Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Cinta yang Sempurna


__ADS_3

Sebenarnya Vernon masih ingin lagi, tapi melihat istrinya yang sudah mengantuk, ia menjadi tidak tega dan memutuskan untuk tidur. Vernon mengambil selimut dan mulai menutupi badannya dan juga badan Sofia, kemudian segera tidur dengan memeluk tubuh istrinya itu.


Pagi hari, Sofia membuka matanya. Ia mendapati Vernon di sampingnya masih tertidur lelap. Ia terus memperhatikan wajah suaminya itu cukup lama, sampai suara serak Vernon khas orang bangun tidur memecah keheningan di pagi itu.


"Sudah puas ngeliatinnya?" tanya Vernon dengan mata masih tertutup.


"Kamu udah bangun mas?" kaget Sofia.


Vernon mengangguk dan memeluk tubuh kecil istrinya.


"Aku buatin sarapan ya, pagi ini kan kita pulang ke Jakarta".


"Sebentar lagi ya sayang, kita lanjutin dulu yang semalam" kata Vernon masih dengan posisi yang sama, yaitu memeluk Sofia.


"Ih mas jangan dong, pasti mama udah bangun sekarang. Kan nggak enak kalau mama dengar".


"Sekali aja ya di kamar mandi, biar mama nggak dengar" ujar Vernon dengan wajah memelas.


Sofia merasa tidak tega menolak permintaan suaminya, akhirnya ia pun menyetujuinya dan mereka mulai melakukan aktivitas seperti tadi malam di kamar mandi.


2 jam kemudian, Sofia dan Vernon baru keluar dari kamar mandi.


"Mas bilangnya sekali doang, tapi tadi sampai 3 kali".


"Maaf sayang, soalnya tubuh kamu tuh bikin nagih".


"Gombal kamu mas" kata Sofia sambil tersenyum.


Sofia sedang menyiapkan baju Vernon dan baju untuk dirinya. Tiba-tiba Vernon datang dan memeluk Sofia dari belakang. Ia mencium rambut Sofia cukup lama, bau mint dari shampo yang dipakai Sofia membuatnya betah berlama-lama.


"Ini baju kamu mas" kata Sofia, membalikkan tubuhnya menghadap Vernon yang tengah memeluknya.


"Terima kasih istriku" ucap Vernon menerima baju pemberian Sofia dan mencium singkat bibir istrinya itu.


Sofia tersenyum, ia berharap akan selamanya romantis dengan suaminya dan tidak pernah ada yang berubah.


Selesai berpakaian, Sofia dan Vernon menuruni tangga untuk sarapan. Ternyata sudah ada mama Sonya yang sedang bersiap untuk bekerja.


"Loh mama udah mau kerja? nggak sarapan dulu?" tanya Sofia.


"Mama udah sarapan sendiri tadi, habisnya kalian lama sih" jawab mama Sonya, bercanda.


"Maafin kami ya ma" kata Vernon merasa menyesal.


"Santai aja, mama ngerti kok kalau pengantin baru emang butuh waktu berduaan".


"Mama nggak mau jadi pengantin baru lagi? udah lama loh jomblonya" goda Sofia.


"Hahaha, mama mah udah tua nggak ada yang mau. Cukup kalian berdua aja" ucap mama Sonya sambil tertawa.


"Jadi kalian kapan pulang ke Jakarta?" lanjut mama Sonya.

__ADS_1


"Rencananya pagi ini ma" kata Vernon.


"Kok buru-buru sih? mama sendirian lagi dong".


"Kan mas Vernon mau kerja, ma. Nanti kita sering-sering main kesini deh biar mama nggak kesepian" hibur Sofia.


"Iya ma, nanti Sofia dan Vernon sering-sering main kesini" tambah Vernon.


"Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan makannya. Mama pergi kerja dulu ya, maaf nggak bisa nemenin kalian sarapan. Nanti kalau mau pulang, kuncinya taruh di atas pintu aja".


"Siap ma. Hati-hati dijalan ya" kata Sofia sambil memeluk mamanya.


"Hati-hati dijalan ma" lanjut Vernon, menyalami tangan mama Sonya.


"Iya, kalian juga hati-hati perginya" ucap mama Sonya.


Tinggal lah mereka berdua di rumah itu. Selesai sarapan, Sofia langsung mencuci piring dan membereskan meja makan. Sedangkan Vernon sedang menurunkan koper-koper mereka dan memasukkannya ke mobil.


Setelah semua beres, mereka bersiap untuk pulang ke Jakarta.


"Silahkan masuk tuan putri" ucap Vernon membukakan pintu mobil untuk Sofia.


"Terima kasih pangeranku" balas Sofia.


"Hari ini kita pulang ke rumah baru".


"Rumah baru? kamu beli rumah baru mas?".


"Iya dong".


"Aku udah siapin dari sebelum kita nikah".


"Kok so sweet banget sih, padahal pas jadi dosen, killernya bukan main" ujar Sofia, bercanda.


"Kan itu dulu, sekarang udah beda. Memangnya kamu mau, aku cuek kayak dulu lagi?".


"Jangan dong. Aku suka kamu yang sekarang mas. Tetap kayak gini ya".


"Iya sayang, itu pasti" kata Vernon, menggenggam tangan Sofia.


Setelah 3 jam berkendara, mereka akhirnya telah sampai di depan rumah yang sangat mewah. Terlihat 2 orang satpam membukakan pintu pagar dan mobil memasuki perkarangan rumah.


"Mas ini rumah baru yang kamu maksud? kayaknya ini terlalu besar deh" kata Sofia sambil memperhatikan rumahnya.


"Aku nggak mau istriku tinggal di tempat yang sempit" ujar Vernon.


"Tapi ini terlalu besar mas. Nanti capek bersihin rumahnya".


"Kamu nggak perlu kerja apa-apa disini. Aku udah nyewa asisten ruma tangga untuk bersih-bersih dan memasak".


"Tapi mas.."

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapi, ayo masuk" potong Vernon, kemudian mengajak Sofia untuk masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam rumah, mereka telah disambut para asisten rumah tangga di depan pintu.


"Selamat siang nyonya, tuan" ucap salah satu asisten rumah tangga.


"Selamat siang" ucap Sofia sambil tersenyum.


Sofia melirik ke arah Vernon dan mendapati suaminya dengan wajah datar, persis seperti dulu saat menjadi dosen killer.


"Mulai hari ini, selain saya, kalian juga harus mendengarkan apa yang dikatakan istri saya. Mengerti?".


"Mengerti tuan" ucap asisten rumah tangga bersamaan.


"Bawakan koper-koper ini dan susun baju-bajunya di lemari, yang lainnya silahkan kembali bekerja" ujar Vernon dengan wajah datarnya.


"Baik tuan".


Sofia melongo tidak percaya melihat kejadian itu. "Kamu kenapa jahat gitu sih mas?".


"Jahat kenapa?".


"Kok kamu bisa-bisanya nyuruh asisten rumah tangga kamu dengan wajah datar kayak gitu?"


"Mereka pembantu baru. Jadi aku harus menunjukkan sikap yang tegas, biar mereka nggak semena-mena disini".


"Tapi lain kali jangan gitu, aku yang jadi takut lihat ekspresi kamu mas".


"Iya sayang" kata Vernon sambil membelai rambut istrinya.


"Maaf tuan, nyonya. Semua pakaiannya sudah dimasukkan ke lemari" kata salah seorang asisten rumah tangga.


"Oke, silahkan lanjut bekerja".


"Ayo sayang, kita ke kamar" ajak Vernon.


Sofia terkejut saat memasuki kamar tidur mereka. Kamar itu sangat besar, bahkan lebih besar daripada rumahnya yang di Jakarta.


"Kamu kenapa bengong di depan pintu sayang? ayo masuk".


"Eh iya, iya".


Sofia mendudukan tubuhnya ke atas kasur, diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan itu. Vernon yang melihat Sofia terdiam di kasur segera duduk di samping Sofia dan memeluk tubuh istrinya itu dari samping.


"Kamu kenapa diam sayang?" tanya Vernon dengan lembut.


Sofia melirik ke arah suaminya yang tengah memeluknya dan membalas pelukan suaminya itu sambil bersandar ke dada bidang milik Vernon. "Aku bahagia mas".


"Aku bahagia karena cinta pertama sekaligus sahabatku ternyata bisa menjadi suamiku saat ini. Bukankah kisah cinta kita sangat sempurna? lanjut Sofia sambil menatap wajah Vernon.


"Iya, sangat sempurna dan mas sangat bahagia. Terima kasih sudah menjadi sahabat sekaligus istri untukku sayang".

__ADS_1


"Terima kasih juga, mas sudah mau menjadi sahabat sekaligus suami yang sangat baik untuk aku".


Vernon tersenyum kemudian mencium bibir Sofia. Sofia membalas ciuman itu, dan mereka berakhir di atas ranjang.


__ADS_2