
Memang suami-suami siaga, mirip banget kayak aku dulu. Gumam ayah Bram, tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.
Vernon bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Sayang, sayang" teriak Venron, ia tidak melihat batang hidung Sofia sedikit pun di kamar itu.
"Aku di kamar mandi mas" sahut Sofia.
"Ngapain kamu disana yang? kamu nangis ya?".
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Sofia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak apa-apa yang? kamu rindu banget sama aku ya? pasti karena dede bayinya" ucap Vernon.
"Iya sih mas, tapi tadi doang sekarang udah nggak. Mas bisa balik lagi ke kantor sekarang" kata Sofia, tanpa rasa bersalah.
"Sayang, mas udah jauh-jauh loh kesini, bahkan ayah Bram udah ambil alih semua meetingnya masa sekarang kamu nggak rindu sih" kesal Vernon.
"Loh jadi ini salah aku? kan ini kemauan anak kamu, jangan gitu lah mas" ucap Sofia mulai emosi.
"Iya tenang dong, jangan emosi dulu. Jadi sekarang kamu maunya apa? mas bakal turutin. Mas udah terlanjur pulang jadi nggak ke kantor lagi sekarang" ujar Vernon.
"Hmmm...aku mau kamu beliin jengkol mas, tapi kamu yang makan".
"Apa? mas nggak salah dengar nih?" tanya Vernon tak percaya.
"Nggak" jawab Sofia dengan santai.
"Kamu kan tahu kalau mas sama sekali nggak suka jengkol, dengar namanya aja mas kayak mau muntah sayang".
"Aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus beli dan makan mas, ini semua permintaan anak kamu, masa kamu tega sih".
"Baik baik, mas pesan online dulu ya".
"Nggak mau, kamu yang harus pergi beli".
Vernon menghela napas kasar kemudian mengiyakan permintaan Sofia.
"Oke mas pergi dulu".
Di dalam mobil, Vernon menghubungi asistennya untuk membelikannya jengkol. Ia bahkan tidak mampu membelinya sendiri, saking tidak sukanya pada makanan itu.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya makanan yang dipesannya tiba juga. Dengan bersusah payah Vernon membawa jengkol yang tidak disukainya itu dan diberikannya kepada Sofia.
"Ini sayang pesanan kamu" Katax Vernon sambil menutup hidungnya.
"Kamu kenapa nutupin hidung kamu mas?".
"Jengkolnya bau busuk banget".
"Baunya harum gini dibilang busuk. Udah sekarang mas yang makan ya, aku pengen liat".
"Plis sayang mas nggak bisa, jangan mas ya yang makan" ucap Vernon dengan wajah memelas.
__ADS_1
Raut wajah Sofia tiba-tiba berubah menjadi sedih dan ia pun mulai menangis.
"Huaaaa....mas jahat. Katanya mas mau lakuin apapun yang aku suruh demi anak kita tapi buktinya sekarang apa? mas mau anak kita ileran? huaaaa".
Sofia berteriak menangis seperti anak kecil, membuat Vernon menjadi panik.
"Iya iya mas bakal makan, jangan nangis lagi nanti bayinya ikutan sedih".
Mendengar hal itu Sofia langsung berhenti menangis dan menganggukan kepalanya.
"Makanya sekarang mas cepetan makannya".
"Iya".
Perlahan Vernon mulai menyendokkan jengkol ke dalam mulutnya sambil menutup mata serta hidungnya.
Ia mulai mengunyah sedikit demi sedikit jengkol yang sudah berada di dalam mulutnya. Bau menyengat mulai menguasai seluruh mulut, membuat Vernon hampir memuntahkan makannya.
"Yang udah ya satu aja mas udah nggak sanggup lagi, mas mau pingsan beneran".
"Iya mas, aku juga udah puas kok liatin mas makan biarpun cuma sedikit" ucap Sofia sambil tersenyum.
Udah puas liat orang tersiksa atau gimana nih. Duh emang benar ya yang dibilangnya kak Joshua, ngidam itu sulit dan aneh banget. Batin Vernon di dalam hati.
"Kita tidur yuk mas, aku udah ngantuk".
"Tapi ini kan baru siang".
"Ya tapi kan aku ngantuk mas, masa mas nggal mau nemenin aku tidur sih".
"Tapi apa mas?" tanya Sofia.
"Tapi mas mau minta jatah mas dulu, kan udah beberapa hari semenjak kamu hamil, mas belum dapat jatah".
"Malam aja ya, ini juga kan masih siang mas. Aku juga sekarang udah ngantuk banget".
"Tapi beneran ya nanti malam?".
"Iya mas".
"Ya sudah ayo tidur" ajak Vernon.
Vernon membaringkan tubuhnya di atas ranjang, begitu pun dengan Sofia. Ia mendekap istrinya ke dalam pelukannya, kemudian Sofia menenggelamkam wajahnya ke dada bidang milik Vernon. Mereka akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.
Malam harinya sesuai dengan janji Sofia, Vernon mulai melakukan aksinya.
Ia mulai membuka satu persatu kancing piyama Sofia, lalu mulai mengecup leher istrinya itu sampai menampilkan bekas kemerahan.
Desahan demi desahan yang dilontarkan Sofia, sukses membuat Vernon semakin terangsang dan mulai agresif.
Saat Vernon akan menurunkan celana milik Sofia tiba-tiba Sofia menahan kedua tangannya.
"Ada apa?".
"Aku lapar mas, pengen tahu gejrot".
__ADS_1
"Astaga yang kenapa waktunya nggak tepat gini? nanti habis kita tuntasin semuanya ya? nanggung nih" ucap Vernon yang memang sudah sangat terangsang.
"Tapi aku belum makan malam sama sekali mas dan aku udah laper banget udah nggak tahan".
"Ya Allah cobaan apalagi ini" kata Vernon frustasi.
"Loh mas kok gitu sih, kalau nggak ikhlas nggak usah, aku pergi beli sendiri aja" kata Sofia merajuk.
"Eh..eh jangan dong sayang. Iya mas beliin, tapi tunggu ya mas ke kamar mandi dulu sebentar aja".
"Mau ngapain?".
"Mau tuntasin yang tadi, udah kepalang tanggung nih" kata Vernon sambil berlari ke dalam kamar mandi.
Akhirnya Vernon pun menyelesaikan hasrat tertundanya di dalam kamar mandi.
Setelah itu, ia pun segera pergi membelikan tahu gejrot pesanan milik Sofia.
Lagi-lagi ia menghubungi asistennya' untuk dicarikan tahu gejrotnya.
"Maaf pak tapi ini sudah tengah malam, dimana saya bisa dapat tahu itu?" ucap asistennya dari seberang telepon.
"Ya saya nggak tahu. Pokoknya usahain kamu harus dapat, kalau nggak ada yang jual kamu buat tahunya sendiri, yang penting tahunya ada, ini demi anak saya" jelas Vernon.
"Mohon maaf pak, tapi kenapa bapak tidak suruh pembantu bapak saja?".
"Istri saya tidak mau buatan mereka, dia mau yang dijual. Udah kamu sekarang cepat cari atau gaji kamu akan saya potong" ancam Vernon.
Asistennya tidak dapat berkutik kalau masalah gaji, ia pun mulai mencari penjual tahu yang masih buka saat tengah malam.
Setelah menunggu 1 jam lebih, akhirnya pesanannya pun tiba.
"Darimana kamu dapat tahu ini?".
"Dari penjual tahu lah pak masa dari penjual ikan" ucap asistennya mulai terlihat kesal karena harus kesana kemari mencari tahu gejrot saat tengah malam.
"Maksud saya emangnya ada yang buka tengah malam gini?".
"Tidak ada pak, tapi saya kenal penjual tahu langganan saya, jadi saya paksa dia untuk masak tahu gejrotnya".
"Bagus, gaji kamu akan saya naikin 2 kali lipat" ucap Vernon.
"Terima kasih pak" kata asistennya dengan wajah sumringah.
Vernon segera pulang ke rumah, membawa tahu gejrot pesanan istrinya.
Saat sampai di dalam kamar mereka, ia melihat lampu kamar sudah dimatikan dan terdapat Sofia yang sudah tertidur di atas kasur.
"Yang, sayang bangun. Ini tahunya udah ada" kata Vernon mencoba membangunkan Sofia dengan lembut.
"Engg..mas, kamu lama banget pulangnya aku udah nggak pengen lagi tahunya. Kamu makan sendiri aja kalau mau, aku pengen tidur" kata Sofia, kembali tertidur tanpa rasa bersalah.
Ini serius Sofia yang aku kenal? kok jadi menjengkelkan kayak gini ya. Apa ini bawaan hamil? sumpah aku pengen larat tentang keinginan aku yang pengen disuruh-suruh karena ngidam, ternyata ini sangat menyusahkan.
Lagi-lagi Vernon membatin tanpa bisa mengungkapkannya.
__ADS_1