Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 66 - Masa Lalu Nan Kelam


__ADS_3

...༻✿༺...


Setelah Lucky di ikat dan terkurung dalam ruangan, Bella langsung mendapat pengobatan. Lukanya dibalut perban dan perlahan pulih. Namun bukannya beristirahat, Bella justru ingin secepatnya membantu Ben.


"Sepertinya Lucky akan bertahan dalam waktu cukup lama. Aku harus melakukan sesuatu," imbuh Bella sembari bangkit dari tempat duduk.


"Dokter, biar kami saja yang melakukannya. Kau harus istirahat terlebih dahulu," saran Liam yang cemas.


"Tidak, masalah ini hanya aku yang bisa mengurusnya sendiri. Kalian jagalah Lucky sampai aku kembali." Bella bertekad. Ia segera pergi dari markas The Dark Place.


Bella berniat mencari Sabrina. Psikiater yang pernah menolak untuk membantunya tempo hari. Bella yakin, satu-satunya cara menaklukkan Lucky adalah dengan memberikannya fakta. Yaitu tentang masa lalu Ben yang belum terkuak hingga sekarang.


Keberangkatan Bella ke kota Washington dilakukan. Dia perlu memakan waktu ke tempat tujuan sekitar empat jam lebih.


Sesampainya di kediaman Sabrina, Bella menemukan keadaan rumah begitu sepi. Putri dari Sabrina bahkan tidak terlihat. Namun Bella tidak menyerah. Ia terus menekan bel pintu tanpa beralih dari posisinya.


Akibat merasa kesal, sosok Sabrina akhirnya muncul. Dia kaget saat menyaksikan kehadiran Bella. Wanita tua itu bergegas menutup pintu. Tetapi Bella sigap menghentikan.


"Kumohon, Nona Felice. Aku perlu bantuanmu. Jika kau terus begini, aku tidak bisa menghilangkan monster dalam diri Ben..." pinta Bella dengan tatapan penuh harap.


Sabrina mendengus kasar. Dia tertunduk sejenak, seakan sedang berpikir. Jujur saja, dia masih ketakutan berurusan dengan keluarga Hillstone. Alias keluarga asli Ben.


"Kumohon... percayalah kepadaku. Aku tidak akan membuat siapapun terluka. Ben sedang dalam penjagaan sekarang. Dia tidak bisa kemana-mana." Bella kembali mengiba. Hingga akhirnya Sabrina sudi menganggukkan kepala.


"Tunggu sebentar," ujar Sabrina. Dia tidak mempersilahkan Bella masuk. Namun membiarkan pintu dalam keadaan terbuka. Meskipun begitu, Bella tetap memilih berada di luar. Ia tidak mau bersikap tidak sopan ketika berada di kediaman orang lain.


Beberapa saat kemudian, Sabrina kembali sambil membawa sebuah buku bersampul hitam. Dia menyerahkan buku itu kepada Bella.


"Aku mencatat semuanya di buku ini. Ambillah dan cepat pergi dari sini!" pungkas Sabrina. Lalu langsung menutup pintu dengan bantingan keras.


Bella menghela nafas panjang. Walau diperlakukan kasar, setidaknya dia mendapatkan sesuatu dibandingkan kedatangan yang sebelumnya.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Bella membaca isi buku yang diberikan Sabrina. Gadis itu tidak kuasa menahan tangis ketika mengetahui bagaimana tragisnya masa lalu Ben. Bella hanya bisa membekap mulutnya sendiri. Dia mendadak tidak sanggup menguak segalanya kepada Lucky. Akan tetapi Bella tidak punya pilihan lain.


Selain memanfaatkan waktu untuk membaca buku, Bella juga menyempatkan tidur saat berada dalam kereta. Dia terbangun ketika pramugari kereta membangunkan. Tanpa basa-basi, Bella bergegas kembali ke markas The Dark Place.


Dengan hanya bermodalkan otak, tenaga, dan harapan, Bella melakukan semuanya sendiri. Bahkan luka di bahunya yang sesekali perih, tidak menjadi penghalang.


Bruk!


Bella masuk ke markas dengan membanting pintu. Dia minum terlebih dahulu, kemudian masuk ke ruangan dimana Lucky berada.


Bella melangkah pelan dan duduk ke hadapan Lucky. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Pria yang ada di hadapannya terus menggelepar dan melotot tajam. Dia seperti binatang buas yang sangat ingin menerkam mangsa.


"Bisakah kau berikan alasan kepadaku, kenapa kau begitu membenci wanita? Apa yang sudah dilakukan oleh Elly?" tanya Bella. Ia tahu bahwa kelembutan tidak mempan lagi untuk menaklukkan Lucky.


"Cuh! Pergilah ke neraka!" bukannya menjawab, Lucky justru menyenprotkan air ludah ke arah Bella.


"Aku tahu masa lalu membuatmu kesulitan. Tapi aku yakin, kau melupakan fakta bahwa ibumu selalu menyayangimu. Dia melakukan segalanya untukmu. Apa kau tahu itu?" timpal Bella. Menyebabkan Lucky sedikit meredakan amarah. Mengingat segala kasih sayang ibunya.


"Aku mendapatkan catatan terapi milik Elly Hillstone. Elly mengatakan, kalau kau dan dia sering mendapat penganiayaan dari Abraham." Bella mengungkapkan dengan memancarkan tatapan getir. Menguak masa lalu kepada pasien pengidap kepribadian ganda adalah yang tersulit.


"Kau bohong! Elly-lah yang sering memukuliku!" bantah Lucky.


Bella berusaha keras untuk tidak menangis. Sebab masa lalu yang dimiliki Ben benar-benar menyayat hati. Ben ternyata tidak hanya dianiaya ayahnya, tetapi juga ibunya sendiri. Akan tetapi Ben selalu menepis ingatan mengenai perlakuan ayahnya.


"Aku tahu. Tapi kau harus tahu..." Bella akhirnya meneteskan air mata. Dia terjeda sejenak. "Abraham juga sering bermain tangan kepadamu. Apa kau ingat anak perempuan yang bertemu denganmu di danau? Itu adalah aku, Lucky. Panggilan Lucky sendiri adalah panggilan kesayangan dari Elly kepada Ben. Aku juga baru saja ingat, kalau kau memperkenalkan dirimu dengan nama Lucky kepadaku," jelasnya, melanjutkan.


Lucky terdiam seribu bahasa. Dia menundukkan kepala dan berhenti mengamuk. Isakan tangis perlahan terdengar darinya. Lucky akhirnya tidak bisa mengabaikan fakta tentang masa lalu Ben yang kelam.


"Setelah kematian Abraham, awalnya semua berjalan baik-baik saja. Tapi Elly... dia juga berubah persis seperti Abraham..." ungkap Lucky. Berkutat dalam ingatan.


"Aku sering bersembunyi di lemari. Tanpa penerangan dan hanya ada kegelapan. Aku melakukan itu setiap hari setelah melihat Elly membunuh Abraham. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran ibuku. Tapi dia sering menangis dan bersikap seperti orang gila. Elly lebih memperdulikan sebuah boneka dibandingkan aku..." tanpa sadar Lucky terus bercerita. Robert dan kawan-kawan, diam-diam menguping dari depan pintu. Mereka ikut sedih mendengar cerita Lucky.

__ADS_1


"Itulah yang membuatmu sakit hati bukan? Kau berpikir, Elly akan terus menyayangimu." Bella menarik kesimpuan. "Lucky, apa yang di alami ibumu setelah nekat membunuh suaminya, merupakan gangguan mental yang parah. Dia di vonis oleh Sabrina menderita skizofrenia. Kemungkinan Elly melihat dirimu sebagai suaminya sendiri. Makanya dia berusaha menyakitimu. Elly mengira kalau bonekanya adalah dirimu," terang Bella. Perlahan dia mendekati Lucky. Menjongkokkan badan seraya menghapus air mata yang meleleh di pipi pria itu.


Sekarang Bella tahu misteri banyaknya boneka berbentuk manusia di basemen rumah Ben. Lucky mengumpulkan banyak boneka yang mirip dengan milik Elly, dan menghancurkannya sampai rusak.


"Elly membunuh Abraham dengan alat pemukul bisbol. Dia memukuli kepalanya sampai kepala Abraham hancur. Aku juga ingat, setelah Elly puas memukuli, dia menancapkan gunting ke bagian perut Abraham. Aku hanya bisa menangis histeris sambil berteriak ketakutan," ujar Lucky. Dia segera mendapatkan pelukan dari Bella.


"Aku tahu, kau berusaha keras menutupi semua itu dari Ben. Tapi keberadaanmu membuat kehidupan Ben semakin sulit, Lucky. Kau mungkin berpikir kalau apa yang dirimu lakukan akan membuat Ben tenang, namun pada kenyataannya tidak." Bella berucap sambil mengelus pelan pundak Lucky.


Bella tahu usaha Lucky yang sempat ingin menguasai tubuh Ben hanyalah akal-akalan saja. Keinginan Lucky yang sebenarnya adalah ingin terus bersama Ben. Makanya dia sengaja mendekati Bella. Memastikan masa lalu Ben tidak terkuak.


"Relakanlah semuanya. Biarkan Ben hidup dengan tenang. Lagi pula, segalanya telah berlalu. Kau harus percaya kalau Ben bisa membuat kehidupannya bahagia," ucap Bella sembari melepaskan pelukan. Saling bertatapan dengan Lucky.


"Ben sangat berubah saat bertemu denganmu, Dokter. Aku bisa merasakannya. Tapi aku tidak mau masa lalu akan terulang lagi. Aku tidak mau mempercayai wanita begitu saja. Kau juga salah satu alasan aku membenci wanita, jika dirimu memang anak perempuan yang aku temui di danau," balas Lucky. Raut wajahnya berubah menjadi datar.


"Kali ini aku tidak akan meninggalkan Ben lagi. Aku berjanji! Aku mencintainya, Lucky... sungguh..." Bella memancarkan nanar di manik hazelnya.


Lucky memperhatikan ekspresi Bella baik-baik. Lalu berucap, "Benjamin Hillstone. Itulah nama asli Ben." Lucky mengembangkan senyuman. Sebuah senyuman yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tulus dan menenangkan.


Perlahan Lucky memejamkan mata. Setelah beberapa saat, dia membukanya kembali. Sosok Ben akhirnya kembali. Akan tetapi Bella tidak langsung menyadarinya.


"Lucky?" panggil Bella memastikan.


"Bella? Apa yang terjadi?!" tanya Ben, tatkala menyaksikan dirinya terikat di kursi.


Bella tidak menjawab. Kini dia tahu kalau Ben sudah kembali. Tanpa pikir panjang, Bella langsung memeluk Ben sambil memecahkan tangis.


..._____...


Catatan Kaki :


Skizofrenia : Gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2