
Kamu kenapa berubah begini mas, aku takut kamu yang seperti ini. Kasar dan dingin, kamu bukan Vernon yang aku kenal lagi. Tolong kembalikan Vernon yang dulu lagi, aku butuh kamu yang dulu.
.
.
.
Berbeda seperti biasanya, kali ini tidak ada tawa diantara mereka. Sehabis makan, biasanya Vernon mencium mesra istrinya kemudian mengantarnya bekerja. Namun sekarang tidak lagi.
Sehabis makan Vernon langsung pergi ke kantor tanpa mengucapkan apa-apa, bahkan memandang Sofia pun tidak.
Sofia hanya bisa menahan tangisnya, air mata di sudut matanya dihapusnya. Ia bergegas pergi ke restoran, berusaha mencari ketenangan disana.
"Bi, saya pergi kerja dulu, tolong rumahnya dibersihkan ya. Sore nanti saya pulang".
"Baik nyonya" jawab para asisten rumah tangga.
Setelah Sofia sudah keluar dari rumah, para asisten rumah tangga mulai gosipnya.
"Kasihan ya nyonya Sofia, padahal dulu so sweet banget sama tuan Vernon tapi sekarang kayaknya mereka ada masalah deh" ucap salah seorang asistennya.
"Iya ya. Aku dengar-dengar sih karena nyonya Sofia keguguran".
"Beneran? pantas saja perut nyonya kayak rata gitu, ternyata keguguran toh".
"Padahal mereka sangat mengharapkan anak ya selama ini, tapi Tuhan berkehendak lain, anaknya harus diambil lebih dulu".
"Iya ya, jadi kasihan lihat nyonya".
"Kita balik kerja aja, nanti kalau di dengar orang lain bisa kena marah".
Ketiga asisten rumah tangga itu membubarkan diri, dan mulai bekerja. Mereka tidak sadar, dibalik pintu Sofia mendengar semuanya.
Asisten rumah tangga pun tahu akan kejadian ini, seburuk ini kah nasib yang harus aku hadapi. Dasar bodoh, kenapa aku jadi cengeng begini.
Gumamnya, sambil menyeka air matanya yang kembali ingin keluar.
"Pak saya pergi ke restoran dulu ya".
"Nyonya naik apa? nanti saya antar ya" tawar pak satpam yang berjaga di rumah mereka.
"Nggak usah, saya naik tak online aja. Saya pamit ya, permisi" kata Sofia.
Sesampainya di restoran, ia mulai mengobrol dengan para karyawan serta dengan beberapa pembeli tetapnya yang sering datang.
Sofia menghibur dirinya dengan cara seperti itu, walaupun sesekali ia masih memikirkan keadaan Vernon.
POV Vernon
__ADS_1
Setiap hari aku selalu menghampiri makam anakku, Keisha. Entah kenapa aku selalu menghampirinya dan berakhir dengan mabuk di klub. Aku tahu itu adalah hal yang salah, tetapi hanya itu yang bisa aku perbuat saat ini.
Aku merasa bersalah mengacuhkan Sofia, tetapi di sisi lain aku seperti belum bisa memaafkan diriku sendiri. Bahkan karena hal itu, aku jadi menyalahkan Sofia seorang diri, dengan menganggap diriku sendiri tidak salah.
Mempunyai anak adalah harapan terbesarku. Saat aku kehilangannya, hidupku seakan hilang sebagian.
Waktu. Hanya itu yang aku perlukan. Waktu untuk berhasil keluar dari keterpurukan kemudian bangkit kembali memulai semuanya menjadi lebih baik.
Bersabarlah Sofia, aku akan kembali seperti dulu saat waktunya tepat. Tolong bertahan sebentar, dengan sikapku seperti ini.
POV Author
Vernon terus melamun dan tidak pernah fokus dengan pekerjaannya. Hingga Joshua tidak tahan lagi melihat sikap adiknya dan menegurnya.
"Pulang dan selesaikan masalahmu. Percuma kamu ke kantor begini kalau kamu sendiri nggak fokus".
"Aku tidak bisa pulang".
"Memangnya kenapa?".
"Ada Sofia".
"Kenapa kalau ada Sofia? dia kan istrimu".
"Aku belum bisa untuk melihatnya".
"Kenapa? kasihan dia Vernon, kamu akan menyesal kalau dia meninggalkanmu".
"Kenapa kamu sangat percaya diri begitu? itu tidak mungkin".
"Entahlah, hanya perasaanku saja. Intinya aku belum bisa melihatnya dan berbicara baik-baik".
"Terserah, intinya jangan pernah menyesal. Aku pergi" ucap Joshua.
Vernon terlihat mengusap wajahnya frustasi kemudian pergi ke luar mencari udara segar.
Tiba-tiba terlintas dibenaknya untuk melihat keadaan Sofia di restoran.
Aku tidak mengantarnya tadi. Kira-kira dia sudah di restoran atau belum ya.
Vernon mengambil kunci mobilnya kemudian memutuskan mengecek Sofia di restoran.
Sesampainya di restoran Sofia, ia melihat istrinya tertawa bersama para pekerja lainnya.
"Ternyata kamu malah tertawa seperti itu Sofia. Setelah apa yang kamu perbuat pada anakku, kamu malah tidak merasa sedih sedikitpun. Keterlaluan kamu, awas saja" geram Vernon.
Venron yang awalnya mulai sedikit luluh berubah menjadi marah kembali. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, karena merasa sangat kesal.
Sofia yang sedang mengobrol tidak sengaja melihat ke arah jendela.
__ADS_1
Kok aku kayak lihat mobil mas Vernon lewat ya, apa cuma perasaan aku aja.
Sore harinya, Sofia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia melihat mobil Vernon telah terparkir.
Tumben mas Vernon cepat pulang.
Sofia membuka pintu rumah dan mendapati Vernon yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Mas".
"Akhirnya kamu pulang juga. Mulai besok kamu berhenti mengelola restoran itu. Restorannya akan aku tutup".
"Apa? tapi kenapa ditutup mas?".
"Memangnya kenapa? kamu tidak suka? restoran itu kan milik aku, jadi aku berhak menutupnya".
"Iya aku tahu itu milik mas, tapi kasih aku alasan kenapa kamu ingin menutupnya. Jangan tiba-tiba seperti ini, aku juga harus kasih tahu para karyawan".
"Kalau begitu sekarang juga beritahu mereka. Aku menutupnya karena kamu itu tidak punya hati nurani" teriak Vernon.
"Hati nurani apa yang mas maksud? disini yang tidak punya hati nurani aku atau kamu mas" balas Sofia, ia tidak tahan disalahkan terus oleh Vernon.
"Ya kamu lah! Setidaknya aku masih memikirkan anakku, sedangkan kamu apa? malah tertawa dengan karyawan kamu tanpa memikirkan anak kita sedikitpun!".
"Aku banya mencoba menghibur diri aku mas, seperti kamu menghibur diri kamu dengan alkohol!".
"Diam kamu, sudah berani melawan ternyata. Kamu itu sebaiknya fokus untuk membuatkan aku anak lagi bukannya keluyuran tidak jelas. Pantas saja kamu keguguran begitu".
Plak
Sofia menampar pipi Vernon, ia tidak tahan lagi mendengar perkataan Vernon yang sangat menyakitkan.
"Kamu keterlaluan mas. Kamu selalu menyalahkan aku, padahal kamu sendiri tidak melihat diri kamu! Bahkan kamu melakukan hubungan intim saat masa nifas aku belum sampai 40 hari. Kamu memang sudah gila! aku benci kamu!" teriak Sofia histeris.
Ia berlari menuju kamar kemudian meringkuk di sudut kamarnya dengan terisak.
Vernon terdiam sesaat, kemudian memutuskan pergi keluar rumah.
Di dalam kamar, Sofia terus saja menangis. Ia merasa hidupnya seakan tidak berarti lagi. Ia kehilangan anak serta kasih sayang dari suaminya yang seharusnya mensuportnya disaat seperti ini.
Pikirannya tidak karuan lagi, diambilnya silet dari meja riasnya kemudian ia mencoba untuk melukai dirinya.
Maafkan aku mama, papa.
Sofia menutup matanya dan akan melukai tangannya dengan silet, namun sebelum terjadi, hp nya tiba-tiba berbunyi.
Diliriknya nama penelepon itu, seketika ia membatalkan niatnya untuk bunuh dirinya setelah melihat nama peneleponnya yang ternyata adalah mama Sonya.
Diangkatnya telepon ibunya, kemudian terdengar suara dari seberang.
__ADS_1
Assalamualaikum, sayang kamu baik-baik saja?.
Mama, kamu penyelamatku. Ucapnya sambil terisak.