
...༻✿༺...
Bella, Cecil dan Brian pergi ke kota Manhattan. Mereka menemui anggota The Dark Place. Kedatangan Bella disambut dengan begitu histeris. Gadis itu dibawa masuk lebih dalam ke ruang tengah.
"Kau dan Lucky kemana saja, Dokter? Kami menunggu kedatanganmu!" ujar Robert dengan wajah sangarnya.
"Aku sangat menanti kedatanganmu, Dokter. Ayo kita lanjutkan permainannya lagi." Liam ikut berseru.
Bella sekarang dikelilingi oleh anggota The Dark Place. Brian dan Cecil yang berdiri dari kejauhan, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlihat takut menghadapi rekan-rekan Lucky. Bahkan Brian yang sering berani bertindak, terlihat ciut berdiri di belakang Cecil.
"Kenapa Bella datang ke tempat begini? Bukankah mereka berbahaya?" bisik Brian yang tengah berlindung di balik punggung Cecil.
"Kau benar. Aku tidak yakin mereka akan membantu..." jawab Cecil dengan raut wajah takutnya.
Bella membuang nafasnya dari mulut. Ia mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mengungkap fakta tentang Lucky. Selanjutnya, barulah dia angkat bicara. Bella menjelaskan siapa Lucky sebenarnya. Dia tentu tidak lupa memberitahu apa yang terjadi kepada Ben.
"Apa?! Lucky hanyalah kepribadian bayangan kau bilang?!" Sean memastikan. Dia dan teman-temannya tentu sulit menerima kenyataan.
"Benar! Dia kepribadian yang terbentuk karena ketakutan Ben terhadap masa lalu. Aku yakin kalian mengerti. Kalian sering melihat Lucky bertindak tidak sesuai sikapnya bukan? Coba beritahu aku," ucap Bella. Menatap satu per satu orang-orang The Dark Place di hadapannya.
"Itu benar. Kami pernah datang ke perusahaan untuk mencari Lucky. Sikap Lucky saat itu sangat aneh. Tapi Lucky menyebutkan kalau dia dan Ben merupakan anak kembar yang lama terpisah," imbuh Sean. Jujur saja, dia masih kesulitan mencerna apa yang menimpa Lucky.
"Bukan! Mereka bukan anak kembar! Mereka orang yang sama!" Bella mencoba kembali meyakinkan. Itu tentu tidak mudah baginya.
"Jadi, apa maumu, Dokter Red? Apa tujuanmu datang ke sini?" Robert yang dapat memahami gelagat Bella, langsung bertanya ke intinya.
Bella lantas mengatakan tujuan utamanya mendatangi The Dark Place. Dia ingin rekan-rekan Lucky menjadi saksi di persidangan.
"Apa?! Menjadi saksi?! Tapi itu terlalu beresiko, Dokter! Kau tahu kalau kami adalah komplotan kriminal. Datang ke persidangan merupakan bunuh diri!" tukas Sean yang nampaknya enggan membantu.
__ADS_1
Bella terdiam seribu bahasa. Dia tidak mampu membantah. Apa yang dikatakan Sean memang ada benarnya. Sekarang Bella dirundung perasaan bingung dengan rencana yang telah tersusun rapi.
"Apa kalian tahu berapa banyak orang yang sudah dibunuh Lucky? Bisakah kalian membuatkan daftar untukku?" tanya Bella.
"Kami sudah membuat daftarnya, Dokter. Lucky pernah memintanya satu kali kepada kami. Jujur saja, permintaannya itu benar-benar membuat kami kebingungan. Bagaimana bisa dia lupa dengan orang-orang yang pernah dibunuhnya sendiri?..." Liam menjeda ucapannya dalam sesaat, lalu melanjutkan, "tapi sekarang kami setidaknya tahu, kalau yang meminta daftar itu pasti bukan Lucky. Melainkan Ben."
"Be-benarkah?" Fakta baru lagi-lagi mengharuskan Bella untuk berpikir. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Ben terhadap daftar korban-korban Lucky.
Bella yang mulai bingung, tenggelam dalam hening. Ia berusaha mencari jalan keluar lain. Terutama tanpa membahayakan rekan-rekan Lucky.
Tanpa diduga, Robert berjalan ke hadapan Bella. Dia mengukir seringai dan berkata, "Dokter, bisakah kau memberitahu aku, berapa orang yang melakukan tuntutan kepada Ben?"
"Hanya satu orang. Dia adalah kakak tiri Ben yang bernama Billy," jawab Bella.
"Apa? Satu orang?" Robert mengangkat dua alisnya penuh semangat. Lalu tertawa remeh sejenak. "Itu bagus! Kalau begitu, kita tidak butuh datang ke persidangan. Aku punya ide untuk mengatasinya," sambungnya.
"Apa itu?" Bella menuntut jawaban.
"Cukup!" Bella tidak tahan lagi mendengar kalimat sadis dari Robert. Dia sengaja memotong ucapan pria dengan banyak tato itu.
"Sial! Apa-apaan itu?!" komentar Brian yang terperangah. Dia dan Cecil saling menghimpitkan badan akibat ketakutan.
"Jangan takut, Brother. Kami tidak akan menyakitimu. Apalagi jika kalian datang bersama Dokter Red." Salah satu anggota The Dark Place mencoba menenangkan Brian dan Cecil.
Mendengar ide mengerikan Robert, menyebabkan Bella mendapatkan jalan keluar lain. Dia yang tadinya duduk, segera berdiri.
"Aku akui idemu memang brilian, Robert! Tapi bila sampai membunuhnya, itu terlalu berlebihan. Lagi pula masalah Ben akan tambah besar, andai kalian nekat membunuh Billy. Karena itu, aku punya ide yang lebih baik!" Bella tersenyum dengan percaya diri. Dia segera memberitahukan rencana barunya.
Saat mendengar rencana Bella, rekan-rekan Lucky menganggukkan kepala beberapa kali. Mereka setuju dan saling tersenyum.
__ADS_1
"Itu hal yang mudah, Dokter! Percayalah, kami akan mengurusnya dengan baik." Liam mengacungkan jempolnya. Dia dan para anggota The Dark Place siap beraksi.
"Baiklah. Lakukanlah malam ini, lebih cepat semakin baik!" ujar Bella. Dia segera melakukan tos dengan semua anggota The Dark Place.
"Tapi berjanjilah, Dokter! Jika kami berhasil, kau harus bermain truth or dare dengan kami, oke?" Robert memperingatkan.
Bella terkekeh geli. Kemudian menganggukkan kepala pertanda setuju. Entah kenapa dia justru merasa gemas dengan sikap gangster berwajah sangar di hadapannya.
Sebelum melancarkan rencana, para anggota The Dark Place mencari tahu tentang Billy terlebih dahulu. Brian yang ahli dengan komputer dan internet ikut membantu. Dia, Cecil dan Bella masih berada di markas The Dark Place.
Atas bantuan Jimmy, kini Robert dan kawan-kawan dapat menyusun tahapan rencana. Mereka akan mendatangi kediaman Billy.
"Berhati-hatilah... dan ingat, jangan sampai ada setetes darah yang keluar dari badan Billy dan keluarganya, mengerti?" Bella memberitahu sebelum seluruh anggota The Dark Place berangkat.
"Maaf, Dokter. Setetes darah sepertinya tidak masalah. Benar bukan, Sean?" tanggap Robert. Di akhiri dengan meminta persetujuan Sean.
"Ya, aku pikir begitu." Sean sependapat dengan Robert.
"Tidak." Bella menegaskan sembari menggerakkan jari telunjuknya.
"Ayolah, Dokter. Bagaimana jika kami tidak sengaja menjatuhkan pisau ke badan Billy?" Robert yang telah duduk di motor, masih saja berceloteh.
"Hentikan, Robbie... kita harus berangkat." Liam memasangkan helm ke kepala Robert. Dengan tujuan agar lelaki itu berhenti bicara.
"Liam, tolong pastikan agar Billy dan keluarganya tidak terluka. Aku akan mempercayaimu." Bella menepuk pelan pundak Liam.
"Apapun untukmu, Dokter Red. Tapi setelah ini kau harus berkencan denganku, oke?" balas Liam. Dia langsung mendapatkan sorakan dan pelototan dari rekan-rekannya. Liam otomatis merespon dengan senyuman malu. Dia dan yang lain segera berangkat menggunakan motor masing-masing. Sementara Bella, Cecil, dan Brian, akan tetap menunggu di markas.
"Kau yakin mereka akan berhasil? Mereka mengerikan, tapi juga agak bodoh," imbuh Brian seraya melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
"Aku percaya kepada mereka." Bella merasa yakin. Semuanya dapat terlihat jelas dari ekspresi wajah yang ditunjukkannya. "Sekarang ayo kita undang Jimmy datang ke sini. Bila Robert dan kawan-kawan berhasil, maka kita tidak perlu menggunakan jasa Calvin lagi," ucap Bella. Dia dan kedua rekannya kembali masuk ke dalam markas The Dark Place.