Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Insiden Si Kembar


__ADS_3

"Gagal deh malam ini" kata Vernon.


"Sabar mas".


.


.


.


Nisya dan Nasya mulai bersekolah di sekolah paud, sebelum akan memasuki sekolah taman kanak-kanak.


Si kembar memiliki warna pakaian yang berbeda dan bahkan sifat mereka pun sangat berbeda.


Nasya kelihatan anak yang sangat pemberani, sedangkan Nisya sang kakak, memiliki sifat pemalu.


Suatu ketika, Sofia mendapat telepon dari gurunya, yang bilang bahwa Nasya memukul anak satu kelasnya.


Mendengar hal itu, Sofia dan Vernon bergegas ke sekolah untuk menemui anak mereka.


"Permisi bu, apa benar anak saya Nasya memukul seseorang?".


"Iya ibu, bapak. Nasya memukul seorang anak laki-laki sampai hidungnya berdarah".


"Ya Allah, baru anak itu dimana sekarang? kami akan bertanggung jawab bu".


"Mereka ada di rumah sakit saat ini".


"Tenang sayang. Nanti aku yang akan menemui keluarga anak itu, kamu urus Nasya dulu".


"Baik mas".


Vernon segera pergi ke rumah sakit tempat anak itu dirawat sedangkan Sofia mengurus masalah Nasya di sekolah.


"Jadi, kenapa bisa Nasya memukul anak itu, bu?" tanya Sofia.


"Menurut pengakuan kembarannya yaitu Nisya, katanya Nasya memukul anak itu karena melihat anak tersebut mengganggu Nisya dan membuatnya sampai menangis. Sebetulnya apa yang dilakukan Nasya itu benar bu, karena dia ingin membela kakaknya. Hanya saja, salahnya adalah dia memukul anak itu sampai berdarah" ujar kepala sekolah.


"Iya benar bu. Saya akan bicara dengan anak saya, dan memperingati dia. Bisa saya bawa pulang kedua anak saya bu?".


"Bisa bu. Mereka sedang di kelas saya, tunggu saya panggilkan ya".


Kepala sekolah akhirnya memanggil Nisya dan Nasya untuk bertemu mamanya.


Mereka melihat mata mamanya yang terlihat sangat marah, keduanya hanya bisa menunduk tidak berkata apa-apa.


Selama diperjalanan pulang, Sofia mendiamkan kedua anaknya tanpa berbicara sedikit pun.


Saat sampai di rumah. Ia mulai menatap kedua putrinya bergantian.


"Jawab mama sekarang, kenapa bisa kalian memukul anak itu sampai berdarah?".


"Bukan kami ma. Tapi cuma Nasya yang mukul kok" kata Nasya mencoba membela kakaknya.


"Oke, jadi kenapa Nasya pukul anak itu?" tanya Sofia.


"Kalena dia ganggu Nisya sampai menangis. Padahal Nisya diam-diam aja, nggak gangguin dia ma".


"Jadi Nasya mau menghukum anak itu?".


"Iya ma".


"Nasya tahu kan, apa yang Nasya perbuat itu salah? Nasya masih kecil tapi udah bisa bikin anak orang lain hidungnya berdarah. Itu nggak baik sayang" jelas Sofia.


"Tapi Nasya hanya coba bela Nisya ma. Kenapa Nasya selalu salah? mama nggak pernah sayang Nasya" teriaknya berlari ke kamar.

__ADS_1


"Nasya, bukan begitu nak. Astaga kenapa dia jadi yang marah lagi".


"Ma, jangan malah-malah sama Nasya ya, Nasya baik kok. Aku pelgi susul Nasya dulu, dadah mama" ucap Nisya.


"Iya sayang. Terima kasih ya" kata Sofia sambil tersenyum.


Kenapa mereka berdua sifatnya sangat berbeda ya. Coba aja kalau Nasya seperti Nisya.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan keluarga anak yang dipukul Nasya, Vernon memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam. Mas, gimana dengan anak itu? dia baik-baik saja kan?".


"Baik sayang. Dia hanya berdarah sedikit dihidungnya tapi sekarang sudah baikan kok".


"Syukurlah kalau begitu mas".


"Dimana Nisya dan Nasya?".


"Di kamar mas. Nasya lagi ngambek, padahal tadi aku cuma kasih tahu kalau perbuatannya itu nggak baik, tapi dia langsung marah" ucap Sofia.


"Biar mas yang bicara dengan dia ya".


Sofia mengangguk setuju.


Vernon menuju ke arah kamar kedua putrinya itu dan dilihatnya Nisya yang sedang membujuk Nasya.


"Nasya jangan ngambek lagi. Ayo main Nasya" ajak Nisya.


"Nggak mau, main aja sama mama. Nisya kan paling disayang sama mama, kalau Nasya enggak".


"Itu nggak benal Nasya. Mama sayang kita beldua kok".


"Buktinya mana? semua kemauan Nisya selalu diikut, sedangkan Nasya nggak pelnah, hanya papa yang mengelti Nasya".


tok tok tok


"Papa boleh masuk?".


"Papa" teriak Nasya, berlari memeluk Vernon.


"Hai anak papa. Sini, Nisya juga papa mau peluk. Dua putri papa udah makin gede nih".


"Papa bawa makanan kesukaan kalian loh. Nisya minta ke mama ya, makanannya ada sama mama".


"Baik pa" kata Nisya bersemangat dann pergi menghampiri Sofia.


"Cuma Nisya aja? Nasya nggak ada?" tanya Nasya cemberut.


"Ada juga kok. Tapi papa mau bicara dulu sama Nasya".


"Bicala apa pa?".


"Nasya kenapa marah saat mama kasih tahu yang baik buat Nasya?" tanya Vernon begitu lembut.


"Mama selalu salahin Nasya pa. Padahal kan Nasya cuma mau bela Nisya doang".


"Iya betul. Papa sangat senang karena Nasya mau bela kakaknya, terus sangat berani melawan hal yang buruk. Tapi, lain kali jangan pukul sampai berdarah ya sayang, nanti kalau anak itu kenapa-kenapa bagaimana? bisa-bisa papa yang dipenjara loh".


"Nasya nggak mau papa dipenjala".


"Makanya jangan pukul lagi ya. Papa nggak mau Nasya pukul orang lagi. Papa sangat sayang sama Nasya".


"Nasya juga sangat sayang sama papa. Love you pa".

__ADS_1


"Love you too sayang".


Vernon mencium kedua pipi Nasya, kemudian menggendongnya untuk turun ke bawah menemui Nisya dan mamanya.


Nisya dan Nasya mulai makan kue kesukaan mereka masing-masing yang dibawakan oleh papanya, sambil bermain bersama.


"Emang cuma kamu doang mas yang bisa bujuk Nasya" ucap Sofia.


"Kamu sih, jangan langsung marah-marah sama dia makanya, bicara baik-baik dong".


"Iya mas. Tapi Nasya cuma dengerin kamu doang, mana pernah dia dengerin aku bicara. Makanya aku tegas sama dia mas".


"Iya sayang, udah jangan kamu lagi yang ngambek dong. Masa satu anak udah selesai di bujuk, ibunya lagi yang mau ngambek" ledek Vernon.


"Ih siapa juga yang ngambek mas, nggak ngambek kok" bantah Sofia.


"Kalau begitu sebentar malam harus jadi ya, usahakan mereka berdua nggak masuk ke kamar kita lagi sayang".


"Iya mas. Tapi aku nggak janji loh kalau mereka nggak ke kamar lagi".


"Pokonya jangan sampai deh. Kasihan bagian bawah mas ini, udah meronta-ronta dia".


"Mas mesum banget" cubit Sofia ke perut Vernon.


"Awww ampun, ampun" ringis Vernon sambil tertawa.


Malam harinya, Vernon sudah memperingati kedua anaknya agar tidak masuk ke dalam kamar mereka.


"Kenapa kita nggak bisa tidul baleng mama, papa?" tanya Nasya.


"Karena kalian udah besar. Nggak malu apa udah sekolah tapi masih tidur bareng mama, papa? nanti diketawain teman-teman loh".


"Benelan pa?" tanya Nisya penasaran.


"Beneran sayang. Jadi jangan lagi tidur dengan mama dan papa ya. Harus berani tidur sendiri".


"Siap pa. Kita beldua akan tidul di kamal sendili".


"Nah gitu baru anak papa".


"Selamat tidur putri-putri cantik papa".


"Selamat tidul juga pa" ucap keduanya.


Setelah menidurkan si kembar, Vernon kembali ke kamar dengan bernapas lega.


"Gimana mas? berhasil caranya?".


"Berhasil dong".


"Kamu bilang apa emangnya?".


"Rahasia dong. Sekarang ayo kita mulai, tidak ada lagi yang bisa mengganggu malam kita berdua".


Sofia tersenyum kemudian mengisyaratkan tangannya agar Vernon menghampirinya.


Tidak perlu lama-lama lagi, Vernon segera menghampiri Sofia yang sudah berada di atas ranjang dan langsung menerkamnya bertubi-tubi hingga 4 ronde.


"Terima kasih sayang karena sudah melahirkan dua anak yang sangat cantik untukku".


"Sama-sama mas. I love you mas".


"Love you too".


Mereka kembali berciuman dan melanjutkan permainan mereka hingga total permainan malam itu sebanyak 7 ronde.

__ADS_1


...****************...


TAMAT.


__ADS_2