
...༻✿༺...
Ben benar-benar tersiksa terhadap perasaannya. Akibat hal itu, proses terapinya tidak akan berjalan lancar. Namun ada satu hal yang membuat Ben tercengang, yaitu selama hampir satu minggu Lucky tidak muncul. Apakah perasaan yang dirasakannya memberikan dampak baik?
Karena itulah Ben butuh berbicara dengan seseorang. Sosok yang sudah berpengalaman dan tahu banyak tentang wanita. Ben memilih Justin. Dia segera membuat temu janji dengan Justin secepat mungkin.
Di sisi lain, sebuah ponsel berdering. Layarnya tampak mengedip sesuai irama nada dering. Justin yang merupakan pemiliknya, justru sibuk berolahraga di atas badan seorang wanita. Dia tidak lain adalah Corine.
Lenguhan yang saling bersahutan bersiteru dengan nada dering ponsel. Akan tetapi baik Justin maupun Corine, keduanya terlalu terbuai dalam kenikmatan. Satu panggilan dari Ben tidak terangkat oleh Justin. Namun itu tidak berselang lama. Beberapa saat kemudian, ponsel Justin kembali berdering.
"Sepertinya ada panggilan penting..." cicit Justin ditengah-tengah aktifitas intimnya. Dia berhenti sejenak. Membuat Corine langsung kelabakan.
"Jangan berhenti! Kau tidak tahu betapa rindunya aku kepadamu!" seru Corine sembari mencengkeram rambut hazel Justin. Lalu mengecup bibir lelaki itu dengan ganas. Alhasil Justin tidak kuasa menolak. Corine memang pintar menyalakan api gairahnya.
Kegiatan intim Justin dan Corine berlanjut. Erangan mereka lama-kelamaan kian menjadi-jadi.
"Sial! Lebih cepat, Justin!" perintah Corine yang terus mengangakan lebar mulutnya. Dia seperti pengendali kuda yang menuntun Justin untuk bergerak lebih cepat. Usahanya sukses membuat Justin mencapai puncak kepuasan. Erangan panjang lelaki itu melantun nyaring.
Tanpa istirahat, Justin langsung beringsut ke pinggir kasur. Dia bergegas meraih ponsel dari atas nakas. Sebelum menelepon balik Ben, Justin mengatur deru nafasnya terlebih dahulu.
"Justin! Kau kemana saja?! Kau membuatku... ah, lupakan. Apa kau sekarang sibuk?" ujar Ben dari seberang telepon. Dia sengaja menahan amarah, karena sadar kalau dirinyalah yang sedang membutuhkan Justin.
"Setelah ini? Apa ada masalah dengan proses pemasaran?" tanggap Justin. Mengira Ben akan membahas perihal masalah perusahaan. Sebab pimpinannya tersebut memang tidak pernah membicarakan hal lain selain bisnis.
"Um... ini berbeda. Jika kau punya waktu, bisakah kita bertemu di restoran Foodton hotel Elberry?"
"Tentu saja bisa. Aku akan segera bersiap!" Justin yang gila kerja, selalu mengutamakan pekerjaan dari apapun.
"Baiklah, sampai jumpa di sana." Justin membiarkan Ben mengakhiri panggilan telepon lebih dulu. Corine yang sudah mengenakan setelan kimono berbahan satin, memeluk Justin dari belakang.
__ADS_1
"Apa kau akan pergi? Hmmmh... aku tidak rela..." Corine bersikap begitu manja.
"Corine, aku harus mengurus sesuatu. Kita bisa bertemu lain kali. Oke?" Justin melepaskan pelukan Corine. Dia bergegas mengenakan celana pendek.
"Justin! Apa hubungan kita akan terus begini? Kenapa kau masih mempertahankan Bella? Padahal cintanya kepadamu sangat meragukan. Sementara aku? Aku memberikanmu segalanya," cetus Corine seraya melenggang ke hadapan Justin.
"Kau mau tahu alasannya? Karena Bella gadis mahal, Corine. Dia..." bola mata Justin memperhatikan Corine lamat-lamat. Dia tersenyum remeh dan melanjutkan, "tidak murahan."
"Apa kau menyindirku?!" ekspresi manja Corine dalam sekejap berubah menjadi cemberut. Dia paham kalau ucapan Justin tadi merupakan ejekan secara tidak langsung.
"Aku harus pergi. Bosku sudah menunggu." Justin memasuki kamar mandi. Setelah membersihkan diri, dia langsung berpakaian dan pergi meninggalkan Corine.
"Arrggh! Kenapa semua orang selalu berpihak kepada perempuan sialan itu! Lihat saja nanti pembalasanku, Bella!" Corine menghentakkan sebelah kakinya. Perasaan irinya terhadap Bella tidak pernah hilang. Padahal hidup Corine terbilang sangat berhasil dengan menjadi psikiater di rumah sakit ternama.
...***...
Ben telah tiba di restoran lebih dulu. Dari pintu masuk, Justin terlihat baru saja muncul. Dia tersenyum dan bergegas bergabung bersama Ben.
Justin lantas memesan apa yang dia mau. Lalu bertanya, "Jadi, ada apa? Sepertinya ini sangat rahasia, sampai-sampai kau memanggilku ke sini?"
"Ekhem!" Sebelum bicara, Ben membersihkan tenggorokannya terlebih dahulu. Kemudian melonggarkan dasinya sebentar. Dia mencoba membuang jauh-jauh rasa malunya. Ben akan mempercayai Justin seperti biasa.
Jika Justin bisa dipercayai terkait hal pekerjaan. Maka kemungkinan dia juga dapat dipercayai mengenai masalah pribadi. Setidaknya begitulah logika yang terlahir di kepala Ben.
Ben melipat tangan ke atas meja. Dia duduk ke sebelah Justin dan berbisik, "Begini... dua hari yang lalu aku tidak sengaja meminum obat kuat bersama seorang wanita. Tanpa sadar, aku dan wanita itu melakukan hubungan intim."
"Apa?!" mata Justin terbelalak. Dia kaget bukan kepalang. Justin tidak menyangka, Ben yang anti wanita sekarang sudah ternodai.
"Lalu? Apa yang membuatmu khawatir? Kau tidak terkena penyakit bukan? Atau jangan-jangan wanita itu berusaha memanfaatkanmu?" Justin melemparkan segala praduga.
__ADS_1
"Tentu tidak!" bantah Ben tegas. Dia kembali berbisik dan mengatakan tentang kekhawatiran yang dialaminya. Yaitu terus terbayang dan memikirkan wanita yang telah menghabiskan malam dengannya itu.
"Bwahahahaha!" bukannya menanggapi atau memberi solusi, Justin malah tergelak. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil menggelengkan kepala.
Ben yang melihat tentu dibuat geram. Rahangnya mengerat kesal. Dia ingin sekali melayangkan bogem ke wajah Justin. Tetapi urung, karena Justin segera angkat suara.
"Maafkan aku, Ben. Bukannya aku mengejek. Tapi apa yang kau rasakan itu adalah cinta. Aku pikir, kau jatuh cinta kepada wanita itu." Justin yang sudah berhenti tertawa, segera mengungkapkan pendapatnya.
"Apa?! Jatuh cinta?! Tidak mungkin. Itu tidak akan terjadi. Bagaimana cara mengentikannya?" respon Ben yang menepis dugaan Justin sekaligus perasaannya sendiri.
"Maksudmu berhenti untuk jatuh cinta?!" Justin memastikan. Ben langsung merespon dengan anggukan.
"Berhenti dari jatuh cinta mungkin adalah hal yang tersulit. Kau pasti tahu, Ben. Bahwasanya melupakan sesuatu yang penting itu sulit dilakukan. Begitulah cinta, mungkin salah satu hal yang tidak bisa dihindari. Bahkan pembenci wanita sepertimu sudah terjebak. Aku benar-benar tidak menduga." Justin menjelaskan panjang lebar. Dia masih sulit mencerna apa yang baru saja diberitahukan oleh Ben.
"Bantu aku, Justin. Aku tidak mau jatuh cinta. Ini membuatku sangat tersiksa!" keluh Ben yang dilanjutkan dengan meneguk wine sampai habis.
"Memangnya siapa wanita itu? Apa kau mengenalnya?" tanya Justin. Andai dia tahu kalau wanita itu adalah Bella, mungkin sekarang dirinya akan melakukan adu hantam dengan Ben.
"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu. Dia orang yang aku kenal, tapi sangat menutup rapat identitasnya. Bahkan nama yang dia pakai bukan nama asli," terang Ben. Dia menuang wine ke dalam gelas. Lalu menghabiskannya untuk kali kedua.
"Agar memastikan kau benar-benar jatuh cinta dengannya atau tidak. Aku punya tiga pertanyaan untukmu. Jawablah dengan jujur," imbuh Justin sembari menerima gelas berisi wine yang diberikan Ben.
"Beritahu aku," jawab Ben.
"Pertama, apa kau menganggap wanita itu sangat cantik?" tanya Justin.
"Iya, itu karena dia memang sangat cantik kurasa." Ben berusaha berkilah, namun tetap saja dia tidak menampik kecantikan Bella.
Justin terkekeh. Dia melanjutkan pertanyaan kedua. "Apakah saat melihatnya, jantungmu berdebar tidak karuan?"
__ADS_1
"Ya..." lirih Ben. Tidak ada satu pun pertanyaan Justin yang meleset dari apa yang sedang dirasakannya sekarang. Meskipun begitu, Ben berharap pertanyaan ketiga tidak akan sesuai perasaannya. Sehingga dia bisa menganggap bahwa dirinya tidak sedang jatuh cinta.