Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Sulit Menerima Kenyataan


__ADS_3

Maafkan papa sayang, papa tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu pergi lebih dulu meninggalkan kami, sebelum kami bisa melihatmu lahir ke dunia ini. Papa sayang kamu, KEISHA BRAMAPUTRA.


.


.


.


Bayi Keisha dimakamkan dengan dihadiri oleh Joshua, ayah Bram dan tentunya Vernon. Sedangkan bunda Anya dan Angel memilih menjaga Sofia yang masih belum siuman di rumah sakit.


Mendengar kabar anaknya keguguran tentu membuat mama Sonya yang sedang berada di luar negeri bersama suaminya merasa terpukul. Ia tidak bisa hadir melihat kondisi Sofia yang terbaring di rumah sakit dan juga cucunya yang telah meninggal.


Vernon memandikan, menyolatkan serta menguburkan bayi Keisha ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Kamu yang kuat Ver, kakak yakin kamu dan Sofia bisa mendapatkan anak lagi" ucap Joshua menyemangati.


"Tapi kemungkinannya sangat kecil kak, untuk mendapat satu anak saja kami susah payah selama ini, apalagi sekarang jadi seperti ini" ujar Vernon tertunduk, dengan mata sembabnya.


"Kamu jangan pernah menyerah. Vernon yang kakak tahu tidak pernah menyerah seperti ini. Saat ini Sofia lah yang paling terguncang perasaannya, jadi kamu harus menyemangati dia juga".


"Selama kami belum punya anak aku selalu menyemangati dia kak. Dia yang terlalu pesimis selama ini, dia juga yang selalu minta aku nikah lagi tapi aku berusaha ngeyakinin dia kalau aku nggak gitu. Dan sekarang saat aku benar-benar kehilangan anakku, apa aku juga yang harus menyemangati dia? aku tidak bisa sesabar dulu kak, tidak bisa" teriak Vernon.


"Kakak tahu ini sulit, tapi kamu laki-laki, kamu kepala keluarga. Kamu harus membimbing dan menyemangati istri kamu, pasti dia juga tidak mengharapkan ini terjadi Vernon".


"Sudah diamlah kak. Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasa saat ini, jadi jangan menasehati aku".


Setelah mengatakan hal itu, Vernon berlalu pergi meninggalkan kakak dan ayahnya.


"Kamu mau kemana? kakak lagi bicara Vernon".


"Sudahlah Joshua saat ini dia lagi emosi, percuma kita memberitahu dia sekarang" ucap ayahnya.


Di rumah sakit, Sofia terlihat mulai siuman sehabis operasi pengangkatan janinnya. Bunda Anya dan Angel yang menemaninya saat itu, merasa sangat senang melihatnya yang sudah sadar.


"Alhamdulilah sayang akhirnya kamu sadar juga".


"Aku dimana bun? kenapa kepala aku sakit banget ini" ucap Sofia sambil memegangi kepalanya yang sakit, karena berusaha untuk bangun.


"Lo di rumah sakit Fi, udah tiduran aja dulu jangan kebanyakan gerak, lo belum terlalu pulih saat ini" kata Angel yang berada di samping bunda Anya.


Sofia kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur dan dirabanya perutnya. Ia merasa aneh karena perutnya kini telah rata.


"Bayi aku kemana Angel, bunda? kenapa perut aku rata begini? apa dia sudah lahir?" tanya Sofia bertubi-tubi.


Bunda Anya dan Angel terlihat saling pandang satu sama lain, kemudian bunda Anya mulai membuka suara.


"Iya anak kamu sudah lahir nak".


"Tapi kan dia baru 6 bulan bun, seharusnya belum boleh lahir kan? terus dimana dia sekarang? mas Vernon juga dimana?".


"Anak kamu sudah..." bunda Anya tidak bisa melanjutkan kata-katanya, bibirnya bergetar menahan tangis, tidak mampu memberitahukan pada menantunya.


"Biar aku saja yang jelaskan ya bunda" potong Angel yang mengerti keadaan mertuanya itu.


"Anakku kenapa Angel? tolong jelasin sekarang".


"Lo harus kuat ya Fi. Anak lo udah nggak ada, lo mengalami keguguran akibat terjatuh dari kamar mandi dan saat ini Joshua, Vernon dan ayah Bram sedang memakamkannya".

__ADS_1


"Apa? nggak mungkin Angel. Anak gue nggak mungkin meninggal, gue mau lihat dia sekarang juga" ucap Sofia, hendak turun dari ranjang rumah sakit namun ditahan oleh bunda Anya dan juga Angel.


"Jangan dulu bangun sayang, kamu masih belum pulih".


"Aku mau lihat anakku bunda, nggak mungkin dia meninggal, ini nggak mungkin" teriak Sofia, mencoba memberontak.


"Angel kamu panggil dokter sekarang, Sofia pasti syok" pintah bunda Anya.


Saat akan memanggil dokter, Angel berpapasan dengan suaminya dan juga ayah Bram.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Joshua.


"Mau panggil dokter, Sofia sudah sadar" jawab Angel.


"Nanti aku yang panggil, kamu dan ayah masuk aja".


"Iya sayang. Ayo yah, kita masuk" ajak Angel pada ayah Bram.


Saat memasuki ruangan, terlihat Sofia yang terus berteriak dan menangis memanggil-manggil anaknya.


"Sofia kenapa bun?".


"Dia jadi seperti ini saat tahu anaknya sudah meninggal yah, bunda jadi nggak tega".


Ayah Bram langsung memeluk bunda Anya yang mulai menangis.


Tidak lama kemudian, muncul dokter disusul oleh Joshua dibelakangnya. Setelah diberi obat penenang, Sofia kembali tertidur.


"Untuk sementara ibu Sofia harus terus diawasi karena saat ini beliau pasti sangat syok mengetahui keadaan anaknya" kata dokter.


"Joshua, ayah, dimana Vernon? bunda dari tadi tidak lihat dia".


"Nggak tahu bun, dia tadi langsung pergi entah kemana. Mungkin dia butuh menenangkan dirinya" ujar ayah Bram.


"Dasar pengecut, dia tidak tahu apa istrinya disini juga butuh dia. Bunda akan memarahi dia nanti".


"Iya bun, tapi untuk sekarang kasih dia waktu untuk menenangkan dirinya. Mungkin Vernon saat ini masih tertekan dan sedih".


"Iya ayah".


.


.


.


Saat ini Vernon sedang berada di sebuah klub malam milik temannya. Entah kenapa kakinya membawa dirinya ke tempat seperti itu.


"Hey bro lo kenapa? tumben banget kesini, biasanya kalau diajak nggak mau" ucap Rendi, temannya sejak SMA.


"Lagi stres, gue cuma butuh minum sedikit".


"Ayolah cerita, udah lama lo nggak nongkrong bareng disini".


Ya, Vernon dulunya memang suka berkumpul bersama teman-temannya di klub itu, namun ia cuma minum sedikit dan tidak pernah sampai membuatnya mabuk.


"Istri gue keguguran" ungkap Vernon.

__ADS_1


"Wah kasihan banget. Hamilin lagi dong".


"Kata dokter kemungkinan bua hamil lagi sangat kecil".


"Udah fix kalau gitu, cari yang baru aja. Mau gue kenalin nggak nih?" tanya Rendi.


"Lo pikir gue kayak lo gonta ganti cewek. Udah lah bicara sama lo nggak ada untungnya, gue cabut dulu".


"Oke hati-hati bro. Jangan lupa kalau berubah pikiran, hubungin gue aja ya" teriak Rendi yang tidak dipedulikan oleh Vernon.


Kembali ke rumah sakit. Setelah 1 jam tertidur, Sofia terbangun dari obat penenangnya.


Kali ini ia tidak memberontak lagi, hanya air matanya yang terus mengalir dari sudut matanya sambil terus mengusap perutnya yang kini telah rata.


"Sayang, jangan menangis lagi. Bunda tahu kamu kuat nak".


"Bun..hiks..hiks..mas Vernon dimana?" tanya Sofia.


"Vernon saat ini sedang pergi. Paling sebentar dia kesini kok" ucap bunda Anya berbohong, sebenarnya ia tidak tahu kemana perginya anaknya itu.


"Apa mas Vernon akan marah sama aku bun?".


"Kenapa kamu bicara kayak begitu sayang? dia tidak mungkin marah".


"Anak yang dinantinya selama ini meninggal karena aku, apalagi disaat hari ulang tahunnya. Pasti dia sangat marah bunda" ujar Sofia masih terus menangis.


"Jangan pernah menyalahkan diri kamu nak. Bunda tahu kamu juga pasti nggak ada maksud untuk membuat anakmu sampai keguguran".


"Betul kata bunda, lo nggak boleh menyalahkan diri lo sendiri Sofia. Sekarang makan dulu ya, dari tadi kan belum makan" ucap Angel.


"Nggak mau, aku mau tunggu mas Vernon dulu".


"Joshua hubungi Vernon sekarang, suruh dia kesini".


"Baik ayah".


Joshua mulai menghubungi Vernon, namun tidak diangkatnya. Berulang kali dihubunginya adiknya namun tidak ada jawaban.


"Vernon nggak angkat yah" ucap Joshua sangat pelan agar tidak didengar oleh Sofia.


"Kemana anak itu".


Tiba-tiba pintu terbuka, masuklah Vernon dalam keadaan sempoyongan.


"Kamu kenapa Vernon?" tanya Joshua.


Vernon tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan terus melangkahkan kakinya menuju ke arah Sofia.


"Mas, akhirnya kamu datang. Aku sangat rindu mas" kata Sofia sangat bahagia dengan kedatangan Vernon.


Saat Sofia ingin memeluk suaminya itu, Vernon malah menghindar dan menatap tajam Sofia.


"Mas kamu kenapa? dan bau apa ini? apa kamu mabuk mas?".


"Bukan urusan kamu!" teriak Vernon.


Sofia terkejut mendengar perkataan Vernon, lagi-lagi air matanya terjatuh akibat sikap Vernon yang kini berubah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2