakukan karyawannya, maka kau pasti akan tahu betapa jahatnya dia. Lagi pula aku punya alasan, Bella. Kau harus tahu, kalau posisi Ben sekarang tidak seharusnya dimiliki olehnya. Ben bukan pewaris asli Foodton. Dia hanya anak tiri dari keluarga Mayers yang beruntung." Justin menjelaskan panjang lebar.
"Tapi kau tidak boleh berbuat begitu. Bagaimana kalau sosok Ben tidak seperti yang kau duga selama ini?" Bella menatap Justin dengan sudut matanya. Entah kenapa dia mendadak mencemaskan Ben.
"Tidak apa-apa, Bella. Aku melakukannya tidak sendiri. Aku bekerjasama dengan Billy Mayers. Pewaris asli keluarga Mayers. Beberapa karyawan Foodton juga akan bersama kami, dan mungkin akan bertambah seiring berjalannya waktu," ujar Justin. Mencoba meyakinkan Bella.
Bella terdiam seribu bahasa. Sebab Justin terlihat sangat serius. Sekarang Bella paham kenapa Ben begitu berusaha keras untuk sembuh. Ternyata semuanya demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris. Bella merasa harus melakukan sesuatu.
Drrrt...
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Bella tiba-tiba bergetar. Dia mendapatkan pesan dari Cecil. Rekannya itu menyiapkan segalanya untuk keberangkatan ke Washington. Bella bangkit dari tempat duduk.
"Kau mau pergi?" Justin ikut berdiri.
"Iya, maafkan aku, Justin. Aku akan segera menghubungimu, oke." Bella menyempatkan diri menggenggam jari-jemari Justin.
Ketika hendak beranjak, Justin sigap mencegat. "Apa kau marah kepadaku? Karena aku merencanakan sesuatu terhadap bosku?" tanya-nya. Merasa adanya perubahan dari sikap Bella.
"Tentu saja tidak. Aku hanya merasa itu tidak benar. Tetapi apa boleh buat, kau melakukannya tidak sendiri. Jadi satu orang sepertiku pasti tidak akan bisa menghentikan," balas Bella. Ia segera beranjak pergi meninggalkan cafe.
__ADS_1
Bella berjalan menyusuri stasiun kereta bawah tanah. Dia berdiri mematung di pinggiran rel kereta. Kebetulan Bella menunggu kedatangan Cecil di sana.
'Ben pasti sangat menderita. Dia juga tidak punya satu pun teman. Lucky benar, kehidupannya memang lebih baik dibandingkan Ben. Aku harus lakukan sesuatu!' batin Bella seraya membentuk bogem di kedua tangan.