Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 47 - Panggilan Bella


__ADS_3

...༻✿༺...


Sementara David di rumah sakit, Bella pergi ke panti jompo. Dengan perasaan berat dia terpaksa mendaftarkan David ke sana. Bella tidak bisa mengambil resiko. Dia tidak mau melihat David terluka atau menghilang lagi.


"Aku bisa mengunjungi David kapan saja bukan?" tanya Bella setelah mengurus pendaftaran kepada seorang wanita bernama Maia.


"Maaf, anda hanya bisa berkunjung di jam tertentu. Jam kunjungan dibuka setiap hari. Dari jam sepuluh sampai jam tiga sore." Maia memberitahu dengan ramah.


"Oke," Bella mengangguk mengerti. Dia mendengus kasar.


"Kami akan mengabarimu secepatnya, Nona," ujar Maia. Tepat sebelum Bella beranjak pergi.


Di perjalanan, keraguan menyelimuti Bella. Dia merasa tidak enak dengan jadwal pertemuan yang terbatas. Bella kembali dirundung perasaan bingung.


David yang sudah sehat, terlihat mengobrol bersama wanita tua. Sesekali mereka akan tertawa karena menikmati pembicaraan.


Bella bergegas menghampiri David, dan mengajak untuk pulang. Kini keduanya berjalan berbarengan keluar dari rumah sakit.


"Aku ingin punya banyak teman. Wanita tadi sangat menyenangkan di ajak mengobrol," ungkap David. "Aku lelah selalu sendirian..." tambahnya lirih.


Mendengar ucapan ayahnya, mimik wajah Bella langsung muram. Dia reflek berhenti melangkah. Hingga berhasil membuat David menoleh. Perlahan air mata Bella menetes.


"Kau tidak apa-apa? Kenapa kau menangis?" tanya David cemas. Dia merogoh saku celana karena berusaha mencari sapu tangan. Namun David tidak menemukannya dimana-mana. Sebab Bella memang telah memasukkannya ke dalam tas.


"Ayah... aku baik-baik saja..." ujar Bella sambil menundukkan kepala.


"Tidak, tidak! Kau tidak baik-baik saja. Beritahu aku siapa yang sudah berani membuatmu menangis? Aku akan menghajar orang itu untukmu." David berlagak berani. Pandangannya mengedar ke segala arah.


"Hei! Apa kau yang telah membuatnya menangis? Berani sekali kau!" David menimpali lelaki yang kebetulan lewat. Dia hendak memberi pelajaran. Namun Bella dengan cepat memegangi tangannya.


"Hentikan!" tegas Bella.


"Tidak! Dia harus diberi pelajaran!" David bersikeras.


"Ayah! Hentikan!!" bentak Bella yang sudah tidak tahan. David sontak terdiam. Apalagi ketika menyaksikan Bella semakin menangis histeris. Bahkan sampai mengeluarkan suara isakan.

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke suatu tempat... kau akan punya banyak teman di sana..." ucap Bella di tengah-tengah tangisannya.


David hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Ia seolah sadar kalau dirinya bersalah. Sekarang David tidak mengingat Bella sebagai anak, melainkan orang lain.


"Mulai sekarang kita akan jarang bertemu... aku pikir itu adalah jalan terbaik..." lirih Bella. "Perjuanganku sia-sia," lanjutnya.


Dari awal usaha Bella untuk berkuliah di jurusan Dokter Kejiwaan hanya demi David. Dia bertekad menjauhkan David dari tempat yang namanya panti jompo. Tetapi sekarang? Bella tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ketika dirinya pergi, David selalu saja mendapat masalah.


"Aku tidak bisa menjagamu dengan baik... aku anak yang buruk." Bella terus meratap.


"Anak?" David menatap nanar. Perlahan tangannya menyentuh rambut panjang Bella.


"Apa kau Rebella?" tanya David.


Bella yang sibuk menangis akhirnya mendongak. Dia membalas tatapan David. Lalu mengangguk sekitar dua kali.


"Kau sudah besar. Kemana saja kau? Kau meninggalkanku terlalu lama," tukas David sembari memukul kepala Bella. Sebagai orang pikun, dia tentu tidak mengingat semua apa yang dilakukan Bella untuknya.


"Aku tidak pernah meninggalkanmu! Aku selalu bersamamu! Bagaimana kau bisa lupa?! Aku satu-satunya orang yang selalu di sisimu!" pekik Bella sembari membentuk bogem di kedua tangan. Terkadang dia tidak tahan dilupakan. Bella seringkali merasa lelah dengan kepikunan David. Usahanya terkesan sia-sia.


Bella mungkin sudah menyembuhkan banyak pasien. Namun dia tidak pernah bisa menyembuhkan sang ayah. Penyakit demensia memang hampir tidak bisa disembuhkan.


...***...


Ben sedang melangkah memasuki sebuah ruangan besar. Dia tidak sendiri. Ada Jimmy serta karyawan lainnya yang ikut.


Sebagai pimpinan, Ben berjalan di depan. Dia tampak gagah dan sangar. Tinggi tegap dengan ekspresi yang selalu datar. Ben akan melihat lokasi syuting iklan. Pria itu mengamati proses jalannya syuting.


Ben dipersilahkan duduk di belakang. Memperhatikan kinerja semua orang.


Sutradara yang bertugas bernama Hans. Dia merasa risih ketika menyaksikan kehadiran Ben. Meskipun begitu, dia mencoba memberikan sapaan ramah.


Seperti biasa, Ben tidak peduli. Ia bahkan tidak tersenyum. Lalu menyuruh semua orang untuk segera melakukan tugas masing-masing. Termasuk Jennifer yang harus menjadi model iklan produk terbarunya.


"Mencari makanan yang sesuai selera? Itu tidak mudah. Tapi Foodton spageti kare? Hmm... aku--"

__ADS_1


"Apa-apaan itu!" sergah Ben. Mengharuskan Jennifer menghentikan dialognya.


Seluruh pasang mata tertuju ke arah Ben. Dia memang terkenal suka mencampuri urusan syuting. Padahal ada manajemen terkait yang dapat mengurus hal tersebut.


"Dia mulai lagi..."


"Mau sampai kapan dia begitu."


Beberapa orang saling berbisik. Mereka menatap sinis ke arah Ben. Sekali lagi, Ben tidak peduli akan hal itu.


"Aku benci dialognya. Benar-benar payah. Kemarilah, Jennifer! Aku akan sarankan kalimat yang bagus." Ben menyuruh Jennifer mendekat.


Jennifer awalnya bingung. Setelah berpikir sejenak, dia akhirnya memilih menghampiri Ben.


"Berhenti, Jennifer! Akulah bosnya di sini. Jadi kau hanya boleh mendengarkanku!" sebagai sutradara, Hans tidak terima Ben mencampuri pekerjaannya. Seruannya sukses menghentikan langkah kaki Jennifer.


Kini Hans-lah yang berjalan ke hadapan Ben. "Mr. Mayers, dari sini biarkan aku bertanggung jawab. Anda boleh melihat, tetapi jangan pernah coba-coba ikut mengatur," katanya. Berusaha menahan amarah.


Ben memutar bola mata sebal. Kedua tangannya tampak berpegangan ke pinggang. "Kau tidak akan bisa mendapatkan uang tanpa aku. Jadi dengarkan saja saranku! Akulah yang berkuasa di sini," ujarnya.


Jimmy dirundung perasaan cemas. Tadi sebenarnya dia sudah berupaya keras mencegah kedatangan Ben ke lokasi syuting. Takut sesuatu hal buruk akan terjadi. Terutama seperti pertengkaran yang terjadi sekarang.


Jimmy tahu betul Hans berbeda dari sutradara-sutradara yang sebelumnya. Hans dikenal berani dan tidak takut. Kebetulan Justin-lah orang yang memilih Hans untuk ditugaskan sebagai sutradara. Entah disengaja atau memang hanya kebetulan.


"Tuan, hentikan. Hans benar! Aku yakin dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik." Jimmy mencoba membawa Ben pergi. Namun Ben justru mendorongnya.


"Aku belum selesai!" Ben menggertakkan gigi. Belum sempat bicara, ponselnya mendadak berdering. Ben terpaksa mengurus panggilan telepon lebih dulu. Takut ada panggilan penting atau mendesak.


Pupil mata Ben membesar tatkala melihat nama Dokter Red Rose terpampang di layar ponsel. Tanpa sadar pria itu menenggak salivanya sendiri. Hanya dengan nama Red Rose perasaan Ben seketika berubah. Ia dirundung perasaan gugup dalam keadaan jantung yang berdebaran.


"Halo?" Ben mengangkat panggilan.


"Ben, kau tidak lupa kalau hari ini ada jadwal terapi bukan? Jangan datang terlambat. Aku sibuk hari ini," ujar Bella dari seberang telepon.


"Aku akan ke sana!"

__ADS_1


"Tapi--"


Ben mematikan panggilan lebih dulu. Dia berlari begitu saja meninggalkan lokasi syuting. Semua orang sontak hanya bisa terperangah. Bingung dengan sikap Ben yang berubah drastis.


__ADS_2