
Sofia mencium singkat bibir Vernon, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sambil menatap kedua mertuanya yang tersenyum bahagia.
Hari demi hari dilewati Sofia dengan sangat baik. Vernon yang sebentar lagi akan menjadi ayah, selalu siap siaga dan menjadi suami yang overprotektif kepada Sofia.
"Mas hari ini temenin aku check up ya ke rumah sakit".
"Siap sayang. Jam berapa perginya?" tanya Venron yang baru saja selesai sarapan.
"Nanti saat jam makan siang aja mas, aku juga mau ke restoran dulu" ucap Sofia.
"Baiklah nanti mas jemput kamu di restoran ya. Kamu jangan sampai kelelahan saat bekerja, ingat ade bayinya disini" kata Venron sambil mengelus perut Sofia yang mulai sedikit buncit.
"Iya mas siap, aku pasti akan selalu hati-hati".
"Gitu dong baru istriku. Sini cium dulu" kata Vernon memajukan bibirnya.
Sofia tersenyum kemudian mencium bibir Vernon.
Saat jam makan siang berlangsung, Sofia dan Vernon pergi ke rumah sakit untuk check up.
Sesampainya di rumah sakit, dokter mulai memeriksa kandungan Sofia. Mereka bisa melihat pergerakan bayinya di dalam kandungan, walaupun belum terlalu jelas kelihatan bentuk bayinya.
"Dok, bagaimana dengan kondisi anak saya di dalam sana? apa dia baik-baik saja?" tanya Vernon.
"Ia pak, bayinya baik-baik saja dan kelihatannya sangat sehat. Diharapkan untuk ibunya agar tidak terlalu bekerja yang berat dan juga selalu menjaga pola makannya, apalagi kandungan ibu baru mau memasuki usia kandungan 3 bulan" ujar dokter, menjelaskan.
"Baik dok, pasti akan selalu saya pantau apa yang dimakan dan dilakukan istri saya".
"Anda memang benar-benar suami siaga pak" ucap sang dokter sambil tersenyum.
"Dok, tapi saya belum mengalami ngidam sama sekali. Apa itu wajar?" tanya Sofia.
"Memang setiap ibu hamil berbeda-beda bu. Ada yang cepat merasakan ngidam ada juga yang lambat merasa ngidamnya. Tapi tenang saja, ibu pasti akan melalui itu semua, intinya pak Vernon harus selalu siap saat istrinya nanti minta yang macam-macam".
"Pasti dok, akan saya lakukan".
"Oh iya dok, tentang jenis kelamin bayinya kira-kira kapan bisa diketahui?".
"Sekitar 4 atau 5 bulan pak, bu. Nanti kalian bisa cek kembali saat usia kandungannya sudah memasuki bulan tersebut".
"Baik dok, terima kasih atas waktunya. Kami pamit dulu" ucap Vernon.
Diperjalan pulang dari rumah sakit, Sofia tidak snegaja melihat ada penjual cireng di pinggir jalan, dengan cepat ia berteriak menyuruh Vernon untuk memberhentikan mobilnya.
"Stop mas!".
Ciitt...
Vernon menginjak remnya mendadak.
"Kenapa sayang? kamu nggak apa-apa?" tanya Vernon khawatir.
"Iya aku nggak apa-apa kok. Aku cuma lihat ada penjual cireng, jadi aku suruh kamu stop".
__ADS_1
"Kamu mau mas beliin?".
Sofia mengangguk cepat.
"Apa saat ini kamu mulai ngidam ya? kok mas jadi senang gini".
"Mungkin, aku juga nggak tahu mas. Kalo mas senang beliin dong sekarang, aku kepengen banget" ucap Sofia dengan nada manja.
"Baik tuan putri tunggu sebentar ya".
Vernon turun dari mobilnya dan membelikan cireng yang diinginkan Sofia.
"Ini yang cirengnya" Vernon menyodorkan cireng yang dipesan Sofia.
Tanpa berlama-lama, Sofia segera melahap cireng itu dan dalam sekejap cirengnya habis tanpa sisa.
"Yang kamu beneran habisin semua cirengnya? padahal tadi mas pesan 2 porsi loh, satunya rencana untuk mas".
"Ohh jadi tadi satunya untuk mas? maaf ya mas aku habisin, soalnya enak sih. Nanti mas beli sendiri lagi ya kalau masih suka" ucap Sofia dengan tampang polos.
"Iya iya deh, yang penting kamu dan bayinya sehat mas bakal lakuin apapun".
"Terima kasih mas".
"Sama-sama sayang. Kamu mau balik ke resto atau mau pulang ke rumah aja?".
"Kayaknya pulang aja deh mas, aku kayak ngerasa ngantuk banget sekarang".
"Iya mas".
Setelah mengantar Sofia pulang ke rumah, Vernon kembali ke kantornya untuk bekerja.
Baru 15 menit berlalu, tiba-tiba hp Vernon berdering. Dilihatnya nama istrinya tertera di layar hpnya, segera ia mengangkat panggilan telepon itu.
"Assalamualaikum sayang, ada apa?".
"Mas hiks..hiks".
Terdengar suara Sofia yang menangis di seberang.
"Loh sayang kamu kenapa menangis? ada apa?" Vernon menjadi panik mendengar suara istrinya yang menangis.
"Mas aku...huaaaaa".
Tangisan Sofia menjadi sangat kencang, membuat Vernon menjadi sangat panik. Rasanya ingin segera berlari menemui Sofia namun ia berusaha untuk tenang terlebih dahulu.
"Sayang, tolong jangan buat mas khawatir. Ada apa? kenapa kamu nangis?".
"Aku..aku rindu kamu mas hiks..hiks".
Vernon yang awalnya sangat khawatir, menarik napasnya lega karena ternyata istrinya tidak kenapa-kenapa.
"Ya Allah sayang kamu hampir buat jantung mas copot tau, mas kirain kamu kenapa".
__ADS_1
"Tapi aku beneran rindu banget mas, kamu cepat pulang sekarang".
"Tapi kan baru 15 menit yang lalu kita ketemu sayang, ini aja mas baru sampai di kantor masa mas udah mau pulang aja" ujar Vernon.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya mas pulang sekarang juga titik!" kata Sofia kemudian mematikan sambungan telepon.
Astaga apa ini faktor kehamilan? nggak pernah aku lihat Sofia nangis-nangis gitu hanya karena rindu. Lucu juga deh.
tok tok tok
"Masuk" ucap seseorang dari dalam ruangan.
"Hai kak" kata Vernon memanggil orang yang ternyata adalah kakaknya.
"Oh Vernon. Ada apa?" tanya Joshua yang sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Kakak mau kemana?".
"Oh ini aku mau pulang karena Angel mengeluh perutnya sakit, aku takut dia udah mau melahirkan. Aku minta tolong kamu urus pekerjaan kantor ya".
"Loh aku kesini juga rencananya mau minta kak Joshua untuk mengurus pekerjaan kantor karena Sofia menangis di rumah nyariin aku".
"Duh kakak juga nggak bisa, Angel juga sedang kesakitan sekarang. Nggak lucu kan kalau dia melahirkan tiba-tiba" ujar Joshua.
"Nggak lucu juga kan kak kalau anak aku ileran karena nggak nurutin permintaan ibunya" balas Vernon tak mau kalah.
"Terus gimana ini? masa meeting kali ini mau dibatain lagi" ucap Joshua mulai frustasi.
Tiba-tiba pintu ruangan Joshua terbuka, dilihatnya ayah Bram masuk ke dalam ruangan itu.
"Akhirnya ayah datang" kata kakak beradik itu bersamaan sambil tersenyum lega.
"Memangnya kenapa? ayah nggak boleh datang untuk mengecek perusahaan?".
"Bukan gitu yah. Ayah bisa kan gantiin kami untuk rapat dengan klien?" tanya Joshua.
"Kenapa ayah yang melakukan rapat? kan ada kalian berdua. Apa gunanya ayah punya anak kalau perusahaan masih ayah yang ngurusin".
"Yah, masalahnya ini sangat mendesak. Istri kak Joshua udah sakit perut kayaknya udah mau lahiran terus Sofia juga nangis-nangis sekarang minta aku cepat pulang, mungkin faktor hamil. Ayah nggak kasihan sama cucu-cucu ayah nanti?" ujar Vernon panjang lebar.
"Ohh jadi ini karena cucu ayah? Ya sudah kalian cepat pulang sana, ayah nggak mau cucu-cucu ayah kenapa-kenapa. Nanti masalah kantor ayah yang urus".
"Makasih ayah. Ayah memang ayah terbaik sepanjang masa" ucap Joshua sambil memperlihatkan jarinya berbentuk love.
"I love you" kata Vernon sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan membentuk simbol love.
Memang suami-suami siaga, mirip banget kayak aku dulu. Gumam ayah Bram, tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.
...****************...
Hai guys
Mohon maaf untuk beberapa hari kedepan author mungkin akan up ceritanya malam hari, karena ada sesuatu hal yang harus author lakukan. Jadi mohon pengertiannya ya, terima kasih ๐
__ADS_1